Beranda / Nasihat / Tazkiyatun Nufus / Berbagi Makanan Kepada Mereka Adalah Jalan Ke Surga

Berbagi Makanan Kepada Mereka Adalah Jalan Ke Surga

Bagi hamba Allah yang gemar melakukan kebaikan akan disediakan ganjaran yang besar berupa surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya. Allah berfirman menerangkan hal itu:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ، وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. (QS. Al-Infithar: 13-14)

Di antara sifat mereka adalah senang berbagi dan memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang lemah dengan memberikan makanan terbaik dan disukainya kepada mereka. Allah berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (QS. Al-Insan: 8)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya pun menjelaskan akan hal tersebut. Dari Ibnu Hani’ ia menceritakan:

قَالَ أَبُو شُرَيْحٍ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ يُوجِبُ لِيَ الْجَنَّةَ ، قَالَ : طِيبُ الْكَلامِ ، وَبَذْلُ السَّلامِ ، وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ

“Abu Syuraih berkata: ‘Wahai Rasulullah, beritahukan padaku sesuatu yang akan memasukkanku ke dalam surga.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Ucapan yang baik, menyebarkan salam, dan memberi makan.'” (HR. Ibnu Hibban: 509, Al-Baihaqi dalam Syu’bul Iman: 4943)

Oleh sebab itu, di hari-hari tasyrik ini ketika umat Islam masih berada dalam suasana hari bahagia yaitu hari Raya Idul Adha, alangkah baiknya jika kita sengaja menyiapkan makanan terbaik dan yang paling kita sukai untuk diberikan kepada orang-orang miskin, anak yatim dan dhu’afa.

Apalagi sebagian dari mereka mungkin saja tidak pernah makan daging kecuali satu kali setahun yaitu pada hari Raya Idul Adha saja, itu pun kalau mereka dapat kupon kurbannya, kalau tidak ya tidak. Mudah-mudahan dengan melakukan hal itu kita dapat menginjakkan kaki di surga Allah subhanahu wata’ala.

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Halalkah Daging Impor Dari Negara Non-Muslim?

Kersediaan daging yang terbatas sedangkan kebutuhan besar, menyebabkan sebagian negara Muslim harus mengimpor daging dari …

Tulis Komentar

WhatsApp chat