Kenapa Kita Harus Bersiap Menyambut Ramadhan?

Sebuah berita dengan judul: Penduduk Bumi sudah Lebih 8 Miliar, 2025 Ini setiap Detik 4 Bayi Lahir dan 2 Orang Meninggal

 Apa yang bisa kita renungkan dari hal ini? Salah satu pelajaran, kehidupan kita di dunia ini hanyalah antrian panjang menunggu sebuah kepastian yaitu kematian. Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa pasti akan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

Sebagai seorang muslim, kita beriman akan adanya kehidupan setelah kamatian. Setelah kehidupan kita di dunia ini berakhir maka kita akan emulai kehidupan akhirat dan dimulai dengan kehidupan di alam kubur.

Setelah kita berada di alam kubur, maka kita akan dihadapkan dengan dua pilihan antara merasakan nikmat atau azab, tergantung amalan kita masing-masing.

Karenanya, Rasulullah mengajarkan umatnya agar meminta perlindungan dari azab kubur, do’a yang hendaknya dibaca oleh setiap mukmin dan mukminah dalam setiap shalatnya, ketika tasyahud akhir sebelum salam. Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian tasyahud, hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara dan berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam dan siksa kubur, dan fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Masihid Dajjal. (HR. Muslim: 588)

Alam kubur adalah pos persinggahan pertama dan sangat menentukan dari perjalanan akhirat yang panjang bagi setiap anak manusia. Utsman bin Affan menangis bila berdiri di sisi kuburan hingga jenggotnya basah. Dikatakan padanya: Ketika disebutkan surga dan neraka kau tidak menangis sementara kau menangis karena ini. ‘Utsman berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

“Sesungguhnya kuburan adalah awal perjalanan akhirat. Barang siapa yang berhasil di alam kubur maka yang setelahnya akan lebih mudah dan barangsiapa yang tidak berhasil maka yang setelahnya lebih berat.” (HR. Tirmidzi: 2308, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Dalam sebuah hadits yang berkisah tentang keadaan kita saat telah berada di alam kubur untuk pertama kalinya. Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya mayit ketika diletakkan di kuburnya ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarkannya saat mereka kembali pulang. Apabila ia seorang mukmin maka shalat akan berada disisi kepalanya, puasa disisi kanannya, zakat disisi kirinya dan amalan kebaikan lainnya – seperti sedekah, silaturrahmi, perbuatan ma’ruf dan ihsan kepada orang lain- berada disisi kaki–nya. Lalu ia didatangi dari arah kepalanya maka shalat berkata: “Tidak ada jalan masuk dari arahku.” Kemudian didatangi dari arah kanannya maka puasa berkata: “Tidak ada jalan masuk dari arahku.” Kemudian didatangi dari arah kirinnya maka zakat berkata: “Tidak ada jalan masuk dari arahku.” Kemudian didatangi dari arah kedua kakinya maka amalan kebaikan berkata: “Tidak ada jalan masuk dari arahku.” (HR. Ibnu Hibban: 3113, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath: 3/105-107, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak: 1/379-381, Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib: 3/403)

Amal shalih juga akan menjelma menjadi teman yang baik di dalam kubur. Dalam hadits disebutkan, ketika seorang mukmin mampu menjawab pertanyaan kubur maka Allah akan berkata:

فَأفْرِشُوه من الجنةِ ، وألْبِسُوهُ من الجنةِ ، وافْتَحُوا له بابًا إلى الجنةِ ، فيَأتِيهِ من رَوْحِها وطِيبِها ، ويُفسحُ له في قَبرِهِ مَدَّ بَصرِهِ ، ويَأتِيهِ رَجلٌ حَسَنُ الوَجهِ ، حَسنُ الثِّيابِ ، طَيِّبُ الرِّيحِ ، فيَقولُ : أبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ ، هذا يَومُكَ الذي كُنتَ تُوعَدُ ، فيقولُ لهُ : مَن أنتَ ؟ فوجْهُكَ الوَجْهُ يَجِيءُ بِالخيرِ ، فيَقولُ : أنَا عَملُك الصالِحُ ، فيَقولُ : رَبِّ أقِمِ السَّاعَةَ ، رَبِّ أقِمِ الساعَةَ 

“Hamparkanlah untuknya permadani dari surga, berikanlah dia pakaian dari surga, bukakanlah untuk salah satu pintu surga.” Rasulullah bersabda: Maka masuklah ke kuburnya angin sejuk nan wangi dari surga. Kemudian kuburannya dilapangkan sejauh mata memandang. Lalu datanglah kepadanya seorang dengan wajah yang tampan, baju yang bagus dan aroma yang wangi, kemudian berkata: “Berbahagialah kamu dengan sesuatu yang membuat kamu senang, ini adalah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.” Si mukmin berkata: “Siapakah kamu? Wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan.” Dia berkata: Aku adalah amalan shalihmu. Si mukmin berkata: “Ya Rabbi, segeralah hari kiamat, Ya Rabbi, segeralah hari kiamat.” (Shahih Al-Jami Al-Albani : 1676)

Dari dua hadits diatas kita bisa melihat bagaimana agungnya shalat, puasa, zakat dan amal shalih lainnya. Ia dapat melindungi seorang hamba dari siksa dan ujian alam kubur. Dan jika kita renungkan, semua amalan itu terkumpul di bulan ramadhan. Shalat wajib atau sunnahnya, puasa, zakat fitrah, serta bermacam-macam amal kebaikan lainnya seperti: bacaan Qur’an, sedekah, amar ma’ruf nahi mungkar, dll.

Inilah salah satu alasan mengapa para salaf berdoa dan bersiap menyambut bulan Ramadhan 6 bulan sebelum datangnya bulan ramadhan. Ma’la bin al-Fadhl mengatakan:

كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ يَدْعُوْنَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْهُمْ

“Mereka (salafus shalih) berdo’a kepada Allah selama enam bulan semoga Allah menyampaikan mereka pada bulan Ramadhan, lalu mereka berdo’a selama enam bulan berikutnya semoga amalan mereka di bulan itu diterima.” (Lathaif al-Ma’arif: 1/148, cet. Dar Ibnu Hazm)

Kita semua akan berada dialam kubur, pasti. Maka bekal harus kita persiapkan dari sekarang. Ramadhan adalah momen kita menumpuk bekal lebih. Karenanya kita harus bersiap menyambutnya.

Apa yang perlu dilakukan sekarang dalam rangka menyambut Ramadhan?

  1. Berdoa meminta kemudahan dari Allah

Diantara contoh doa yang diajarkan oleh Rasulullah adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu (kemudahan untuk) melakukan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran.” (HR. Tirmidzi: 3235, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)

Kemudahan akan terwujud jika diberikan dua perkara yaitu: kemampuan dan kemauan

Karenanya nabi juga sering berdoa mengucapkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.” (HR. Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Iraw’ Al-Ghalil: 3/357)

Imam Ibnul Qayyim berkata:

“Manusia dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kelemahan (al-ajzi) dan kemalasan (al-kasal). Kelemahan adalah ketidakmampuan (secara fisik/sarana) untuk melakukan upaya yang bermanfaat, sedangkan kemalasan adalah tidak adanya kemauan (tekad) untuk melakukannya. Maka, orang yang lemah tidak mampu melakukan upaya, sementara orang yang malas tidak mau melakukannya.” (I’lam al-Muwaqqi’in: 3/336)

  1. Menuntut ilmu yang diperlukan

Nabi bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah: 224. Dishaihkan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah)

Al-Allamah Ibnu Baz berkata:

كُلُّ إِنْسَانٍ يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَعَلَّمَ مَا لَا يَسَعُهُ جَهْلُهُ مِمَّا أَوْجَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَحَرَّمَ عَلَيْهِ

“Setiap manusia wajib mempelajari hal-hal yang tidak boleh tidak diketahui (perkara dasar agama) mengenai apa yang telah Allah wajibkan atasnya dan apa yang telah Allah haramkan atasnya.”

Imam Bukhari menyatakan dalam kitabnya Shahih Al-Bukhari, Bab “Al-‘Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-‘Amal” (ilmu sebelum berkata dan beramal)

Ibadah apa saja yang tidak dibangun diatas ikhlas tan Mutaba’ah (kesesuain dengan tata cara yang diajarkan oleh Nabi) maka tidak sah. Rasulullah bersabada:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim: 1718)

  1. Membersihkan hati

Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Abu Hurairah berkata:

القَلْبُ مَلِكٌ، وَالأَعْضَاءُ جُنُودُهُ، فَإِذَا طَابَ المَلِكُ طَابَتْ جُنُودُهُ، وَإِذَا خَبُثَ المَلِكُ خَبُثَتْ جُنُودُهُ

“Hati adalah raja, dan anggota tubuh adalah pasukannya. Jika sang raja baik, maka baiklah pasukannya; dan jika sang raja rusak, maka rusaklah pasukannya.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam kitab (Al-Mushannaf) 11/ 221; dan Al-Baihaqi dalam kitab (Syu’abul Iman) 1/ 132.”)

Lihat:

Arsip artikel tematik

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

 

 

 

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke LIPIA Jakarta Jurusan Syariah. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !