Beranda / Artikel Tematik Ilmiah / BERSAMA GOLONGAN YANG SELAMAT

BERSAMA GOLONGAN YANG SELAMAT

Oleh: Zahir al-Minangkabawi

Perjalanan hidup manusia tidak selamanya datar, tapi terkadang mendaki dan menurun. Suatu masa berada dalam kejayaan dan di masa yang lain terpuruk dalam kehinaan. Begitu seterusnya silih berganti hingga nanti berakhirnya kehidupan ini. Seperti itu pula kehidupan beragama, bagi mereka yang membaca sejarah umat Islam akan mengetahui bagaimana keadaan Islam dari masa ke masa.

Secara umum kehidupan itu ibarat aliran sungai, semakin jauh dari sumbernya maka airnya akan semakin keruh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ

”Tidaklah datang suatu zaman kepada kalian melainkan yang setelahnya lebih buruk darinya (sebelumnya).” (HR. Bukhari: 7068)

Sekarang kita berada di akhir zaman, empat belas abad di belakang zaman keemasan; zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dengan kurun selama itu, tentu kita harus menyadari banyaknya keburukan dan kerusakan yang ada di zaman kita dibandingkan yang ada pada zaman mereka.

ISLAM KEMBALI MENJADI ASING

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam bermula dalam keadaan asing, dan kelak akan kembali asing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim: 386)

Yang terasing bukanlah namanya akan tetapi syari’at-syari’atnya. Oleh sebab itu, seorang yang berpegang teguh dengan ajaran Islam yang sesungguhnya pada saat itu harus membutuhkan kesabaran dan perjuangan besar. Seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Kelak akan datang suatu masa kepada manusia, seorang yang sabar berpegang teguh dengan agamanya seperti seorang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi: 2260 dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 2/682)

Sebagai penghibur bagi mereka yang berpegang teguh dengan agama pada saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kabar gembira bahwa mereka akan memperoleh ganjaran yang sangat besar. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، الْمُتَمَسِّكُ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ لَهُ كَأَجْرِ خَمْسِينَ مِنْكُمْ”قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَوْ مِنْهُمْ؟ قَالَ:”بَلْ مِنْكُمْ”قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَوْ مِنْهُمْ؟ قَالَ:”لا، بَلْ مِنْكُمْ”ثَلاثَ مَرَّاتٍ أَوْ أَرْبَعًا

“Sesungguhnya nanti di belakang kalian akan ada hari-hari kesabaran, seorang yang berpegang teguh dengan agamanya pada hari itu seperti kalian hari ini akan memperoleh ganjaran lima puluh dari kalian.” Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Nabi Allah ataukah dari mereka?” Nabi menjawab: “Bahkan dari kalian.” Mereka kembali bertanya: “Wahai Nabi Allah, ataukah dari mereka?” Nabi menjawab: “Tidak, bahkan dari kalian.” Nabi mengulangi tiga atau empat kali. (HR. Ath-Thabrani dalam al-Kabir, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 1/812)

TERJADI PERSELISIHAN DAN PERPECAHAN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا

“Sesungguhnya siapa dari kalian yang hidup setelahku, niscaya akan menyaksikan (mendapati) perselisihan yang banyak.” (HR. Abu Dawud: 4609 dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 42)

Dalam hadits yang lain:

أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَهِىَ الْجَمَاعَةُ

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlul kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga, tujuh puluh dua akan masuk neraka, hanya satu yang akan masuk surga dan itulah al-Jama’ah.” (HR. Abu Dawud: 4599 dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 1/358)

Sebagian ulama mengatakan bahwa pokok (gembong) dari kelompok-kelompok sesat itu ada enam yaitu: al-Haruriyyah, al-Qadariyyah, al-Jahmiyyah, al-Murji’ah, ar-Rafidhah, al-Jabriyyah. Setiap kelompok kemudian terpecah menjadi dua belas sehingga semuanya berjumlah tujuh puluh dua. (Lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis hal. 41)

JALAN KESESATAN LEBIH BANYAK

Al-Imam Ahmad menyebutkan dalam Musnadnya sebuah hadits yang menunjukkan bahwa jalan kesesatan itu lebih banyak daripada jalan keselamatan.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا،ثُمَّ قَالَ: ” هَذَا سَبِيلُ اللهِ “، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: ” هَذِهِ سُبُلٌ – قَالَ يَزِيدُ: مُتَفَرِّقَةٌ – عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ “، ثُمَّ قَرَأَ: (وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ ، فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ (

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia menuturkan: “Rasulullah membuat sebuah garis untuk kami lalu bersabda: ‘Inilah jalan Allah.’ Kemudian beliau membuat beberapa garis di kanan dan kirinya lalu bersabda: ‘Inilah jalan-jalan -Yazid berkata: yang berserakan- setiap jalan tersebut terdapat setan yang mengajak kepadanya.’ kemudian beliau membaca firman Allah: dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.(QS. al-An’am: 153).” (HR. Ahmad:4142, dihasankan oleh al-Albani dalam Misykah al-Mashabih: 1/36)

HARUS KRITIS

Berangkat dari hadits-hadits di atas, maka seorang muslim pada hari ini dituntut untuk bersikap kritis dalam beragama. Sebab, tanpa kejelian dalam memilih jalan dan metode beragama dapat menjatuhkannya ke salah satu dari sekian banyak jalan dan kelompok sesat yang ada.

Begitu pula seorang yang lahir dan besar dalam lingkungan yang Islami, tidak boleh baginya untuk menerima begitu saja  ajaran-ajaran Islam yang ia dapatkan dalam lingkungannya tersebut. Wajib baginya untuk kembali memeriksa apakah ajaran-ajaran tersebut merupakan ajaran Islam yang sesungguhnya ataukah tidak.

Tidak ada celaan bagi mereka yang bersikap kritis tersebut. Dengan kata lain, seorang yang berlepas diri dari sikap fanatik buta yaitu menerima begitu saja apa yang ia dapatkan dari orang tuanya bukanlah seorang yang salah jalan atau bersikap sombong dan tidak menghormati nenek moyangnya. Bahkan, itulah yang dituntut darinya.

Sebab Islam bukanlah agama yang dibagun di atas rasa fanatik buta, akan tetapi dibagun di atas hujjah (dalil) yang kuat yang bersumber dari dua wahyu ilahi; al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

MANHAJ GOLONGAN YANG SELAMAT

Agar dapat selamat, selain sifat kritis ada satu hal lagi yang sangat penting yaitu pemilihan manhaj (metode) beragama yang tepat. Tanpa manhaj yang tepat mustahil seorang dapat selamat. Berpegang teguh dengan al-Qur’an dan sunnah saja tanpa metode pemahaman yang benar belum cukup. Sebab, tujuh puluh dua golongan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan masuk neraka itu pun jika dicermati lebih dalam juga berpegang pada al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh sebab itu, wajib bagi seorang muslim untuk mempelajari dan mengetahui jalan golongan yang selamat sebagaimana di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beberapa haditsnya. Di antaranya:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ

“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang tampak di atas kebenaran, mereka tidak akan termudharati oleh orang-orang yang menyelisihi mereka.” (HR. Muslim: 53)

Dalam hadits yang lain:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي مَنْصُورِينَ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang ditolong, mereka tidak termudharati oleh orang-orang yang mencela mereka sampai terjadi hari kiamat.” (HR. Tirmdzi: 2192, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 1/688)

Di antara manhaj golongan yang selamat dalam beragama adalah sebagai berikut:

1. Mengikuti manhaj Nabi dan sahabat

Manhaj Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang beliau sabdakan sendiri yaitu berpegang teguh dengan al-Qur’an dan haditsnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama masih berpegang pada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dalam al-Muaththa’ no. 3338 dihasankan oleh al-Albani dalam Misykah al-Mashabih: 186)

Sebagai umat yang datang di belakangan empat belas abad setelah zaman kenabiaan, perlu ditambahkan dalam hal ini yaitu al-Qur’an dan Sunnah tersebut harus dipahami dengan  pemahaman yang benar. Sebab, perbedaan antara golongan yang selamat dan golongan sesat adalah dalam pemahaman kedua wahyu ini, dan tidak ada pemahaman yang lebih benar selain pemahaman para sahabat Nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemimpin) sekalipun ia seorang budak Habsyi. Sebab, barang siapa yang hidup setelahku (berumur panjang) niscaya akan melihat (mendapati) perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan juga sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah dengan geraham dan hati-hatilah dengan perkara yang baru. Karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud: 4609 Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 42)

Jika dicermati, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallamshallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpegang kepada sunnah (tuntunan) para al-Khalifah ar-Rasyidin yaitu sahabatnya; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Karena sunnah mereka tersebut berasal dari pemahaman mereka terhadap al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh sebab itu al-Imam Ahmad dalam Ushulus Sunnah mengatakan:

أُصُوْلُ السُنَّة عِنْدَنَا التَمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَالاِقْتِدَاءُ بِهِم

“Pokok sunnah (agama) menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang ditempuh oleh para sahabat Rasulullah dan meneladani mereka.” (Ushulu as-Sunnah hal. 14)

2. Kembali kepada Allah dan Rasul-Nya

Golongan selamat akan kembali kepada al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat, sebagai bentuk pengamalan dari firman Allah:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisa’: 59 )

Dan juga firman Allah:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. an-Nisa’: 65)

3. Mendahulukan Kalamullah dan hadits Nabi dari pendapat manusia

Golongan yang selamat menyadari sepenuhnya bahwa al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih adalah sumber kebenaran dan petunjuk yang paling utama. Oleh sebab itu, mereka mendahulukan keduanya dari semua ucapan dan pendapat siapa saja sekaligus  sebagai bentuk pengamalan dari firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. al-Hujurat: 1)

Maksud dari jangan mendahului Allah dan Rasul-Nya adalah tidak boleh mendahului dalam menetapkan hukum. Sebab, penetapan hukum adalah hak mutlak Allah. Tidak diperbolehkan kepada seorang pun tanpa izin-Nya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan:

“Di dalam ayat ini, terdapat larangan keras mendahulukan ucapan atau pendapat orang lain di atas ucapannya Shalallahu ‘alaihi wasallam. Apabila telah jelas ucapan beliau maka wajib mengikutinya, mengedepankannya dari ucapan siapa saja selain beliau.” (Taisir Karimir Rahman hal. 864)

Ibnu ‘Abbas pernah mengatakan:

أُرَاهُمْ سَيَهْلِكُونَ أَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ

“Hampir saja mereka binasa, aku katakan: ‘Nabi bersabda’, mereka malah mengatakan: ‘Abu Bakar dan Umar melarang.’” (HR. Ahmad: 3121)

4. Memprioritaskan tauhid

Sebab tauhid adalah pokok dari agama. Syaikul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

وَالتَّوْحِيْدُ هُوَ أَصْلُ الدِّيْنِ الَّذِي لَا يَقْبَلُ اللّهُ مِنَ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ دِينًا غَيرَهُ، وَبِهِ أَرْسَلَ اللّهُ الرُّسُلَ، وَأَنْزَلَ الكُتُبَ

“Tauhid adalah pokok agama yang Allah tidak menerima dari orang-orang yang terdahulu atau belakangan agama selainnya. Karena tauhid itu pula Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab.” (Nadhratu an-Na’im 4/1304)

Dan tauhid juga merupakan tujuan penciptaan seluruh makhluk. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Hanya disebutkan jin dan manusia, karena dua makhluk inilah yang sering lupa dan banyak membangkang.

5. Menghidupkan sunnah Nabi

Mereka menghidupkan serta merealisasikan sunnah Nabi dalam semua aspek kehidupan mereka. Tidak hanya dalam akidah namun juga pada akhlak dan mu’amalah mereka sehari-hari.
Rasulullah n bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam bermula dalam keadaan asing, dan kelak akan kembali asing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim: 386)

Dalam riwayat lain:

إِنَّ الإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاء . قِيْلَ : مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ الله ؟ قَالَ : الَّذِيْنَ يَصْلَحُوْنَ إِذَا فَسَدَ النَّاِس 

“Sesungguhnya Islam berawal dalam keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana ia berawal maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya: “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Orang-orang yang tetap dalam keshalihan tatkala manusia rusak.” (HR. Abu ‘Ammar ad-Dani dalam as-Sunanu al-Waridah fi al-Fitan, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 3/267)

6. Memuliakan para imam tapi tidak fanatik buta

Golongan yang selamat memuliakan para Imam dan ulama kaum muslimin. Karena mereka memiliki keutamaan dalam menyebarkan agama dan membimbing umat ke jalan yang benar. Namun, hal itu tidak membuatnya fanatik terhadap salah satu dari para imam tersebut. Sebab, sikap fanatik buta adalah sikap yang tercela. Para imam tersebut tidak seorang pun dari mereka yang membolehkan fanatik buta kepada pendapat mereka, bahkan mereka mencela sikap tersebut dan menganjurkan untuk berpegang teguh dan mendahulukan al-Qur’an dan hadits Nabi.

Setiap manusia siapapun dia, tidak pernah lepas dari kesalahan kecuali para nabi dan rasul Allah. Rasulullah bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam banyak kesalahan dan sebaik-baik orang yang berbuat salah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi: 2499 dihasankan oleh al-Albani dalam Misykah al-Mashabih: 2341)

Oleh karena itu, Imam malik pernah mengatakan:

لَيْسَ أَحَدٌ بَعْدَ النَبي صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم إِلَّا وَيُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِه وَيُتْرُكُ إِلَّا النَبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

“Tidak ada seorang pun setelah Nabi melainkan diambil dan ditinggalkan ucapannya keluali Nabi.”

Berikut beberapa ucapan para Imam dalam masalah ini: (Disadur dari kitab Sifat Shalatin Nabi hal. 46-54)

I. Imam Abu Hanifah

Beliau pernah berkata:

لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بِقَوْلِنَا مَا لَم يَعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ

“Tidak boleh bagi seorang pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.”

Beliau juga pernah mengatakan:

إِذَا قُلْتُ قَوْلًا يُخَاَلِفُ كِتَابَ اللهِ تعالى وَخَبَرَ الرَسُوْلِ صلى الله عليه وسلم فَاتْرُكُوْا قَوْلي

“Jika aku mengatakan satu pendapat yang menyelisihi kitabullah dan hadits Rasulullah maka tinggalkanlah pendapatku.”

II. Imam Malik

Beliau mengatakan:

 إِنَّماَ أنَاَ بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوْا في رَأْيِي فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتَابَ وَالسُّنة فَخُذُوْهُ وَكُلُّ مَا لم يُوَافِق الكِتَابَ وَالسُنَّة فَاتْرُكُوْه

“Aku hanyalah seorang manusia biasa terkadang salah dan terkadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan keduanya tinggalkanlah.”

Ibnu Wahb pernah mengatakan:

 سَمِعْتُ مَالِكًا سُئِلَ عَنْ تَخْلِيْلِ أَصَابِع الرِجْلَين فِي الوُضُوْء فَقَالَ : لَيْسَ ذَلِكَ عَلَى النَّاس . قَالَ : فَتَرَكْتُهُ حَتَّى خَفَّ النَّاسُ فَقُلْتُ لَهُ : عِنْدَنَا فِي ذَلِكَ سُنَّةٌ فَقَالَ : وَمَا هِيَ قُلْتُ : حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بنُ سَعْدٍ وَابْنُ لَهِيْعَةَ وَعَمْرُو بنُ الحَارِثِ عَنْ يَزِيْد بْنِ عَمْرٍو المُعَافِرِي عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَحمَنِ الحَنْبَلِي عَنْ المِسْتَوْرِدِ بْنِ شَدَّاد القُرَشِي قَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمِ يُدَّلِكُ بِخِنْصِرِهِ مَا بَيْنَ أَصَابِع رِجْلَيْهِ . فَقَالَ : إِنَّ هَذَا الحَدِيْث حَسَنٌ وَمَا سَمِعْتُ بِهِ قَطُّ إِلَّا السَّاعَة ثُم سَمِعْتُهُ بَعْدَ ذَلِكَ يُسْأَلُ فَيَأْمُرُ بِتَخْلِيْلِ الأَصَابِع

“Aku pernah mendengar Malik ditanya tentang menyela-nyela jari kaki ketika berwudhu, lalu menjawab: ‘Hal itu tidak disyari’atkan’, maka aku biarkan hal itu sampai orang-orang telah sepi lalu aku katakan kepadanya: ’Dalam hal ini kita memiliki sunnah (dalil)’. Ia bertanya: ‘Mana dia?’ Aku katakan: ’al-Laits bin Sa’ad, Ibnu Lahi’ah dan Amr bin al-Harits menyampaikan kepadaku dari Yazid bin Amr al-Mu’afiri dari Abi Abdurrahman al-Hanbali dari al-Mistaurid bin Syaddad al-Qurasyi, ia berkata: Aku melihat Rasulullah mengosok-gosok bagian antara jari-jari kakinya dengan jari kelingkingnya. Lantas ia (Malik) berkata: ‘Hadits ini hasan, belum pernah aku mendengarnya sekali pun kecuali saat ini.’ kemudian aku mendengarnya setelah kejadian tersebut ditanya lalu ia memerintahkan untuk menyela-nyela jari-jari kaki.”

III. Imam Syafi’i

Beliau pernah berkata:

إِذَا وَجَدْتُم فِي كِتَاِبي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُوْلُوْا بِسُنَّةِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم وَدَعُوا مَا قُلْتُ

“Apabila engkau menemukan sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah dalam kitabku, ambillah sunnah Rasulullah tersebut dan tinggalkan pendapatku.”

Beliau juga pernah berkata:

كُلُّ حَدِيْثٍ عَنِ النَّبي صلى الله عليه وسلم فَهُوَ قَوْلي وَإِنْ لمَ تَسْمَعُوْهُ مِنِّي

“Setiap hadits dari Rasulullah itulah pendapatku meskipun engkau tidak mendengarnya dariku.”

IV. Imam Ahmad bin Hambal 

Beliau pernah berkata:

لَا تُقَلِّدْني وَلَا تُقَلِّد مَالِكًا وَلَا الشَّافِعي وَلَا الأَوْزَاعِي وَلَا الثَّوْرِي وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا

“Jangan taklid kepadaku, jangan pula taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, dan ats-Tsauri. Ambil dari tempat mereka mengambil.”

7. Menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar

Hal ini merupakan hal yang penting bagi golongan yang selamat. Sebab, Allah memuji umat ini dengan sebaik-baik umat karena salah satu sifat mereka adalah menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Allah berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran: 110)

Dalam ayat yang lain:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104). Wallahu a’lam.

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Rugi Besar Karena Enggan Berbakti

Tidak ada manusia yang ingin merugi. Tapi, betapa banyak orang-orang yang merugi sedangkan ia tidak …

Tulis Komentar