Ramadhan; Bukan Sekedar Menahan Lapar dan Dahaga

Meta (Facebook) mengeluarkan uang hampir 1.000 T rupiah hanya untuk membuat “dunia bayangan” bernama Metaverse. Mereka bekerja keras, merekrut orang-orang pintar, tujuannya agar orang bisa ‘hidup’ di sana. Tapi apa hasilnya? Dunianya kosong, orang tidak betah, dan perusahaan itu rugi bandar. Kerja keras ribuan orang itu seolah menguap jadi debu.

Apa hubungannya dengan tema kita: Ramadhan; Bukan Sekedar Menahan Lapar dan Dahaga? Hati-hati, jangan sampai kita juga sedang membangun ‘Ramadhan Metaverse’ atau ‘Puasa Bayangan’ kita sendiri. Apa itu?

  • Kelihatannya berpuasa: Secara tampilan (avatar), kita lapar, kita haus, kita ikut tarawih. Kelihatannya saleh di depan orang.
  • Tapi dunianya kosong: Di dalam batin kita, tidak ada kejujuran, tidak ada rasa kasih sayang, hati kita masih penuh kebencian.
  • Hasilnya: Kita sudah keluar modal tenaga dan waktu, tapi saat Idul Fitri tiba, kita tidak punya ‘aset’ apa-apa di hadapan Allah. Kita hanya membangun bayangan, bukan kenyataan ketaqwaan.”

Agar hal itu tidak terjadi pada kita, mari sejenak kita pelajari bagaimana hakikat Ramadhan dan ibadah yang ada didalamnya terutama adalah puasa.

Hakikat puasa

“Puasa (Ash-Shiyam) secara bahasa berarti: Al-Imsak (menahan diri), yaitu berhenti dari setiap perbuatan atau perkataan. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini. [QS. Maryam: 26]” (Ash-Shaumu Junnah oleh Dr. Khalid Al-Juraisi, hal.15)

Puasa tidak hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi menahan diri dari apa saja yang Allah larang. Karenanya Nabi bersabda:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ. لَا تُسَابَّ وَأَنْتَ صَائِمٌ. وَفِي رِوَايَةٍ: فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ فَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، وَإِنْ كُنْتَ قَائِمًا فَاجْلِسْ.

“Puasa itu bukanlah (hanya menahan) dari makan dan minum, sesungguhnya puasa itu adalah (menahan diri) dari perkataan sia-sia dan perkataan kotor. Jika ada seseorang yang mencelamu atau berbuat jahil (kasar) kepadamu, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.’ Janganlah engkau saling mencela saat engkau sedang berpuasa. Dan dalam sebuah riwayat: ‘Jika ada seseorang yang mencelamu maka katakanlah: Sesungguhnya aku sedang berpuasa, dan jika engkau dalam keadaan berdiri (saat marah) maka duduklah.'” (HR. Ibnu Khuzaimah: 1996, Ibnu Hibban: 3479, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib: 1082)

Orang-orang shalih terdahulu dari kalangan Sahabat dan generasi setelahnya sangat memahami hakikat hal ini.  Jabir bin Abdillah pernah mengatakan:

إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الكَذِبِ وَالآثَمِ ، وَدَعْ أَذَي الخَادِمِ ، وَ لْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِيْنَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ صِيَامِكَ وَفِطْرِكَ سَوَاءً

“Jika kamu berpuasa maka puasakanlah juga pen-dengaran, penglihatan dan perkataanmu dari kedustaan dan segala dosa. Hindarkanlah dari menyakiti pelayanmu. Jadikanlah dirimu penuh kewibawaan dan ketenangan di hari puasamu. Janganlah kau jadikan hari puasamu sama dengan hari berbuka (tidak puasa)mu.” (Shahih Muslim: 1116)

Karena itulah mereka sangat menjaga puasa mereka agar tidak rusak. Disebutkan oleh Imam Abu Nu’aim:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ وَأَصْحَابُهُ : كَانُوا إِذَا صَامُوْا قَعَدُوْا فِي المَسْجِدِ ، وَقَالُوْا : نُطَهِّرُ صِيَامَنَا

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia dan para sahabatnya apabila berpuasa mereka duduk (berdiam) di masjid seraya berkata: Mari kita membersihkan puasa kita. (Hilyah Al-Auliya’: 1/382, Aqwal wa Qashash As-Salaf fi Ash-Shiyam oleh Dr. Ahmad Mushtafa Mutawalli hal. 13)

Disebutkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah:

كَانَ طَلْقٌ إِذَا كَانَ يَومَ صَوْمِهِ دَخَلَ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَّا لِصَلَاةٍ

Thalq apabila di hari-hari puasanya selalu masuk (ke rumahnya) dan tidak keluar kecuali untuk mengerjakan shalat (berjama’ah). (Dinukil dari artikel Islamway.net dengan judul: Ahwalu As-Salaf fi Ramadhan)

Puasa Tapi Tidak Berpahala

Menjaga puasa adalah sesuatu yang tidak kalah wajibnya dengan melakukan puasa itu sendiri. Percuma seorang berpuasa tetapi tidak diterima oleh Allah dan tidak bernilai ibadah. Ia hanya mendapatkan rasa lapar, haus dan letih saja. Akan tetapi, kenyataannya ternyata banyak orang Islam yang seperti ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak ada bagian dari puasanya kecuali hanya lapar semata.”  (HR. Ibnu Majah: 1690)

Mengapa bisa demikan, apa sebabnya? Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari: 1903)

Tujuan utama puasa Ramadhan adalah Takwa

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai sekalian orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183)

Tampak jelaslah bahwa syariat puasa menghendaki kita bisa menjadi pribadi yang bertakwa. Orang yang bertakwa adalah pribadi yang benar akidahnya, ibadahnya dan baik akhlaknya dari segala sisi;  kepada diri sendiri, orang lain dan utamanya kepada Tuhan. Orang yang bertakwa adalah orang baik akhlaknya kepada Allah dan baik pula akhlaknya kepada Makhluk.

Ramadhan harus menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Pribadi yang benar agamis dan beribadah kepada Allah, pribadi yang sabar, jujur, dapat dipercaya (amanah), berucap, melihat dan mendengar dengan sesuatu yang baik, dst.

Penutup

Zuckerberg gagal karena dia membangun sesuatu yang tidak diinginkan/dibutuhkan orang secara nyata. Begitu juga puasa kita:

  • Allah tidak butuh lapar kita.
  • Allah tidak butuh haus kita.
  • Yang Allah inginkan adalah ketundukkan kita melaksanakan perintah dan meninggalkan larangannya serta ketulusan dan perubahan perilaku kita (takwa).

Maka jangan sampai kita membagun Metaverse kita sendiri pada Ramadhan tahun ini. Ramadhan bukan sekedar menahan lapar dan dahaga. Mudah-mudahan Ramadhan kali ini kita semua berhasil dan sukses menjadi peribadi yang bertakwa. Amin ya rabbal alamin.

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَصَلَاتَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا يُقَرِّبُنَا إِلَيْكَ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

 

 

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke LIPIA Jakarta Jurusan Syariah. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !