Beranda / Artikel Salayok / Bertambah Semangat Ketika Memasuki Sepuluh Akhir Ramadhan

Bertambah Semangat Ketika Memasuki Sepuluh Akhir Ramadhan

Disebutkan, bahwa Imam Ibnul Jauzi rahimahullah pernah memberikan sebuah nasehat berharga yang berkaitan dengan bulan Ramadhan. Beliau rahimahullah mengatakan:

إِنَّ الخَيْلَ إِذَا شَارَفَتْ نِهَايَةَ المِضْمَارِ, بَذَلَتْ قُصَارَى جُهْدِهَا لِتَفُوزَ بِالسِّبَاقِ, فَلَا تَكنِ الخَيْلُ أفطَنَ مِنْكَ, فَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَوَاتِيمِ, فَإِنَّكَ إِذَا لَمْ تُحْسِنْ الاِسْتِقْبَالَ, لَعَلَّكِ تُحْسِنُ الوَدَاعَ

“Seekor kuda pacu jika sudah mendekati garis finish, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan. Karena itu, jangan sampai kuda lebih cerdas darimu. Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya, maka ketika kamu termasuk orang yang tidak baik dalam penyambutan, semoga  kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan.”   

Maka memasuki sepuluh akhir dari bulan Ramadhan, seharusnya kita lebih bersemangat dalam beribadah, meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana yang dikatakan oleh Aisyah radhiyallahu anha:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dengan ber’ibadah dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari: 2024)

Mengencangkan sarung maksudnya adalah lebih bersemangat untuk beribadah dan hal ini beliau tunjukkan dengan beri’tikaf, Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan I’tikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Muslim: 1171)

Sebagian ulama mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berupa meninggalkan berbagai kegiatan untuk beri’tikaf di akhir Ramadhan padahal beliau adalah orang yang mengatur negeri, mufti dan ummat sangat butuh kepadanya, maka ini menunjukkan bahwa yang utama adalah menunda berbagai kemaslahatan untuk sepuluh akhir Ramadhan ini.

I’tikaf yang bertujuan agar lebih fokus dalam beribadah terutama untuk mencari malam lailatul qadar yang dikatakan oleh beliau shallallahu alaihi wasallam bahwa malam itu ada pada sepuluh akhir Ramadhan. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah malam lailatul Qadr pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Muslim: 1169)

Oleh sebab itu, jangan biarkan kuda mengalahkan kita. Bersemangatlah dalam mencari kebaikan di sepuluh akhir bulan Ramadhan ini. Ingat bahwa penentu dari sebuah amalan adalah penutupnya. Bersungguh-sungguh, kerahkan semua kemampuan untuk mencapai kebaikan terutama malam yang dimuliakan yaitu malam lailatul qadar.

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Puasa Arafah Haruskah Bersamaan Dengan Wuquf Di Arafah?

Soal: Assalamu’alaikum. Mohon pencerahannya Ustadz, kalau tahun ini nggak ada haji bagaimana dengan ibadah Qurban, …

Tulis Komentar

WhatsApp chat