Beranda / Nasihat / Tazkiyatun Nufus / MAKAN DAN MINUM DENGAN TANGAN KIRI

MAKAN DAN MINUM DENGAN TANGAN KIRI

Setelah masuknya “kotak perusak” ke dalam mayoritas rumah kaum muslimin, terjadilah kemerosotan pesat dalam agama dan akhlak. Salah satunya, dalam adab makan dan minum. Banyak di antara orang Islam yang makan atau minum dengan tangan kiri. Hal itu adalah imbas dari berbagai iklan makan dan minum di “kotak” itu yang menggunakan tangan kiri. Parahnya masih banyak saja keluarga yang mempertahankan “kotak” ini berada di rumahnya.

Padahal dalam Islam, makan dan minum harus dengan tangan kanan. Karena itu adalah perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lakukan kemudian ajarkan serta tanamkan terutama pada anak-anak, supaya mereka tumbuh dalam madrasah islami. Umar bin Abi Salamah radliyallaahu anhu, pernah bercerita:

“Dahulu aku adalah anak yang tumbuh di bawah pengasuhan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tanganku menjalar ke mana-mana di nampan ketika makan. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda kepadaku;

يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، كُلْ بِيَمِيْنِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

‘Wahai nak, ucapkanlah bismillah, makan dengan tangan kananmu dan makanlah dari sisi terdekat denganmu.” (HR. Bukhari: 5061, Muslim: 2022)

Di antara hikmah dari syari’at itu adalah untuk menyelisihi kebiasaan setan. Di dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إذا أَكَلَ أحدُكُم فليأكلْ بيمينِهِ. وإذا شرِبَ فليشربْ بيمينِهِ . فإنَّ الشَّيطانَ يأكلُ بشمالِهِ ويشربُ بشمالِهِ

Jika seseorang dari kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim no. 2020)

Oleh sebab itu, perhatikanlah adab yang satu ini. Jangan pernah meremehkannya. Kita tentu tidak mau serupa dengan setan, karena mereka adalah makhluk terlaknat, tidak pantas untuk ditiru. Dan “kotak perusak” itu sudah saatnya untuk ditimbang-timbang lagi. Apakah masih layak ada di rumah ataukah tidak, sebab di sana banyak setan-setan manusianya.

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Apa Hukum Memakai Gelang Bagi Laki-laki?

Soal: Assalamualaikum Ustadz, apa hukum memakai gelang bagi laki-laki? Karena sekarang kita lihat banyak sekali …

Tulis Komentar

WhatsApp chat