Beranda / Fawa'id / Lima Nasehat Untuk Yang Tengah Berduka Karena Kehilangan Orang Yang Dicinta

Lima Nasehat Untuk Yang Tengah Berduka Karena Kehilangan Orang Yang Dicinta

Anda yang tengah berduka karena kehilangan orang yang dicinta, jangan berputus asa karena kita punya Allah ﷻ

“Laut mana yang tidak berombak”, itulah yang dikatakan oleh orang-orang bijak dahulu. Tak seorang manusia pun yang bebas dari cobaan. Siapa pun dia pasti pernah merasakannya. Allah ﷻ berfirman:

 وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 155)

Duka yang melanda karena sebab yang bermacam-macam, entah karena kehilangan orang yang kita cintai, sakit, musibah, kemiskinan, dst adalah hal yang memang menjadi suratan hidup kita di dunia. Kita semua merasakannya, oleh sebab itu, tidak perlu terlampau sedih dengan luka yang kita rasa. Percayalah bahwa orang lain juga merasakan hal yang sama.

Kehidupan itu ibarat sebuah gunung yang hanya indah jika dipandang dari kejauhan, cobalah dekati dan masuk ke dalam maka kita akan mendapati banyaknya masalah dan kesukaran.

Persis sama, kita merasa paling malang dan melihat orang lain hidup tanpa masalah?! keliru, cobalah dekati dan masuk kedalam kehidupan orang itu maka pasti kita akan menyadari bahwa dia juga punya masalah dan tangisan.

Pergantian antara bahagia dan duka, gelak tawa dan air mata adalah takdir kehidupan. Allah ﷻ berfirman untuk menghibur Rasul-Nya yang tengah berduka selepas perang Uhud:

إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Ali Imran: 140)

Buya Hamka rahimahullah pernah mengatakan:

“Zaman bergilir, ada yang naik dan ada yang jatuh, dunia tiada kekal. Bagi diriku sendiri, di dalam hidup ini akupun datang dan akupun akan pergi. Kehidupan adalah pergiliran di antara senyum dan ratap. Air mata adalah asin; sebab itu dia adalah garam dari penghidupan.” (Buya Hamka, Tafsir al-Azhar 1/53)

Kepada saudara kami yang tengah berduka, kami ingin menyampaikan beberapa patah kata. Bukan maksud hati untuk mengajari tapi ini hanyalah untuk menunaikan sebuah kewajiban. Karena agama kita ini adalah agama yang dibangun di atas saling menasehati.

Mudah-mudahan dengan nasehat ini kita bisa saling berbagi satu dengan yang lain. Kesedihan Anda adalah kesedihan kami juga, karena memang kita adalah saudara seiman yang sejasad dan sebadan.

Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan. Semoga bisa menjadi bahan renungan sekaligus bisa mengurangi beban yang sedang Anda pikul sekarang.

❀•◎•❀

Pertama, pahamilah bahwa lahir dan mati adalah takdir Allah ﷻ, kita tidak mampu mengetahuinya. Pun tiada kekuatan bisa menebaknya. Kita tidak bisa memilih kapan, dimana dan bagaimana. Itu semua hak mutlak Allah ﷻ. Kita tidak bisa menunda maupun memajukannya walau sedetik.

Kenapa harus begini ujian yang menimpa? Allah ﷻ yang tahu alasannya. Ketika kita tidak tahu, tidak mengerti alasannya, bukan berarti kita jadi membenci serta tidak menyukai takdir tersebut.

Amat terlarang bagi seorang muslim mendustakan takdir Allah ﷻ. Justru, inilah waktunya membuktikan keimanan kita kepada takdir Allah ﷻ, yang baik ataupun yang buruk.

Mulailah menerima semua ini dengan lapang hati. Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka.

Karena kita tidak bisa mengendalikannya bukan berarti kita jadi makhluk tidak berdaya. Kita tetap bisa mengendalikan diri sendiri bagaimana menyikapinya. Apakah bersedia menerimanya atau mendustakannya.

Ketika kita beriman dan ridha dengan takdir Allah ﷻ maka Allah ﷻ akan memberikan kita kekuatan dan meneguhkan hati kita. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taghabun: 11)

Al-Qamah rahimahullah mengatakan: “Dia adalah orang yang tertimpa musibah lalu dia mengetahui bahwa musibah itu dari Allah ﷻ, maka dia ridha dan menerima.” (Syubatul Iman: 6/227)

Allah ﷻ berfirman:

 قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51)

❀•◎•❀

Kedua, yakin dan percayalah bahwa apapun yang terjadi maka itulah yang terbaik bagi kita. Allah ﷻ lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

Ada banyak hal yang kita cintai dan kita sukai tapi hakikatnya buruk bagi kita dan sebaliknya banyak juga hal yang kita benci tapi sebenarnya itulah yang terbaik untuk kita. Sebagaimana firman Allah ﷻ:

 وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 216)

Allah ﷻ memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Kasih sayang Allah ﷻ kepada kita jauh lebih besar dibandingkan kasih sayang kita kepada diri kita sendiri. Allah ﷻ mustahil menzalimi hambanya karena Allah ﷻ sendiri yang mengatakannya sedangkan Allah ﷻ  adalah yang paling benar perkataannya. Orang-orang bijak dahulu mengatakan:

Tulislah semua rencana hidup kita

Tapi biarlah Allah ﷻ yang memilihnya

Allah ﷻ punya rencana yang lebih indah dari apa yang kita pikirkan

Allah ﷻ tidak memberi apa yang kita inginkan

Tapi Allah ﷻ memberi apa yang kita butuhkan

Kadang kita sedih, kecewa, terluka menerima semua

Tapi jauh diatas segalanya….

Allah ﷻ sedang menyiapkan yang terbaik untuk kita…..

Dan kita pun harus yakin bahwa Allah ﷻ tidak akan pernah memikulkan beban yang tidak akan sanggup dipikul oleh hamba-Nya. Allah ﷻ Maha Tahu dan Bijaksana, semua beban yang kita rasakan pasti sesuai dengan kekuatan kita, Allah ﷻ  berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah ﷻ tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah: 286)

❀•◎•❀

Ketiga, menanggislah kalau memang harus menangis untuk melepaskan beban dalam dada. Tumpahkanlah dia jika memang kita merasa dengan mengalirnya dia dapat mengurangi duka kita.

Menagis itu boleh yang tidak boleh hanyalah Niyahah yaitu tangisan yang menunjukkan ketidakridhaan terhadap takdir Allah ﷻ. Menangis bukanlah tanda orang lemah, Rasulullah ﷺ saja menangis, dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang tengah berduka sekarang.

Dari Anas bin Malik, ia berkata; Kami bersama Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Saif Al Qaiyn yang (isterinya) telah mengasuh dan menyusui Ibrahim ‘alaihissalam (putra Nabi). Lalu Rasulullah ﷺ  mengambil Ibrahim dan menciumnya.

Kemudian setelah itu pada kesempatan yang lain kami mengunjunginya sedangkan Ibrahim telah meninggal. Hal ini menyebabkan kedua mata Rasulullah ﷺ berlinang air mata. Lalu berkatalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf kepada Beliau: “Mengapa anda menangis, wahai Rasulullah?”.

Beliau menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang) “. Beliau lalu melanjutkan dengan kalimat yang lain dan bersabda:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا ، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini wahai Ibrahim sangat bersedih.” (HR. Bukhari: 1220, Muslim: 4279)

❀•◎•❀

Kempat, biarkan waktu mengobati seluruh kesedihan. Ketika kita tidak tahu harus melakukan apalagi, ketika kita merasa semua sudah hilang, musnah, habis sudah, maka itulah saatnya untuk membiarkan waktu menjadi obat terbaik.

Hari demi hari akan menghapus selembar demi selembar kesedihan. Pekan demi pekan akan melepas sepapan demi sepapan kegelisahan. Bulan, tahun maka runtuh sudah bagunan kesedihan di dalam hati.

Biarkan waktu yang mengobatinya, maka semoga kita mulai lapang hati menerimanya. Sambil mengisi hari-hari dengan perbuatan baik dan amal sholeh. Dalam Al-Quran tertulis dengan sangat indah, perintah untuk meminta pertolongan kepada Allah ﷻ dengan kesabaran dan shalat. Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah: 153)

Dalam situasi seperti ini, sabar adalah penolong yang paling dahsyat. Sungguh beruntung orang yang sabar dan senantiasa mendirikan shalat, karena balasan pahala bagi orang yang bersabar tanpa batas dan tak terhingga.

Semoga Allah ﷻ merahmati orang-orang yang beriman. Karena hanya orang-orang yang berimanlah yang mampu menyikapi segala sesuatu dengan cara terbaik. Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Urusan seorang mukmin itu sungguh sangat mengagumkan, karena semua urusannya menjadi kebaikan. Dan yang demikian itu hanya terjadi di kalangan orang-orang mukmin. Jika dianugerahi kebaikan maka ia bersyukur, dan syukurnya itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila ia ditimpa kesulitan, maka ia pun bersabar, dan kesabarannya itu menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim: 2999)

❀•◎•❀

Kelima, mari kita banyak-banyak berdo’a agar Allah ﷻ  memberikan kita kekuatan untuk melampaui semua ujian ini. Diantara doa yang dianjurkan bagi yang tengah berduka, untuk menghilangkan kesedihan dan kesusahan yaitu:

1. Anas bin Malik dia berkata; Nabiﷺ  mengucapkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan duka cita, lemah dan malas, pengecut dan kikir dan terlilit hutang serta dikuasai musuh.” (HR. Bukhari: 6369)

2. Rasulullah ﷺ  bersabda dalam sebuah hadits: “Tidaklah seorang ditimpa duka cita dan kesedihan lalu ia mengucapkan:

اللهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي

Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu dan anak dari hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Berlaku padaku keputusan-Mu. Ketentuan-Mu adil bagiku. Aku mohon pada-Mu dengan semua nama-Mu baik yang Engkau gunakan menamai diri-Mu sendiri, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu. Jadikanlah al-Qur’an sebagai penggembira hatiku, cahaya dadaku, pengusir kesedihanku, dan pelipur laraku.’ Kecuali Allah akan menghilangkan kesedihan dan duka citanya, lalu diganti dengan kelapangan.” (HR. Ahmad: 3712, dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Silsilah ash-Shahihah: 1/337)

3. Do’a Nabi Yunus, yaitu:

 لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Al-Anbiya’: 87)

4. Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah ﷺ ketika tertimpa kesulitan mengucapkan:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Maha Penyantun dan Mahabijaksana. Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Rabb ‘Arsy Yang Mahaagung. Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Rabb tujuh petala langit dan bumi, Rabb ‘Arsy Yang Mahamulia.” (HR. Bukhari: 6346)

5. Mengucapkan do’a:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

 “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada Anda untuk dapat melalui ujian ini semua dan menjadikan Anda lebih baik dan lebih kuat untuk menjalani kehidupan. Jangan putus asa karena kita punya Allah.

 

Tulisan ini kami tulis untuk menghibur keluarga kami yang tengah berduka setelah meninggalnya nenek kami tercinta pada hari Sabtu 28 Syawal 1441 H kemarin, dan terkhusus tulisan ini kami tujuan kepada paman kami Ustadz Muhammad Taufik. Semoga Allah mengampuni dosa nenek kami dan memasukkan beliau ke surga-Nya. amin

Ditulis oleh : Zahir Al-Minangkabawi

Jatimurni Bekasi, Senin 1 Dzul Qa’dah 1441 H/ 22 Juni 2020M

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Enam Nasihat Syaikh Shalih Al Ushaimi Dalam Menghadapi Wabah Corona – Khutbah Jum’at

Di tengah wabah yang melanda, semakin butuh kita pada para Ulama. Berikut adalah teks khutbah …

Tulis Komentar

WhatsApp chat