
Ubah Lelah Menjadi Lillah – Khutbah Jumat
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قال الله: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Pernahkah kita bertanya: Berapa jamkah waktu yang dihabiskan oleh manusia untuk bekerja dalam hidupnya?
Jika dengan asumsi seorang mulai bekerja di usia 25 tahun lalu bekerja sampai pensiun di usia 55 tahun maka ia bekerja 30 tahun. Jika ia bekerja selama 8 jam perhari x 22 hari perbulan x 12 bulan x 30 tahun maka ia menghabiskan 63.360 jam hidupnya untuk bekerja.
Jika kita berada pada posisi itu, maka tanyakanlah kepada sanubari kita: Akankah 60.000 jam itu menguap begitu saja sebagai rutinitas yang melelahkan? Kita habis di balik meja, di depan laptop dan komputer, di ruang rapat, dan di tengah kemacetan Jakarta? Ataukah 30 tahun itu akan menjadi saksi yang memberatkan timbangan kebaikan kita di hadapan Allah kelak?
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Bayangkan ada dua orang, Si A dan Si B. Mereka bekerja di gedung yang sama, menhabiskan waktu yang sama, mengerjakan tugas yang sama, dan pulang dalam keadaan lelah yang sama. Namun bedanya:
Bagi Si A: Setiap langkahnya menuju kantor adalah langkah ibadah yang berbuah pahala. Setiap ketikan jemarinya di komputer adalah jihad. Lelahnya ia karena macet dan tuntutan pekerjaan menjadi penggugur dosa. 30 tahun bekerja ia mendapatkan dunia dan akhiratnya.
Sedangkan Si B: Baginya, kerja hanyalah rutinitas dunia biasa mencari uang. Lelahnya bahkan menjadi stres baginya dan ia kehilangan 60.000 jam lebih dari hidupnya tanpa nilai pahala di sisi Allah.
Apa yang membedakan keduanya? Padahal mereka melakukan hal yang sama? Jawabannya ada pada satu titik di dalam dada yaitu: Niat. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikejarnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dia menuju kepadanya. (HR. Bukhari: 1, Muslim: 1907)
Lihatlah permisalan yang diberikan oleh Nabi. Perbuatan yang sama yaitu hijrah (pindah) namun hasilnya berbeda dikarenakan yang satu meniatkan hijrahnya itu untuk ibadah kepada Allah sedangkan yang kedua untuk mencari dunia semata.
Inilah rahasia besar bagi seorang mukmin. Di tangan seorang mukmin, perkara yang sifatnya mubah (biasa) bisa berubah menjadi ibadah yang berpahala besar dengan menjadikannya Wasilah (sarana) untuk akhirat.
Orang-orang shalih juga bekerja, tetapi mereka menjadikan pekerjaan sebagai wasilah untuk ibadah. Mari kita ambil ibrah dari Imam Abdullah bin Mubarak. Ketika beliau menangis karena kehilangan hartanya, sahabatnya heran, lalu bertanya: “Apakah engkau menangis karena urusan dunia?”
Beliau menjawab: “Barang-barang itu adalah sumber penghidupan untuk menegakkan agamaku.” (Raudhatul Uqala’ hlm. 225, dinukil dari majalah Al-Furqon edisi 74 hlm. 46)
Bagi beliau, harta dan pekerjaan bukan tujuan, melainkan bensin agar mesin ibadahnya tetap menyala. Beliau bekerja agar tidak terhina karena meminta-minta, agar bisa berhaji, agar bisa memberi makan fakir miskin, menanggung biaya hidup para ulama dan penuntut ilmu. Maka menjadilah beliau manusia mulia yang mendapatkan keberuntungan dunia dan akhirat.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dunia ini memang tempatnya lelah. Semua orang di gedung ini merasa capek. Semua orang di jalanan merasa penat. Bahkan mereka yang tidak beriman pun merasakan sakit dan letih yang sama dengan kita. Satu yang membedakan yaitu niat dan orientasi kita. Lihatlah firman Allah ketika menghibur Nabi dan para sahabat saat mereka lelah, terluka, kesakitan, dan terpuruk di perang Uhud:
وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa; 104)
Sama-sama merasakan lelah, sakit, luka dan menderita. Namun mukmin mengharapkan pahala dari Allah, sesuatu yang tidak ada pada orang kafir.
Maka, marilah menjadi “Si A” dalam kehidupan nyata. Mari kita niatkan setiap waktu yang kita habiskan untuk bekerja sebagai wasilah merealisasikan ibadah kepada Allah. Dan kita mengharapkan pahala dari-Nya. Mari kita niatkan bekerja untuk:
- Menjaga harga diri agar tidak meminta-minta kepada manusia
- Menunaikan kewajiban nafkah yang suci bagi anak dan istri.
- Berbakti kepada orang tua melalui hasil keringat sendiri, membahagiakan mereka dengan harta yang kita miliki.
- Menabung untuk sujud di tanah suci (Haji/Umrah).
- Menjadi jalan rezeki bagi anak yatim dan orang-orang lemah melalui zakat dan sedekah kita.
Jika kita meniatkan ini semua, maka setiap waktu yang kita habiskan akan bernilai ibadah dan setiap lelah yang kita rasakan akan mengugurkan dosa, karena Nabi bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.
“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kegalauan, bahkan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu semua.” (HR. Bukhari: 5642, Muslim: 2573)
Semoga Allah menjadikan seluruh amal kita sebagai amal yang saleh, memudahkan langkah dan usaha kita, memberi jalan keluar dari setiap permasalahan hidup kita, Allah berikan kita kekuatan dan Allah selamatkan kita di dunia dan akhirat. Amin.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Jumat, 17 April 2026
Teks Khutbah Jumat di Masjid Al Ikhlas Office 8 Senopati, Senayan Jakarta
Lihat:
Arsip Khutbah Maribaraja.Com
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom





Yuk Gabung !