
Qolbun Salim (Defenisi, Tanda dan Cara Mendapatkannya)
Kenapa memperhatikan masalah hati sangat penting?
- Hati sumber kebaikan dan keburukan
Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh tubuh tersebut, dan apabila ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati.” (Al-Bukhari hadits 52 / Muslim hadits 1599).
Imam An-Nawawi berkata: “Di dalam hadits ini terdapat penegasan untuk bersungguh-sungguh dalam mengupayakan kebaikan hati dan menjaganya dari kerusakan.” (Muslim bi Syarhi An-Nawawi 6/33).
- Hati sering berbolak balik
Dan Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata:
سُمِّيَ الْقَلْبُ قَلْبًا لِتَقَلُّبِهِ فِي الْأُمُورِ، أَوْ لِأَنَّهُ خَالِصُ مَا فِي الْبَدَنِ، وَخَالِصُ كُلِّ شَيْءٍ قَلْبُهُ، أَوْ لِأَنَّهُ وُضِعَ فِي الْقَلْبِ مَقْلُوبًا.
“Dinamakan hati (al-qalbu) sebagai qalbu karena sifatnya yang berbolak-balik (taqallubihi) dalam berbagai urusan, atau karena ia adalah bagian yang paling murni yang ada pada tubuh—dan bagian murni dari segala sesuatu adalah qalbu-nya (intisari/jantungnya)—atau karena ia diletakkan di dalam dada dalam keadaan terbalik.” (Fathul Bari’: 1/156)
Karenanya Nabi sering berdo’a:
يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi: 2140, Ibnu Majah: 3834 Dihasankan oleh al-Albani dalam al-Silsilah ash-Shahihah no. 2091)
- Hati yang Salim adalah syarat masuk surga
Allah berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ • إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيم ٍ
Di hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang salim. (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)
Bagaimanakah hati yang salim itu? Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebut sebuah riwayat dari Abu ‘Utsman An-Naisaburi, bahwa beliau rahimahullah mengatakan:
هُوَ القَلْبُ الخَالِي مِنَ البِدْعَةِ المُطْمَئِنُّ عَلَى السُنَّةِ
“Hati yang salim itu adalah hati yang bersih dari kebid’ahan dan tenang di atas sunnah.” (Tafsir Ibn Katsir: 6/149)
Sunnah disini dalam artian istilah aqidah yaitu segala sesuatu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lawan dari bid’ah, bukan dalam artian istilah fikih.
Macam-macam hati
Para ulama mengatakan: Hati ada 3 macam yaitu:
Pertama: Hati yang selamat (Qalb Salim)
Yaitu hati yang pemiliknya selamat dari terjerumus ke dalam syubhat (keragu-raguan) dan syahwat, istiqamah di atas perintah Allah, mengikuti sunnah Rasulullah — shallallahu ‘alaihi wa sallam — serta mengikuti pula para Salafush Shalih (pendahulu yang saleh). Maka hal itu membuahkan keselamatan hatinya di dunia dari penyakit-penyakit hati yang biasa menyerang.
Kedua: Hati yang mati (Qalb Mayyit)
Yaitu hati yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Ia tidak mengenal Tuhannya, Pelindungnya, Penciptanya, maupun Pemberi Rezekinya; ia tidak menyembah-Nya, tidak melaksanakan perintah-Nya, tidak berhenti dari larangan-Nya, tidak mencintai apa yang Dia cintai dan ridai, serta tidak membenci apa yang Dia benci dan enggan padanya. Sebaliknya, ia terpaku pada syahwat dan keinginan-keinginannya, meskipun di dalamnya terdapat kemurkaan Tuhannya.
Ketiga: Hati yang sakit (Qalb Maridh)
Hati yang sakit adalah hati yang memiliki kehidupan namun padanya terdapat penyakit. Ia memiliki dua materi (sumber kekuatan) yang menyokongnya; sumber ini mendukungnya sekali waktu, dan sumber itu mendukungnya di waktu lain, dan ia (kondisinya) tergantung pada mana yang lebih dominan di antara keduanya. Di dalamnya terdapat kecintaan kepada Allah Ta’ala, iman kepada-Nya, ikhlas untuk-Nya, dan tawakal kepada-Nya, yang mana semua itu merupakan materi kehidupannya. Namun di dalamnya juga terdapat kecintaan pada syahwat, ambisi untuk mendapatkannya, rasa hasad (iri hati), kesombongan, rasa ujub (bangga diri), cinta ketinggalan (kekuasaan) dan kerusakan di muka bumi dengan mengejar kepemimpinan, kemunafikan, riya, sifat kikir, serta kebakhilan, yang mana semua itu merupakan materi kebinasaan dan kerusakannya.
Sifat dan Tanda Hati Yang Salim
- Tenang (Mutmain);
Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. [Ar-Ra’d: 28].
- Kembali (Munib);
Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ
(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat. [Qaf: 33].
- Gemetar/Takut (Wajil);
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. [Al-Anfal: 2].
Dan Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَى مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاَةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka. [Al-Hajj: 35].
- Selamat (Salim);
Allah Ta’ala berfirman:
إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. [Asy-Syu’ara: 89].
- Lembut (Layin);
Allah Ta’ala berfirman:
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lembut kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pemberi petunjuk pun. [Az-Zumar: 23].
- Penyayang dan Penyantun (Rahim Ra’uf);
Allah Ta’ala berfirman:
ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَى آثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلاَّ ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا فَآتَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
Kemudian Kami iringkan di belakang mereka rasul-rasul Kami dan Kami iringkan (pula) Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka melainkan (kami wajibkan) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik. [Al-Hadid: 27].
- Khusyuk (Khasyi’);
Allah Ta’ala berfirman:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَ يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka menyerupai orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. [Al-Hadid: 16].
- Memiliki Ketenangan (Sakinah);
Allah Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [Al-Fath: 4].
- Kuat (Qawi);
Allah Ta’ala berfirman:
وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا
Dan Kami teguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” [Al-Kahfi: 14].
- Tunduk/Patuh (Mukhbit);
Allah Ta’ala berfirman:
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Quran itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. [Al-Hajj: 54].
Sebab-sebab yang Membantu Keselamatan Hati
Para ahli ilmu telah menyebutkan beberapa sebab yang membantu pemiliknya untuk menjadi bagian dari golongan orang-orang yang memiliki hati yang selamat (qalbun salim), yang dapat kami simpulkan sebagai berikut:
Pertama: Mengikhlaskan amal hanya karena Allah semata
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (162) tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [Al-An’am: 162, 163].
Dan Allah Subhanahu berfirman:
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. [Al-Insan: 9].
Kedua: Ridanya seorang Muslim terhadap Tuhannya
Maksud dari ridanya seorang hamba terhadap Tuhannya adalah rida kepada-Nya dalam setiap apa yang telah diputuskan dan ditetapkan-Nya (qadha dan qadar). (Madarijus Salikin 2/183).
Ibnu al-Qayyim —rahimahullah— berkata saat berbicara tentang kedudukan rida: “Sesungguhnya rida itu membukakan bagi hamba pintu keselamatan, sehingga menjadikan hatinya selamat (sehat) dan bersih dari penipuan, kecurangan, serta dendam. Dan tidak akan selamat dari azab Allah kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat, dan mustahil bagi hati untuk selamat jika dibarengi dengan kemurkaan (ketidakpuasan) dan tidak adanya rida. Semakin kuat keridaan seorang hamba, maka semakin selamat pula hatinya. Maka kekejian, kecurangan, dan penipuan adalah kawan dari kemurkaan; sedangkan keselamatan hati, keridaannya, kebaikannya, dan ketulusannya adalah kawan dari keridaan. Demikian pula hasad (iri hati), ia termasuk dari buah kemurkaan, sedangkan keselamatan hati darinya termasuk dari buah keridaan.” (Madarijus Salikin 2/207).
Ketiga: Tilawah (Membaca) Al-Qur’an
Sesungguhnya tilawah Al-Qur’anul Karim adalah obat paling agung bagi penyakit-penyakit hati, dengan syarat ia menemukan hati yang menerima kebenaran dan menolak kebatilan. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada. [Yunus: 57].
Keempat: Berprasangka baik kepada kaum Muslimin
Sesungguhnya seorang Muslim yang berprasangka baik kepada saudara-saudaranya sesama Muslim merupakan salah satu sarana terpenting bagi keselamatan hati. Diriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyib bahwa ia berkata: “Beberapa saudaraku dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat kepadaku (yang isinya):
ضَعْ أَمْرَ أَخِيكَ عَلَى أَحْسَنِهِ مَا لَمْ يَأْتِكَ مَا يُغْلِبُكَ، وَلَا تَظُنَّنَّ بِكَلِمَةٍ خَرَجَتْ مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ شَرًّا وَأَنْتَ تَجِدُ لَهَا فِي الْخَيْرِ مَحْمِلًا، وَمَنْ عَرَّضَ نَفْسَهُ لِلتُّهَمِ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ.
‘Letakkanlah urusan saudaramu pada kemungkinan yang terbaik selama tidak datang kepadamu hal yang mengalahkanmu (hal buruk yang pasti), dan janganlah sekali-kali kamu menyangka buruk terhadap satu kata yang keluar dari lisan seorang Muslim sementara kamu masih menemukan celah kebaikan padanya. Dan barangsiapa yang menempatkan dirinya di tempat-tempat tuduhan, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri’.” (Syu’abul Iman karya Al-Baihaqi 1/323).
Kelima: Nasihat
Di antara sebab-sebab keselamatan hati adalah semangat seorang Muslim untuk menasihati saudaranya secara rahasia (privat), tanpa mencela atau mempermalukan, yaitu dalam hal-hal yang ia yakini menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah. Nasihat ini bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung namun tanpa menyakiti perasaan. Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Seorang mukmin itu menutupi (aib) dan menasihati, sedangkan orang fajir (pelaku dosa) itu membongkar (aib) dan mempermalukan.”
Keenam: Berdoa memohon keselamatan hati
Berdoa memohon keselamatan hati termasuk sifat para hamba Allah Yang Maha Pengasih (‘Ibadurrahman). Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. [Al-Hasyr: 10].
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa:
رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي وَاغْسِلْ حَوْبَتِي وَأَجِبْ دَعْوَتِي وَثَبِّتْ حُجَّتِي وَاهْدِ قَلْبِي، وَسَدِّدْ لِسَانِي وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي
“Wahai Tuhanku, terimalah tobatku, cucilah dosaku, kabulkanlah doaku, kokohkanlah hujjahku (argumentasiku), berilah petunjuk pada hatiku, luruskanlah lisanku, dan cabutlah kedengkian (penyakit) hatiku.” (Hadits Shahih) (Shahih Abi Dawud oleh Al-Albani hadits 1337).
Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” [Muslim hadits 2654].
Ketujuh: Menebarkan salam
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian pada sesuatu yang jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” [Muslim hadits 54].
Kedelapan: Hadiah:
Sesungguhnya perbuatan baik memiliki pengaruh yang besar terhadap tabiat manusia, dan hati secara alami diciptakan untuk mencintai siapa pun yang berbuat baik kepadanya. Oleh karena itu, hadiah dapat mempersatukan hati serta menghilangkan permusuhan dan rasa hasad (iri hati) darinya. Hadiah juga mengekspresikan rasa cinta dan penghormatan kepada orang lain yang ada di dalam hati pemberinya. Karena alasan itulah, Islam sangat menganjurkan kita untuk saling memberi hadiah.
Al-Bukhari meriwayatkan (dalam Al-Adab al-Mufrad) dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
“Saling memberilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (Hadits Shahih) (Shahih Al-Adab al-Mufrad oleh Al-Albani hadits 462).
Semoga bermanfaat.
Banyak mengambil Faidah dari artikel:
- Al-Qalbu As-Salim, oleh Syaikh Shalah Najib Ad-Diqq (alukah.net)
- Anwa’ Al-Qalb wa Shifatuha, oleh Syaikh Abdul Majid Abduh Thaha An-Nahari (alukah.net)
Lihat:
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom



Yuk Gabung !