Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / KEUTAMAAN SIFAT TAWAKAL

KEUTAMAAN SIFAT TAWAKAL

Tawakal adalah sifat terpuji yang diperintahkan oleh Allah ta’ala. Allah berfirman:
{وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا} [الفرقان : 58]
Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Furqan: 58)
Defenisi Tawakal

Tawakal secara bahasa berasal dari suku kata waw kaf lam yang bermakna bersandar kepada orang lain dalam satu perkara. Ibnu Sidah mengatakan: “Bertawakal kepada Allah artinya berserah diri kepada-Nya.” (Mausu’ah Nadhratun Na’im: 1377)
Tawakal secara istilah adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ibnu Rajab:
حَقِيْقَةُ التَّوَكُّلِ هُوَ صِدْقُ اعْتِمَادِ القَلْبِ عَلَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي اسْتِجْلَابِ المَصَالِحِ وَ دَفْعِ المَضَارِّ مِنْ أُمُوْرِ الدُنْيَا وَ الآخِرَةِ كُلِّهَا وَكِلَة الأُمُوْرِ كُلِّهَا إِلَيْهِ وَ تَحْقِيْقِ الإِيْمَانِ بِأَنَّهُ لَا يُعْطِيْ وَلَا يَمْنَعُ وَلَا يَضُرّ وَلَا يَنْفَع سِوَاهُ
“Hakikat tawakal adalah kejujuran penyandaran hati kepada Allah dalam meminta kemaslahatan dan menolak kemudharatan dalam urusan dunia dan akhirat semuanya. Menyerahkan segala urusan hanya kepada-Nya. Serta mengimani bahwa tidak ada yang mampu memberi, menghalangi, memberikan mudharat dan manfaat selain-Nya.” (Jami’ul Ulumi wal Hikam: 2/497)
Faidah dan Keutamaan Tawakkal
1. Ciri orang yang beriman
Seorang mukmin adalah orang yang mempunyai sifat tawakkal. Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfal: 2)
2. Diberi rezeki dan kecukupan
Barang siapa yang bertawakal maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Allah berfirman:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaq: 3)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Andai saja kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian diberi rizki seperti rizkinya burung, pergi dengan perut kosong di pagi hari dan pulang di sore hari dengan perut terisi penuh.” (HR. Tirmidzi: 2433)
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan:
قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: تَوَكَّل تُسْقَ إِلَيْكَ الأَرْزَاق بِلَا تَعْبٍ وَلَا تَكَلُّفٍ

“Sebagian ulama salaf mengatakan, ‘Tawakal akan mengalirkan rezeki kepadamu tanpa keletihan dan usaha keras.'”(Jami’ul Ulumi wal Hikam: 2/502)
3. Masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab
Diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu:
خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَجَعَلَ يَمُرُّ النَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلَانِ وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّهْطُ وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ وَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ الْأُفُقَ فَرَجَوْتُ أَنْ تَكُونَ أُمَّتِي فَقِيلَ هَذَا مُوسَى وَقَوْمُهُ ثُمَّ قِيلَ لِي انْظُرْ فَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ الْأُفُقَ فَقِيلَ لِي انْظُرْ هَكَذَا وَهَكَذَا فَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ الْأُفُقَ فَقِيلَ هَؤُلَاءِ أُمَّتُكَ وَمَعَ هَؤُلَاءِ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَتَفَرَّقَ النَّاسُ وَلَمْ يُبَيَّنْ لَهُمْ فَتَذَاكَرَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا أَمَّا نَحْنُ فَوُلِدْنَا فِي الشِّرْكِ وَلَكِنَّا آمَنَّا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَلَكِنْ هَؤُلَاءِ هُمْ أَبْنَاؤُنَا فَبَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ أَمِنْهُمْ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ فَقَامَ آخَرُ فَقَالَ أَمِنْهُمْ أَنَا فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَاشَةُ
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami lalu beliau bersabda: “Telah ditampakkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi lewat bersama satu orang, seorang Nabi bersama dua orang saja, seorang Nabi bersama sekelompok orang dan seorang Nabi tanpa seorang pun bersamanya. Lalu tiba-tiba ditampakkan kepadaku kumpulan manusia yang banyak memenuhi ufuk, aku berharap mereka adalah ummatku, namun dikatakan padaku; ‘Ini adalah Musa dan kaumnya, lalu di katakana pula kepadaku; “Tapi lihatlah di ujung sebelah sana.’ Ternyata aku melihat ada sekumpulan orang yang sangat banyak, kemudian dikatakan lagi padaku; ‘Lihat juga yang sebelah sana.’ Ternyata aku juga melihat ada sekumpulan orang yang sangat banyak lagi, lalu dikatakan padaku; ‘Ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab.” Setelah itu orang-orang bubar dan belum sempat ada penjelasan kepada mereka, sehingga para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saling membicarakan hal itu, mereka berkata; “Adapun kita dilahirkan dalam kesyirikan akan tetapi kita beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mungkin mereka adalah para anak cucu kita.” Lantas peristiwa tersebut sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah bertathayur (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak pernah meminta untuk diruqyah dan tidak mau menggunakan Kay (pengobatan dengan besi panas), dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakkal.” Lalu Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata; “Apakah aku termasuk di antara mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya.” Kemudian yang lainnya berdiri lalu bertanya; “Apakah aku juga termasuk di antara mereka?” Beliau menjawab: “Ukasyah telah mendahuluimu dalam hal ini.” (HR. Bukhari: 5752, Muslim: 220)
Diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, ia pernah bercerita:
لَدَغَنِي عَقْرَبٌ فَأَقْسَمَتْ عَلَيَّ أُمِّيْ أَنْ أسْترْقِيَ، فَأَعْطَيْتُ الرَّاقِي يَدِيَ الَّتِي لِمْ تُلْدَغْ وَ كَرِهْتُ أَنْ أُحْنِثَهَا
“Seekor kalajengking menyengatku, lantas ibuku bersumpah supaya aku diruqiyah. Kemudian aku pun memberikan tanganku yang tidak disengat kepada peruqiyahnya dan aku tidak suka harus membuat ibu membatalkan sumpahnya.” (Munajjidul Khatib: 1/57)

3. Menghilangkan rasa takut
Dari Jabir bin Abdillah, ia bercerita:
غَزَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزْوَةً قِبَلَ نَجْدٍ فَأَدْرَكَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَادٍ كَثِيرِ الْعِضَاهِ فَنَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ شَجَرَةٍ فَعَلَّقَ سَيْفَهُ بِغُصْنٍ مِنْ أَغْصَانِهَا قَالَ وَتَفَرَّقَ النَّاسُ فِي الْوَادِي يَسْتَظِلُّونَ بِالشَّجَرِ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَجُلًا أَتَانِي وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَ السَّيْفَ فَاسْتَيْقَظْتُ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِي فَلَمْ أَشْعُرْ إِلَّا وَالسَّيْفُ صَلْتًا فِي يَدِهِ فَقَالَ لِي مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي قَالَ قُلْتُ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّانِيَةِ مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي قَالَ قُلْتُ اللَّهُ قَالَ فَشَامَ السَّيْفَ فَهَا هُوَ ذَا جَالِسٌ ثُمَّ لَمْ يَعْرِضْ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Kami berperang bersama-sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu peperangan di daerah Nejed. Kami jumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di sebuah lembah yang di sana banyak tumbuh pohon-pohon besar dan berduri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti di bawah sebatang pohon, lalu beliau gantungkan pedangnya pada sebatang dahan pohon. Jabir berkata; ‘Pada saat itu, para sahabat pergi berpecar di lembah itu. Masing-masing mencari tempat bernaung di bawah pohon. Kemudian Rasulullah mengatakan: “Tadi ketika aku sedang tidur di bawah pohon, ada seseorang yang mendatangiku seraya mengambil pedangku. Tak lama kemudian aku pun terjaga dari tidur, sedangkan ia telah berdiri di atas kepalaku. Aku telah mengetahui bahwasannya ia telah siap dengan pedang di tangannya. Dia berkata; ‘Hai Muhammad, siapakah yang dapat menghalangiku untuk membunuhmu? Dengan tegas aku menjawab; ‘Allah.’ Dia bertanya lagi; ‘Siapakah yang dapat menghalangiku untuk membunuhmu? Aku menjawab; ‘Allah.’ Akhirnya orang tersebut menyarungkan kembali pedangku itu dan inilah orangnya sedang duduk.” Ternyata Rasulullah tidak menyerang sama sekali untuk membalasnya. (HR. Bukhari: 2910 Muslim: 843)
Dari Abu Bakar ash Shiddiq, ia menuturkan:
كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْغَارِ فَرَأَيْتُ آثَارَ الْمُشْرِكِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ رَفَعَ قَدَمَهُ رَآنَا قَالَ مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا
Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Gua Hira, lalu aku melihat jejak-jejak orang Musyrikin. Maka aku berkata; Ya Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka mengangkat kakinya tentu dia akan melihat kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidakkah engkau beranggapan jika ada dua orang, maka Allah lah yang ketiganya?.” (HR. Bukhari: 4663)
4. Mendapatkan perlindungan Allah
Dari Ibnu Abbas, ia menuturkan:
{ حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ }
قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا
{ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ }
Hasbunallah wa ni’mal wakil adalah ucapan Ibrahim Alaihis Salam ketika di lemparkan ke api. Juga diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika orang-orang kafir berkata; “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (HR. Bukhari: 4563)

5. Mencegah kesyirikan
Rasulullah bersabda:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثًا وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik -tiga kali-. Tidaklah di antara kita kecuali beranggapan seperti itu, akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal.” (HR. Abu Dawud: 3411, Tirmidzi: 1539)
6. Masuk surga
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ
“Beberapa kaum masuk surga, hati mereka seperti hati burung.” (HR. Muslim: 2840)

7. Membuat tenang
Rasulullah pernah bersabda kepada para sahabat:
كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدْ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ فَكَأَنَّ ذَلِكَ ثَقُلَ عَلَى أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُمْ قُولُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا
“Bagaimana aku bersenang-senang sementara malaikat peniup sangkakala telah menelan tanduk (terompet) dan mendengar izin kapankan diperintahkan untuk meniup lalu ia akan meniup.” Sepertinya hal itu terasa berat oleh para sahabat nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu beliau bersabda kepada mereka: “Ucapkan: HASBUNALLAAH WA NI’MAL WAKILL ‘ALALLAAHI TAWAKKALNAA.” (HR. Tirmidzi: 2431)
Tawakal Tidak Menafikan Usaha
Seorang yang bertawakal tetap harus mengambil sebab, tidak boleh meninggalkan usaha. Dari Anas bin Malik, ia menceritakan:
قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
Ada seorang lelaki yang bertanya: Wahai Rasulullah apakah aku harus mengikat untaku kemudian bertawakkal atau aku melepaskannya saja kemudian bertawakkal? Beliau menjawab: “Ikatlah untamu kemudian bertawakkallah.” (HR. Tirmidzi: 2441)
Ibnu Abbas menuturkan:
كَانَ أَهْلُ الْيَمَنِ يَحُجُّونَ وَلَا يَتَزَوَّدُونَ وَيَقُولُونَ نَحْنُ الْمُتَوَكِّلُونَ فَإِذَا قَدِمُوا مَكَّةَ سَأَلُوا النَّاسَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى }
“Dahulu para penduduk Yaman berhajji namun mereka tidak membawa bekal dan mereka berkata, kami adalah orang-orang yang bertawakal. Ketika mereka tiba di Makkah, mereka meminta-minta kepada manusia. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat 197 dari QS Al Baqarah) yang artinya (“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”.) (HR. Bukhari: 1523)
Oleh sebab itu, barang siapa yang meninggalkan usaha dengan alasan tawakal maka sungguh ia telah salah besar. Imam Ahmad pernah mengatakan:
يَنْبَغِيْ لِلنَّاسِ كُلِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَ لَكِنْ يُعَوِّدُوْنَ أَنْفُسَهُمْ بِالْكَسْبِ فَمَنْ قَالَ بِخِلَافِ هَذَا القَوْلِ فَهَذَا قَوْلُ إِنْسَانِ أَحْمَق
“Selayaknya semua manusia bertawakal kepada Allah. Akan tetapi, hendaknya mereka membiasakan diri untuk bekerja. Barangsiapa yang berpendapat berbeda dengan pendapat ini, maka pendapat tersebut adalah pendapat orang yang dungu.” (Mausu’ah Nadhratun Na’im: 1397)
Demikianlah pembahasan singkat tentang tawakal, semoga bermanfaat.
Referensi:
1. Musu’ah Nadhratun Na’im cet. Darul Wasilah, KSA
2. Jami’ul Ulumi wal Hikam cet. Muassasah ar Risalah
3. Munajjidul Khatib cet. Dar Ibn Hazm

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah – Ini Sudah Cukup Untuk Mengantarkanku

Manakala Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu tiba di Syam, para pembesar; panglima dan komandan pasukan …

Tulis Komentar