Memahami Takdir Dengan Baik

Bab 1: Kedudukan Beriman Kepada Takdir dan Larangan Berlebihan di Dalamnya

Beriman kepada takdir Allah merupakan salah satu di antara rukun iman bahkan sangat ditekankan, karenanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengulangi penyebutan beriman ketika masalah takdir, beliau bersabda:

 أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan hari akhir serta engkau beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim: 8)

Defenisi Takdir

Takdir secara bahasa maknanya adalah penentuan. Sebagaimana firman Allah:

فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ

Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. (QS. Al-Mursalat: 23)

Sedangkan secara istilah takdir adalah: Keterkaitan ilmu Allah terhadap segala kejadian serta kehendak-Nya terhadap hal itu pada waktu azali sebelum adanya kejadian tersebut. Tidak ada satupun kejadian kecuali Allah telah menakdirkannya. (Syarh al-Aqidah al-Wasitiyah al-Fauzan: 209)

Larangan Berlebihan Membahas Takdir

Perbuatan Allah hanya diketahui melalui wahyu. Karenanya, wajib mencukupkan pembahasan takdir pada dalil yang ada. Pembahas tadkir menggunakan akal tanpa dalil adalah jalan menuju kebinasaan. Diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya (radhiyallahu ‘anhu), beliau menceritakan:

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَصْحَابِهِ وَهُمْ يَتَنَازَعُونَ فِي الْقَدَرِ، فَكَأَنَّمَا أُقْفِئَ فِي وَجْهِهِ حَبُّ الرُّمَّانِ مِنَ الْغَضَبِ، فَقَالَ: «أَبِهَذَا أُمِرْتُمْ؟ أَمْ بِهَذَا أُرْسِلْتُمْ إِلَيْكُمْ؟ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حِينَ تَنَازَعُوا فِي هَذَا الْأَمْرِ، عَزَمْتُ عَلَيْكُمْ أَلَّا تَتَنَازَعُوا فِيهِ»

“Rasulullah pernah keluar menemui para sahabatnya dalam keadaan mereka sedang berbantah-bantahan (memperdebatkan) masalah takdir. Maka wajah beliau berubah merah padam seakan-akan diperas di atas wajahnya buah delima karena marahnya. Beliau bersabda: ‘Apakah untuk ini kalian diperintahkan? Atau apakah dengan ini aku diutus kepada kalian? Sesungguhnya binasanya umat-umat sebelum kalian tidak lain karena mereka saling memperdebatkan masalah ini. Aku tegaskan kepada kalian, janganlah kalian saling memperdebatkannya!'” (HR. Tirmidzi no. 2133, Ibn Majah no. 85, dan Ahmad)

Nabi juga bersabda:

إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِي فَأَمْسِكُوا، وَإِذَا ذُكِرَ النُّجُومُ فَأَمْسِكُوا، وَإِذَا ذُكِرَ الْقَدَرُ فَأَمْسِكُوا

“Jika para sahabatku disebut (dijadikan bahan celaan), maka tahanlah diri kalian. Jika ilmu perbintangan (ramalan) disebut, maka tahanlah diri kalian. Dan jika takdir dibahas, maka tahanlah diri kalian.” (HR. At-Tabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir:10448, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah As-Sahihah no. 34)

Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki yang mendatangi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu lalu bertanya: “Wahai Amirul Mukminin, kabarkan kepadaku tentang takdir!”

Ali menjawab:

طَرِيقٌ مُظْلِمٌ فَلَا تَسْلُكُوهُ

“Itu adalah jalan yang gelap, maka janganlah kalian menempuhnya.”

Orang tersebut bertanya lagi untuk kedua kalinya, lalu Ali menjawab:

بَحْرٌ عَمِيقٌ فَلَا تَلِجُوهُ

“Itu adalah lautan yang dalam, maka janganlah kalian menyelaminya.”

Orang tersebut masih bertanya untuk ketiga kalinya, maka Ali menegaskan:

سِرُّ اللَّهِ فَلَا تَكَلَّفُوهُ

“Itu adalah rahasia Allah, maka janganlah kalian memaksakan diri untuk membebani diri dengannya.” (Syarh Ushul I’tiqad: 1123, Syarh Aqidah Thahawiyah: 1/383)

Seorang yang membicarakan takdir melampaui batasan dalil maka ia akan semakin bingung dan berakhir dengan kebinasaan. Seorang laki-laki mendatangi Imam Abu Hanifah untuk memperdebatkan masalah takdir kepadanya. Maka Abu Hanifah berkata kepadanya:

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ النَّاِظَرَ فِي الْقَدَرِ كَالنَّاظِرِ فِي عَيْنَيِ الشَّمْسِ، كُلَّمَا ازْدَادَ نَظَرًا ازْدَادَ تَحَيُّرًا

‘Tidakkah engkau tahu bahwa orang yang memandang (menyelami) takdir itu seperti orang yang menatap langsung ke pusat cahaya matahari; semakin lama ia memandangnya, semakin bertambah pula kebingungan (dan kesilauannya)?’” (At-Taudhihat: 2/600)

Manusia tidak bisa memungkiri keberadaan matahari dan manfaat sinarnya yang menerangi alam semesta. Namun, jika mata manusia yang lemah dipaksa menatap langsung ke titik pusat matahari (‘ainisy syams), mata itu akan silau, sakit, dan akhirnya buta. Takdir dan hikmah Allah itu nyata serta memenuhi alam semesta. Namun, akal manusia diciptakan dengan kapasitas terbatas. Jika akal dipaksa menembus rahasia terdalam takdir Allah (Sirrullah) tanpa bimbingan wahyu, akal tersebut akan mengalami tahayyur (kebingungan, keraguan, dan penyimpangan). Maka, kecerobohan terbesar seseorang adalah memaksakan alat yang terbatas (akal) untuk mengukur sesuatu yang tidak terbatas (ilmu dan hikmah Allah).

 

Bab 2: Takdir Adalah Perbuatan Allah

Takdir adalah perbuatan Allah. Sedangkan kita wajib menyakini bahwa perbuatan Allah berangkat dari:

  1. Hikmah Dan Kekuasaan Allah

Allah maha kuasa dalam segalanya dan berbuat apa saja yang Dia kehendaki, tidak ada suatu pun yang dapat mengahalangi Allah dari apa yang ia kehendaki. Allah berfirman:

فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

“Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Buruj: 16)

Allah tidak ditanya tentang perbuatannya. Tidak boleh mengatakan mengapa Allah melakukan ini dan itu dalam rangka protes terhadap perbuatannya. Allah berfirman:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, melainkan merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 23)

Meski Allah berbuat apa yang Dia mau akan tetapi semua perbuatan Allah mengandung hikmah. Tidak ada satupun ciptaan-Nya dan ketetapan-Nya yang sia-sia. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ • مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq (tujuan yang benar), tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Ad-Dukhan [44]: 38–39)

Oleh sebab itulah, mentadaburi ayat-ayat Allah baik kauniyah maupun syariyah adalah hal yang wajib. Bertanya “kenapa Allah menciptakan ini?” dalam rangka mencari hikmah dan menambah keimanan adalah hal yang diperintahkan. Allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka tidakkah mereka menghayati (mentadaburi) Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad [47]: 24)

Allah berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ • وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adh-Dhariyat [51]: 20–21)

Allah befirman:

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ • وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ • وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ • وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

“Maka tidakkah mereka memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Dan langit bagaimana ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan? Dan bumi bagaimana dihamparkan?” (QS. Al-Ghashiyah [88]: 17–20)

Seluruh perbuatan dan ketetapan Allah senantiasa berlandaskan pada nama-Nya الْحَكِيمُ  (Al-Hakīm — Yang Maha Bijaksana)

  1. Semua Perbuatan Allah Baik

Semua yang ada adalah ciptaan dan ketetapan Allah. Allah berfirman:

وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِ اللَّهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ اللَّهِ

“Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka berkata: ‘Ini adalah dari sisi Allah’, dan jika mereka ditimpa suatu keburukan (bahaya/kesusahan), mereka berkata: ‘Ini adalah dari sisimu (Muhammad).’ Katakanlah: ‘Semuanya (kebaikan dan keburukan itu) datang dari sisi Allah.'” (QS. An-Nisa’ [4]: 78)

Akan tetapi Semua perbuatan Allah adalah baik, termasuk takdir. Lalu bagaimana dengan hadits Nabi tentang takdir:

وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Dan engkau beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk. (HR. Muslim: 8)

Jawabannya, Takdir baik dan takdir buruk adalah dari perspektif makhluk. Namun apabila dilihat dari sisi perbuatan Allah maka semuanya baik. Karena ketetapan Allah berasala dari ilmu, hikmah, kasih sayang dan kebijaksanaan Allah. Dalam salah satu doa iftitah yang terdapat dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu disebutkan,

وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ

“Kebaikan itu seluruhnya pada kedua tangan-Mu dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.” (HR. Muslim, no. 771)

Baiknya perbuatan Allah terbagi menjadi 2 yaitu: 1) Baik secara zatnya, seperti Malaikat. 3) Baik dari hikmah dibaliknya, seperti Iblis. Dengan adanya Iblis maka terjadinya ujian keimanan, ada yang berdosa lalu bertaubat, terlihatlah siapa yang benar-benar beriman dengan pura-pura, dst

Namun, kedua hal tadi dalam kaca mata manusia, maka Malaikat adalah takdir baik sedangkan Iblis adalah takdir buruk. Demikian juga dengan sehat dan sakit, dst.

  1. Ilmu, Kasih Sayang Dan Keadilan Allah

Allah disifati dengan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya tidak ada yang menandingi, ia mengalahkan semua kasih sayang yang pernah ada. Dari Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:

قُدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ، فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ قَدْ تَحَلَّبَ ثَدْيُهَا، تَسْعَى، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ، فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا، وَأَرْضَعَتْهُ. فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟» قُلْنَا: لَا، وَاللَّهِ، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ. فَقَالَ: اللَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

“Telah datang kepada Nabi sekelompok tawanan perang. Di antara mereka ada seorang wanita yang sedang mencari bayinya. Ketika ia menemukan seorang bayi di antara para tawanan, ia pun mengambilnya, menempelkannya ke perutnya, lalu menyusuinya. Maka Rasulullah bersabda kepada kami: ‘Apakah kalian melihat wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api (neraka)?’ Kami menjawab: ‘Tidak, demi Allah, selama ia mampu untuk tidak melakukannya.’ Beliau bersabda: ‘Sungguh, Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya.’” (HR. Bukhari: 5999)

Dan juga, Allah adalah Dzat yang Maha Adil, tidak pernah mezalimi para hamba. Allah berfirman:

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan Rabbmu tidak akan pernah menzalimi siapapun juga.” (QS. Al-Kahfi[18]: 49)

Dari Nabi ﷺ , bahwasannya Allah Ta’ala berfirman:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي ، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا ، فَلَا تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diriKu. Dan aku jadikan kezaliman itu sesuatu yang haram di antara kalian. Maka kalian jangan saling berbuat zalim. (HR. Muslim no. 2577)

Oleh karena itu, barang siapa yang berbuat baik maka Allah akan berikan pahala kebaikan untuknya dan barang siapa yang berbuat jahat Allah akan balas dengan hukuman sebagai bentuk keadilan Allah. Allah berfirman:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ • وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8)

Allah Maha Pemaaf. Maha suci dari sifat dendam. Nabi bersabda:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai seorang pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi: 3513, Ibnu Majah: 3850, Ahmad: 24322)

Dalam sebuah Hadis Qudsi, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

“Ketika Allah menetapkan penciptaan, Dia menuliskan dalam kitab-Nya yang ada di sisi-Nya di atas ‘Arsy: ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan (mendahului) murka-Ku.'” (HR. Bukhari no. 3194 dan Muslim no. 2751)

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ، مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاَةٍ، فَانْبَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً، فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا، قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

“Sungguh, Allah lebih gembira dengan tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya, daripada kegembiraan salah seorang di antara kalian yang menunggangi untanya di suatu padang pasir yang luas, lalu unta itu lari meninggalkannya padahal perbekalan makanan dan minumannya ada pada unta tersebut. Orang itu pun putus asa untuk menemukannya kembali. Lalu ia mendatangi sebuah pohon dan berbaring di bawah naungannya dalam keadaan benar-benar putus asa dari untanya. Ketika ia dalam kondisi demikian, tiba-tiba unta itu telah berdiri kembali di sisinya! Maka ia segera memegang tali kelandangnya, lalu ia berkata karena saking bahagianya: ‘Ya Allah, Engkau adalah hamba-Ku dan aku adalah Tuhan-Mu!’ Ia salah ucap karena gembira yang tiada tara.” (HR. Muslim no. 2747)

Bab 3: Pendekatan Bahwa Takdir Berasal Dari Ilmu, Hikmah, Kasih Sayang dan Keadilan Allah

Dari pembahasan sebelumnya, tampaklah bahwa semua takdir yang menimpa seorang hamba berasal dari ilmu, hikmah, kasih sayang dan keadilan Allah. Mari kita lihat pada penerapannya dalam kehidupan manusia pada 2 contoh, yaitu:

Contoh Pertama, Musibah.

Ketika Allah menimpakan musibah (bencana) kepada hamba-Nya bukan karena Allah zalim akan tetapi berdasarkan ilmu, hikmah, kasih sayang dan keadilan Allah. Karena itulah, tujuan musibah ada 3 yaitu:

  1. Azab

Ditimpakan kepada orang kafir dan menentang Allah. Seperti kaum nabi Nuh, kaum Nabi Luth, Fir’aun, dll. Semua ini adalah bentuk kekuasaan dan keadilan Allah membalas orang-orang durhaka atas kedurhakaan mereka.

  1. Peringatan agar kembali kejalan yang benar sekaligus pembersih dosa

Ditimpakan kepada orang beriman yang jatuh pada maksiat. Allah berfirman:

 وَأَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan kami timpakan kepada mereka adzab supaya mereka kembali.” (QS. az-Zukhruf: 48)

Dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu anhu, ia menuturkan: “Ada seorang lelaki bertemu dengan seorang wanita yang dahulunya adalah pelacur pada zaman jahiliyah. Lalu lelaki itu mulai merayu hingga tangannya terbentang akan menjamahnya. Wanita itu lantas berkata, ‘Apa-apaan ini?! Sesungguhnya Allah sudah menghapus masa jahiliyah dan menggantinya dengan Islam.’

Lelaki itu pun langsung berbalik pergi, lalu wajahnya menabrak tembok hingga robek. Kemudian ia mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mengabari beliau kisahnya. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَنْتَ عَبْدٌ أَرَادَ اللهُ بِكَ خَيْرًا، إِذَا أَرَادَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَبْدٍ خَيْرًا، عَجَّلَ لَهُ عُقُوبَةَ ذَنْبِهِ، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدٍ شَرًّا، أَمْسَكَ عَلَيْهِ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ عَيْرٌ

‘Engkau adalah seorang hamba yang diinginkan kebaikan bagimu. Jika Allah berkehendak baik kepada hamba-Nya, Dia akan menyegerakan hukuman dari dosa seorang hamba. Namun jika Dia berkehendak jelek terhadap seorang hamba, Allah biarkan dia dan dosanya hingga dibalas secara penuh dengan sebab dosanya kelak pada hari kiamat, seakan-akan itu adalah gunung ‘Air (gunung di Madinah).’” (HR. Ahmad: 16204)

  1. Tanda cinta Allah

Ditimpakan kepada orang beriman yang taat dan dicintai oleh Allah agar dia memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ

“Sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka.” (HR. Ibnu Majah: 4031, Tirmidzi: 2/64, dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Silsilah ash-Shahihah: 1/227)

Karenanya, manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi dan Rasul. Nabi bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ

“Manusia yang paling berat dan keras cobaannya adalah para nabi, kemudian  yang seperti mereka, kemudian yang seperti mereka (yakni di bawah Nabi).” (HR. Tirmidzi: 2/64, Ibnu Majah: 4023, dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Silsilah ash-Shahihah: 1/225)

Contoh Kedua, Rezeki

Lapang rezeki dan sempit adalah takdir. Allah berfirman:

﴿قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ • وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

“Katakanlah: ‘Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki), tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’ Dan bukanlah harta bendamu dan bukan pula anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; melainkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh…” (QS. Saba’ [34]: 36–37)

Allah juga berfirman:

﴿فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ • وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ • كَلَّا

“Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan melebihkan rezekinya, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku. Namun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah menghinakanku.'” Sekali-kali tidak! (Kalla)…” (QS. Al-Fajr [89]: 15–17)

Terkadang Allah sengaja tidak melapangkan harta seseorang untuk kebaikan dirinya, karena Allah tahu dia bisa selamat dengan ujian tersebut tapi tidak dengan kelapangan harta. Allah berfirman:

﴿وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ﴾

“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan apa yang Dia kehendaki dengan ukuran (tertentu). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (QS. Ash-Shura [42]: 27)

Ibnu Katsir berkata: “Maknanya: Seandainya Allah memberikan rezeki kepada manusia melebihi kebutuhan mereka, niscaya hal itu akan mendorong mereka untuk berbuat zalim, menyombongkan diri, dan melampaui batas dalam ketaatan kepada Allah. Namun Allah membagikannya dengan takdir/kadar yang sesuai demi kemaslahatan hamba-Nya. Dia Maha Mengetahui akan hal itu; maka Dia mengayakan orang yang memang pantas/layak kaya, dan Dia memiskinkan orang yang memang pantas/layak miskin. (Tafsir Ibn Katsir QS. Ash-Shura: 27)

Ibnu Utsaimin berkata: manusia itu apabila Allah lapangkan rezekinya, ia cenderung melampaui batas (baghā) dan merasa dirinya serba cukup/tidak membutuhkan Tuhan (astaghnā). Oleh karena itulah, Anda dapati mayoritas orang yang mendustakan para nabi adalah kaum al-mala’ (pemuka/elit masyarakat), orang-orang kaya, dan para pembesar. Adapun kaum fakir dan orang-orang yang lemah, pada umumnya merekalah yang menjadi pengikut para nabi. (Tafsir Ibn Utsaimin QS. Ash-Shura: 27)

Nabi bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لَيَحْمِي عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ الدُّنْيَا وَهُوَ يُحِبُّهُ، كَمَا تَحْمُونَ مَرِيضَكُمْ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ تَخَافُونَ عَلَيْهِ»

“Sesungguhnya Allah benar-benar melindungi hamba-Nya yang beriman dari (fitnah kemewahan) dunia—padahal Dia mencintainya—sebagaimana kalian menjaga orang yang sakit di antara kalian dari makanan dan minuman (pantangan) karena kalian khawatir atas keselamatannya.” (HR. Ahmad no. 23622, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’: 1814)

 

Bab 4: Tingkatan Beriman Kepada Takdir

Dalam pembahsan beriman kepada takdir, poin ini adalah termasuk paling penting. Kita wajib meyakini bahwa takdir Allah mencangkup empat tahapan:

Pertama, ilmu.

Yaitu beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu baik secara umum maupun secara terperinci, azali dan abadi. Dan sama saja apakah hal itu berkaitan dengan perbuatan-Nya atau pun perbuatan hamba-hambaNya.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS. Ath-Thalaq: 12)

Allah mengetahui segala yang akan terjadi sebelum terjadinya hal tersebut. Ketika Allah ingin menciptakan manusia, Allah telah mengetahui terlebih dahulu perjalanan hidup mereka dan apa yang akan mereka perbuat secara terperinci. Allah tahu siapa saja diantara mereka yang memilih jalan hidayah dengan mereka yang memilih jalan kesesatan. Allah berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَن يَضِلُّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia pula yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am [6]: 117)

Kedua, penulisan.

Yaitu mengimani bahwa Allah telah mencatat semua yang Ia ilmui itu di dalam Lauhul Mahfuz. Allah berfirman:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (QS. Al-Haj: 70)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ.

“Allah telah mencatat seluruh taqdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim: 2653)

Maka perjalanan manusia yang telah lebih dahulu Allah ketahui itulah yang dicatat oleh Qalam atas perintah-Nya. Nabi bersabda:

«إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمُ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ، قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ»

“Sesungguhnya hal pertama yang Allah ciptakan adalah al-qalam (pena). Lalu Allah berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Pena bertanya: ‘Wahai Tuhanku, apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah takdir (ketetapan) segala sesuatu sampai terjadinya Hari Kiamat.'” (HR. Abu Dawud: 4700, dishahihkan oleh Al-Albani)

Apa yang dicatat dalam Lauh Mahfuz bukanlah semua ilmu Allah. Yang dicatat hanya semua peristiwa yang berkaitan dengan makhluk semenjak diciptakan Qalam hingga hari kiamat. Karena kehidupan setelah hari kiamat adalah keabadian yang tidak ada penghujungnya.

Catatan pada Lauh Mahfuz hanya diketahui oleh Allah.[1] Allah berfirman:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا • إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مَن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ من بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridainya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.” (QS. Al-Jinn [72]: 26–27)

Dan tidak akan terjadi perubahan. Nabi bersabda:

«رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ، فَلَوْ جَهَدَتِ الأُمَّةُ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ جَهَدُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ»

“Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran (takdir) telah kering. Maka seandainya seluruh umat bersatu padu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikannya melainkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan seandainya mereka bersatu padu untuk memudaratkanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu memudaratkanmu melainkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu.” (HR. Tirmidzi: 2516)

Adapun catatan yang ada pada malaikat maka bisa berubah. Masalah ini akan dijelaskan pada pembahasan takdir dapat berubah karena doa dan silaturrahmi, insyaAllah.

Ketiga, masyi’ah (kehendak)

Mengimani bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Allah. Diantara dalilnya adalah:

وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّه

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,” kecuali dengan menyebut:  “Jika Allah berkehendak.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)

Manusia juga Allah berikan kehendak pada perbuatannya sendiri. Namun kehendak mereka berada di bawah kehendak Allah. Kehendak Allah dibangun diatas ilmu, hikmah dan keadilan Allah sebagaimana telah berlalu pembahasannya. Allah berfirman:

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (berkehendak) beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (berkehendak) kafir biarlah ia kafir.'” (QS. Al-Kahf [18]: 29)

Allah berfirman:

لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ • وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“(Al-Qur’an itu adalah peringatan) bagi siapa di antara kamu yang mau (berkehendak) menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (hal itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir [81]: 28–29)

Semua yang dikehendaki Allah pasti terjadi, berbeda halnya dengan kehendak manusia. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan:

مَا شِئْتَ كَانَ وَإِنْ لَمْ أَشَأْ وَمَا شِئْتُ إِنْ لَمْ تَشَأْ لَمْ يَكُنْ

Apa yang Engkau kehendaki pasti terjadi meski aku tidak ingin dan apa yang aku inginkan jika engkau tidak berkehendak pasti tidak akan terjadi. (Fathul Bari: 13/457)

Keempat, penciptaan.

Yaitu mengimani bahwa Allah-lah yang menciptakan segala sesuatunya baik dzat, sifat ataupun pergerakannya. Allah berfirman:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dialah memelihara segala sesuatu. (QS. Az-Zumar: 62)

Sehingga penciptaan adalah tahapan setelah ilmu, pencatatan dan kehendak Allah. Oleh karenanya, ada manusia yang belum dilahirkan akan tetapi perjalanan hidup mereka sudah ada. Nabi bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلاَّ وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنَ الجَنَّةِ وَالنَّارِ

“Tidak ada satu jiwa pun dari kalian melainkan telah diketahui (ditentukan) tempatnya di surga atau di neraka.” (HR. Bukhari: 1362, Muslim: 2647)

 

Bab 5: Pendekatan Tahapan Penetapan Takdir

Dari pembahasan sebelum maka kita bisa ambil contoh kasus dalam dunia nyata. Abu Jahal dan Umar bin Khattab. Nabi pernah berdo’a:

«اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ: بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ»

“Ya Allah, muliakanlah (kuatkanlah) Islam dengan salah satu dari dua laki-laki yang paling Engkau cintai di antara keduanya: dengan Abu Jahl atau dengan Umar bin Al-Khattab.”

“Dan ternyata yang paling dicintai Allah di antara keduanya adalah Umar bin Al-Khattab.” (HR. Tirmidzi: 3681, dishahihkan oleh Al-Albani)

Sebelum kelahiran kedua tokoh ini, bahkan 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, Allah telah mengetahui keadaan kedua orang ini. Ketika hidayah Islam datang kepada keduanya, Umar menerima sedangkan Abu Jahal menolak. Mereka memilih jalan masing-maing berdasarkan kehendak mereka tanpa paksaan.

Abu Jahal mengakui kebenaran agama yang dibawa oleh Nabi. Ia menolak hanya kerena fanatik kesukuan dan ego mempertahankan kesombongannya. Allah berfirman:

﴿نَّحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُونَ بِهِۦۤ إِذۡ یَسۡتَمِعُونَ إِلَیۡكَ وَإِذۡ هُمۡ نَجۡوَىٰۤ إِذۡ یَقُولُ ٱلظَّـٰلِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلࣰا مَّسۡحُورًا ۝٤٧ ٱنظُرۡ كَیۡفَ ضَرَبُوا۟ لَكَ ٱلۡأَمۡثَالَ فَضَلُّوا۟ فَلَا یَسۡتَطِیعُونَ سَبِیلࣰا ۝٤٨﴾

“Kami lebih mengetahui dengan niat apa mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan engkau (Muhammad), dan sewaktu mereka berbisik-bisik (berkonspirasi rahasia), yaitu ketika orang-orang zalim itu berkata: ‘Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.’ Perhatikanlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan untukmu (seperti menuduhmu gila, penyair, atau kena sihir), maka sesatlah mereka, sehingga mereka tidak sanggup lagi menemukan jalan (menuju kebenaran).” (QS. Al-Isra’ [17]: 47–48)

Imam Ibnu Katsir menyebutkan: “Muhammad bin Ishaq berkata dalam Al-Sirah: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri, bahwasanya telah diceritakan kepadanya bahwa Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahl bin Hisham, dan Al-Akhnas bin Shurayq bin ‘Amr bin Wahb At-Thaqafi (sekutu Bani Zuhrah), keluar pada suatu malam untuk mencuri dengar bacaan dari Rasulullah ﷺ yang sedang shalat malam di rumah beliau.

Masing-masing dari mereka mengambil tempat duduk (posisi) sendiri untuk mendengarkan, dan satu sama lain tidak saling mengetahui keberadaan rekannya. Mereka menghabiskan malam dengan mendengarkan beliau hingga ketika fajar menyingsing, mereka pun pulang.

Namun ketika mereka saling bertemu di jalan, mereka saling mencela satu sama lain. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: ‘Janganlah kalian mengulanginya lagi! Sebab jika sebagian orang-orang bodoh (pengikut) kalian melihat kalian, sungguh kalian akan menimbulkan keraguan di dalam hati mereka.’ Kemudian mereka berlalu pulang.

Hingga ketika memasuki malam kedua, masing-masing dari mereka kembali ke tempatnya semula. Mereka kembali menghabiskan malam dengan mendengarkan beliau. Ketika fajar menyingsing, mereka berpisah. Namun ketika dipertemukan kembali di jalan, mereka saling mengatakan hal yang sama seperti pada malam pertama, lalu mereka berlalu pulang.

Hingga ketika memasuki malam ketiga, masing-masing orang mengambil tempatnya kembali. Mereka menghabiskan malam mendengarkan beliau, hingga fajar menyingsing lalu mereka berpisah. Ketika jalan mempertemukan mereka kembali, sebagian mereka berkata kepada yang lain: ‘Kita tidak boleh beranjak sebelum kita saling berjanji untuk tidak kembali lagi!’ Mereka pun saling berjanji atas hal tersebut, lalu berpisah.

Ketika pagi hari tiba, Al-Akhnas bin Shurayq mengambil tongkatnya lalu keluar hingga mendatangi Abu Sufyan bin Harb di rumahnya. Ia berkata: ‘Beritahukanlah kepadaku, wahai Abu Hanzhalah, bagaimana pendapatmu tentang apa yang engkau dengar dari Muhammad?’

Abu Sufyan menjawab: ‘Wahai Abu Tha’labah, demi Allah, aku telah mendengar hal-hal yang aku pahami kebenarannya dan aku mengerti apa yang dimaksudkannya, namun aku juga mendengar hal-hal yang belum kupahami maknanya dan apa yang dimaksudkannya.’

Al-Akhnas berkata: ‘Begitu pula aku, demi Dzat yang engkau gunakan bersumpah.’

Kemudian Al-Akhnas keluar dari tempat Abu Sufyan hingga mendatangi Abu Jahl, lalu masuk ke rumahnya dan berkata: ‘Wahai Abul Hakam, bagaimana pendapatmu tentang apa yang engkau dengar dari Muhammad?’

«تَنَازَعْنَا نَحْنُ وَبَنُو عَبْدِ مَنَافٍ الشَّرَفَ: أَطْعَمُوا فَأَطْعَمْنَا، وَحَمَلُوا فَحَمَلْنَا، وَأَعْطَوْا فَأَعْطَيْنَا، حَتَّى إِذَا تَجَاثَيْنَا عَلَى الرُّكَبِ، وَكُنَّا كَفَرَسَيْ رِهَانٍ، قَالُوا: مِنَّا نَبِيٌّ يَأْتِيهِ الْوَحْيُ مِنَ السَّمَاءِ، فَمَتَى نُدْرِكُ هَذِهِ؟ وَاللَّهِ لَا نُؤْمِنُ بِهِ أَبَدًا وَلا نُصَدِّقُهُ

“Kami (Bani Makhzum) dan Bani ‘Abd Manaf bersaing dalam kehormatan: Mereka memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka menanggung beban masyarakat, kami pun menanggungnya. Mereka memberi derma, kami pun memberi derma. Hingga ketika kami sudah sejajar bertekuk lutut seperti dua ekor kuda pacu, mereka berkata: ‘Dari kalangan kami ada seorang Nabi yang menerima wahyu dari langit!’ Lalu bagaimana mungkin kami bisa mengejar kemuliaan seperti ini?! Demi Allah, kami tidak akan beriman kepadanya selama-lamanya dan tidak akan membenarkannya!”

Maka Al-Akhnas berdiri dan meninggalkannya.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Isra’: 47–48)

Ketika Abu Jahal memilih jalannya sendiri dengan berpaling dari hidayah, sengaja dalam keadaan sadar maka Allah pun berkehendak membiarkannya tersesat. Allah berfirman:

أَتَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“…Rasul-rasul telah datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata; maka Allah tidak sekali-kali menzalimi mereka, melainkan merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (QS. At-Tawbah [9]: 70)

Allah juga berfirman:

فَلَمَّا زَاغُوۤا۟ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا یَهۡدِی ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَـٰسِقِینَ

Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah berpalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.  (QS. As-Saff [61]: 5)

 

Bab 6: Apakah Manusia Punya Kehendak?

Dalam takdir kehidupan manusia ada hal yang manusia memiliki kehendak di dalamnya yaitu perbuatannya yang ia lakukan dalam keadaan sadar tanpa terpaksa. Dan ada pula hal yang manusia tidak tidak memiliki kehendak seperti ajal, nasab, paras tubuh, musibah, dll.

Oleh karena itulah, di akhirat nanti yang akan ditanya oleh Allah dan dimintai pertanggungjawaban adalah perkara-perkara yang manusia melakukannya dengan kehendaknya. Allah tidak akan bertanya:

  • Kenapa kamu anak dari sifulan?
  • Kenapa hidungmu pesek tidak mancung?
  • Kenapa kulitmu hitam tidak putih?
  • Kenapa kamu laki-laki tidak perempuan?

Karena perkara itu adalah perkara yang tidak ada pilihan dan kehendak bagi manusia padanya. Allah juga tidak menghukum seorang ketika ia melakukan dosa tidak dengan kehendaknya. Nabi bersabda:

«رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَبْلُغَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الْمُصَابِ حَتَّى يُكْشَفَ عَنْهُ»

“Pena (catatan dosa) telah diangkat dari tiga golongan: dari anak kecil hingga ia baligh, dari orang yang tidur hingga ia terbangun, dan dari orang yang tertimpa gangguan (hilang akal/gila) hingga diangkat (sembuh) penyakitnya.” (HR. Abu Dawud no. 4399, At-Tirmidzi no. 1423)

Nabi juga bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ»

“Sesungguhnya Allah Ta’ala memaafkan (mengangkat dosa) dari umatku: kekhilafan (ketidaksengajaan), kelupaan, dan apa yang dipaksakan kepada mereka.” (HR. Ibnu Majah: 2045)

Allah juga  tidak akan menghukum seorang yang belum mengetahui hukum. Allah berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ حَتَّىٰ يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۚ وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَىٰ إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

“Dan Tuhanmu tidak pernah membinasakan negeri-negeri, sebelum Dia mengutus di ibu kota negeri itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan negeri-negeri; melainkan penduduknya dalam keadaan berbuat zalim.” (QS. Al-Qasas [28]: 59)

Yang Allah hisab (hitung) dan mintai pertanggungjawaban adalah perkara perkara yang dilakukan seorang dalam keadan baligh, berakal sehat, mengetahui hukum, lalu ia melakukan dengan sadar (tidak terpaksa). Karena hal tersebut adalah berasal dari kehendaknya. Allah berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Allah juga berfirman:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ • وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8)

Seorang akan menaggung buah perbuatannya sendiri tidak perbutan orang lain. Allah berfirman:

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ • وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“(Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan menanggung dosa orang lain, dan bahwasanya manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 38–39)

Karenanya patokan kemuliaan disisi Allah adalah ketakwaan. Karena ia berangkat dari kehendak manusia.

Namun kehendak manusia tetap berada dibawah kehendak Allah. Ketika seorang memilih jalan hidayah, Allah melihat kejujuran hati dan usahanyanya maka Allah akan memudahkan dia menempuhnya.

Oleh karenanya, saat azan berkumandang ‘Hayya ‘alas-shalah’ (mari menunaikan salat) dan ‘Hayya ‘alal-falah’ (mari meraih kemenangan), maka kita mengucapkan: ‘La haula wa la quwwata illa billah’ (tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah)

Di dalam shalat, kita mengucapkan:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkau Ya Allah kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Selesai shalat, kita disuruh mengucapkan:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَىٰ ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud: 1522, dishahihkan oleh Al-Albani)

Terkadang seorang telah berkhendak untuk melakukan maksiat (murtad) karena cobaan yang dia derita, akan tetapi Allah tidak berkehendak maka Allah akan menghalanginya dari keingingannya tersebut dengan cara-Nya, dikarenakan hamba tersebut selalu berdoa memintaperlindungan kepada Allah, keistiqamahan, dst. Maka Allah mengabulkan doanya tersebut dengan cara menghalanginya dari keburukan meski dia telah ingin melakukannya. Inilah salah satu bentuk pengabulan do’a yang disebutkan oleh Nabi:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا

“Tidak ada seorang muslim pun yang berdo’a dengan sebuah do’a yang tidak ada dosa serta pemutus silahturahmi melainkan Allah akan memberikannya satu dari tiga pilihan; 1) bisa jadi disegerakan do’a tersebut, 2) bisa jadi Allah simpan untuk dirinya di akhirat nanti, 3) dan bisa jadi Allah menghindarkannya dari keburukan yang semisal.” (HR. Ahmad: 17/213)

 

Bab 7: Boleh Beralasan Dengan Takdir Dalam Musibah Tapi Tidak Boleh Dalam Maksiat dan Meninggalkan Usaha

Kaidah agung dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menegaskan:

«يُحْتَجُّ بِالْقَدَرِ فِي الْمَصَائِبِ، وَلَا يُحْتَجُّ بِهِ فِي الْمَعَائِبِ

“Takdir boleh dijadikan alasan/penghibur pada musibah, namun tidak boleh dijadikan dalih/alasan untuk maksiat/dosa.”

Kaidah ini berangkat dari pembahasan sebelumnya. Kenapa boleh beralasan dengan takdir dalam musibah namun tidak boleh dalam maksiat? Apa beda keduanya? Jawabnya adalah musibah merupakan perkara yang diluar kendali manusia, tidak ada kehendak manusia di dalamnya bahkan tidak ada manusia yang ingin ditimpa musibah sedangkan maksiat dilakukan karena kehendak dan keinginan manusia. Boleh beralasan dengan takdir berdasarkan sabda Nabi:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan: “seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu”, tetapi katakanlah: “ini sudah takdir Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan syetan.” (HR. Muslim: 2664)

Tidak boleh beralasan dengan takdir dalam maksiat, berdasarkan ayat tentang orang-orang musyrik jahiliyah dahulu berdalih bahwa kesyirikan mereka adalah atas takdir dan kehendak Allah, lalu Allah membantah mereka:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِن شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا ۗ قُلْ هَلْ عِندَكُم مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

“Orang-orang musyrik akan berkata: ‘Jika Allah menghendaki, tentulah kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak pula kami mengharamkan barang sesuatu pun.’ Demikianlah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasai azab Kami. Katakanlah: ‘Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga kamu dapat mengemukakannya kepada Kami? Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka…'” (QS. Al-An’am [6]: 148)

Allah juga berfirman:

﴿وَقَالُوا۟ لَوۡ شَاۤءَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ مَا عَبَدۡنَـٰهُمۗ مَّا لَهُم بِذَ ٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّا یَخۡرُصُونَ﴾

“Dan mereka berkata: ‘Sekiranya Allah Yang Maha Pengasih menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat/berhala).’ Mereka tidak mempunyai ilmu sedikit pun tentang itu; mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 20)

Dikisahkan bahwa pada masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab, dihadapkan kepada beliau seorang pencuri Ketika hendak dipotong tangannya, Umar bertanya kepadanya: “Mengapa engkau mencuri?” Ia menjawab: “Aku mencuri ini karena sudah menjadi ketetapan (takdir) Allah.” Umar pun berkata:

«وَنَحْنُ نَقْطَعُ يَدَكَ بِقَدَرِ اللَّهِ»

“Dan kami pun memotong tanganmu ini juga berdasarkan takdir Allah!” (Tafsir Ibn Utsaimin QS. Az-Zukhruf: 20)

Tidak boleh juga beralasan dengan takdir untuk meninggalkan usaha. Tawakkal adalah bagian dari iman kepada Takdir. Seorang yang bertawakal tetap harus mengambil sebab. Dari Anas bin Malik, ia menceritakan:

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

Ada seorang lelaki yang bertanya: Wahai Rasulullah apakah aku harus mengikat untaku kemudian bertawakkal atau aku melepaskannya saja kemudian bertawakkal? Beliau menjawab: “Ikatlah untamu kemudian bertawakkallah.” (HR. Tirmidzi: 2441)

Memang Allah telah menetapkan kadar rezeki masing-masing, tetapi tetap harus berusaha mencarinya, tidak boleh berpangku tangan, kemudian beralasan dengan takdir. Belajarlah dari burung. Rasulullah ﷺ bersabda:

 لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Andai saja kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian diberi rizki seperti rizkinya burung, pergi dengan perut kosong di pagi hari dan pulang di sore hari dengan perut terisi penuh.” (HR. Tirmidzi: 2433)

Nabi bersabda:

«مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلاَّ وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنَ الجَنَّةِ وَالنَّارِ»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَلِمَ نَعْمَلُ؟ أَفَلاَ نَتَّكِلُ؟ قَالَ: «لاَ، اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ…»

“Tidak ada satu jiwa pun dari kalian melainkan telah diketahui (ditentukan) tempatnya di surga atau di neraka.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kalau begitu mengapa kita harus beramal? Mengapa kita tidak pasrah saja (bersandar pada takdir)?” Beliau bersabda: “Jangan! Beramallah kalian! Sebab setiap orang akan dimudahkan menuju untuk apa ia diciptakan…” lalu beliau membacakan Surah Al-Lail ayat 5–10:

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ • وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ • فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ • وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ • وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ • فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan/surga). Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (tidak membutuhkan Allah), serta mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (penderitaan/neraka).” (QS. Al-Lail [92]: 5–10) (HR. Bukhari: 1362, Muslim: 2647)

Sikap malas beramal karena berasalan dengan takdir bukan ciri orang yang beriman. Karena kita tidak tahu takdir kita. Bahkan Nabi dan para sahabat yang telah dijamin masuk surga pun tetap bersemngat beramal bahkan semakin bertambah semangat bukan malah sebaliknya.

 

Bab 8: Apakah Takdir Bisa Berubah?

Penulisan (catatan) takdir ada dua macam yaitu: 1) Lauh Mahfuzh dan 2) Catatan di tangan Malaikat. Takdir yang tertulis di Lauh Mahfuzh tidak akan pernah berubah dengan apapun. Adapun takdir yang tertulis di tangan malaikat inilah yang bisa berubah oleh beberapa faktor seperti doa, menyambung silaturrahmi, dll. Allah berfirman:

يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Ar-Ra’d: 39)

Para ulama mengatakan: “Dan di sini ada satu perkara yang terkadang diungkapkan sebagai ‘perubahan takdir’, yaitu perubahan terhadap takdir yang tertulis di dalam lembaran-lembaran (catatan) para Malaikat saja. Misalnya, di dalam catatan tersebut tertulis bahwa si fulan akan sakit, lalu ia berdoa dengan suatu doa, maka Allah menyembuhkannya sehingga ia tidak jadi sakit. Atau tertulis di dalamnya bahwa umurnya 60 tahun, kemudian ia menyambung tali silaturahmi, maka umurnya bertambah menjadi 70 tahun.

Maka ini adalah perubahan terhadap apa yang ada di dalam catatan para Malaikat, dan hal itu mungkin (terjadi) serta tidak ada penghalang baginya.

Namun, ini bukanlah perubahan terhadap apa yang ada di dalam Lauh Mahfuzh, bukan pula perubahan terhadap Ilmu Allah. Karena Allah Ta’ala telah mengetahui (sejak awal) bahwa orang tersebut akan melakukan hal itu (berdoa/silaturahmi), sehingga ia disembuhkan atau ditambah umurnya. Dan kedua hal ini—yaitu apa yang di Lauh Mahfuzh dan apa yang di dalam Ilmu Allah—tidak ada perubahan pada keduanya, sebagaimana penjelasan sebelumnya.

Adapun perubahan terhadap apa yang tertulis di lembaran-lembaran yang ada di tangan para Malaikat, maka hal itu ada dalilnya dan tidak ada halangan (secara syariat). Hal ini ditunjukkan oleh hadis Salman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَرُدُّ القَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي العُمْرِ إِلَّا البِرُّ

‘Tidak ada yang dapat menolak qadha (ketetapan) kecuali doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebajikan.’ (HR. Tirmidzi No. 2139 dan dihasankan oleh Al-Albani). Hadis ini juga terdapat dalam riwayat Ahmad (22386) dan Ibnu Majah (90) dari hadis Tsauban dengan redaksi:

لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ

‘Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa’ (Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

Nabi ﷺ bersabda:

مَن سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.

Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya atau dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi. (HR. Bukhari: 2067, Muslim: 2557)

Dan juga hadits tentang 3 bentuk pengabulan do’a yang telah dibahas sebelumnya.

_____________

[1] Disinilah kesalahan besar Bushiry (w. 695 H) yang mengatakan dalam bait syairnya di Qasidah Al-Burdah:

فَإِنَّ مِنْ جُودِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا … وَمِنْ عُلُومِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ

“Karena di antara kedermawananmu adalah dunia dan seisinya (serta akhirat), dan di antara ilmumu adalah ilmu tentang Lauh (Mahfuzh) dan Al-Qalam (Pena).”

Semoga bermanfaat

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud, Arab Saudi (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Sekarang sebagai Mudir Tanfidz di KIAS Syathiby serta pengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button