Mencari Keberkahan Dalam Kehidupan

Defenisi Keberkahan

Dalam istilah syariat mencari berkah dikenal dengan Tabarruk. Berkah itu sendiri dalam bahasa Arab kembali kepada dua makna, yaitu bertambah dan menetap. Sehinggga makna keberkahan adalah sesuatu yang memiliki kebaikan yang banyak, terus bertambah dan menetap (langgeng)

Islam mendorong mencari keberkahan

Keberkahan adalah salah satu tujuan hidup seorang muslim. Kita ingin hidup kita dipenuhi oleh kebaikan yang banyak dan terus bertambah. Banyak hal dalam kehidupan ini yang tujuan utama yang kita cari padanya adalah keberkahan, mulai dari hal besar sampai hal kecil. Di antaranya:

  1. Ucapan salam

Setiap waktu kita diperintahkan untuk menebarkan salam. Nabi bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلَامَ

“Wahai manusia, sebarkanlah salam!” (HR. Tirmidzi: 2485)

Kenapa? Karena ucapan salam adalah doa keselamatan dan keberkahan

  1. Pernikahan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, apabila Rasulullah mendoakan seseorang yang menikah, beliau mengucapkan:

بارَكَ اللَّهُ لَكَ ، وبارَكَ علَيكَ ، وجمعَ بَينَكُما في خيرٍ

(“Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”) (HR. Abu Dawud: 2130, Tirmidzi: 1091, Ahmad: 8957, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud).

  1. Rumah

Allah berfirman:

وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلًا مُّبَارَكًا وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ

“Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.” (QS. Al-Mu’minun: 29)

  1. Makanan

Dari Anas bin Malik ia berkata:

أنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَكَلَ طَعَامًا لَعِقَ أَصَابِعَهُ الثَّلَاثَ، قَالَ: وَقَالَ: إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى وَلِيَأْكُلْهَا، وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ، وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ، قَالَ: فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمُ الْبَرَكَةُ.

“Bahwasanya Rasulullah apabila selesai makan, beliau menjilati ketiga jarinya.” Beliau bersabda, “Jika suapan makanan salah seorang dari kalian terjatuh, hendaklah ia membersihkan kotoran darinya lalu memakannya, dan janganlah ia membiarkannya untuk setan.” Dan beliau memerintahkan kami untuk membersihkan (menjilat) sisa makanan yang ada di piring (mangkuk), seraya bersabda, “Karena sesungguhnya kalian tidak mengetahui pada makanan yang mana di antara makanan kalian terdapat keberkahan.” (HR. Muslim: 2034)

Dalam makan sahur juga demikian. Nabi bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari: 1923)

  1. Harta

Karenanya kita diperintahkan mencari harta yang halal (secara zat atau cara mendapatkannya). Diperintahkan juga untuk berzakat yang secara makna adalah membersihkan dan mengembangkan harta. Oleh karenanya Allah berfirman:

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (QS. Al-Baqarah: 276)

  1. Jual beli

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا ، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Penjual dan pembeli memiliki hak khiyar selama keduanya belum berpisah. Apabila keduanya jujur dan menjelaskan maka jual beli mereka akan diberkahi. Dan apabila keduanya menutupi serta berdusta maka dicabutlah keberkahan jual beli mereka. (HR. Bukhari: 2079, Muslim: 1532)

Dari Hafsh bin Abdurrahman rahimahullah pernah ikut berdagang dengan Imam Abu Hanifah rahimahullah. Terkadang dia diutus untuk mengantar barang dagangan ke kota-kota yang ada di Irak. Pada suatu waktu, Hafsh diberi barang dagangan yang banyak untuk dijual, kemudian Abu Hanifah memberi tahu kepadanya bahwa di antara barang-barang tersebut ada yang cacat, beliau berkata:

إِذَا هَمَمْتَ بِبَيْعِهَا فَبَيِّنْ لِلْمُشْتَرِي مَا فِيْهَا مِنْ عَيْبٍ

“Apabila kamu mau menjualnya, maka terangkanlah kepada pembeli tentang cacat yang ada pada barang tersebut.”

Kemudian Hafsh menjual semua barang yang dititipkan dan dia lupa untuk memberi tahu sebagian barang yang ada cacatnya kepada pembeli. Dia telah mencoba mencari orang yang membeli barang yang ada cacatnya itu, akan tetapi dia tidak menemukannya.

Maka tatkala Abu Hanifah rahimahullah tahu akan hal itu, hatinya tidak tenang. Sampai akhirnya beliau pun bersedekah dengan harta sejumlah harga semua barang yang dijual oleh Hafsh. (Suwar min Hayatit Tabi’in: 490)

Macam-macam Tabarruk

Tabarruk (ngalap berkah) adalah aktivitas mencari keberkahan pada benda atau waktu dan perbuatan. Dikarenakan hak penetapan keberkahan pada sesuatu adalah hak Allah sebaimana firmannya:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. (QS Al-Qoshos : 68)

Nabi bersabda:

البَرَكةُ مِنَ اللهِ

“Keberkahan itu datangnya dari Allah.” (HR. Bukhari: 5639)

Maka Tabarruk terbagi menjadi 2 yaitu Tabbaruk yang Syari (dibolehkan) dan Tabbarruk terlarang. Pembeda pada keduanya adalah keberadaan dalil. Tabarruk yang syari harus dibangun diatas dalil.

Tabarruk yang syari, jika ditinjau lebih jauh ada beberapa bentuk

Pertama, tabarruk pada benda secara zatnya

Diantaranya adalah:

  1. Air hujan

Allah berfirman:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam (QS. Qaaf : 9)

Anas bin Malik menceritakan:

أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ، فَحَسَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ، حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ قَالَ: لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah. Lalu beliau  menyingkap bajunya, dan menguyurkan badannya dengan hujan. Kami pun bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa Anda melakukan demikian? ” Beliau menjawab: “Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.” (HR. Muslim: 898)

Demikian pula yang dilakukan oleh para sahabat. Mereka hujan-hujanan dalam rangka ngalap berkah. Di antaranya sahabat yang mulia Dzun Nurain Utsman bin Affan, disebutkan dari Bunanah:

أَنَّ عُثْمَانَ كَانَ يَتَمَطَّرُ فِي أَوَّلِ مَطْرَةٍ

Bahwa Utsman bin Affan  hujan-hujanan di awal turunnya hujan.( Al-Mushannaf: 26699)

Demikian juga dengan Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib. Dari Ibnu Abi Mulaikah:

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ كَانَ يَتَمَطَّرُ ، يُخْرِجُ ثِيَابَهُ حَتَّى يُخْرِجَ سَرْجَهُ فِي أَوَّلِ مَطْرَةٍ

Ibnu Abbas hujan-hujanan, beliau mengeluarkan pakaiannya, hingga pelananya di awal turunnya hujan.( Al-Mushannaf:26700)

عَنْ عَلِيٍّ ، أَنَّهُ كَانَ إذَا رأى الْمَطَرَ خَلَعَ ثِيَابَهُ وَجَلَسَ ، وَيَقُولُ : حدِيثُ عَهْدٍ بِالْعَرْشِ

Dari Ali bin Abi Thalib, bahwa apabila beliau melihat hujan, beliau melepas bajunya lalu duduk, sambil mengatakan, “Baru saja datang dari Arsy.” (Al-Mushannaf: 26702)

  1. Jasad para nabi

Anas bin Malik berkata:

رَ العَرَقِ، فَكَانَتْ تَجْمَعُ عَرَقَهُ فَتَجْعَلُهُ في الطِّيبِ وَالْقَوَارِيرِ، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: يا أُمَّ سُلَيْمٍ ما هذا؟ قالَتْ: عَرَقُكَ أَدُوفُ به طِيبِي

“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah datang ke rumah Ummu Sulaim untuk tidur siang di sana. Maka Ummu Sulaim pun menghamparkan karpet kulit agar Nabi tidur di atasnya. Ternyata Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika tidur beliau banyak berkeringat. Ummu Sulaim pun mengumpulkan keringat beliau dan memasukkannya ke dalam tempat minyak wangi dan botol-botol. Lalu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bertanya: “Wahai Ummu Sulaim, Apa ini?”. Ummu Sulaim menjawab: “Ini adalah keringatmu yang aku campur dengan minyak wangiku” (HR. Muslim no.2332).

Abdullah bin Kaisan berkata:

فأخْرَجَتْ إلَيَّ جُبَّةَ طَيَالِسَةٍ كِسْرَوَانِيَّةٍ لَهَا لِبْنَةُ دِيبَاجٍ، وَفَرْجَيْهَا مَكْفُوفَيْنِ بالدِّيبَاجِ، فَقالَتْ: هذِه كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ حتَّى قُبِضَتْ، فَلَمَّا قُبِضَتْ قَبَضْتُهَا، وَكانَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يَلْبَسُهَا، فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرْضَى يُسْتَشْفَى بهَا

“Diperlihatkan kepadaku sebuah jubah Thayalisah dari Kisra yang kerahnya berbahan dibaj, juga kedua sisinya dijahit dengan dibaj. Asma’ berkata kepada budaknya: “Wahai Abdullah, jubah ini dahulu ada pada Aisyah hingga ia wafat. Setelah Aisyah wafat, aku pun mengambilnya. Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sering memakai jubah ini. Kami pun biasa mencuci jubah ini dengan air untuk menyembuhkan orang yang sakit” (HR. Muslim no.2069).

Namun, tabarruk dengan jasad ini merupakan kekhusushan Nabi. Tidak boleh dilakukan dari selain Nabi karena tidak adanya dalil

Kedua, tabarruk secara maknawi

Yaitu dengan cara beramal kebaikan diwaktu atau ditempat yang berkah

  1. Tabarruk dengan waktu pagi (setelah subuh)

Rasulullah bersabda:

 اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya. (HR. Abu Daud no. 2606, At Tirmidzi no. 1212, Ibnu Majah no. 2236)

Disebutkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah, dari Urwah bin Zubair, ia menuturkan:

كَانَ الزُّبَيْرُ يَنْهَى بَنِيْهِ عَنِ التَّصَبُّحِ

“Zubair bin al-Awwam a melarang anak-anak-nya untuk tidur di waktu setelah subuh.”[Al-Mushannaf: 25442]

Bahkan diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia melihat salah seorang anaknya tidur pada waktu subuh maka ia pun mengatakan:

قُمْ، أَتَنَامُ فِي السَّاعَةِ الَّتِي تُقَسَّمُ فِيْهَا الأَرْزَاقُ؟!

“Bangun!! Apakah engkau akan tidur di waktu rezeki sedang dibagikan.” [Al-Adabu Asy-Sya’iyyah: 3/147]

  1. Bulan Ramadan, sepuluh awal Dzulhijjah, hari Jum’at, sepertiga malam terakhir.

Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi (malam lailatul qodar) dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan (QS. Ad-Dukhan : 3)

  1. Keberkahan Masjidil Haram, Madinah dan Masjidil Aqsha.

Allah berfirman:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia (QS Ali Imron : 96)

Allah berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS Al-Isroo’: 1)

  1. Berteman dan bermajelis dengan orang-orang shalih.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ لِلَّهِ مَلاَئِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا: هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ ، قَالَ: فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، قَالَ: فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ، وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ، مَا يَقُولُ عِبَادِي؟ قَالُوا: يَقُولُونَ: يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ ، قَالَ: فَيَقُولُ: هَلْ رَأَوْنِي؟ قَالَ: ” فَيَقُولُونَ: لاَ وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ؟ قَالَ: فَيَقُولُ: وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً، وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا، وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا قَالَ: يَقُولُ: فَمَا يَسْأَلُونِي؟ قَالَ: يَسْأَلُونَكَ الجَنَّةَ قَالَ: يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لاَ وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا ، قَالَ: يَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا، وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا، وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً، قَالَ: فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ؟ قَالَ: يَقُولُونَ: مِنَ النَّارِ ، قَالَ: يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لاَ وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا ، قَالَ: يَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا، وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً ، قَالَ: فَيَقُولُ: فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ ، قَالَ: يَقُولُ مَلَكٌ مِنَ المَلاَئِكَةِ: فِيهِمْ فُلاَنٌ لَيْسَ مِنْهُمْ، إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ. قَالَ: هُمُ الجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berkeliling di jalan-jalan untuk mencari orang-orang yang berdzikir (mengingat Allah). Jika mereka mendapati suatu kaum mengingat Allah maka mereka saling memanggil, “Kemarilah menuju yang kalian cari”. Lalu mereka meliputi kaum tersebut dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit dunia”. Lalu Rabb mereka bertanya kepada para malaikat -padahal Ia lebih tahu dari mereka-, “Apakah yang dikatakan oleh hamba-hambaKu?”. Malaikat berkata, “Mereka bertasbih kepadaMu, bertakbir, dan mengagungkanMu”. Allah bertanya, “Apakah mereka melihatKu?”, Malaikat menjawab, “Demi Allah, mereka tidak melihatMu”. Allah berkata, “Bagaimana jika mereka melihatKu?”. Malaikat berkata, “Jika mereka melihatMu tentu mereka akan lebih semangat lagi beribadah, lebih lagi mengagungkanMu, lebih memuji dan bertasbih kepadaMu”. Allah berkata, “Apakah yang mereka minta?”. Malaikat berkata, “Mereka meminta kepadaMu surga”. Allah berkata, “Apakah mereka melihat surga?”. Malaikat berkata, “Demi Allah tidak, mereka tidak melihat surga”. Allah berkata, “Bagaimana kalau mereka melihat surga?”. Kalau mereka melihat surga maka mereka akan lebih semangat mencari surga dan lebih mengharapkannya”. Allah berkata, “Mereka meminta perlindungan dari apa?”. Malaikat berkata, “Dari Neraka”. Allah berkata, “Apakah mereka melihat neraka?”. Malaikat berkata, “Demi Allah tidak, mereka tidak melihatnya”. Allah berkata, “Bagaiamana kalau mereka melihatnya?”. Malaikat berkata, “Kalau mereka melihatnya tentu mereka semakin berlari jauh dan semakin takut darinya”. Allah berkata, “Aku mempersaksikan kalian bahwa sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka”. Salah satu malaikat berkata, “Diantara mereka ada si fulan yang bukan dari mereka, ia datang karena ada keperluan”. Allah berkata, “Mereka adalah kaum yang sedang duduk dimana orang yang duduk bersama mereka tidaklah merugi/celaka bersama mereka.” (HR. Bukhari: 6408 dan Muslim: 2689)

Cara Mendapatkan Keberkahan Hidup

  1. Menuntut ilmu

Keberkahan adalah hak Allah. Penetapannya harus berdasarkan dalil. Sehingga seorang harus mencari tahu dalil tersebut agar ia dapat melakukan Tabarruk yang syar’i. Jangan mudah terbawa oleh “kata orang” karena yang jadi patokan adalah dalil yang jelas.

  1. Berdo’a

Keberkahan semuanya di tangan Allah. Itu artinya jika kita menginginkan keberkahan maka mintalah kepada pemiliknya, yaitu Allah. Allah berfirman:

بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali ‘Imran : 26)

Allah juga berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya). (QS. An-Nahl: 53)

Setiap waktu seorang muslim diperintahkan untuk mencari keberkahan, karenanya diantara doa yang yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ untuk diucapkan di setiap pagi dan petang hari:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَوْمِ فَتْحَهُ وَنَصْرَهُ وَنُورَهُ وَبَرَكَتَهُ وَهُدَاهُ

Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan hari ini yang berupa; kemengangan, pertolongan, cahaya, keberkahan, dan petunjuk. [HR. Abu Dawud: 5084]

Al Hasan bin Ali pernah berkata, “Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang harus aku ucapkan dalam shalat Witir ketika berdoa, yaitu doa qunut:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ

‘Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang Engkau beri petunjuk. Berilah aku kesehatan sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri kesehatan. Sayangilah aku sebagaimana orang-orang yang Engkau sayangi. Berilah berkah apa yang Engkau berikan kepadaku.[ HR. An-Nasa’i: 1745]

Bahkan ketika kita bimbang dan bingung untuk memilih atau menegerjakan suatu, disaat itulah kita disyariatkan untuk shalat Istikharah dan berdo’a. Dan salah satu do’a yang ada dalam do’a Istikharah itu adalah meminta keberkahan, yang berbunyi:

اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ خَيْرًا لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي وَبَارِكْ لِي فِيهِ

Ya Allah, jikalah Engkau tahu bahwa urusan ini baik bagiku untuk agamaku, duniaku dan kesudahan urusanku maka tetapkanlah untukku, mudahkanlah bagiku dan berikanlah keberkahan kepadaku dalam hal itu. [HR. Bukhari: 7390]

  1. Bertakwa (mengerjakan perintah, meninggalkan larangan dan mengikuti sunnah Nabi)

Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-A’raf: 96)

Imam Ahmad menyebutkan sebuah riwayat dalam Musnadnya:

وُجِدَتْ فِيْ خَزَائِن بَنِي أُمَيّةَ حِنْطَةٌ، الحَبَّةُ بِقَدْرِ نَوَاةِ التَمْرِ، وَهِيَ فِي صُرّةٍ مَكْتُوْبٍ عَلَيْهَا: هَذَا كَانَ يَنْبُتُ فِي زَمَنِ العَدْلِ

“Terdapat sebutir biji gandum yang besarnya seperti biji kurma di dalam gudang penyimpanan Bani Umayyah. Biji tersebut terdapat dalam kantung yang di atasnya tertulis; ‘Inilah yang pernah tumbuh pada zaman keadilan.’” (Al-Musnad: 2/296)

Hilangnya keberkahan dari suatu negeri adalah sebab maksiat. Banyak bencana; tanaman tidak berbuah, hujan tak kunjung turun, sungai mengering, tanah kering kerontang, banjir, tanah longsor, harga bahan pokok mahal, pemimpin zalim, dll. Semua pengaruh dosa, dan tidak akan hilang sampai manusia itu kembali dan benar-benar bertaubat dari dosa mereka. Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum: 41)

Oleh karena itu, pernah ditanyakan kepada seorang salaf shalih: Bagaimana menghadapi harga-harga yang melambung tinggi? Maka beliau menjawab: “Berusahalah menurunkan harga-harga dengan takwa.” (Kiat Menggapai Hidup Berkah: 14)

Ada beberapa bentuk ketakwaan yang dapat mendatangkan keberkahan hidup, yaitu:

  • Berdzikir dan Membaca al-Qur’an

Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Sad: 29)

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa salah pengaruh zikir adalah memberikan kekuatan badan. Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:

أَنَّ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا اشْتَكَتْ مَا تَلْقَى مِنْ أَثَرِ الرَّحَى فِي يَدِهَا، وَأُتِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ، فَانْطَلَقَتْ فَلَمْ تَجِدْهُ، وَلَقِيَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَأَخْبَرَتْهَا، فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ بِمَجِيءِ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا إِلَيْهَا، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا، فَذَهَبْنَا لِنَقُومَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَى مَكَانِكُمَا، فَقَعَدَ بَيْنَنَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ قَدَمَيْهِ عَلَى صَدْرِي، فَقَالَ: أَلَا أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَا؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا أَنْ تُكَبِّرَا اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ، وَتُسَبِّحَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتَحْمَدَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ.

Bahwa Fāṭimah mengadukan rasa sakit yang ia alami akibat batu penggiling di tangannya. Ketika Nabi ﷺ mendapatkan tawanan, ia pun datang (bermaksud meminta pembantu), namun tidak menemui beliau. Ia bertemu ‘Āisyah lalu menyampaikan hal itu. Ketika Nabi ﷺ pulang, ‘Āisyah memberitahukan kedatangan Fāṭimah. Nabi ﷺ kemudian datang menemui kami ketika kami telah berbaring. Kami hendak bangun, namun beliau bersabda, “Tetaplah di tempat kalian.” Lalu beliau duduk di antara kami hingga aku merasakan dinginnya telapak kaki beliau di dadaku. Beliau bersabda, “Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta? Apabila kalian hendak tidur, maka bertakbirlah kepada Allah tiga puluh empat kali, bertasbih tiga puluh tiga kali, dan bertahmid tiga puluh tiga kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.” (HR. Bukhari: 3113, Muslim: 2727)

Para ulama mengatakan: “Hadis menunjukkan bahwa siapa yang membiasakan dzikir ini ketika hendak tidur, ia tidak akan ditimpa kelelahan. Hal itu karena Fāṭimah mengadukan rasa letih akibat pekerjaan, lalu Nabi ﷺ mengarahkannya kepada dzikir tersebut.”

Dari Abdullah bin Busr ia berkata:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. قَالَ: «لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ».

“Bahwa seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam telah banyak pada (diri)ku, maka beritahukanlah kepadaku sesuatu yang bisa aku pegang teguh.’ Beliau bersabda, ‘Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah.'” (HR. Tirmidzi: 3375)

  • Berbakti kepada orang tua

Allah berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)

 Nabi bersabda:

رِضَى اللَّهِ فِي رِضَى الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ.

“Keridaan Allah ada pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi: 1899)

Nabi bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Tiga doa yang dikabulkan tanpa keraguan di dalamnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian (musafir), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Tirmidzi: 1905)

  • Berteman dengan orang-orang shalih

Berteman dengan orang baik in syaa Allah akan membuat kita menjadi baik pula. Meski kita sangat jauh dari kedudukan mereka, setidaknya ada keinginan dan usaha untuk memperbaiki diri agar menjadi orang baik seperti mereka.

Berkah berteman dengan orang baik tidak hanya dirasakan oleh manusia saja. Bahkan hewan pun akan mendapatkan keberkahan dari pertemanan dengan mereka, sebagaimana yang terjadi dengan anjing ashabul kahfi. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

صُحْبَةُ الصَّالِحِيْنَ يَنْتَفِعُ بِهَا حَتَّى البَهَائِم، كَمَا حَصَلَ لِلْكَلْبِ الَّذِي كَانَ مَعَ أَصْحَابِ الْكَهْفِ، فَقَد شَمِلَتْهُ بَرَكَتُهُمْ فَأَصَابَهُ مَا أَصَابَهُمْ مِنَ النَّوْمِ عَلَى تِلْكَ الحَالَةِ العَجِيْبَةِ وصَارَ لَهُ ذِكْرٌ وَخَبَرٌ وَشَأْنٌ

“Bersahabat dengan orang-orang shalih bermanfaat sampai hewan sekalipun mengambil manfaat darinya. Sebagaimana yang terjadi pada seekor anjing yang bersama ashabul kahfi dimana keberkahan mereka juga dirasakan oleh anjing itu. Maka apa yang terjadi pada ashabul kahfi tatkala tidur dalam kondisi yang sangat ajaib pun terjadi pula pada anjing itu. Sehingga dia disebut-sebut, dikisahkan dan memiliki kedudukan.” (Al-Khuthabul Minbariyah: 2/149)

Karenanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan agar berteman dengan orang-orang shalih sehingga kita mendapat manfaat dari pertemanan dengan mereka itu. Sebaliknya, jangan berteman dengan orang yang buruk karena mereka mencelakakan. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ ، أَوْ ثَوْبَكَ ، أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Permisalan teman yang baik dan teman yang jelek adalah seperti penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Engkau tidak akan rugi berteman dengan penjual minyak wangi. Sebab bisa jadi engkau membeli darinya atau paling tidak engkau mencium bau yang wangi. Sedangkan, seorang tukang besi, akan membakar tubuh atau pakaianmu, atau paling tidak engkau mencium aroma yang busuk darinya.”  (HR. Bukhari: 1995, Muslim: 2628)

Semoga bermanfaat

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

 

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud, Arab Saudi (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Sekarang sebagai Mudir Tanfidz di KIAS Syathiby serta pengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button