Mengangkat Anak Secara Hukum Negara, Bolehkah?

Pertanyaan:

Bismillah, saya mau tanya. Saya telah mengangkat anak dari kakak saya. Dan masalahnya, saya ingin memasukkannya ke dalam akta dan KK atas nama saya adalah bapaknya. Bagaimana hukum perbuatan saya itu, Ustadz? (08585xxxxxxx)

Jawab: 

Semoga Allah selalu memberkahi amal usaha kita semua. Memungut anak orang lain, apalagi itu anak kerabat kita, insya Allah tergolong perbuatan saling menolong dalam hal kebaikan dan takwa, serta mendapatkan pahala bila kita bermaksud baik, ikhlas ingin mencari Ridha Allah Subhanahu wa ta’ala. Rasulullah ﷺ bersabda:

واللهُ في عَونِ العبدِ ما كان العبدُ في عَونِ أخِيهِ

“Dan Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selagi hamba itu senantiasa menolong saudaranya.” (HR. Muslim 13/212)

Adapun memasukkan anak tersebut ke dalam kartu keluarga dan diatasnamakan sebagai anaknya sendiri maka haram hukumnya. Karena hal itu termasuk menipu dan membohongi, apalagi maksudnya untuk mendapatkan tunjangan gaji keluarga, tentu lebih berbahaya karena mengambil gaji yang sebenarnya bukan haknya. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَن غشَّ فليس مِنّا

“Barang siapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (Shahih Ibnu Majah: 2224)

Rasulullah ﷺ melarang kita berdusta, dan hendaknya kita berkata dan berbuat jujur, karena kejujuran akan mengantarkan kita menuju ke surga. Sebaliknya, kebohongan akan mengantarkan kita menuju ke neraka. Beliau ﷺ bersabda:

عليكُم بالصِّدقِ؛ فإنَّ الصِّدقَ يَهدي إلى البرِّ، وإنَّ البرَّ يهدي إلى الجنَّةِ، وما زالَ الرَّجلُ يصدُقُ (ويتحَرّى الصِّدقَ)، حتّى يُكتَبَ عند اللهِ صدِّيقًا، وإيّاكم والكذبَ؛ فإنَّ الكذبَ يهدي إلى الفُجورِ، وإنَّ الفُجورَ يهدي إلى النّارِ، وما يزالُ العبدُ يَكْذِبُ ويتحَرّى الكذبَ، حتّى يُكتَبَ عند اللهِ كذّابًا

“Hendaknya kalian bersikap jujur. Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga. Seorang lelaki akan selalu bersikap jujur dan berusaha memelihara kejujuran sampai ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Jauhilah dusta, sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan itu menunjukkan ke neraka. Seorang hamba akan selalu berdusta dan berusaha memelihara kedustaan sampai dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat pendusta.” (HR. al-Bukhari: 6805)

Namun Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa menerima taubat hamba selagi dia belum sekarat. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala akan memaafkan hamba apabila hamba berbuat kesalahan karena tidak tahu atau lupa. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa dan kesalahan kita semua. Aamiin… Wallahu a’lam.

________________________________

Dijawab oleh: Ust. Aunur Rofiq Bin Ghufron, Lc. (Muharam 1437 H – Vol.91, Al Mawaddah)

Diposting oleh Maribaraja.Com

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !