
Pentingnya Mengetahui Pokok Ahlussunnah Wal Jama’ah
Pegantar
Pada 3 September 1989, pesawat komersial Varig Flight 254 melakukan penerbangan dari Marabá menuju Belém di Brasil. Rute ini sebenarnya sangat pendek, hanya memakan waktu sekitar 48 menit ke arah utara. Akan tetapi pilot salah memasukkan satu angka koordinat di awal perjalanan. Kode 0270 yang dalam format penerbangan Varig yang baru, angka tersebut maksudnya adalah 027,0 derajat. Namun, pilot menyangkanya sebagai 0270 derajat. Akibatnya, seharusnya pesawat terbang ke arah utara namun pesawat justru terbang lurus ke arah barat menembus hutan Amazon yang sangat luas. Penerbangan yang seharusnya singkat berubah menjadi berjam-jam dan mengerikan hingga kehabisan bahan bakar dan melakukan pendaratan darurat di atas pohon-pohon hutan Amazon yang sangat lebat. Dari total 54 orang di dalam pesawat, sebanyak 12 orang tewas, sementara sisanya bertahan hidup dan berhasil dievakuasi dua hari kemudian.
Apa hikmahnya untuk kita? Dalam kehidupan ini kita sedang berjalan menuju Allah untuk pulang ke surga yang merupakan kampung halaman manusia. Kalau kita tidak mengetahui jalan pulang atau kita tidak bisa bernavigasi maka kita akan tersesat. Al-Quran dan Sunnah Nabi merupakan panduan pulang menuju Allah yang mana kita dituntut harus bisa memahami apa yang ada di dalamnya agar kita selamat. Karena itulah, penting bagi kita untuk mengetahui pokok Ahlussunnah yang merupakan golongan yang berjalan diatas kebenaran.
Fungsi mengetahui Pokok Ahlussunnah Wal Jama’ah
Pertama: Untuk memastikan apakah kita di atas jalan yang benar atau tidak
Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ merupakan navigasi satu-satunya yang akan menyelamatkan kita. Allah berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi (Allah) yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku seseorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan dia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim no. 153)
Dan Islam dibangun diatas Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Berpegang kepada keduanya dengan pemahaman yang benar adalah syarat selamat. Nabi ﷺ bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama masih berpegang pada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dalam Muaththa’ no. 3338)
Inti ajaran Islam adalah: Akidah yang lurus, Ibadah yang benar, dan akhlak yang mulia. Dan Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah refleksi dari agama Islam yang dibawa oleh Nabi tersebut. Dia adalah jalan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman yang benar. Sejarah dan asal usul kemunculan nama ini akan disebutkan pada pembahasan poin kedua.
Pokok Ahlussunnah mencakup tiga hal yang menjadi syarat keselamatan (akidah, Ibadah dan Akhlak). Pokok-pokok tersebut sudah dijelaskan oleh para ulama dengan panjang lebar dan terperinci. Kita ambil satu pokok pada masing-masingnya sebagai contoh, yaitu:
- Dalam Akidah adalah mentauhidkan Allah dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
مَنْ لَقِىَ اللَّهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارِ
Barang siapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun akan masuk surga dan barang siapa yang berjumpa dengan-Nya sedangkan ia mempersekutukan-Nya akan masuk neraka. (HR. Muslim: 93)
2. Dalam ibadah adalah beribadah dengan ikhlas dan mutabaah
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
‘Aku adalah Dzar yang paling tidak memerlukan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya’.” (HR. Muslim: 2985)
Rasulullahﷺ bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim: 1718)
3. Dalam akhlak adalah cinta dan benci karena Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ وَأَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَنْكَحَ لِلَّهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ إِيمَانَهُ
“Barangsiapa memberi karena Allah, mencegah karena Allah, cinta karena Allah, marah karena Allah dan menikah karena Allah berarti sempurnalah keimanannya.” (HR. Tirmidzi: 2521)
Mencintai tidak boleh sampai mengkultuskan dan membenci tidak boleh menafikan sifat adil. Contoh praktek: Kita membenci orang kafir tapi kita tidak boleh menzalimi mereka. Allah berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. (QS. Al-Maidah: 8)
- Tidak boleh membunuh kafir mustamin dan mu’ahad
- Tidak boleh membajak hak cipta mereka (windows, office, dll)
Kalau kita berada pada pokok ini maka insyaAllah kita berada pada jalan yang benar. Namun jika tidak maka perlu ada koreksi navigasi untuk kembali ke jalur yang benar. Inilah fungsi yang sangat penting mengetahui pokok Ahlussunnah.
Kedua: Agar bisa membedakan antara haq dan batil serta syubhat
Dahulu di masa Nabi ﷺ hanya ada istilah muslim saja. Selain muslim adalah kafir atau munafik. Namun seiring berjalannya waktu, muncullah orang-orang yang mengaku muslim akan tetapi amalan mereka sangat jauh dari Islam yang diajarkan oleh Nabi ﷺ
Dalam sejarah, kelompok menyimpang telah muncul di akhir masa sahabat Nabi ﷺ. Ada 4 kelumpok menyimpang yang muncul pertama dalam sejarah Islam yaitu Syiah, Khawarij, Murjiah dan Qadariyah.
Kelompok menyimpang ini secara tampilan lahiriyah (chasing) adalah muslim padahal akidah dan ideologi mereka sangat menyimpang dari Islam. Kita ambil contoh Qadariyah yaitu kelompok yang menolak takdir Allah mereka mengatakan alam semesta terjadi begitu saja tanpa takdir dari Allah. Keyakinan yang sangat menyimpang sementara lahirah mereka adalah muslim. Hal ini bisa kita lihat dalam riwayat yang disebutkan oleh Imam Muslim pada hadits Jibril yaitu kisah 2 Tabiin yang bertemu dengan Ibnu Umar.
Demikian juga dengan Syiah yang secara lahiriyah menampakkan tampilan sebagai seorang muslim hakiki, padahal mereka memiliki akidah yang menyimpang.
Demikian juga dengan Khawarij yang mengkafirkan dan membunuh Ali bin Abi Thalib. Rasulullah ﷺ menggabarkan:
«يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ، وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ، وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ، وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ»
“Akan keluar di antara kalian suatu kaum, yang kalian akan menganggap remeh/kecil shalat kalian dibanding shalat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka, dan amalan kalian dibanding amalan mereka. Mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka meluncur keluar dari agama sebagaimana anak panah meluncur menembus sasaran/buruannya.” (HR. Al-Bukhari: 5058, Muslim: 1064)
Dan ini dibuktikan oleh Ibnu Abbas saat menemui mereka di Harura’, keadaan mereka persis sama dengan yang digambarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Karena besarnya pengaruh kelompok-kelompok menyimpang ini dan samarnya kondisi mereka dapat selamat dari pengaruh mereka merupakan nikmat yang sangat besar saat itu. Sorang imam dari generasi tabi’in yaitu Abu al-‘Aliyah rahimahullah berkata:
فَقَدْ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيَّ بِنِعْمَتَيْنِ، لاَ أَدْرِي أَيُّهُمَا أَفَضْلُ: أَنْ هَدَانِي لِلإِسْلاَمِ، وَلَمْ يَجْعَلْنِي حَرُوْرِيّاً
“Sungguh Allah telah memberiku dua nikmat, aku tak tahu mana dari keduanya yang lebih utama; Allah memberi hidayah kepadaku untuk memeluk Islam dan tidak menjadikanku Haruri (Khawarij).” (Siyar A’lam an-Nubala’: 7/236)
Maka dari sinilah kemudian muncul istilah Ahlussunnah wal Jama’ah yang merupakan lawan kata dari Ahlul Bid’ah Wal Furqah. Untuk memisahkan siapa yang masih benar-benar diatas sunnah (agama) Nabi dan tetap berjalan diatas jamaah kaum muslimin dan berpecah belah.
Ibnu Sirin, seorang Tabiin (Wafat 110 H) berkata:
لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ
“Dahulu (para sahabat dan tabi’in) tidak pernah menanyakan tentang isnad (sanad). Namun ketika terjadi fitnah (bercampurnya pemikiran menyimpang), mereka berkata: ‘Sebutkan kepada kami nama-nama perawi kalian!’ Maka dilihatlah: jika mereka adalah Ahlussunnah, haditsnya diambil; dan jika mereka adalah Ahli Bid’ah, haditsnya tidak diambil.” (Muqaddimah Shahih Muslim)
Maka mengetahui pokok Ahlussunnah sangat penting bagi kita. Diantara prakteknya dalam kehidupan kita sehari-hari adalah:
- Mengambil ilmu dan kritis dalam beragama
Salah satu sunnatullah sekaligus pertanda akhir zaman, akan terjadi perselisihan dan perpecahan pada umat Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا
“Sesungguhnya siapa dari kalian yang hidup setelahku, niscaya akan menyaksikan (mendapati) perselisihan yang banyak.” (HR. Abu Dawud: 4609 dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 42)
Dalam hadits yang lain Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَهِىَ الْجَمَاعَةُ
“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlul kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga, tujuh puluh dua akan masuk neraka, hanya satu yang akan masuk surga dan itulah al-Jama’ah.” (HR. Abu Dawud: 4599 dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 1/358)
Sebagian ulama mengatakan bahwa pokok (gembong) dari kelompok-kelompok sesat itu ada enam yaitu: al-Haruriyyah, al-Qadariyyah, al-Jahmiyyah, al-Murji’ah, ar-Rafidhah, al-Jabriyyah. Setiap kelompok kemudian terpecah menjadi dua belas sehingga semuanya berjumlah tujuh puluh dua. (Lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis hal. 41)
Al-Imam Ahmad menyebutkan dalam Musnadnya sebuah hadits yang menunjukkan bahwa jalan kesesatan itu lebih banyak daripada jalan keselamatan. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, ia menuturkan:
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا،ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيلُ اللهِ، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ – قَالَ يَزِيدُ: مُتَفَرِّقَةٌ – عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ، ثُمَّ قَرَأَ: وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ ، فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Rasulullah pernah membuat sebuah garis untuk kami lalu bersabda: ‘Inilah jalan Allah.’ Kemudian beliau membuat beberapa garis di kanan dan kirinya lalu bersabda: ‘Inilah jalan-jalan -Yazid (salah seorang perawi) berkata: yang berserakan- setiap jalan tersebut terdapat setan yang mengajak kepadanya.’ Kemudian beliau membaca firman Allah: “Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.(QS. al-An’am: 153).” (HR. Ahmad:4142, dihasankan oleh al-Albani dalam Misykah al-Mashabih: 1/36)
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الأَئِمَّةُ الْمُضِلُّونَ
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah imam-imam (para tokoh) yang menyesatkan.” (HR. Ahmad: 1/42, ash-Shahihah: 4/109)
Dalam riwayat yang lain tatkala Rasulullah ﷺ memperingatkan akan bahayanya tokoh ini dalam kerusakan di akhir zaman, di antaranya beliau ﷺ mengatakan:
دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا
“Para da’i (penyeru) yang mengajak ke pintu Jahannam. Siapa yang memenuhi seruan mereka maka akan dilemparkan ke dalamnya.” (HR. Bukhari: 7084, Muslim: 1847)
Berangkat dari hadits-hadits di atas, maka seorang muslim pada hari ini dituntut untuk bersikap kritis dalam beragama. Sebab, tanpa kejelian dalam memilih jalan dan metode beragama dapat menjatuhkannya ke salah satu dari sekian banyak jalan dan kelompok sesat yang ada.
Imam Muhammad bin Sirin rahimahullahpernah mengatakan:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Sunan ad-Darimi: 438 Darul Mughni)
Dengan mengetahui pokok-pokok Ahlussunnah maka seorang akan bisa menilai mana dai yang benar dengan yang sesat. Mana orang yang pantas diambil ilmunya dengan yang bukan.
2. Menggunakan kaidah: Ambil baik dan buang buruknya
Dalam pepatah Arab dikatakan:
اِجْتَنِ الثِّمَار وَ أَلْقِ الخَشَبَةَ فِيْ النَّار
“Petik buahnya dan campakkan rantingnya ke api.” (al-‘Adzbul Munir: 2/189 cet. Daru ‘Alamul Fawaid)
Di tengah masyarakat kita sering mendengar ucapan:” Ambil saja baiknya dan buang buruknya.” Kaidah ini sebenarnya tidak salah jika ditujukan kepada seorang yang memiliki ilmu yang bisa membedakan antara yang haq dengan yang batil. Maka untuk mengunakan kaidah ini dalam kehidupan beragama, seorang harus mengetahui pokok Ahlussunnah.
Sekalipun ada orang-orang yang bisa menerapkan kaidah ini, akan tetapi menjauhi syubhat (sesuatu yang tercampur antara haq dan batil secara samar) tetap lebi utama. Karena menjauhi sumber syubhat juga merupakan salah satu pokok Ahlussunnah. Rasulullah ﷺ bersabda:
فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ
“Larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa.” (HR. Bukhari: 5707)
Jika seandainya itu dalam hal kusta, penyakit yang menyerang badan, lantas bagaimana dengan “syubhat“, penyakit yang menyerang pikiran dan agama?!
Tak usah “coba-coba”, ingat bahwa hati kita ini lemah, maka jangan sembarangan mengambil ilmu agama nanti bisa terkena syubhat. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan:
يَرَوْنَ أَنَّ القُلُوْبَ ضَعِيْفَةٌ والشُبَهَ خَطَّافَةٌ
“Mereka (mayoritas ulama salaf) memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar.” (Siyar A’lamin Nubala‘: 7/261).
Zamakhsyari, seorang gembong dan pemuka Mu’tazilah yaitu satu di antara kelompok menyimpang yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ia mempunyai sebuah kitab tafsir yang diberi nama Al-Kasysyaf.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Kitabnya al Kasysyaf mengandung pemikiran-pemikiran mu’tazilah yang sangat banyak yang terkadang tidak dapat diketahui oleh setiap orang. Sampai-sampai al-Bulqini (Ulama madzhab Syafi’i wafat: 824H) pernah mengatakan:
أَخْرَجْتُ مِنَ الكَشَّافِ اِعْتِزَالِيَّاتٍ بِالمَنَاقِيْشِ
‘Aku mengeluarkan pemikiran-pemikiran mu’tazilah dari kitab al-Kasysyaf dengan mengunakan pahat pencabut.’
Hal ini menunjukkan bahwa syubhat pemikiran-pemikiran mu’tazilah itu sangat samar dalam kitab tersebut.” (Syarh al-Manzhumah al-Baiquniyyah: 19 cet. Darul Tsurayya)
Padahal, jika yang bukan ulama membaca kitab tersebut maka niscaya ia akan mengatakan bahwa kitab itu adalah kitab yang sangat bagus. Terlebih dalan pembahasan segi bahasanya, karena memang Zamakhsyari handal dalam bidang tersebut.
Materi kajian Tematik di Rumah Qur’an RSB (Riyadhus Sunnah Binalindung) Pondok Gede Bekasi. Ahad, 20 September 2026 M
Lihat:
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom




