Beranda / Ilmu Syar'i / Tafsir / ANTARA IBADAH DAN SYIRIK – Surat An-Nisa’: 36

ANTARA IBADAH DAN SYIRIK – Surat An-Nisa’: 36

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (QS. An-Nisa’: 36)
__________________________

Makna ibadah

Secara bahasa ibadah bermakna menghinakan diri serta tunduk. Sedangkan secara istilah yaitu sebagaimana yang didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

َاِسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ الله وَيَرْضَاهُ مِنَ الأَعْمَالِ والأَقْوَالِ الظَّاهِرَةِ وَالبَاطِنَة

Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang batin.” (Ighatsatul Mustafid: 1/39)

Hakikat Kesyirikan

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah mengatakan : “Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam sesuatu yang merupakan kekhususan bagi Allah.” (Mulakhas Fi Syarhi Kitabit Tauhid: 15)

Dan ibadah merupakan kekhususan hak Allah subhanahu wata’ala. Jika ada satu saja di antara jenis ibadah yang diberikan seorang kepada selain-Nya maka ia telah jatuh dalam kesyirikan.

Imam Ibnu Hajar rahimahullah pernah mengatakan:

المُشْرِكُ أَصْلًا مَنْ وَضَعَ الشَّيْءَ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ؛ لِأَنَّهُ جَعَلَ لِمَنْ أَخْرَجَهُ مِنَ العَدَمِ إِلَى الوُجُوْدِ مَسَاوِيًا فَنَسَبَ النِّعْمَةَ إِلَى غَيْرِ المُنْعِمِ بِهَا

“Seorang pelaku kesyirikan hakikatnya adalah seorang yang meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Karena ia menjadikan bagi Dzat yang mengeluarkannya dari ketidakadaan menjadi ada (Allah) tandingan, kemudian ia menisbatkan nikmat kepada selain pemberi nikmat.” (Mausu’ah Nadhratin Na’im: 10/4749)

Oleh sebab itulah kesyirikan disebut dengan kezaliman yang paling besar. Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Nakirah fi Siyaqin Nahyi

Dikalangan ahlul ilmi dikenal sebuah kaidah berkaitan dengan bahasa yaitu:

النَكِرَةُ فِيْ سِيَاقِ النَّهْيِ يُفِيْدُ العُمُوْمَ

“Kata nakirah (tidak jelas) yang terdapat pada redaksi larangan bermakna umum.”

Di dalam ayat ini kata “syaian” adalah kata nakirah sedangkan kontek ayat ini adalah larangan. Maka berlakulah kaidah ini. Sehingga, larangan mempersekutukan Allah itu mencakup umum. Tidak boleh mempersekutukan dengan apapun apakah itu seorang nabi, malaikat, wali dan orang shalih, atau pun batu, kayu, laut, gunung, dst. Atau bahkan, urusan dunia.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Dan janganlah engkau jadikan dunia sebagai sekutu bagi Allah. Seorang  apabila tujuan utamanya adalah dunia maka ia menjadi hamba dunia sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah.” (HR. Bukhari: 2887)” (Al-Qaulul Mufid: 1/30-31)

Artinya ia telah mempersekutukan Allah dengan dunia.

Beberapa faidah yang dapat dipetik dari ayat yang mulia ini:

1. Wajibnya mengesakan Allah dalam peribadahan

2. Haramnya perbuatan syirik dan ia merupakan keharaman yang paling besar.

3. Menjauhi kesyirikan adalah syarat diterimanya ibadah. Karena Allah menggandengkan perintah ibadah dengan larangan berbuat syirik.

4. Kesyirikan semuanya haram sedikit atau pun banyak, kecil atau pun besar. Karena nakirah disebutkan dalam redaksi penafian bermakna umum. /art0294

Referensi:
1. Al-Mulakhkhash fi Syarh Kitabit Tauhid, Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Darul ‘Ashimah
2. Ighatsatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Muassasah Risalah
3. Al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid,Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Darul ‘Ashimah

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Tabarruk; Ngalap Berkah

Kita tidak memungkiri bahwa keberkahanlah yang kita cari dan idam-idamkan. Bahkan, boleh dikatakan bahwa semua …

Tulis Komentar