Beranda / Ilmu Syar'i / Tafsir / KEHANCURAN SUATU NEGERI (#6/6)

KEHANCURAN SUATU NEGERI (#6/6)

Pada pembahasan sebelumnya telah dibahas diantara sifat-sifat teladan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Sehingga sebuah negeri akan benar-benar aman, tentram, nyaman, dan damai. Namun, hal yang demikian tidaklah sempurna jika tidak didukung pula dengan keteladanan sifat dari para rakyatnya.

Apa saja sifat-sifat teladan yang wajib dimiliki oleh setiap rakyat? Penasaran? Simak pembahasan berikut…

Sifat Rakyat Teladan

Rakyat pun juga punya peran didalam membangun negara, jika salah langkah maka negara akan hancur sekalipun pemimpinnya baik, karena itu untuk menjadi rakyat teladan perhatikan keterangan dibawah ini :

1. Senantiasa menuntut ilmu agama.
Hendaknya senantisa menuntut ilmu dinul Islam, karena ilmu bagaikan cahaya yang menerangi hati kita, untuk memilih mana yang baik dan meninggalkan yang buruk. Kita bisa bandingkan bagaimana kehidupan para sahabat رضي الله عنهم setelah masuk Islam dan sebelumnya. Renungkan, ayat yang pertama kali turun adalah tentang ilmu. (Lihat QS. al-Alaq: 1-5)

2. Ikhlas beribadah kepada Allah ﷻ. (Lihat QS. al-A’rof: 96)

3. Beramal shalih.
Umat yang berilmu dan beramal shalih akan terlindung dari bencana. (Lihat QS. Hud: 117)

4. Mengembalikan segala perselisihan kepada hukum Allah ﷻ. (Lihat QS. an-Nisa: 59)

5. Banyak bertanya kepada ulama bila tidak tahu. (Lihat QS. al-Anbiya: 7)

6. Menjauhi segala bentuk kemusyrikan.

7. Menjauhi segala macam kemaksiatan.

8. Taat kepada pemimpin.
Akan tetapi bila perintahnya berupa maksiat, kita menolaknya dengan hikmah. Adapun dalil yang menjelaskan prinsip tersebut banyak sekali.

9. Bersabar atas tindakan pemimpin, sekalipun dirasa merugikan baik fisik atau harta. Dalilnya terdapat dalam hadits shahih riwayat Muslim dan yang lainnya.

10. Mendoakan pemimpin agar mendapatkan hidayah, karena sifat ini merupakan sifat Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

11. Jika masyarakat menjumpai perkara yang baru atau menghadapi fitnah, hendaknya tidak mengambil keputusan sendiri yang pada akhirnya umat menjadi korban. Akan tetapi hendaknya bijak, lalu kembalikan kepada fatwa para ulama yang muktabar. (Lihat QS. an-Nisa: 83)

Syeikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin حفظه الله berkata: “Perhatikan ayat ini !! (QS. an-Nisa: 83), sesungguhnya ayat ini mendidik insan, jika ada peristiwa yang berkenaan dengan keamanan masyarakat atau menjadikan mereka dilanda rasa ketakutan, hendaknya tidak bicara menurut hawa nafsunya sendiri, tidak meminta fatwa kepada sembarang orang, akan tetapi kembali kepada ulama yang berilmu yang layak menjadi panutan.

Jika manusia mengembalikan perkara ini kepada orang yang tidak berilmu, lalu dia berbicara tentang fitnah, perpecahan, kejahatan dan kehancuran, maka umat akan menjadi hina, karena fatwanya berlandaskan tanpa ilmu. Hal yang demikian dikarenakan menjawab pertanyaan yang sebenarnya dia tidak bisa menjawab, karena tidak memiliki ilmu dan tidak faham dalil dari Al-Quran dan sunnah.” (Lihat Kitab ‘Amnul Bilad oleh Syeikh Abdur Razzaq, hal: 25-26)

12. Tanggap ketika ada fitnah.
Bila terjadi fitnah, hendaknya waspada dan menyikapinya sebagai berikut;

a.Tidak tergesa-gesa atau emosi.
Abdullah Ibnu Masud رضي الله عنه berkata: “Sungguh akan datang kepadamu fitnah, jangan kamu terburu-buru, karena bila kamu mengikuti yang baik, itu lebih baik bagimu daripada kamu menjadi pelopor fitnah. (Lihat Su’abul Iman: 7/297)

b.Tidak gampang menyebarkan fitnah.
Hendaknya tabayyun bila mendengar fitnah (Lihat QS. al-Hujurat: 6, dan QS. an-Nisa: 83)

c. Jangan jadi penebar benih fitnah.
Karena bila fitnah itu telah muncul sulit  memadamkannya. (Lihat QS. an-Nur: 19)

13. Hindari diri dari suka mengganggu orang lain. Mengganggu adalah sifat yang tercela dan sangat berbahaya, semisal: menggunjing, adu domba, provokator dan yang lainnya. Aisyah رضي الله عنها berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ

“Sesunguhnya paling buruknya kedudukan manusia disisi Allah besok di Hari Kiamat, ialah orang yang dijauhi oleh manusia karena sebab mereka takut (berpaling) dari kejahatannya.” (HR. Bukhari: 5/2244)

Abu Hurairah رضي الله عنه berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan orang lain aman dari kejahatannya, dan sejelek-jelek kalian adalah orang yang tidak dapat diharapkan kebaikannya dan orang lain tidak aman dari kejahatannya.” (HR. Tirmidzi: 4/528, Hadits shahih – Lihat percetakan Baitul Afkar Ad-Dauliyah No: 2263. Shahih Ibnu Hibban 2/285, Shahih al-AlBani: 2/507)

Akhirnya, demikianlah pemaparan kami mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kehancuran suatu negeri. Semoga dapat diambil faedah, dan para pembaca hendaknya memaklumi sebagian dalil yang tidak ditulis dengan lengkap karena beberapa hal terkait keterbatasan kami.

Semoga Allah ﷻ senantiasa membimbing kita kepada jalan yang benar. Aamiin…

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Check Also

Menyadari Kadar Diri Sendiri

Seringkali, yang membuat runyam hubungan mu’amalah kita dalam kehidupan bersosial adalah karena kita tidak tahu …

Tulis Komentar

WhatsApp chat