Beranda / Keluarga dan Pendidikan Anak / Bila Anakku Remaja

Bila Anakku Remaja

Mengenal watak remaja

Remaja adalah peralihan umur anak setelah dia baligh sampai berumur 30 tahun. Umur ini pada umumnya memiliki sifat baru yang belum pernah dilakukan oleh mereka sebelumnya. Maka orang tua atau pendidik hendaknya memperhatikan tingkah laku mereka. Saat itulah syahwatnya mulai bangun, mulai berpikir untuk mengenal lawan jenis, ingin berhias diri agar lawan jenis menyapa atau menyayanginya, mulai banyak membutuhkan uang untuk kebutuhan berhias, membeli baju, merawat muka dan keindahan badannya, buku bacaan yang digemari semisal novel dan cerita cinta, mulai menggemari gambar lawan jenis, dan yang seterusnya.

Mereka senang menulis kisah cinta, bahkan mengoleksi nyanyian-nyanyian untuk melampiaskan syahwatnya. Mengunjungi tempat hiburan, tempat rekreasi untuk mencari kenalan lawan jenis. Menyimpan gambar lawan jenis, pergi tanpa tujuan yang belum pasti faedahnya. Di jalan kebut-kebutan, nongkrong, mengumbar mata untuk melihat lawan jenis, mengumbar mulut mencari mangsa, begadang malam, mengisap rokok atau ganja, main hp sambil mencari teman. Terkadang mencuri atau merusak barang orang lain dan perbuatan keji lainnya.

Efek yang terjadi di antaranya: malas beribadah, sering keluar, cari teman, minta makan yang enak, memaksa orang tua minta uang yang banyak untuk memenuhi kebutuhannya, enggan diperintah, suka memerintah, malas membantu orang tua, melawan orang tua, kurang betah di rumah, jika mereka capek, mereka pulang ke rumah lalu tidur, bahkan kadang lupa shalat atau shalat pada akhir waktunya. Lebih parah lagi, bila dia punya teman yang rusak moralnya, seperti pemabuk dan penjudi, tidak mustahil akan diajak serta pergi ke tempat yang menghancurkan kehormatan dirinya. Na’udzu billahi min dzalik…

Beginilah liku hidup remaja jika tidak ada ilmu dan iman yang menyertainya. Beginilah yang sering kita saksikan di masyarakat, sekalipun umumnya masyarakat muslim.

Siapa yang bertanggung jawab?

Tidak ada manusia yang sehat akal dan kuat imannya yang paling menyayangi remaja dibandingkan orang tua. Karena orang tua yang beriman, tidak hanya memikirkan bagaimana anak bisa kerja nantinya, tetapi juga bertanggung jawab terhadap anaknya di hadapan Allah Azza wajalla, sebagaimana firman-Nya:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِیكُمۡ نَارࣰا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. at-Tahrīm: 6)

Maka kedua orang tualah yang bertanggung jawab mengurusi pendidikan anaknya, terutama ketika sudah remaja, karena usia ini memerlukan perhatian yang lebih serius. Bukan hanya kesehatan jasmani seperti waktu sebelum baligh, tetapi kesehatan rohani lebih diutamakan juga agar menjadi anak yang ahli ibadah dan memiliki akhlak mulia. Karena bila hal ini diabaikan saat usia ini, pemeliharaan orang tua pada masa kecilnya akan menjadi sia-sia.

Bersihkan rumah dari penyebab kerusakan moral remaja

Setelah kita memahami perubahan anak kita yang sudah baligh dari sisi syahwat, sebagaimana yang pernah kita alami (bahkan sekarang lebih parah karena ditunjang dengan kemajuan maksiat dan didukung dengan berbagai fasilitas yang lebih banyak), kita sebagai orang yang bertanggung jawab penuh atas perbaikan anak kita, maka langkah pertama adalah menjadikan diri, keluarga dan rumah kita steril dari penyebab yang menjadikan kerusakan generasi muda kita. Di antara hal yang harus kita perhatikan di rumah:

• Hindari pakaian yang membangkitkan syahwat

Pakaian pada dasarnya untuk menutupi aurat, agar aib dan aurat kita tidak dilihat oleh keluarga kita dan agar tidak menjadi sebab bangkitnya syahwat anak kita. (Lihat QS. al-A’rāf: 26)

Di antara gaya pakaian yang merusak remaja kita adalah; pakaian istri dan putri kita yang ketat, pakaian yang tipis sehingga kelihatan kulitnya, sebagian tubuhnya tidak tertutup semisal: dada, lengan, betis, paha dan anggota tubuh lainnya. Tidaklah diragukan bahwa gaya ini sangat berbahaya bagi usia remaja, walaupun pakaian ini dipakai oleh istri dan putri kita sendiri di rumah.

Aisyah Radhiallahu’anha berkata, “Asma’ binti Abu Bakar menghadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis, maka Rasulullah berpaling darinya dan berkata,

يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا

‘Wahai Asma’, jika wanita telah mengalami haid (baligh) maka dia tidak boleh memperlihatkan auratnya kecuali ini dan ini -beliau memberi isyarat pada wajah dan kedua telapak tangan-.’” (HR. Abu Dawud: 4104, Shahih)

Orang tua hendaknya memperhatikan dirinya dan putrinya, jangan sampai mengenakan pakaian lawan jenis. Misalnya, sering kita jumpai seorang anak perempuan bahkan istri memakai celana, atau kemeja pria. Hal ini sangat berbahaya, bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah mengusir mereka dan menyuruh kita agar melakukan hal serupa bila menjumpai yang demikian.

Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata, “Nabi melaknat para laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki, lalu Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ

“Keluarkanlah mereka dari rumah kalian!” Ibnu Abbas melanjutkan, “Nabi Shallallahu’alaihi wasallam pernah mengeluarkan seorang perempuan, begitu juga dengan Umar bin Khaththab melakukannya.” (HR. Bukhari: 5436)

• Hendaknya memisahkan tempat tidur mereka

Jika anak mendekati baligh, hendaknya tempat tidurnya dipisah dari saudaranya. Bila tidak, dikhawatirkan akan terjadi suatu hal yang membahayakan keluarga disebabkan meledaknya syahwat yang haram. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Perintahkanlah shalat kepada anak-anakmu saat mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka kalau meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun. Dan pisahlah di antara mereka itu dari tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud: 495, Hasan Shahih)

Al-Imam al-Munawi Rahimahullah berkata, “Anak yang berumur sepuluh tahun hendaknya dipisah tempat tidurnya agar tidak terjadi bencana akibat syahwat, walaupun mereka dengan saudarinya sendiri.

Ath-Thibi Rahimahullah berkata, “Digabungkan antara perintah shalat dengan dipisahnya tempat tidur mereka pada usia ini, agar anak terlatih beradab kepada Allah dan bergaul dengan keluarga agar tidak terjadi pelanggaran perbuatan keji dan terhindar dari hal yang haram.” (Faidhul Qadir: 5/665)

• Kuncilah kamar tidur keluarga

Ketika orang tua berada di kamar istirahatnya, terkadang menanggalkan baju dan berbuat sesuatu yang tidak layak dilihat oleh anak atau kerabatnya. Jika kamar terbuka, tentu akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh anaknya, terutama yang sudah baligh. Solusinya, hendaknya kamar dikunci dan mereka tidak boleh masuk kecuali dengan izinnya. Dan usahakan pemandangan kamar tidak membuat anak menjadi pusing pikirannya. Allah Azza wajalla berfirman:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ لِیَسۡتَـٔۡذِنكُمُ ٱلَّذِینَ مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُكُمۡ وَٱلَّذِینَ لَمۡ یَبۡلُغُوا۟ ٱلۡحُلُمَ مِنكُمۡ ثَلَـٰثَ مَرَّ ٰ⁠تࣲۚ مِّن قَبۡلِ صَلَوٰةِ ٱلۡفَجۡرِ وَحِینَ تَضَعُونَ ثِیَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِیرَةِ وَمِنۢ بَعۡدِ صَلَوٰةِ ٱلۡعِشَاۤءِۚ ثَلَـٰثُ عَوۡرَ ٰ⁠تࣲ لَّكُمۡۚ

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu meminta izin kepadamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: (1) Sebelum shalat Shubuh, (2) Ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan (3) Sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. (QS. an-Nūr: 58)

Yahya Ibnu Abi Katsir Rahimahullah berkata, “Anak kecil yang belum baligh hendaknya minta izin apabila ingin memasuki kamar orang tuanya pada tiga waktu ini. Apabila sudah baligh, hendaknya minta izin setiap mau masuk kamar keluarganya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 6/83)

Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata, “Sesungguhnya Allah Maha menutupi, dan menyenangi yang tertutup, maka orang yang pintu rumahnya tidak tertutup atau tidak ada penghalangnya, boleh jadi tiba-tiba ada pelayan, anaknya atau anak yatim masuk ke kamarnya (tentu hal ini berbahaya).” (Tafsir Ibnu Katsir: 6/82)

Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata, “Ayat ini menunjukkan budak yang akan baligh, demikian juga anak yang mau baligh tidak boleh melihat aurat sesama jenisnya, sebagaimana orang dewasa tidak boleh melihat aurat anak yang mau baligh. (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah: 4/21)

• Pergaulan orang tua yang baik dan bijak terhadap anak

Muamalah orang tua sangat berarti kepada anak, terutama anak yang baru baligh. Mereka lebih kritis, tidak senang apabila dimarahi atau diperlakukan keras (sensitif). Perilaku orang tua yang keras bisa jadi membuat anak brutal dan tidak terkendali emosinya. Orang tua hendaknya lembut saat mendidik anak, terutama pada masa peralihan usia. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ.

Sesungguhnya kasih sayang itu tidak akan berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika kasih sayang itu dicabut dari sesuatu, niscaya akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim: 1793)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

Ya Allah, barangsiapa yang menjadi pemimpin umatku dalam suatu hal, lalu ia menyusahkan mereka, maka balaslah perbuatannya itu dengan kesusahan. Dan barangsiapa yang menjadi pemimpin umatku dalam suatu hal, lalu ia bersikap lembut terhadap mereka, maka berikanlah kelembutan (kasih sayang) kepadanya. (HR. Muslim: 6/7)

Semoga anak kita senantiasa dilindungi oleh Allah Subhanahu wata’ala dan menjadi anak yang shalih dan shalihah. Aamiin…

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Check Also

Jagalah Anakmu Dari Api Neraka

Anak lahir dalam keadaan fitrah Tatkala Allah Subhanahu wata’ala memberi karunia manusia berupa anak, setiap …

Tulis Komentar

WhatsApp chat