Beranda / Keluarga dan Pendidikan Anak / Bila Rezeki Anak Melimpah

Bila Rezeki Anak Melimpah

Kunci rezeki Allah Tabaaraka wata’ala hanya berada di tangan-Nya. Allah akan membuka pintu rezeki ini seluas-luasnya kepada hamba-Nya yang banyak beristighfar, bersedekah, senantiasa berwudhu, shalat, bersilaturrahim, berdzikir dan membaca al-Qur’an. Amalan-amalan shalih ini jika diamalkan akan membina jembatan hati kita dengan Allah. Dan apabila Allah menyayangi kita, maka segala permohonan dan doa kita akan dikabulkan serta dikaruniai rezeki dari jalan yang tiada disangka-sangka.

Rezeki Anak Dijamin Oleh Allah Azza wajalla

Hal yang harus diyakini oleh setiap orang tua yang beriman, bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah menjamin rezeki hamba-Nya sebelum dia lahir, baik dia orang yang beriman atau orang kafir. Begitulah yang sudah kita saksikan, tidak ada manusia yang hidup di dunia ini, yang sehat akalnya, atau yang gila, lelaki atau perempuan, kaya atau miskin, semua telah diberi rezeki oleh Allah. Sampai kapan? Sampai dia mati. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Hud: 6)

Sebagai orang muslim yang beriman kepada Allah hendaknya meyakini perkara ini, karena sering kita jumpai orang tua yang khawatir anaknya tidak memperoleh rezeki, padahal mereka telah mendapatkan rezeki dari Allah.

Di sisi lain, banyak orang tua tidak merasa khawatir bila anaknya tidak mempelajari syariat Islam, dan tidak pula khawatir bila anak mereka enggan beribadah kepada Allah. Bahkan tenang-tenang saja seolah tak akan dimintai pertanggung jawaban atas anak keturunan mereka sepeninggalnya nanti. Wallahul musta’an.

Bingung Karena Anak Tidak Punya Ijazah

Sering kita dengar kekhawatiran orang tua memasukkan anaknya ke pendidikan yang tidak formal, tidak berijazah negeri, seperti di pondok pesantren (lebih-lebih pesantren itu hanya fokus pada pendidikan agama), padahal demi agar anak memiliki akidah, ibadah dan akhlak yang baik. Mereka merasa sedih dan bingung, karena melihat anak tetangga tidak dipondokkan atau karena anak tetangga menonjol dalam pengetahuan umumnya. Mereka bingung pula bagaimana masa depan anaknya; mau melanjutkan ke mana, atau bagaimana mencari nafkah? Karena anaknya akan tidak punya ijazah yang diakui negara.

Perasaan ini perlu diluruskan, perlu ditanya, apa tujuan mereka menyekolahkan anak, apakah anak harus menguasai dunia, yang penting kaya walau tidak beribadah? Bagaimana tanggung jawab orang tua dengan anak yang merupakan amanah dari Allah Azza wajalla? Padahal mereka kelak akan ditanya pada hari kiamat tentang perintah Allah terhadap setiap orang tua:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. at-Tahrim: 6)

Allah menitipkan anak kita dalam keadaan fitrah, maka jangan sampai orang tua menodainya, jangan sampai anak berubah menjadi kafir karena orang tua yang tidak peduli. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ

“Tidaklah anak yang lahir melainkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tualah yang meyahudikannya, menasranikannya dan yang memajusikannya, sebagaimana binatang melahirkan anak yang selamat dari cacat, apakah kamu menganggap hidung, telinga dan anggota binatang itu terpotong?” (HR. Muslim: 4803)

Kita semua akan diadili oleh Allah, diminta pertanggungjawaban atas anak yang dititipkan kepada kita sebagai orang tua. Maka mari kita perhatikan keterangan dalil di atas, agar tidak menyesal di kemudian hari, karena kita tidak akan dikembalikan lagi di dunia untuk bisa memperbaiki amalan kita.

Prinsip “Asal Anak Dapat Rezeki”

Allah Subhanahu wata’ala telah menjamin rezeki kepada semua hamba, karena hakikat hamba adalah miskin, butuh rezeki dari Allah. Namun keberhasilan sebagian orang mendapatkan rezeki ada kalanya dengan jalan yang haram; dengan menyuap, menipu, mencuri, memalsu, mengurangi timbangan, riba, dan lainnya. Mereka kaya dengan cara yang dibenci oleh Allah. Terkadang orang tua tidak memperhatikan hal ini. Padahal, dari mana saja rezeki yang kita peroleh dan untuk apa, akan ditanyakan besok pada hari kiamat. (Lihat HR. at-Tirmidzi: 2601 dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 946)

Anak yang mencari rezeki dengan jalan yang haram akan berakibat tidak diterima doa dan ibadahnya, maka orang yang beriman tentu akan memperhatikan tentang rezeki yang diperoleh oleh anaknya, agar tidak sembrono dan yang penting anak bisa kerja dan dapat banyak rezeki kemudian jadi orang yang kaya raya. Wallahul musta’an… Perhatikanlah sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:

وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan sumber makanannya pun haram, lantas bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim 3/85-86 no. 543)

Bahkan rezeki yang haram akan menjadi sebab bangkrutnya amal shalih anak pada hari pembalasan. Bisa jadi amal mereka yang shalih tersita untuk menebus kezalimannya ketika mengambil harta dengan cara yang haram. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Orang yang tak punya hutang maupun barang (harta benda).” Nabi Shallallahu’alaihi wasallam lalu berkata, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah (orang) yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci-maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah memakan harta orang lain lalu orang ini pun menanti dia untuk menuntut dan mengambil pahalanya (sebagai tebusan) dan orang itu mengambil pula pahalanya. Bila pahala-pahalanya habis sebelum selesai tuntutan maka diganti tebusan atas dosa-dosanya, maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim: 6744)

Anak Shalih Akan Dimudahkan Rezekinya

Anak yang shalih dan shalihah berbeda dengan anak yang tidak mengerti agama Islam. Anak yang shalih in syaa Allah lebih berhati-hati melangkah, terutama dalam mencari rezeki. Tak semua yang bisa ditempuh untuk mencari rezeki dia raih, karena mereka takut adzab Allah jika mereka mencari rezeki yang haram. Allah menjanjikan rezeki kepada orang yang beriman, bukan hanya dapat rezeki, tetapi rezeki yang halal, yang menggembirakan hatinya dan menyejukkan hidupnya. Sebab mereka ingin mendapatkan rezeki bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan badannya, tetapi lebih kepada karena ingin mencari ridha Allah dengan mencari yang halal, sekalipun yang didapat hanyalah pas-pasan.

Jangan khawatir, Allah menghibur orang yang bertakwa dan anak shalih yang mau mengamalkan ilmunya dengan dimudahkan semua kesulitannya dengan rezeki yang datangnya tak disangka dan tidak terduga. Firman-Nya Azza wajalla:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan, dan diberikan-Nya rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah cukupkan keperluannya. (QS. ath-Thalaq: 2-3)

Maka anak yang bertakwa adalah yang hatinya selalu bertawakal dan meyakini bahwa Allah akan memberi rezeki untuk memenuhi kebutuhan diri dan kerabatnya. Jika burung yang tidak punya akal, pagi dan sorenya mendapatkan rezeki, pada musim panen maupun paceklik, maka bagaimana dengan hamba-Nya yang beriman dan dikaruniai akal? Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا.

“Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, pasti Allah akan memberi rezeki kepadamu, seperti Dia memberi rezeki kepada burung-burung yang terbang di pagi hari dengan tembolok kosong dan waktu pulang ke sarangnya pada waktu petang, temboloknya telah terisi penuh.” (Shahih Sunan Ibnu Majah: 2344)

Memang kita mesti berusaha, tetapi tetap harus meletakkan tawakal sepenuhnya kepada Allah. Kalau dapat apa yang kita inginkan, maka bersyukurlah. Jika sebaliknya, bersabarlah dan berbaik sangka kepada-Nya.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim berkata, “Jika mereka istiqamah di atas jalan yang lurus, jujur menjalankannya, pasti Allah akan memberi rezeki yang banyak, firman-Nya:

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

Dan bahwasanya jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang barokah). (QS. Jin: 16)

Bagaimana jika dia orang kafir? Dia tidak beriman, tetapi dia mencari rezeki dengan cara yang halal, maka dia hanya mendapatkan kenikmatan di dunia, sedangkan di akhirat tidak akan mendapat kenikmatannya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً أُطْعِمَ بِهَا طُعْمَةً مِنَ الدُّنْيَا وَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَإِنَّ اللهَ يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ فِى الآخِرَةِ وَيُعْقِبُهُ رِزْقًا فِى الدُّنْيَا عَلَى طَاعَتِهِ

“Sesungguhnya orang kafir apabila dia beramal kebaikan, dia diberi kenikmatan dunia sebagai balasan amalnya yang baik, sedangkan orang yang beriman, Allah juga menyimpan pahala kebaikannya di akhirat dan memberi rezeki di dunia karena ketaatannya. (HR. Muslim: 8/135)

Anak Shalih Tidak Harus Kaya

Berapa banyak orang tua ingin menyekolahkan anaknya, agar sukses dan kaya. Ini adalah kesalahan, karena kekayaan bukan tujuan. Allah menjadikan sebagian hamba-Nya kaya (semisal Firaun, Qarun, dan yang lainnya) bukan untuk ukuran kebaikan dirinya di dunia dan akhirat. Kekayaan mereka bahkan menjadi petaka di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, Allah tidak menjadikan orang miskin adalah hina di dunia dan di akhirat, karena banyak penghuni surga justru sebagai orang miskin ketika dia di dunia, namun mereka ahli iman dan takwa.

Rezeki akan bermanfaat apabila penerimanya berbaik sangka kepada Allah, walaupun hati kecilnya merasa kurang, karena mereka senantiasa beriman bahwa hanya Allah yang tahu maslahat seorang hamba. Firman-Nya Ta’ala:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-Nya tentu mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran (takaran yang sesuai). Sesungguhnya Dia Mahamengetahui (keadaan) hamba-Nya lagi Mahamelihat. (QS. asy-Syura: 27)

Semoga kita dan keluarga kita senantiasa dikaruniai oleh Allah Tabaaraka wata’ala rezeki yang halalan thoyyiban, dan diberi kemudahan untuk bisa beramal shalih. Aamiin

 

Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Check Also

Umar bin Abdil Aziz – Manusia Paling Cerdas

Manusia yang paling cerdas adalah yang paling bisa memberi udzur (pemaaf) kepada sesama manusia Umar …

Tulis Komentar

WhatsApp chat