Beranda / Artikel Salayok / DIAM ADALAH EMAS (Art.Salayok32)

DIAM ADALAH EMAS (Art.Salayok32)

Rasulullah pernah bersabda:

مَنْ صَمَتَ نَجَا

“Barang siapa yang diam akan selamat.” (HR. Tirmidzi: 2503, dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Silsilah ash-Shahihah no. 536)

Dalam hadits yang lain:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari: 6018, Muslim: 47)

Benar kata orang-orang bijak dahulu: “Diam adalah emas”. Sulaiman bin Dawud pernah mengatakan:

إِنْ كَانَ الكَلَامُ مِنْ فِضَّةٍ فَالسُّكُوْتُ مِنْ ذَهَبٍ

“Jika bicara adalah perak, maka diam adalah emas.” (Nadhratu an-Na’im 7/2640)

Betapa banyak orang yang beruntung atau selamat dari keburukan disebabkan diam. Dan betapa banyak pula orang yang celaka akibat tidak bisa menjaga lisan.

Namun yang perlu kita perhatikan bahwa diam yang akan menjadi emas, membawa keberuntungan adalah diam dari sesuatu yang tidak bermanfaat terlebih dari sesuatu yang haram.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah mengatakan:

“Berbicara dengan pembicaraan yang baik lebih baik (utama) daripada mendiamkannya, dan diam dari sesuatu yang jelek lebih baik daripada membicarakannya. Adapun terus menerus diam adalah bid’ah, sesuatu yang terlarang.” (Majmu’ Fatawa cet. Dar al-Wafa’ 11/200)

Oleh karena itu, Rabi’ bin Khaitsam pernah mengatakan:

لَا خَيْرَ فِي الكَلَامِ إِلَّا فِي تِسْعٍ: تَهْلِيْلٍ، وَتَكْبِيْرٍ، وَتَسْبِيْحٍ، وَتَحْمِيْدٍ، وَسُؤَالِكَ عَنْ الخَيْرِ، وَتَعَوُّذِكَ مِنَ الشَّرِّ، وَأَمْرِكَ بِالمَعْرُوْفِ، وَنَهْيِكَ عَنِ المُنْكَرِ، وَقِرَاءَتِكَ القُرْآنَ

“Tidak ada kebaikan dalam pembicaran kecuali dalam sembilan hal; Tahlil, takbir, tasbih, tahmid, berdo’a meminta kebaikan, berlindung dari keburukan, amar ma’ruf dan nahi mungkar (dakwah), serta membaca al-Qur’an.” (Nadhratu an-Na’im 7/2643)

Mari memperbanyak diam, meninggalkan ucapan yang tidak bermanfaat dan yang mencelakakan. Sebab, semua ucapan kita akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah subhanallahu wata’ala.

Semoga bermanfaat.
Zahir al-Minangkabawi

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah – Ini Sudah Cukup Untuk Mengantarkanku

Manakala Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu tiba di Syam, para pembesar; panglima dan komandan pasukan …

Tulis Komentar