Beranda / Keluarga dan Pendidikan Anak / Didiklah Anakmu! Sekalipun Ia Telah Menikah

Didiklah Anakmu! Sekalipun Ia Telah Menikah

Mendidik anak tak terputus setelah anak menikah

Terkadang orang tua merasa lepas dari tanggung jawab menasihati anaknya ketika anak sudah menikah. Ini adalah kesalahan. Karena anak, di manapun berada tetap berharap bimbingan dan nasihat dari orang tuanya, terutama anak perempuan yang kurang akal dan agamanya, walaupun dia sudah lama menikah. Apalagi anak yang baru menikah, tentu akan dihadapkan dengan masalah keluarga yang belum pernah dialami sebelumnya.

Perhatikan kisah yang sangat mulia, bagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mendidik putrinya sekalipun ia sudah menikah, dan bagaimana sikap beliau terhadap menantunya tatkala terjadi perselisihan dalam rumah tangga mereka.
Sahl bin Sa’d Radhiallahu’anhu berkata,

“Tidak ada nama (julukan) yang paling disukai Ali bin Abi Tholib selain Abu Turab (Bapak Pasir), dan dia sangat senang bila dipanggil dengan nama tersebut. Suatu ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam datang ke rumah Fatimah (putri beliau), namun beliau tidak menjumpai Ali di rumahnya. Beliau bertanya, ‘Di manakah sepupumu?’ Fatimah (putrinya) menjawab, ‘Sebenarnya antara saya dan dia ada masalah, dia memarahiku. Setelah itu, ia keluar dan enggan beristirahat siang di sini.’ Rasulullah berkata kepada seseorang, ‘Lihatlah, di manakah dia berada!’ Kemudian, orang tersebut datang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sekarang dia tengah tidur di masjid.’ Setelah itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mendatangi Ali Radhiallahu’anhu yang sedang berbaring, sementara kain selendangnya jatuh dari lambungnya hingga banyak debu yang menempel (di badannya). Kemudian Rasulullah mengusapnya seraya bersabda, ‘Bangunlah, Abu Turab! Bangunlah, wahai Abu Turab!’” (HR. Bukhari: 430)

Inilah kebaikan beliau sebagai orang tua yang senantiasa memperhatikan putrinya. Walaupun putrinya sudah menikah, beliau sering mengunjungi rumah putri dan menantunya. Tatkala beliau dilapori oleh putrinya, bahwa dia ada masalah dengan suaminya, beliau berlaku lembut kepada putrinya, tidak memancing masalah baru, dan beliau mencari menantunya. Apa yang dilakukan oleh beliau Shallallahu’alaihi wasallam ketika menantunya tidur di masjid? Disuruhnya bangun dengan kata yang lembut, dan beliau membersihkan kain selendang menantunya yang jatuh terkena debu. Beginilah seharusnya mertua berbuat baik kepada anak dan menantunya, agar tetap terjalin hidup keluarga yang mawaddah dan rahmah.

Membantu menantu berarti berbuat baik kepada anak

Tidaklah diingkari bahwa ketika anak menikah, beban orang tua menjadi ringan. Karena ketika anak sudah menikah, kedua pasangan suami istri akan saling membantu dalam semua urusan. Namun dalam kehidupan berkeluarga, tentu anak yang baru menikah tidak lepas dari kekurangan dan problematika rumah tangga, sebagaimana orang tua pada masa mudanya dahulu, bahkan ketika sudah lanjut usia. Karena manusia memang punya sifat kekurangan dan butuh bantuan.

Tatkala orang tua berbuat baik dan mau membantu menantunya, tentu menantu sangat berbahagia, karena merasa dibantu urusan hidupnya. Itu akan menjadi sebab dia berbuat baik kepada istri dan anaknya. Adapun membantu menantu bisa dengan harta, jika orang tua memiliki kelebihan harta, kemudian ikut memecahkan persoalan keluarganya, memudahkan urusan pekerjaannya, atau menyayangi cucunya. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam senantiasa mencintai dan memperhatikan keadaan cucunya, dan berbuat baik lainnya.

Jadilah mertua yang baik

Tatkala anak kita bermasalah dengan menantu, maka sebaiknya orang tua segera terjun menyelami keadaan anak dan menantunya, dan tidak terburu-buru menyalahkan menantu serta membela anaknya. Apalagi anaknya perempuan yang biasanya kurang akal dan kurang ibadahnya. Bahkan bila mungkin, selalu menasihati anaknya, karena orang yang membantu keluarga di tengah kesulitan, Allah Subhanahu wata’ala akan memudahkan urusannya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim. (HR. Muslim: 7028)

Jika kita harus berbuat baik kepada sesama muslim karena mereka saudara kita seiman, maka bagaimana dengan menantu yang telah berbuat baik kepada anak kita? Bukankah kita harus berbuat lebih baik kepadanya?

Perhatikan kisah mertua mulia yang senantiasa berbuat baik kepada mantunya di bawah ini. Abu Bakar as-Siddiq dan Umar bin Khoththob Radhiallahu’anhuma, tatkala kedua putrinya, yaitu Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar ada masalah, kedua menuntut uang belanja lebih yang tidak dipunyai oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, dua orang tua ini tidak membela anaknya dan tidak memarahi menantunya, tetapi menasihati putrinya dengan kata sindiran yang berarti membuat gembira menantu mereka, yaitu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.

Jabir bin Abdullah Radhiallahu’anhu berkata, “Abu Bakar berkunjung ke rumah Rasulullah, lalu dia minta izin masuk. Tiba-tiba Abu Bakar melihat orang-orang duduk di muka pintu rumah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tanpa ada seorang pun yang diizinkan masuk.” Jabir berkata, “Kemudian Abu Bakar dipersilakan masuk, lalu dia masuk. Setelah itu Umar menyusul dipersilakan masuk. Umar mendapati Nabi sedang duduk dikerumuni oleh istri-istri beliau. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam tampak murung dan tidak berkata-kata.” Kata Jabir, “Kemudian Umar berkata, ‘Aku akan mengucapkan sesuatu yang bisa membuat Nabi Shallallahu’alaihi wasallam tertawa.’ Umar berkata, ‘Rasulullah, seandainya engkau melihat anak perempuan Kharijah menuntut belanja (yang berlebihan) kepada saya, maka saya akan berdiri mendekatinya, lalu saya pegang lehernya.’ Lalu Rasulullah tertawa, kemudian berkata, ‘Mereka (para istriku) mengerumuniku sebagaimana yang engkau lihat. Semuanya menuntut belanja yang mewah dariku. Mendengar itu, Abu Bakar berdiri dan mendekati Aisyah, kemudian memegang leher Aisyah. Umar pun berdiri mendekati Hafshah, kemudian memegang leher Hafshah. Kemudian keduanya berkata, ‘Kalian meminta dari Rasulullah sesuatu yang tidak beliau miliki?! Katakanlah, ‘Demi Allah, kami tidak akan meminta kepada Rasulullah sesuatu yang tidak beliau miliki, selamanya!’

Kemudian Rasulullah menghindari istri-istri beliau selama satu bulan atau 29 hari, lalu turunlah ayat berikut (artinya), ‘Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu…’ sampai firman-Nya, ‘…bagi siapa yang berbuat adil di antaramu pahala yang besar.’ (QS. aI-Ahzāb: 28-29) Kata Jabir, “Lalu Rasulullah mulai memberikan penawaran kepada Aisyah. Beliau bertanya, ‘Aisyah, sesungguhnya aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu. Aku harap kamu pikirkan dengan matang, sehingga kamu meminta pendapat kedua orang tuamu.’ Aisyah bertanya, ‘Tawaran apa itu, wahai Rasulullah?’ Rasulullah kemudian membacakan ayat tersebut kepada Aisyah. Aisyah menjawab, ‘Ya Rasulullah, tidak mungkin saya meminta saran kedua orang tua saya mengenai engkau. Saya jelas akan memilih ridha Allah dan Rasul-Nya, serta memilih kesenangan di negeri akhirat. Saya mohon kepada engkau agar tidak memberitahukan jawaban ini kepada istri-istri engkau yang lain.’ Rasulullah menjawab, ‘Siapa pun dari istri-istriku yang menanyakan jawabanmu kepadaku, pasti aku akan memberitahukannya, karena Allah Azza wajalla tidaklah mengutusku untuk memberikan kesusahan atau memerintahkan kesusahan, melainkan Allah mengutusku untuk memberikan petunjuk yang memudahkan. (HR. Muslim: 3763)

Memilih calon mertua yang baik

Hidup berumah tangga bukan untuk sehari atau dua hari. Hidup berkeluarga tidak selamanya menyejukkan jiwa dan pandangan, tidak selamanya timbul mawaddah wa rahmah, karena manusia umumnya bodoh dan mempunyai sifat takabbur (ingin menang sendiri) dan membela dirinya serta keluarganya, walaupun mereka salah.

Maka tatkala orang ingin menikah, bukan hanya harus memperhatikan akhlak dan agama sang pria atau wanita, tetapi hendaknya memperhatikan agama dan akhlak orang tuanya, sekalipun kita boleh menikahi wanita muslimah walaupun orang tuanya kafir, namun jika memungkinkan, pilihlah calon mertua yang muslim dan berakhlak mulia. Itu lebih baik. Sebab, suatu saat kita butuh bantuan orang tuanya untuk menyelesaikan masalah. Bukankah ketika pasutri tidak mampu memecahkan masalah dianjurkan mendatangkan kedua orang tua dari pihak suami dan istri? (QS. an-Nisā’: 35-36)

Jika mertua adalah orang yang tidak memiliki bekal agama yang cukup dan tidak memiliki akhlak yang mulia, mana mungkin permasalahan anak dan menantu bisa diselesaikan dengan baik? Tetapi sebaliknya, jika kedua orang tua pasutri adalah orang yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, insya Allah akan hilang ketegangan dan beralih dengan perdamaian dan kesejukan hati setelah kesedihan.

Semoga Allah Azza wajalla senantiasa memberkahi hidup kita agar menjadi orang yang selalu berbuat baik kepada anak dan menantu, serta dikumpulkan kita semua di surga-Nya yang mulia. Aamiin…

 

Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom

mendidik anak setelah menikah

 

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Check Also

Jika Bertengkar Jangan Sampai Orang Lain Tahu

Riyadhush Shalihin Bab 34 – Wasiat Berbuat Baik Kepada Kaum Wanita 5/277 – Dari Mu’awiyah …

Tulis Komentar

WhatsApp chat