Beranda / Keluarga dan Pendidikan Anak / Menjelang Buah Hati Lahir

Menjelang Buah Hati Lahir

Pada edisi yang lalu telah dibahas bagaimana seharusnya suami saat menanam benih. Lalu, usai menanam benih, bagaimana bila tanaman itu akan berbuah? Apa yang seharusnya dilakukan? Bagaimana agar buahnya menjadi baik, bermanfaat dan menyejukkan hati kedua orang tua? Itulah yang akan kita bahas pada edisi ini insya Allah. Selamat menyimak!

Gembira dengan kehadiran sang buah hati

Di antara nikmat Allah yang harus kita syukuri ialah, Allah membuat kita senang dengan istri, lalu membuat kita senang dengan anak. Allah berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, dan anak-anak,…. (QS. Ali ‘Imran: 14)

Siapakah orangnya yang tidak bergembira dengan lahirnya seorang anak? Bukankah ada orang yang telah lama menikah namun belum dikaruniai anak?! Berbagai macam usaha telah ia lakukan agar mempunyai keturunan namun belum juga berhasil. Ini menunjukkan bahwa anak merupakan bagian dari karunia Allah yang harus kita syukuri.

Berbeda dengan orang yang berzina. Orang yang berzina pasti diawali dengan kegelisahan dan diakhiri dengan kesedihan. Lebih parah lagi bila wanita yang dizinai itu hamil atau melahirkan. Bukan hanya mereka berdua yang malu, keluarga pun akan ikut menanggung getahnya. Lain dengan orang yang menikah secara syar’i. Ketika si anak lahir, bukan hanya pasangan suami-istri yang gembira, orang tua dan mertua pun akan ikut bergembira dengan kehadirannya. Subhanallah, betapa indahnya Allah mengatur kehidupan keluarga dalam Islam.

Oleh karena itu, hendaknya kita bergembira dengan lahirnya anak kita, apalagi bila jumlahnya banyak. Dengan banyak anak, walaupun ujiannya bertambah, pahalanya pun akan bertambah insya Allah. Jangan seperti orang kafir dan orang jahiliyah dahulu yang merasa sedih memiliki banyak anak. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Disunnahkan bergembira dengan kelahiran anak.” Lalu beliau menyebutkan ayat tentang gembiranya Nabi Ibrahim dengan kelahiran anak beliau.

Ridha dengan pemberian Allah

Ketahuilah bahwa anak adalah karunia Alloh yang wajib kita syukuri dan kita senangi, baik anak itu laki-laki atau perempuan. Firman-Nya:

يَهَبُ لِمَن يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَ

Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. (QS. asy-Syura: 49)

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: “Manusia itu ada empat macam: ada yang dikaruniai anak laki-laki saja, perempuan saja, perempuan dan laki-laki, dan ada yang tidak dikaruniai anak sama sekali, seperti Nabi Yahya dan Nabi Isa.” (Tafsir Ibnu Katsir: 7/216)

Anak bukanlah produksi manusia sekalipun penyebab keberadaannya adalah kedua orang tua. Allah-lah yang membuat dan membentuknya. Oleh karena itu, kita hendaknya menerima dengan senang hati meskipun seandainya rupa anak yang lahir kurang berkenan di hati. Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali Imran: 6)

Syaikh Abdurrahman bin Sa’di rahimahullah berkata: “Allah-lah yang membentuk manusia: sempurna atau cacat, jelek atau elok rupanya, laki-laki atau perempuan.” (Taisir al-Karimir-Rohman 1/121)

Umumnya anak yang cacat tidak disenangi oleh orang tuanya. Akan tetapi anak yang cacat bisa jadi akan membahagiakan orang tua bila dididik dengan pendidikan Islam dan menjadi anak yang shalih. Allah berfirman:

وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ

Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik daripada orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. (QS. al-Baqarah: 221)

Laki-laki atau perempuan sama saja

Termasuk kebiasaan jelek kaum jahiliyah ialah, bila dikaruniai anak perempuan ia merasa sedih bahkan menguburnya hidup-hidup. Penyakit ini menular juga kepada kaum muslimin awam pada zaman sekarang, apalagi bila mereka hanya punya anak perempuan. Allah mengingatkan kita akan kebiasaan kaum jahiliyah yang keji ini dalam firman-Nya:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ ، يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (QS. an-Nahl: 58-59)

Kebanggaan bukan dinilai dari jenis laki-laki atau perempuan. Akan tetapi, sebagai umat Islam hendaknya kita merasa gembira dan bahagia bila mampu berusaha dan memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang shalih dan shalihah. Belum tentu anak perempuan akan merugikan orang tua, dan belum tentu anak laki-laki akan membahagiakan mereka. Allah berfirman:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. al-Baqarah: 216)

Allah mengingatkan kita bahwa hanya Dia-lah Yang Mahatahu siapakah anak yang bermanfaat bagi dirinya, orang tuanya dan masyarakatnya. Allah berfirman:

آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا

(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. an-Nisa’ [4]: 11)

Fakta membuktikan bahwa tidak semua anak laki-laki bisa membahagiakan orang tuanya, bahkan tidak jarang yang membuat sedih orang tuanya. Misalnya, anak nabi Nuh ‘alaihissalam. Dia tidak taat kepada orang tuanya yang akhirnya ditenggelamkan oleh Alloh. Sedangkan contoh anak perempuan yang bermanfaat ialah sebagaimana firman-Nya:

قَالَ يَا قَوْمِ هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي ۖ أَلَيْسَ مِنكُمْ رَجُلٌ رَّشِيدٌ

Luth berkata: “Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku. Mereka lebih suci bagimu. Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” (QS. Hud: 78)

Contoh lain, Fatimah putri Rosulullah shallallahu alaihi wasallam. Alangkah bahagianya beliau mempunyai putri Fatimah, putri yang dijamin masuk surga. Dialah seorang putri yang menolong orang tuanya ketika perang. Dialah yang membersihkan wajah ayahnya ketika berdarah karena terluka melawan orang kafir.

Misal lain, A’isyah radhiyallahu anha putri Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu anhu. Dia telah menjadi istri utusan Allah, Muhammad bin Abdulloh shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia telah menjadi istri yang setia, yang menemani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada masa hidupnya, menimba ilmu dari beliau dan menyebarkan ilmu kepada para sahabat yang mulia. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Para wanita yang paling baik di dunia ini ialah: Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Rasulillah, dan Asiyah istri Firaun.” (HR. Shahih Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Syaikh al-Arna’uth)

Banyak hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang menjelaskan keutamaan orang tua yang bersabar mendidik putrinya. Di antaranya sabda beliau shallallahu alaihi wasallam:

مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang diuji dengan perilaku putrinya, lalu dia mau mendidiknya dengan baik, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari masuk neraka.” (HR. Muslim 8138)

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ

“Barangsiapa mendidik dua putrinya sampai baligh, maka besok pada hari kiamat dia akan datang bersamaku (beliau menggabungkan dua jarinya).” (HR. Muslim 8/38)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Sungguh Allah telah menjelaskan hak wanita, di dalam firman-Nya:

فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Alloh menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. an-Nisa’ [4]: 19)

Demikian juga anak wanita, bisa jadi ia akan membahagiakan kaum pria di dunia dan di akhiratnya. Cukuplah hal ini menghilangkan kebencian kepada mereka, dan hendaknya kita ridha atas pemberian Allah itu.

Shalih bin Ahmad berkata: “Ayahku bila dikaruniai anak perempuan, beliau berkata, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bapak dari anak-anak putri.’”

Ya’qub bin Bahtan berkata: “Aku punya tujuh anak perempuan. Setiap aku dikaruniai anak putri, aku mendatangi Imam Ahmad bin Hambal, lalu dia berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Yusuf, Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah bapak dari anak-anak putri.’ Nasihat beliau ini menghilangkan kesedihanku.” (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud 1/26)

Akhirnya, kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada-Nya dengan lahirnya seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan. Dan kita juga memohon agar diberi kemudahan dalam mendidik mereka untuk menjadi anak yang shalih dan shalihah, amin.

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Tulis Komentar