Dua Bekal Penting Menyambut Ramadhan – Khutbah Jum’at

KHUTBAH PERTAMA

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ.

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ.

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…..

Hari ini kita berada di penghujung bulan Sya’ban. Tidak lama lagi, Ramadhan akan datang; bulan mulia yang penuh dengan keutamaan. Pahala dilipat gandakan, momentum untuk berlomba-lomba menyiapkan bekal menuju alam akhirat.

Sebagai bentuk mempersiapkan diri menyongsong bulan Ramadhan, ada dua hal yang sangat peting yang perlu kita pahami bersama-sama sebagai nasehat dan saling mengingatkan buat kita semuanya; buat Khatib dan Jama’ah sekalian. Mudah-mudahan menjadi bekal terbaik menuju bulan Ramadhan.

1. Ilmu

Dengan ilmu seseorang bisa mendapatkan keuntungan yang banyak sekaligus terhindar dari kerugian yang parah.

Seperti seorang yang ingin berdagang lalu ia masuk ke pasar jual beli, mulai bertransaksi tanpa ilmu maka akan berakhir dengan kerugian. Demikian pula seorang yang masuk ke bulan Ramadhan tanpa ilmu maka akan berakhir dengan kerugian.

Contoh, ada satu kaidah syar’i yaitu: “Tinggalkan semua larangan, kerjakan semua yang wajib, baru kemudian tambah dengan amalan yang sunnah semampunya.” Banyak dalil yang membangun kaidah ini, diantaranya hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, ia menuturkan:

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ وَصُمْتُ رَمَضَانَ وَأَحْلَلْتُ الْحَلَالَ وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَالَ نَعَمْ

Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ia berkata: “Apa pendapatmu bila aku hanya melaksanakan shalat-shalat wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan sesuatu yang halal, dan mengharamkan sesuatu yang haram, namun aku tidak menambahkan suatu amalan (sunnah) pun atas hal tersebut, apakah aku bisa masuk surga?” Rasulullah menjawab: “Ya.” (HR. Muslim: 15)

Kaidah ini begitu sederhana, akan tetapi banyak diantara kita yang tidak memahaminya. Sehingga kita tidak bisa memperoleh pahala yang banyak, bahkan mungkin saja kita justru mendapatkan kerugian.

Berikut contoh praktek yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin dikarenakan tidak memamahi kaidah ini.

a. Puasa namun tidak Shalat wajib

Betul puasa hukumnya wajib, akan tetapi shalat juga wajib bahkan lebih wajib. Shalat turun syariat wajibnya sebelum Nabi hijrah ke Madinah adapun puasa Ramadhan setelah dua tahun Nabi hijrah. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda:

مَنْ تَرَكَ صَلاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

Barangsiapa yang meninggalkan shalat ashar terhapuslah pahala amal ibadahnya. (HR. Bukhari: 520)

Karenanya sebagian ulama mengatakan bahwa seorang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa ada uzur, ia mengetahui akan wajibnya shalat maka puasanya tidak sah.

b. Shalat Tarawih namun Shalat Wajib Tidak atau bolong

Shalat Tarawih hukumnya sunnah, sementara Shalat lima waktu hukumnya wajib. Bagaimana sesuatu yang sunnah dikerjakan sementara yang wajib ditinggalkan. Sunnah apabila tinggalkan tidak berdosa, namun wajib ditinggalkan berdosa.

c. Puasa namun tidak meninggalkan ucapan dusta, ghibah, dll

Dusta, ghibah, dan sejenisnya adalah perkara yang haram. Diluar bulan Ramadhan saja haram apalagi di bulan Ramadhan. Jika seorang berpuasa namun tidak meninggalkan keharaman ini maka dia akan merugi. Dia hanya akan mendapat letih dan dahaga saja dari puasanya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak ada bagian dari puasanya kecuali hanya lapar semata.” (HR. Ibnu Majah: 1690)

Dalam riwayat lain disebutkan sebabnya, beliau menjelaskan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari: 1903)

Inilah gambaran jika kita memasuki bulan Ramadhan tanpa ilmu. Karena wajib bagi kita semua berbekal dengan ilmu sebelum memasuki bulan Ramadhan agar amalan kita; lapar, dahaga, dibulan itu semuanya bernilai pahala, sehingga kita menjadi pedagang-pedagang akhirat yang mendatangkan keuntungan yang banyak.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…

2. Taubat

Bulan Ramadhan semakin mendekat. Kita memahami bahwa ia adalah kesempatan untuk berlomba-lomba beramal shaleh. Akan tetapi, jiwa dan raga kita sampai saat ini masih begitu-begitu saja, belum ada semangat, belum ada kekuatan, kemauan untuk bersungguh-sungguh beramal di bulan mulia ini. Kita masih saja malas, sampai hari ini. Kenapa?

Mungkin apa yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim bisa menjadi jawaban dari pertanyaan tersebut. Beliau berkata:

Apabila punggung telah berat oleh beban tumpukan dosa, maka hati akan terasa berat melangkah menuju Allah dan anggota badan pun akan terasa berat untuk bangkit melakukan ketaatan. (Badai’u Tafsir: 3/332)

“Karena kita banyak dosa,” inilah penyebabnya.

Salah satu hal yang harus kita periksa adalah makanan dan minuman kita. Apakah dia halal (baik zatnya ataupun cara mendapatkannya) atau tidak. Karena makanan dan minuman yang haram sangat berpengaruh, Allah subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Wahai para rasul, makanlah dari makan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Mu’minun: 51)

Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan agar hanya memakan makanan yang halal, baik halal secara dzatnya maupun cara mendapatkannya, kemudian memerintahkan untuk beramal shalih. Hal itu mengisyaratkan bahwa ada hubungan erat antara mengkonsumsi makanan yang halal dengan amal shalih. Maka jangan diharap jasad kita akan bergairah untuk melakukan amal-amal shalih bila ternyata jasad tersebut tumbuh dari makanan yang haram.

Dan demikian dosa dan maksiat lainnya. Oleh sebab itu, marilah kita segera bertaubat dan meninggalkan semua maksiat agar kita bisa kembali bersemangat melakukan ketaatan kepada Allah.

Mudah-mudahan Allah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, memberikan kesehatan dan kemudahan kepada kita untuk dapat beramal shalih, serta menerima semua amalan kita tersebut, sehingga kita bisa menjadi orang-orang yang selamat hidup di dunia dan akhirat.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

اللهم انصر إخواننا المسلمين المستضعفين في فلسطين وثبت أقدامهم وانصرهم على القوم الكافرين

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

Lihat:

Arsip Khutbah Maribaraja.Com

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke LIPIA Jakarta Jurusan Syariah. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !