Trending

Pelajaran Akidah Dari Syariat Puasa Asyura’ – Khutbah Jum’at

Khutbah kali ini membahas tentang pelajaran akidah dari syariat puasa Asyura’

KHUTBAH PERTAMA

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ  أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله قال الله : ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ.

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah….

Puasa Asyura’ yaitu puasa pada tanggal 10 Muharram merupakan salah satu puasa sunnah yang sangat ditekankan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفَضْلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ

Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu bulan Muharram. (HR. Muslim: 1163)

Hari Asyura’ adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang musyrik Jahiliyah, Yahudi dan Nasrani. Ketika Islam datang, Islam pun mengagungkannya. Hari Asyura’ adalah hari dimana Allah menyelamatkan Nabi Musa beserta Bani Israil dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Pada hari inilah terjadi mukjizat Nabi Musa yang luar biasa itu yaitu membelah lautan sehingga menyelamatkan beliau dan Bani Israil sekaligus menyebabkan Fir’aun dan bala tentaranya binasa ditenggelamkan. Sebagai bentuk syukur, maka Nabi Musa pun bepuasa di setiap hari itu. Disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas ia menuturkan:

دِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ:مَا هَذَا؟ َقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ.هَذَا يَوْمٌ نَجَّي اللهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ:فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ، فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura’. Beliau bertanya: Puasa apa ini? Mereka menjawab: Ini adalah hari yang baik. Pada hari inilah Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, lalu Nabi Musa pun berpuasa karenanya. Rasulullah bersabda: Jika demikian, aku lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian. Maka Rasulullah pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan kaum Muslimin agar berpuasa juga. (HR. Bukhari: 2004, Muslim: 1130)

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberitahu, bahwa hari Asyura’ ini merupakan hari yang sangat diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani bahkan mereka menganggapnya sebagai salah satu hari raya mereka, maka beliau pun berniat menyelisi mereka dengan cara berpuasa sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. Disebutkan dalam hadits dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu, beliau menuturkan:

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ، قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa ‘Asyura dan beliau memerintahkan para sahabat untuk melakukan puasa di hari itu, ada beberapa sahabat yang mengatakan: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tanggal 10 Muharram itu, hari yang diagungkan orang Yahudi dan Nasrani.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika datang tahun depan, in syaa Allah kita akan puasa tanggal 9 nya.” Ibnu Abbas melanjutkan, “Namun belum sampai menjumpai Muharam tahun depan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat.” (HR. Muslim 1916)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah bersabda:

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَخَالَفُوا فِيهِ الْيَهُودَ، وَصُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا

Berpuasalah kalian pada hari Asyura’, namun selisihilah orang-orang Yahudi dalam hal itu. Berpuasalah kalian satu hari sebelumnya atau satu hari setelahnya. (HR. Ahmad: I/241)

Imam Ibnul Qayyim mengatakan: “Semua riwayat-riwayat ini saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Dengan demikian, tingkatan puasa Asyura’ ada tiga yaitu: Pertama yang paling sempurna adalah berpuasa sebelum dan sehari sesudahnya. Setelahnya yang kedua, berpuasa pada tanggal 9 dan 10 dan inilah yang disebutkan dalam banyak hadits. Setelahnya yang ketiga, puasa pada tanggal 10 saja.” (Zad al-Ma’ad: 2/72)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah….

Dari riwayat-riwayat yang telah kita sebutkan tadi, mka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa salah satu pelajaran Akidah dari syariat puasa Asyura’ adalah menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani. Inilah fungsinya puasa sehari sebelumnya pada tanggal 9 Muharram yang dikenal dengan puasa Tasu’ah dan puasa yang dilakukan sehari setelahnya. Agar ibadah yang kita lakukan tidak sama dengan ibadah mereka.

Menyelisi kekufuran, kesyirikan dan pelakunya adalah sebuah pokok utama agama Islam. Jika kita memperhatikan, konsep ini berlaku di banyak syariat. Selain dari hari puasa, syariat juga memerintahkan kita untuk menyelisihi Yahudi dan Nasrani dalam tata cara memulai dan mengakhiri puasa (sahur dan berbuka). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ

Islam akan senantiasa jaya ketika manusia (kaum muslimin) menyegerakan waktu berbuka karena Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya.” (HR. Abu Daud: 2353, Shahih Abi Dawud: 2063)

Konsep menyelisihi Yahudi, Nasrani serta yang lainnya dari pelaku kesyirikan sangat berkaitan erat dengan kemuliaan umat Islam itu sendiri. Ketika mereka memiliki konsep ini maka mereka akan mulia, sebaliknya jika mereka tidak lagi memiliki konsep ini dan malahan mengikuti Yahudi dan Nasrani baik dalam ibadah maupun muamalah maka mereka akan dihinakan. Dalam hadits disebutkan, ketika telah tiba zamannya umat Islam mengikuti Yahudi dan Nasrani maka itulah zamannya umat Islam akan terhina, dipermainkan oleh musuh-musuh mereka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ ، وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Apabila kalian telah berjual beli dengan sistem ‘inah, mengekor hewan ternak kalian, terbuai dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan. Ia tidak akan mencabutnya hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud: 3462)

‘Inah adalah salah satu di antara sistem ribawi sedangkan riba merupakan sistem yang digunakan oleh Yahudi dan Nasrani. Saat kita; umat Islam menggunakan sistem itu sehingga serupa dengan Yahudi dan Nasrani, maka saat itulah Allah akan menimpakan kehinaan kepada kita sebagaimana yang kita rasakan hari ini dan Allah tidak akan mengangkat kehinaan yang kita rasakan ini sampai kita keluar dan meninggalkan hal itu serta kembali ke konsep hidup kita yaitu menyelisihi Yahudi dan Nasrani.

Inilah jawab dari pertanyaan kita selama ini, kenapa hari ini umat Islam seperti lemah sekali, terhina, ditindas dan menjadi bulan-bulanan musuh? Jawabnya adalah karena kita telah meninggalkan konsep agama dan malah mengikuti serta menyerupai musuh-musuh tersebut.

Syariat puasa Asyura’ ini kembali mengingatkam kita akan hal itu. Mari kita miliki kembali konsep berharga ini yaitu menyelisi Yahudi, Nasrani serta pelaku kesyirikan lainnya. Jauhkan diri kita, keluarga dan masyarakat dari menyerupai mereka baik dalam ibadah maupun mu’amalah sehingga kita diridhai oleh Allah dan menjadi umat yang mulia.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلِسْطِينَ وَفِي سُوْرِيَا وَفِي يَمَن وَصِّيْن وَفِي كُلِّ مَكَانٍ

اللَّهُمَّ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

Lihat:

Arsip Khutbah Maribaraja.Com

Selesai disusun di Komplek Pondok Jatimurni Bekasi

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

 

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !