Beranda / Ilmu Syar'i / Hadits / Keluarga Adalah Tanggung Jawab Utama

Keluarga Adalah Tanggung Jawab Utama

Riyadhush Shalihin Bab 35 – Hak Suami Atas Istrinya

3/283 – Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ رَاعٍ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زوجهَا وَوَلَدِهِ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang amir adalah pemimpin, seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keluarga adalah prioritas

Dari Ma’qil bin Yasar al-Muzani radhiyallahu anhu, ia pernah mendengar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa diberi amanah oleh Allah untuk memimpin lalu ia mati (sedangkan pada) hari kematiannya dalam keadaan mengkhianati amanahnya itu, niscaya Allah mengharamkan surga bagiannya.” (HR. Muslim: 4834)

Keluarga, istri dan anak-anak, itu adalah amanah yang ada di pundak kita. Kita diperintahkan untuk menjaga dan menyelamatkan mereka dari api neraka, serta sabar dalam mendidik dan mengarahkan mereka agar menjadi hamba Allah yang sesungguhnya. Allah berfirman:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِیكُمۡ نَارࣰا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya dari manusia dan batu. (QS. at-Tahrim: 6)

Allah juga berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (QS. Thaha: 132)

Mendidik, berdakwah dan memberikan kebaikan kepada orang lain, benar adalah jalan hidup kita. Tetapi orang yang paling berhak untuk kita didik dan dakwahi adalah keluarga kita sendiri. Allah berfirman;

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Dan peringatkanlah keluargamu yang terdekat.(QS. Asy-Syu’araa’: 214)

Inilah yang dicontohkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri ketika diturunkan kepadanya QS. Asy-Syu’araa’: 214). Lalu beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا

‘Wahai sekalian kaum Quraisy (atau ucapan semacamnya), peliharalah diri kalian karena aku tidak dapat membela kalian sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Bani ‘Abdi Manaf, aku tidak dapat membela kalian sedikit pun di hadapan Allah. Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib aku tidak dapat membelamu sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Shofiyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat membelamu sedikitpun di hadapan Allah. Wahai Fathimah putri Muhammad, mintalah kepadaku apa yang kamu mau dari hartaku, sungguh aku tidak dapat membelamu sedikit pun di hadapan Allah.’” (HR. Bukhari: 2753, Muslim: 206)

Oleh sebab itu, jangan sampai kita sibuk mengurusi orang lain, memberikan penilaian kepada keluarga, istri dan anak-anak orang lain, sedangkan keluarga, istri dan anak-anak kita sendiri kita biarkan. Ingat bahwa mereka amanah yang akan kita pertanggung jawaban, yang akan ditanya oleh Allah nanti tentang apa yang telah kita lakukan buat mereka. Maka fokuslah mendidik dan mendakwahkan mereka sebelum kita melangkah untuk mengubah dunia.

Tanggung jawab menjaga jasmani dan rohani

Tanggung jawab seorang ayah atau suami atas keluarganya mencakup dua hal:

1. Kebutuhan jasmani

Karenanya, nafkah adalah kewajiban seorang suami kepada istri dan anak-anaknya, Allah berfirman:

وَعلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. (QS. Al-Baqarah: 233)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya meskipun istrinya tersebut seorang yang kaya, seorang pegawai. Suami tidak punya hak dari pekerjaan serta gaji istrinya sedikitpun. Semua gaji itu adalah milik istrinya dan suami tetap harus memberikan nafkah.” (Syarh Riyadhish Shalihin: 3/127)

Nafkah wajib mencakup; tempat tinggal, makan, minum dan pakaian secara ijma’ ulama, serta pengobatan dan obat-obatan menurut pendapat yang lebih kuat.

2. Kebutuhan rohani

Kebutuhan rohani jauh lebih penting dibandingkan kebutuhan jasmani. Kebutuhan rohani yaitu keimanan kepada Allah. Karena pendidikan agama menduduki tempat yang sangat penting dalam hal ini. Sebab sebagaimana badan butuh siraman maka jiwa pun butuh siramkan, sedang siramannya adalah ilmu agama.

Hati dan jiwa bisa kering dan gersang seperti bumi, bahkan bisa menjadi lebih keras dari batu. Allah berfirman menceritakan keadaan hati bani Israil:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. (QS. Al-Baqarah: 74)

Ketika hati sudah mulai kering dan gersang maka itulah awal mula keburukan yang akan silih berganti menimpanya, persis seperti bumi yang kering di musim kemarau awal mula dari bencana kekeringan, kebakaran hutan, polusi udara, gangguan kesehatan, dst. Maka jika kita khawatir terhadap bahaya dari kemarau panjang dan kekeringan maka seharusnya kita lebih khawatir lagi dengan kekeringan dan kegersangan hati kita.

Ilmu agama ibarat air hujan yang dibutuhkan

Siraman yang dibutuhkan oleh hati yang gersang adalah ilmu agama. Rasullullah shallallahu alaihi wasallam secara jelas mengatakan bahwa ilmu agama persis seperti air hujan. Beliau bersabda:

إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا

Perumpamaan agama yang aku diutus Allah ‘azza wajalla dengannya, yaitu berupa petunjuk dan ilmu ialah bagaikan hujan yang jatuh ke bumi.” (HR. Muslim: 2282)

Ilmu Agama lebih penting dari ilmu dunia

Banyak orang tua hari ini sangat perhatian dengan pendidikan anaknya. Tetapi, sangat disayangkan hanya bersifat keduniaan saja. Mati-matian memperjuangkan anaknya agar bisa Bahasa Inggris, pintar Komputer, lulus di Universitas ternama, bisa ke Amerika atau Eropa. Namun lupa dengan agamanya.

Maka ingatlah! Anda tidak akan ditanya kenapa anak Anda tidak bisa Bahasa Inggris, akan tetapi Anda akan ditanya kenapa anak Anda tidak bisa shalat?

Anda tidak akan ditanya kenapa anak Anda tidak lulus S1, namun Anda akan ditanya kenapa dia tidak menutup aurat?

Setinggi apapun Anda mampu menyekolahkan mereka, sampai S3 atau dapat meraih titel Prof sekali pun, jika mereka tidak bisa menutup auratnya maka Anda telah gagal dalam mendidik mereka, dan kemudian Anda akan mempertanggung jawabkan itu semua. Ingat, tanggung jawab pendidikan agama anak ada pada tangan Anda.

Mendidik itu tugas utama orang tua bukan guru atau sekolah

Sebagian orang tua hari ini ada yang salah kaprah. Menganggap bahwa tanggung jawab pendidikan anak-anak mereka itu mutlak pada guru-guru mereka di sekolah. Sehingga tidak heran, ada diantara orang tua yang setelah menyerahkan anaknya masuk pondok pesantren misalnya, tidak pernah lagi turut campur urusan mereka.

Tidak pernah lagi bertanya tentang PR, hafalan sudah berapa, ibadah bagaimana, dst. Lepas tangan. Lalu dikemudian hari anaknya ternyata “tidak baik-baik juga” yang disalahkan gurunya, ustadznya yang tidak bisa mengajar, sekolahnya yang tidak berkualitas, dst.

Padahal tanggung jawab pendidikan anak itu ada pada orang tua, adapun sekolah, guru, itu hanyalah pembantu. Yang bertanggung jawab tetap orang tua. Coba perhatikan firman Allah berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Dari ayat diatas siapa yang diperintahkan untuk menjaga keluarga (anak, istri) Anda dari neraka? Apakah gurunya?!

Nabi shallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari: 1319)

Coba renungkan kalimat “Kedua orang tuanyalah..”, bukankah itu menunjukkan bahwa tanggung jawab pendidikan ada di pundak orang tuanya?!

Ingatlah bahwa tanggung jawab pendidikan anak Anda berada di tangan Anda. Oleh sebab itu, jangan lepas tangan. Meski Anda telah memasukkan mereka ke lembaga pendidikan terbaik sekali pun. Yang tanggung jawab utama tetap berada pada Anda. Bukan pada sekolah, guru atau ustadznya.

Istri bertanggung jawab mengurusi rumah dan anak-anak

Hak suami yang harus ditunaikan oleh seorang istri diantaranya adalah pengurusan rumah dan anak-anak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زوجهَا وَوَلَدِهِ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits ini nampak jelas bahwa hak bagi seorang suami atas istrinya adalah pengurusan rumah dan anak-anak. Oleh sebab itu, jika istri melakukan sesuatu bekerja misalnya lalu melalaikan kewajiban untuk mengurus rumah dan anak-anak maka suami berhak untuk melarangnya dari pekerjaannya tersebut.

Ditulis di rumah mertua tercinta Jatimurni Bekasi, Senin 19 Rabi’ul Akhir 1441H/ 16 Desember 2019M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja untuk dapatkan artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Rindu Pada Ayah

Kita tentu pernah merasa begitu rindu pada ayah. Apalagi jika beliau telah tiada. Ya, itu …

Tulis Komentar

WhatsApp chat