Kematian dan Alam Kubur – Perjalanan Setelah Kematian

 

  1. Kehidupan Dunia Sangat Singkat

Nabi ﷺ bersabda:

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur umatku berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali di antara mereka yang melampaui itu.” (HR. Tirmidzi: 3550, dihasankan oleh Al-Albani Tirmidzi)

Allah berfirman:

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

Pada hari mereka melihat hari kiamat itu, mereka merasa seolah-olah tidak tinggal [di dunia] melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi harinya. (QS. An-Nazi’at: 46)

Ibnu Katsir berkata:

“Maksudnya, apabila mereka bangkit dari kubur mereka menuju padang Mahsyar, mereka merasa masa kehidupan dunia itu sangat singkat, hingga seolah-olah dunia itu bagi mereka hanyalah waktu sore di suatu hari atau waktu pagi di suatu hari.” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim)

Abdullah bin Mas’ud bercerita: “Rasulullah ﷺ tidur di atas tikar, lalu beliau bangun dalam keadaan tikar itu telah membekas pada lambungnya. Kami pun berkata: ‘Wahai Rasulullah, sekiranya kami menyediakan alas tidur yang empuk untukmu?’ Beliau bersabda:

مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

‘Apa urusanku dengan dunia? Tidaklah aku di dunia ini melainkan seperti seorang pengendara (pengembara) yang berteduh di bawah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya.'” (HR. Tirmidzi: 2377, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Tirmidzi)

  1. Semua Kita Akan Mati

Setiap yang berjalan maka akan sampai. Cepat atau lambat kita akan sampai pada ajal. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, maka kamu akan menemui-Nya. [QS. Al-Insyiqaq: 6].

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya:

“Maksudnya, kamu berjalan menuju Tuhanmu dengan sebenar-benarnya jalan dan beramal dengan suatu amalan. ({maka kamu akan menemui-Nya}), kemudian sesungguhnya kamu akan menemui balasan dari apa yang telah kamu amalkan, baik itu berupa kebaikan maupun keburukan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim)

Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa pasti akan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

Allah berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” (QS. Al-A’raf: 34)

  1. Antara Husnul Khatimah Dan Suul Khatimah

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ، ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ.

“Sesungguhnya seseorang benar-benar beramal dalam waktu yang lama dengan amalan penghuni surga, kemudian diakhiri amalnya dengan amalan penghuni neraka. Dan sungguh seseorang benar-benar beramal dalam waktu yang lama dengan amalan penghuni neraka, lalu diakhiri amalnya dengan amalan penghuni surga.” (HR. Muslim: 2651)

Dalam riwayat lain beliau ﷺ bersabda:

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya (akhirnya).” (HR. Bukhari: 6493)

Su’ul Khatimah adalah mati dalam keadaaan bermaksiat atau kondisi tidak Allah ridhai, meskipun secara zhahir terlihat baik atau biasa saja. Semua orang kafir dan munafik matinya suul khatimah. Allah berfirman:

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا الْمَلَائِكَةُ، يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ، وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

““Dan (alangkah ngerinya) jika kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir, mereka memukul wajah dan punggung mereka (seraya berkata): ‘Rasakanlah azab neraka yang membakar!’” (QS. Al-Anfal: 50)

Sebab terbesar Suul Khatimah:

  • Tenggelam dalam cinta buta dunia
  • Terus menerus dalam dosa dan menunda-nunda taubat
  • Teman dan lingkungan pergaulan yang buruk

(Baca artikel lengkap di: https://maribaraja.com/tiga-sebab-terbesar-suul-khatimah/)

  1. Sakratul Maut Mukmin Dan Kafir

Seorang mukmin akan Allah mudahkan sakaratul mautnya. Nabi ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ

Orang mukmin itu mati dengan keringat di dahi. (HR. Tirmidzi: 982, An-Nasa’i: 1829, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)

Nabi ﷺ bersabda tentang orang yang mati syahid:

الشَّهِيدُ لَا يَجِدُ مَسَّ الْقَتْلِ إِلَّا كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمُ الْقَرِصَةَ يُقْرَصُهَا

“Orang yang mati syahid tidak merasakan sakitnya pembunuhan (kematian) melainkan seperti salah seorang di antara kalian merasakan sakitnya cubitan yang ia rasakan.” (HR. Tirmidzi: 1668, An-Nasa’i: 3161, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-jami’: 3746)

Sedangkan orang kafir kematiannya sangat menyakitkan.

Kedua kondisi ini digambarkan dengan sangat jelas dalam hadits. Dari Bara’ bin Azib, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا، وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ، نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ بِيضُ الْوُجُوهِ، كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ، مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ، وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ، حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ، فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ، فَيَأْخُذُهَا، فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ، فَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْخَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ، فَيَصْعَدُونَ بِهَا، فَلَا يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلَكٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟ فَيَقُولُونَ: فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا، حَتَّى يَنْتَهُوا بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ فَيُفْتَحُ لَهُ، فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي تَلِيهَا، حَتَّى يُنْتَهَى إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِي فِي عِلِّيِّينَ، وَأَعِيدُوا عَبْدِي إِلَى الْأَرْضِ، فَإِنِّي مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ، وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ، وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى.

“Sesungguhnya seorang hamba mukmin, apabila hendak terputus dari dunia dan menuju akhirat, turunlah kepadanya para malaikat dari langit yang wajahnya putih, seolah-olah wajah mereka adalah matahari. Mereka membawa kain kafan dari surga dan minyak wangi dari surga, hingga mereka duduk di sekelilingnya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah Malaikat Maut hingga duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan ridha-Nya.’

Maka keluarlah ruhnya dengan mengalir sebagaimana tetesan air mengalir dari mulut wadah air, lalu Malaikat Maut mengambilnya. Setelah ruh itu diambil, para malaikat (yang lain) tidak membiarkannya di tangan Malaikat Maut walau sekejap mata pun, hingga mereka mengambilnya lalu meletakkannya di kain kafan dan minyak wangi tersebut. Dari ruh itu tercium bau harum seperti bau minyak misk paling wangi yang pernah ada di muka bumi.

Mereka pun membawa ruh itu naik ke langit. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan para malaikat itu bertanya: ‘Ruh siapakah yang baik ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah Fulan bin Fulan,’ dengan menyebutkan nama-nama terbaiknya yang biasa dipanggilkan kepadanya di dunia. Hingga ketika mereka sampai di langit dunia, mereka meminta izin agar pintu langit dibuka, maka dibukakanlah untuknya. Di setiap langit, ruh itu diantar oleh para malaikat penghuninya yang dekat dengan Allah menuju langit berikutnya, hingga sampai di langit ketujuh.

Lalu Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Tulislah catatan amal hamba-Ku ini di Illiyyin, dan kembalikanlah hamba-Ku ke bumi, karena sesungguhnya Aku menciptakan mereka dari tanah, ke dalam tanah Aku mengembalikan mereka, dan dari tanah pula Aku mengeluarkan mereka pada kali yang lain (hari kebangkitan).'”

Adapun orang kafir Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا، وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ، نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ، مَعَهُمُ الْمُسُوحُ، فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ، اخْرُجِي إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَغَضَبٍ، فَتَفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ، فَيَأْخُذَهَا، فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِي تِلْكَ الْمُسُوحِ، يَخْرُجُ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ، فَيَصْعَدُونَ بِهَا، فَلَا يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلَكٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟ فَيَقُولُونَ: فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانَ يُسَمَّى بِهَا فِي الدُّنْيَا، حَتَّى يُنْتَهَى بِهَا إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، فَيُسْتَفْتَحُ لَهُ، فَلَا يُفْتَحُ لَهُ، ثُمَّ قَرَأَ: {لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ}، قَالَ: فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَهُ فِي سِجِّينٍ فِي الْأَرْضِ السُّفْلَى، قَالَ: فَتُطْرَحُ رُوحُهُ طَرْحًا.

“Dan sesungguhnya hamba yang kafir, apabila hendak terputus dari dunia dan menuju akhirat, maka turunlah kepadanya para malaikat dari langit yang wajahnya hitam dengan membawa al-musuh (kain kasar dari api neraka). Mereka duduk di sekelilingnya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah Malaikat Maut hingga duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: ‘Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya.’

Maka nyawanya berpencar ke seluruh tubuhnya, lalu malaikat mencabutnya (dengan paksa) sebagaimana alat pemanggang besi dicabut dari bulu domba yang basah. Setelah ruh itu diambil, para malaikat (yang lain) tidak membiarkannya di tangan Malaikat Maut walau sekejap mata pun hingga mereka meletakkannya di kain kasar tersebut. Dari ruh itu tercium bau yang sangat busuk seperti bau bangkai paling busuk yang pernah ada di muka bumi.

Mereka pun membawa ruh itu naik. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan para malaikat itu bertanya: ‘Ruh siapakah yang buruk ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah Fulan bin Fulan,’ dengan menyebutkan nama-nama paling buruk yang biasa dipanggilkan kepadanya di dunia. Hingga ketika sampai di langit dunia, mereka meminta izin agar pintu langit dibuka, namun tidak dibukakan untuknya. Kemudian Nabi membaca ayat: (Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit).

Lalu Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Tulislah catatan amalnya di Sijjin, di bumi yang paling bawah.’ Beliau bersabda: ‘Maka ruhnya dilemparkan begitu saja dengan kasar.'” (HR. Ahmad: 18534, Ibnu Abi Syaibah: 12185, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-jami’: 1676)

  1. Himpitan Kubur

Nabi bersabda:

إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً، وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِيًا مِنْهَا؛ نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ.

“Sesungguhnya kubur itu memiliki himpitan. Sekiranya ada seseorang yang bisa selamat darinya, niscaya Sa’ad bin Mu’adz lah yang akan selamat.” (HR. Ahmad: 6/55, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah: 1695)

Abu Al-Qasim As-Sa’di berkata: ‘Tidak ada yang selamat dari himpitan kubur, baik orang saleh maupun orang jahat. Hanya saja, perbedaan antara orang muslim dan orang kafir dalam hal ini adalah: bagi orang kafir himpitan tersebut terjadi terus-menerus, sedangkan bagi orang mukmin keadaan ini hanya terjadi di awal saat ia turun ke kuburnya, kemudian (kubur tersebut) kembali menjadi lapang baginya.’ (dinukil dari artikel islamqa dengan judul Hal Yanju Ahad min Dhammah Al-Qabr)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Sesungguhnya himpitan bumi bagi orang mukmin adalah himpitan kasih sayang dan kelembutan, seperti seorang ibu yang mendekap anaknya ke dadanya. Adapun himpitannya bagi orang kafir, maka itu adalah himpitan azab, kita berlindung kepada Allah dari hal itu.'” (Liqaat Al-Bab Al-Maftuh: 161/17)

  1. Fitnah (Ujian) Alam Kubur

Fitnah kubur maknanya adalah pertanyaan malaikat kepada mayit tentang siapa tuhannya, siapa nabinya dan apa agamanya. Imam Abu Hanifah mengatakan:

سُؤَالُ مُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ حَقٌّ؛ لِوُرُودِ الْأَحَادِيثِ.

“Pertanyaan (malaikat) Munkar dan Nakir adalah benar adanya (haq), karena berdasarkan adanya hadis-hadis (yang menyebutkannya).” (Syarh Washiyah Al-Imam Abi Hanifah oleh Al-Babarti: 120)

Sebab bisa lulus ujian adalah dengan belajar ilmu agama, beriman, beramal shalih dan istiqamah diatasnya.

  1. Nikmat Dan Azab Kubur

Bagi mereka yang lulus dari ujian kuburan maka ia akan mendapatkan nikmat kubur sedang yang tidak lulus akan mendapat azab kubur. Karena itulah Rasulullah mengajarkan umatnya agar meminta perlindungan dari azab kubur, do’a yang hendaknya dibaca oleh setiap mukmin dan mukminah dalam setiap shalatnya, ketika tasyahud akhir sebelum salam. Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian tasyahud, hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara dan berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam dan siksa kubur, dan fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Masihid Dajjal. (HR. Muslim: 588)

Alam kubur adalah pos persinggahan pertama dan sangat menentukan dari perjalanan akhirat yang panjang bagi setiap anak manusia. Utsman bin Affan menangis bila berdiri di sisi kuburan hingga jenggotnya basah. Dikatakan padanya: Ketika disebutkan surga dan neraka kau tidak menangis sementara kau menangis karena ini. ‘Utsman berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

“Sesungguhnya kuburan adalah awal perjalanan akhirat. Barang siapa yang berhasil di alam kubur maka yang setelahnya akan lebih mudah dan barangsiapa yang tidak berhasil maka yang setelahnya lebih berat.” (HR. Tirmidzi: 2308, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Terkait dengan kondisi alam kubur pada mukmin dan kafir diebutkan dalam banyak hadits. Diantaranya hadits berikut.Dari Bara’ bin Azib ia berkata:

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ وَلَمَّا يُلْحَدْ، فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ كَأَنَّمَا عَلَى رُؤُوسِنَا الطَّيْرُ، وَفِي يَدِهِ عُودٌ يَنْكُتُ بِهِ فِي الْأَرْضِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ، فَقَالَ: «اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ» مَرَّتَيْنِ، أَوْ ثَلَاثًا. زَادَ فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ هَاهُنَا وَقَالَ: «وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ حِينَ يُقَالُ لَهُ: يَا هَذَا، مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ ؟

قَالَ هَنَّادٌ: قَالَ: وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ، فَيَقُولَانِ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ قَالَ: فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَقُولَانِ: وَمَا يُدْرِيكَ ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ. زَادَ فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ: فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا}.

فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ. قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا. قَالَ: وَيُفْتَحُ لَهُ فِيهَا مَدَّ بَصَرِهِ.

قَالَ: وَإِنَّ الْكَافِرَ -فَذَكَرَ مَوْتَهُ- قَالَ: وَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ، وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ: مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي.

فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ كَذَبَ، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ النَّارِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ. قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا. قَالَ: وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ. زَادَ فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ قَالَ: ثُمَّ يُقَيَّضُ لَهُ أَعْمَى أَبْكَمُ مَعَهُ مِرْزَبَةٌ مِنْ حَدِيدٍ لَوْ ضُرِبَ بِهَا جَبَلٌ لَصَارَ تُرَابًا. قَالَ: فَيَضْرِبُهُ بِهَا ضَرْبَةً يَسْمَعُهَا مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ فَيَصِيرُ تُرَابًا. قَالَ: ثُمَّ تُعَادُ فِيهِ الرُّوحُ.

“Kami keluar bersama Rasulullah mengantarkan jenazah seorang laki-laki dari kaum Anshar. Kami sampai di kuburan sementara lubang lahatnya belum selesai digali. Rasulullah pun duduk dan kami duduk di sekeliling beliau dengan tenang (seolah-olah ada burung di atas kepala kami). Di tangan beliau ada sebuah dahan kayu yang beliau gunakan untuk menggaruk-garuk tanah. Beliau kemudian mengangkat kepalanya dan bersabda: ‘Berlindunglah kalian kepada Allah dari azab kubur,’ beliau mengucapkannya dua atau tiga kali.

Dalam hadis Jarir ditambahkan di sini, beliau bersabda: ‘Sesungguhnya dia (mayat) benar-benar mendengar suara langkah sandal mereka ketika mereka berpaling pergi meninggalkan kuburnya, yaitu saat ditanyakan kepadanya: Wahai fulan, siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?’

Hannad berkata: Beliau bersabda: ‘Lalu datanglah dua malaikat yang mendudukkannya dan keduanya bertanya: Siapa Tuhanmu? Dia menjawab: Tuhanku adalah Allah. Keduanya bertanya: Apa agamamu? Dia menjawab: Agamaku adalah Islam. Keduanya bertanya: Siapa laki-laki yang diutus di tengah-tengah kalian ini? Dia menjawab: Beliau adalah Rasulullah . Keduanya bertanya: Apa yang membuatmu tahu? Dia menjawab: Aku membaca Kitabullah (Al-Qur’an), aku mengimaninya dan membenarkannya.’ Dalam hadis Jarir ditambahkan: ‘Itulah maksud firman Allah: (Allah meneguhkan iman orang-orang yang beriman).’

Maka terdengarlah suara berseru dari langit: ‘Hamba-Ku benar, maka hamparkanlah baginya hamparan dari surga, bukakanlah baginya pintu menuju surga, dan berikanlah ia pakaian dari surga.’ Beliau bersabda: ‘Maka datanglah kepadanya kesejukan dan keharuman surga, dan dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang.’

Beliau bersabda: ‘Adapun orang kafir -lalu beliau menyebutkan tentang kematiannya- rohnya dikembalikan ke jasadnya. Datanglah dua malaikat mendudukkannya dan bertanya: Siapa Tuhanmu? Dia menjawab: Hah, hah, hah, aku tidak tahu. Keduanya bertanya: Apa agamamu? Dia menjawab: Hah, hah, aku tidak tahu. Keduanya bertanya: Siapa laki-laki yang diutus di tengah-tengah kalian ini? Dia menjawab: Hah, hah, aku tidak tahu.’

Maka suara berseru dari langit: ‘Dia berdusta! Maka hamparkanlah baginya hamparan dari neraka, berikanlah ia pakaian dari neraka, dan bukakanlah baginya pintu menuju neraka.’ Beliau bersabda: ‘Maka datanglah kepadanya hawa panas dan racunnya, lalu kuburnya disempitkan hingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan.’ Dalam hadis Jarir ditambahkan: ‘Kemudian dikirimkan kepadanya (malaikat) yang buta lagi bisu dengan membawa palu besar dari besi yang jika dipukulkan ke gunung niscaya gunung itu akan menjadi debu. Beliau bersabda: Maka ia memukulnya dengan satu kali pukulan yang suaranya didengar oleh seluruh makhluk antara timur dan barat kecuali jin dan manusia, hingga ia menjadi debu. Beliau bersabda: Kemudian rohnya dikembalikan lagi.'” (HR. Abu Dawud: 4753, AN-Nasa’i: 2001, Ibnu Majah: 1549, Ahmad: 18557, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud: 4753)

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah, Rasulullah حbersabda:

إن الْمَيِّتَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ إِنَّهُ يَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ حِينَ يُوَلُّونَ عَنْهُ، فَإِنْ كَانَ مُؤْمِنًا؛ كَانَتِ الصَّلَاةُ عِنْدَ رَأْسِهِ, وَكَانَ الصِّيَامُ عَنْ يَمِينِهِ, وَكَانَتِ الزَّكَاةُ عَنْ شِمَالِهِ, وَكَانَ فعل الخيرات ـ من الصدقة, والصلة, والمعروف, والإحسان إِلَى النَّاسِ ـ عِنْدَ رِجْلَيْهِ, فَيُؤْتَى مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ فَتَقُولُ الصَّلَاةُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ, ثُمَّ يُؤْتَى عَنْ يَمِينِهِ فَيَقُولُ الصِّيَامُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ, ثُمَّ يُؤْتَى عَنْ يَسَارِهِ فَتَقُولُ الزَّكَاةُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ, ثُمَّ يُؤْتَى مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ فَتَقُولُ فَعَلُ الْخَيْرَاتِ ـ مِنَ الصَّدَقَةِ, وَالصِّلَةِ, وَالْمَعْرُوفِ, وَالْإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ ـ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ, فَيُقَالُ لَهُ: اجْلِسْ. فَيَجْلِسُ, وَقَدْ مُثِّلَتْ لَهُ الشَّمْسُ, وَقَدْ أُدْنِيَتْ لِلْغُرُوبِ, فَيُقَالُ لَهُ: أَرَأَيْتَكَ هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي كَانَ فِيكُمْ مَا تَقُولُ فِيهِ, وَمَاذَا تَشَهَّدُ بِهِ عَلَيْهِ؟ فَيَقُولُ: دَعُونِي حَتَّى أُصَلِّيَ. فَيَقُولُونَ: إِنَّكَ سَتَفْعَلُ أَخْبرنا عَمَّا نَسْأَلُكُ عَنْهُ، أَرَأَيْتَكَ هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي كَانَ فِيكُمْ مَا تَقُولُ فِيهِ, وَمَاذَا تَشَهَّدُ عَلَيْهِ؟ قَالَ: فَيَقُولُ: مُحَمَّدٌ أَشْهَدُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ, وَأَنَّهُ جَاءَ بِالْحَقِّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ. فَيُقَالُ لَهُ: عَلَى ذَلِكَ حَيِيتَ, وَعَلَى ذَلِكَ مُتَّ, وَعَلَى ذَلِكَ تُبْعَثُ ـ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ـ, ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ: هَذَا مَقْعَدُكَ مِنْهَا, وَمَا أَعَدَّ اللَّهُ لَكَ فِيهَا, فَيَزْدَادُ غِبْطَةً وَسُرُورًا, ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ النَّارِ فَيُقَالُ لَهُ: هَذَا مَقْعَدُكَ مِنْهَا, وَمَا أَعَدَّ اللَّهُ لَكَ فِيهَا لَوْ عَصَيْتَهُ, فَيَزْدَادُ غِبْطَةً وَسُرُورًا, ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا, وينوَّر لَهُ فِيهِ, وَيُعَادُ الْجَسَدُ لِمَا بَدَأَ مِنْهُ, فَتَجْعَلُ نَسْمَتُهُ فِي النَّسَمِ الطِّيِّبِ, وَهِيَ: طَيْرٌ يَعْلُقُ فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ قَالَ: (فَذَلِكَ قَوْلُهُ ـ تَعَالَى ـ: {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ} إبراهيم: 27

Sesungguhnya mayit ketika diletakkan di kuburnya ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarkannya saat mereka kembali pulang. Apabila ia seorang mukmin maka shalat akan berada disisi kepalanya, puasa disisi kanannya, zakat disisi kirinya dan amalan kebaikan lainnya – seperti sedekah, silaturrahmi, perbuatan ma’ruf dan ihsan kepada orang lain- berada disisi kaki–nya. Lalu ia didatangi dari arah kepalanya maka shalat berkata: “Tidak ada jalan masuk dari arahku.” Kemudian didatangi dari arah kanannya maka puasa berkata: “Tidak ada jalan masuk dari arahku.” Kemudian didatangi dari arah kirinnya maka zakat berkata: “Tidak ada jalan masuk dari arahku.” Kemudian didatangi dari arah kedua kakinya maka amalan kebaikan berkata: “Tidak ada jalan masuk dari arahku.” Akhirnya dikatakan kepadanya: “Duduklah!” Maka ia pun duduk dan dikhayalkan kepadanya matahari yang hampir terbenam. Dikatakan kepadanya: “Tahukah kamu dengan laki-laki ini yang dahulu ada di tengah kalian, apa yang kamu katakan tentangnya dan apa yang kamu persaksikan atasnya?” Maka ia pun berkata: “Tinggal aku sebentar hingga aku melakukan shalat.” Mereka berkata: “Kamu akan melakukannya, kabarkan dulu kepada kami apa pendapatmu tentang laki-laki itu dan apa yang kamu persaksikan atasnya?” Ia pun berkata: “Muhammad, aku bersaksi bahwa ia adalah utusan Allah. Ia datang membawa kebenaran dari sisi Allah.” Maka di katakan kepadanya: “Di atas hal itulah kamu hidup, di atas itulah kamu mati dan di atas itu pulalah kamu akan dibangkitkan in Syaa Allah.” Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu surga dan dikatakan kepadanya: Inilah tempat dudukmu dan apa yang telah diper–siapkan Allah untukmu di dalamnya.” Sehingga bertambah kebahagiaan dan kegembiraannya. Kemudian dibukakan salah satu pintu neraka untuknya dan dikatakan kepadanya: Ini adalah tempat dudukmu dan apa yang telah dipersiapkan Allah untukmu di dalamnya jika kamu memaksiati-Nya.” Sehingga bertambah kebahagiaan dan kegembiraannya. Lalu diluaskan kuburnya 70 hasta, diterangi dan dikembalikan ruhnya ke jasadnya lalu dijadikan ruhnya dalam rupa yang baik yaitu seokor burung yang bertengger di pohon surga. Itulah makna firman-Nya (Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan akhirat) QS. Ibrahim: 27 ( HR. Ibnu Hibban: 3113, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath: 3/105-107, Al-Hakim dalam Al-Muztadrak: 1/379-381, Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib: 3/403, dinukil dari artikel islamqa.info dengan judul: Hadits Anna Ash-Shalah Takunu ‘Inda Ra’si Al-Mu’min fi Qabrihi)

Amal shalih juga akan menjelma menjadi teman yang baik di dalam kubur. Dalam hadits disebutkan, ketika seorang mukmin mampu menjawab pertanyaan kubur maka Allah akan berkata:

فَأفْرِشُوه من الجنةِ ، وألْبِسُوهُ من الجنةِ ، وافْتَحُوا له بابًا إلى الجنةِ ، فيَأتِيهِ من رَوْحِها وطِيبِها ، ويُفسحُ له في قَبرِهِ مَدَّ بَصرِهِ ، ويَأتِيهِ رَجلٌ حَسَنُ الوَجهِ ، حَسنُ الثِّيابِ ، طَيِّبُ الرِّيحِ ، فيَقولُ : أبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ ، هذا يَومُكَ الذي كُنتَ تُوعَدُ ، فيقولُ لهُ : مَن أنتَ ؟ فوجْهُكَ الوَجْهُ يَجِيءُ بِالخيرِ ، فيَقولُ : أنَا عَملُك الصالِحُ ، فيَقولُ : رَبِّ أقِمِ السَّاعَةَ ، رَبِّ أقِمِ الساعَةَ 

“Hamparkanlah untuknya permadani dari surga, berikanlah dia pakaian dari surga, bukakanlah untuk salah satu pintu surga.” Rasulullah bersabda: Maka masuklah ke kuburnya angin sejuk nan wangi dari surga. Kemudian kuburannya dilapangkan sejauh mata memandang. Lalu datanglah kepadanya seorang dengan wajah yang tampan, baju yang bagus dan aroma yang wangi, kemudian berkata: “Berbahagialah kamu dengan sesuatu yang membuat kamu senang, ini adalah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.” Si mukmin berkata: “Siapakah kamu? Wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan.” Dia berkata: Aku adalah amalan shalihmu. Si mukmin berkata: “Ya Rabbi, segeralah hari kiamat, Ya Rabbi, segeralah hari kiamat.” (Shahih Al-Jami Al-Albani : 1676)

Semoga Allah menjadikan kita Husnul Khatimah. Amin

***

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud Arab Saudi cabang Asia Tenggara (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Mengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !