Sebab Taubatnya Fudhail bin Iyadh

Imam Fudhail bin Iyadh adalah seorang ulama besar Ahlussunnah Wal Jama’ah dari generasi Tabiut Tabi’in yang lahir tahun 107 H dan meninggal tahun 187 H. Berikut adalah kisah taubat dan hijrahnya beliau rahimahullah

Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’ menyebutkan:

قال أبو عمار الحسين بن حُريث ، عن الفضل بن موسى قال : كان الفضيل بن عياض شاطرا يقطع الطريق بين أبِيوَرْد وسَرخس ، وكان سبب توبته أنه عشق جارية ، فبينما هو يرتقي الجدران إليها ، إذ سمع تاليا يتلو ” أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ …” [ الحديد : 16] فلما سمعها ، قال : بلى يارب ، قد آن ، فرجع ، فآواه الليل إلى خَرِبة ، فإذا فيها سابلة ، فقال بعضهم : نرحل ، وقال بعضهم : حتى نصبح فإن فضيلا على الطريق يقطع علينا .

قال ففكرت ، وقلت : أنا أسعى بالليل في المعاصي ، وقوم من المسلمين هاهنا ، يخافوني ، وما أرى الله ساقني إليهم إلا لأرتدع ، اللهم إني قد تبت إليك ، وجعلت توبتي مُجاورة البيت الحرام .

Abu Ammar Al-Husain bin Huraits berkata dari Al-Fadhl bin Musa, ia menuturkan:

Dahulu Fudhail bin Iyadh adalah seorang penjahat ulung, seorang penyamun (begal) di daerah antara Abiward dan Sarakhs¹. Sebab taubatnya adalah suatu ketika ia tergila-gila dengan seorang gadis. Pada saat ia sedang menaiki tembok untuk menemui gadis itu, tiba-tiba ia mendengar seorang membaca firman Allah:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Hadid: 16)

Ketika ia mendengarnya, ia pun berkata: “Benar wahai Rabb, telah datang waktunya.”

Lalu ia pun pulang dan bermalam di sebuah tempat bekas reruntuhan bagunan. Ternyata disana ada para pelintas (musafir) yang sedang singgah. Sebagian mereka berkata: “Ayo kita berangkat!” Namun sebagian yang lain berkata: “Jangan, kita tunggu dulu hingga pagi menjelang. Karena Fudhail berada pada jalan ini, khawatir nanti dia akan membegal kita.”

Fudhail berkata: Aku pun berpikir dan berkata pada diriku; “Aku hidup malam ini dalam kemaksiatan. Beberapa orang muslim disini takut terhadap diriku. Aku yakin tidaklah Allah membawaku ke tempat mereka ini melainkan agar aku berhenti dari perbuatanku. Ya Allah sungguh aku bertaubat kepada-Mu. Dan aku menjadikan taubatku dengan tinggal di dekat Masjidil Haram.” (Siyar A’lam An-Nubala’: 8/423 Cet. Muassasah Ar-Risalah, Cetakan Kedelapan, Tahun 1402H/1982M)


¹ Sekarang bagian wilayah Iran dekat perbatasan dengan Turkmenistan. Abiward telah berganti nama menjadi Daregaz

Lihat:

Arsip Rekaman Kajian Zoom Maribaraja

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !