Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / KITABUT TAUHID BAB 59 – Larangan Berprasangka Buruk Terhadap Allah

KITABUT TAUHID BAB 59 – Larangan Berprasangka Buruk Terhadap Allah


Firman Allah :

يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۖ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الْأَمْرِ مِن شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ

“Mereka berprasangka yang tidak benar terhadap Allah, seperti sangkaan jahiliyah, mereka berkata: “Apakah ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, katakanlah: “Sungguh urusan itu seluruhnya di Tangan Allah.” (QS. Ali Imran: 154)

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan supaya dia mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan orang-orang munafik perempuan, dan orang-orang Musyrik laki laki dan orang-orang musyrik perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah, mereka akan mendapat giliran (keburukan) yang amat buruk, dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al Fath: 6)

Ibnu Qayyim dalam menafsirkan ayat yang pertama mengatakan: “Prasangka di sini maksudnya adalah bahwa Allah tidak akan memberikan pertolongan-Nya (kemenangan) kepada Rasul-Nya, dan bahwa agama yang beliau bawa akan lenyap.”

Dan ditafsirkan pula: “Bahwa apa yang menimpa beliau bukanlah dengan takdir (ketentuan) dan hikmah (kebijaksanaan) Allah.”

Jadi prasangka di sini ditafsirkan dengan tiga penafsiran:

Pertama : mengingkari adanya hikmah Allah.

Kedua : mengingkari takdir-Nya.

Ketiga : mengingkari bahwa agama yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan disempurnakan dan dimenangkan Allah atas semua agama.
Inilah berprasangka buruk yang dilakukan oleh orang-orang munafik dan orang-orang musyrik yang terdapat dalam surat Al Fath.

Perbuatan ini disebut dengan prasangka buruk, karena prasangka yang demikian tidak layak untuk Allah, tidak patut terhadap  keagungan dan kebesaran Allah, tidak sesuai dengan kebijaksanaan-Nya, Puji-Nya, dan janji-Nya yang pasti benar.

Oleh karena itu, barangsiapa yang berprasangka bahwa Allah akan memenangkan kebatilan atas kebenaran, disertai dengan lenyapnya kebenaran; atau berprasangka bahwa apa yang terjadi ini bukan karena Qadha dan takdir Allah; atau mengingkari adanya suatu hikmah yang besar sekali dalam takdir-Nya, yang dengan hikmah-Nya Allah berhak untuk dipuji; bahkan mengira bahwa yang terjadi hanya sekedar kehendak-Nya saja tanpa ada hikmah-Nya, maka inilah prasangka orang orang kafir, yang mana bagi mereka inilah Neraka “Wail”.

Dan kebanyakan manusia berprasangka buruk kepada Allah, baik dalam hal yang berkenaan dengan diri mereka sendiri, ataupun dalam hal yang berkenaan dengan  orang lain, bahkan tidak ada  orang yang selamat dari prasangka buruk ini, kecuali orang yang benar-benar mengenal Allah, Asma dan sifat-Nya, dan mengenal kepastian adanya hikmah dan keharusan adanya puji bagi-Nya sebagai konsekwensinya.

Maka orang yang berakal dan yang cinta kepada dirinya sendiri, hendaklah memperhatikan masalah ini, dan bertaubatlah kepada Allah, serta memohon maghfirah-Nya atas prasangka buruk yang dilakukannya terhadap Allah.

Apabila anda selidiki, siapapun orangnya pasti akan anda dapati pada dirinya sikap menyangkal dan mencemoohkan takdir Allah, dengan mengatakan hal tersebut semestinya begini dan begitu, ada yang sedikit sangkalannya dan ada juga yang banyak. Dan silahkan periksalah diri anda sendiri, apakah anda bebas dari sikap tersebut?

فَإَنْ تَنْجُ مِنْهَا تَنْجُ مِنْ ذِيْ عَظِيْمَةٍ   وَإْلاَّ فَإِنِّيْ لاَ إِخَالَكَ نَاجِيًا

“Jika anda selamat (selamat) dari sikap tersebut, maka anda selamat dari malapetaka yang besar, jika tidak, sungguh aku kira anda tidak akan selamat.”

Kandungan bab ini:

1. Penjelasan tentang ayat dalam surat Ali Imran.
2. Penjelasan tentang ayat dalam surat Al Fath.
3. Disebutkan bahwa prasangka buruk itu banyak sekali macamnya.
4. Penjelasan bahwa tidak ada yang bisa selamat dari prasangka buruk ini kecuali orang yang mengenal Asma’ dan sifat Allah, serta mengenal dirinya sendiri.

__________________________

Munasabah bab dengan Kitabut Tauhid

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: Kesesuaian bab ini dengan kitabut tauhid ialah sebagai peringatan bahwa berbaik sangka terhadap Allah termasuk kewajiban tauhid, sedangkan berburuk sangka menafikan tauhid. (Al-Mulakhkhash fi Syarh Kitabit Tauhid: 384)

Macam-macam prasangka terhadap Allah

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, prasangka terhadap Allah ada dua macam yaitu:

Pertama, berprasangka baik terhadap Allah

1. Berkaitan dengan apa yang diperbuat Allah di alam semesta, maka wajib untuk berbaik sangka kepada Allah. Harus diyakini bahwa apa yang diperbuat Allah karena hikmah yang sangat besar, yang terkadang dapat digapai oleh akal dan terkadang tidak.

2. Berkaitan dengan apa yang diperbuat oleh Allah terhadap diri Anda, maka wajib berprasangka baik kepada-Nya. Akan tetapi dengan syarat Anda mendapati pada diri Anda sesuatu yang mewajibkan berbaik sangka kepada Allah yaitu engkau beribadah kepada Allah sesuai dengan konsekuensi syariatnya dibarengi dengan keikhlasan. Apabila Anda melakukan hal tersebut maka Anda wajib berprasangka bahwa Allah menerima ibadah tersebut dari Anda, tidak boleh berburuk sangka bahwa Allah tidak menerimanya. Demikian pula apabila seorang bertaubat dari sebuah dosa maka ia harus berbaik sangka bahwa Allah menerimanya.

Adapun apabila seorang itu sembrono dalam kewajiban, melakukan keharaman kemudian dia berprasangka baik kepada Allah maka ini adalah prasangka yang menipu dan membinasakan.

Kedua, berprasangka buruk terhadap Allah, seperti prasangka bahwa didalam perbuatan Allah terdapat kebodohan (sia-sia) atau kezaliman, dan sebagainya maka ini adalah sebuah keharaman yang paling besar dan seburuk-buruk dosa, sebagaimana prasangka orang-orang munafik. (Diringkas dari Al-Qaulul Mufid: 2/382-383)

Kiat menghilangkan prasangka buruk terhadap Allah

Setiap manusia sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim tidak terlepas dari berprasangka buruk terhadap Allah, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh-Nya yaitu orang-orang yang mengenal Allah, hikmah perbuatan-Nya, dst. Ada beberapa kiat untuk menghilangkan atau mencegah diri dari berprasangka buruk terhadap Allah, diantaranya yaitu:

1. Menuntut ilmu, pokok semua kebaikan adalah ilmu sebagaimana pokok semua keburukan adalah kebodohan. Orang yang memiliki ilmu, mengenal Allah, sifat-sifat-Nya, dst, pasti akan senantiasa berbaik sangka kepada Allah.

2. Meyakini bahwa Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Allah berfirman:

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Allah berkehendak untuk menzalimi hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran: 108)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan: Karena perintah dan larangan-Nya mengandung hikmah dan rahmah, demikian pula pahala dan hukuman-Nya mengandung hikmah, rahmah, keadilan, tidak ada sedikit pun kezaliman. Oleh sebab itu Allah berfirman:

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Allah berkehendak untuk menzalimi hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran: 108)

Allah menafikan keinginan-Nya untuk menzalimi mereka, terlebih dari berbuat demikian. (Taisir Al-Karimi Ar-Rahman: 126)

Allah telah mengharamkan kezaliman atas dirinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam meriwayatkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

“Hai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zalim dan perbuatan zalim itu pun Aku haramkan diantara kamu. Oleh karena itu, janganlah kamu saling berbuat zalim! (HR. Muslim: 2577)

Oleh sebab itu, camkan bahwa Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Ketika Allah menghukum dan menimpakan azab kepada hamba-Nya, semata-mata karena keadilan bukan kezaliman.

3. Menyakini bahwa Allah lebih sayang pada hamba-Nya daripada ibu pada anaknya

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu meriwayatkan sebuah hadits yang sangat agung yang berkaitan dengan hal ini. Ia menuturkan:

 قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ ,فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ قَدْ تَحَلَّبَ ثَدْيُهَا ، تَسْعَى إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ ، فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا , وَأَرْضَعَتْهُ , فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَتَرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ ” ؟ فَقُلْنَا : لا ، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لا تَطْرَحَهُ . فَقَالَ : اللَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

“Didatangkan para tawanan perang ke hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ternyata di antara tawanan itu terdapat seorang wanita yang siap menyusui berjalan tergesa-gesa, sehingga ia menemukan seorang anak kecil dalam kelompok tawanan itu. Lalu ia pun segera menggendong, menempelkan ke perut kemudian menyusuinya. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada kami: ‘Akankah kalian akan berpikiran ibu ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?’ Kami menjawab: ‘Tidak, ia mampu untuk tidak melemparkannya.’ Lantas beliau shallallahu alaihi wasallam pun bersabda: ‘Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-Nya, melebihi sayangnya ibu ini kepada anaknya.’” (HR. Bukhari: 5999)

Allah lebih tahu mana yang lebih baik untuk diri kita, belum tentu semua yang kita benci itu adalah buruk, bisa jadi sebaliknya. Allah berfirman:

 أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 216)

Karenanya, harus kita pahami bahwa semua syariat yang Allah bebankan pada kita, pada hakikatnya adalah bentuk kasih sayang-Nya. Tidak ada sedikit pun dari perintah-Nya yang akan mencelakakan, menzalimi hamba-Nya.

3. Memahami hikmah dan tujuan musibah

Musibah ada tiga hikmahnya, tergantung dari keadaan orang yang ditimpa musibah tersebut, yaitu:

Pertama, sebagai adzab yaitu bagi orang yang berpaling dari agama Allah. Allah berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 124)

Allah berfirman:

 فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang Telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang Telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

Kedua, sebagai peringatan dari Allah agar kita jadi lebih baik.

Allah berfirman:

 وَأَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan kami timpakan kepada mereka adzab supaya mereka kembali.” (QS. az-Zukhruf: 48)

Ketiga, tanda kebaikan dan kecintaan Allah kepada seorang hamba.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi baik maka Allah timpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari: 5645)

Dalam hadits yang lain:

إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ

“Sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka.” (HR. Ibnu Majah: 4031, Tirmidzi: 2/64, dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Silsilah ash-Shahihah: 1/227)

Oleh sebab itu, ketika musibah menimpa maka tidak boleh berburuk sangka kepada Allah. Sebab jika kita kelompok yang pertama maka itu adalah keadilan Allah. Jika kita kelompok kedua dan ketiga maka itu adalah kasih sayang Allah.

4. Meneladani para nabi dan orang-orang shalih

Belajar kepada orang-orang shalih dalam hal berbaik sangka kepada Allah termasuk kiat untuk membuat diri kita dapat menghilangkan buruk sangka kepada-Nya. Kita dapat belajar dari kisah para Nabi, diantaranya:

Pertama, Nabi Ibrahim

Setidak ada dua peristiwa besar yang dialami Nabi Ibrahim yang menunjukkan bukti berbaik sangkanya beliau kepada Allah, yaitu

Pertama, pada saat diperintahkan untuk meninggalkan isteri dan anaknya yang masih bayi di sebuah lembah yang tak berpenghuni, tidak ada air dan tumbuhan, beliau tunduk dan melaksanakan dengan penuh ketaatan karena beliau yakin Allah tidak akan menyia-nyiakannya, beliau berdoa:

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim: 37)

Kedua, setelah anaknya tersebut tumbuh besar, saat hati Nabi Ibrahim sangat bahagia melihatnya beranjak dewasa. Tapi, Allah dengan hikmah-Nya justru memerintahkan untuk menyembelihnya. Ujian dan perintah yang berat tentunya. Namun sekali lagi, beliau tunduk dan taat, Allah berfirman:

  فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka bagaimana pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; in syaa Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shofat: 102 )

Karena itulah Nabi Ibrahim memperoleh gelar Khalilullah (kekasih Allah), Allah berfirman:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasih-Nya. (QS. An-Nisa’: 125)

Kedua, Nabi Musa

Diantara bukti baik sangkanya beliau terhadap Allah adalah peristiwa ketika beliau dikejar oleh Fir’aun, dihadapan ada laut luas yang membentang sedang di belakang Fir’aun dan bala tentaranya telah terlihat dari kejauhan. Hal ini Allah ceritakan melalui firman-Nya:

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ ، قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ ، فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”.

Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”.

Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS. Asy-Syu’ara’: 61-63)

Ketiga, Nabi Muhammad

Diantara bukti prasangka baik beliau terhadap Allah adalah peristiwa perjanjian Hudaibiyah. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke 6 H, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukan perjanjian dengan Quraisy di Hudaibiyah. Perjanjian ini sepintas merugikan kaum muslimin, diantara pointnya, siapa saja yang mendatangi beliau dari pihak Quraisy tanpa seizin walinya maka harus dikembalikan, akan tetapi jika ada yang mendatangi mereka dari pihak beliau maka tidak dikembalikan lagi kepada beliau shallallahu alaihi wasallam.

Dari Abu Wa`il dia berkata, “Sahal bin Hunaif pernah berdiri ketika terjadi perang Shifin, dia berseru:

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّهِمُوا أَنْفُسَكُمْ لَقَدْ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ وَلَوْ نَرَى قِتَالًا لَقَاتَلْنَا وَذَلِكَ فِي الصُّلْحِ الَّذِي كَانَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ الْمُشْرِكِينَ فَجَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَسْنَا عَلَى حَقٍّ وَهُمْ عَلَى بَاطِلٍ قَالَ بَلَى قَالَ أَلَيْسَ قَتْلَانَا فِي الْجَنَّةِ وَقَتْلَاهُمْ فِي النَّارِ قَالَ بَلَى قَالَ فَفِيمَ نُعْطِي الدَّنِيَّةَ فِي دِينِنَا وَنَرْجِعُ وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِي اللَّهُ أَبَدًا قَالَ فَانْطَلَقَ عُمَرُ فَلَمْ يَصْبِرْ مُتَغَيِّظًا فَأَتَى أَبَا بَكْرٍ فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَسْنَا عَلَى حَقٍّ وَهُمْ عَلَى بَاطِلٍ قَالَ بَلَى قَالَ أَلَيْسَ قَتْلَانَا فِي الْجَنَّةِ وَقَتْلَاهُمْ فِي النَّارِ قَالَ بَلَى قَالَ فَعَلَامَ نُعْطِي الدَّنِيَّةَ فِي دِينِنَا وَنَرْجِعُ وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ وَلَنْ يُضَيِّعَهُ اللَّهُ أَبَدًا قَالَ فَنَزَلَ الْقُرْآنُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْفَتْحِ فَأَرْسَلَ إِلَى عُمَرَ فَأَقْرَأَهُ إِيَّاهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْ فَتْحٌ هُوَ قَالَ نَعَمْ فَطَابَتْ نَفْسُهُ وَرَجَعَ

“Wahai manusia, koreksilah diri kalian masing-masing. Ketika terjadi perjanjian Hudaibiyyah, kami bersama-sama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya waktu itu kami melihat adanya pembunuhan, pasti kami telah berperang. Hal ini terjadi ketika terjadi perjanjian damai antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan orang-orang Musyrik. Maka Umar bin Khatthab datang menghampiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita dalam kebenaran dan mereka dalam kebathilan?” beliau bersabda: “Ya.” Dia berkata, “Bukankah jika kita terbunuh akan masuk surga? sedangkan jika mereka terbunuh, mereka akan masuk neraka?” beliau menjawab: “Ya benar.” Umar bertanya, “Mengapakah kita harus mengalah mengenai agama kita, dan pulang begitu saja? Padahal Allah belum memberikan keputusan apa-apa antara kita dengan mereka?” Beliau menjawab: “Wahai Ibnul Khattab, sesungguhnya aku adalah Rasulullah, dan sekali-kali Allah tidak akan menyia-nyiakan aku selama-lamanya.” Abu Wa’il berkata, “Umar lalu pergi dalam keadaan tidak puas, bahkan terlihat marah. Lalu dia mendatangi Abu Bakar seraya berkata, “Wahai Abu Bakar, bukankah kita di atas yang hak dan mereka dalam kebathilan.” Dia menjawab, “Ya, benar.” Umar bertanya, “Tidakkah jika kita terbunuh, maka kita akan masuk surga, sedangkan jika mereka yang terbunuh, maka mereka akan masuk neraka?” Abu Bakar menjawab, “Ya, benar.” Umar bertanya lagi, “Mengapakah kita harus mengalah mengenai agama kita, dan pulang begitu saja? Padahal Allah belum memberikan keputusan apa-apa antara kita dengan mereka?” Maka Abu Bakar berkata, “Wahai Ibnul Khattab, sesungguhnya beliau adalah Rasulullah, dan sekali-kali Allah tidak akan menyia-nyiakan beliau selama-lamanya.” Suhail berkata, “Maka turunlah ayat Al Qur’an kepada Rasulullah, yaitu surat Al Fath. Maka beliau menyuruh seseorang untuk membacakan kepada Umar, lantas dia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu yang dimaksud dengan kemenangan?” beliau bersabda: “Ya, benar.” Barulah dia bertaubat dan kembali.” (HR. Bukhari: 3182, Muslim: 1785)

Baca juga Artikel:

Kasih Sayang Allah Lebih Besar Daripada Kasih Sayang Ibu Pada Anaknya

IBNU MAS’UD – Berbaik Sangka Pada Allah

Ditulis di Rumah Kontrakan Komplek Pondok Jatimurni Bekasi BB no.3, Jum’at 29 Jumadal Ula 1441H/ 24 Januari 2020M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja untuk dapatkan artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Syarhus Sunnah – Menetapkan Sifat-Nya Tanpa Tamtsil Dan Ta’thil

Pada bagian ini Imam Al-Muzani rahimahullah memaparkan wajibnya kita mengingat Allah, bersyukur, dan menetapkan sifat-Nya …

Tulis Komentar

WhatsApp chat