Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / Al-IHSAN – Tingkatan Tertinggi Agama

Al-IHSAN – Tingkatan Tertinggi Agama

Al-Ihsan adalah lawan dari al-Isa’ah. Al-Ihsan yaitu seorang mencurahkan kebaikan dan menahan diri dari mengganggu dan menyakiti.

Al-Ihsan tebagi menjadi dua; al-ihsan terhadap sesama dan al-ihsan kepada Allah.

1. Al-Ihsan kepada sesama makhluk
Al-Ihsan kepada sesama terbagi menjadi dua:

Pertama, ihsan wajib, yaitu mewujudkan hak-hak mereka yang wajib dalam bentuk yang paling baik dan sempurna, seperti berbakti kepada orang tua, menyambung silaturrahim, adil dan jujur ketika bermu’amalah. Masuk juga dalam bagian yang ini yaitu berbuat baik kepada binatang dan tumbuhan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ. فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku baik atas segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh, hendaklah membunuh dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka hendaklah menyembelih dengan cara yang baik dan hendaklah salah seorang dsri kalian menajamkan pisaunya serta membuat nyaman hewan sembelihannya.” (HR. Muslim: 1955)

Kedua, mustahab yaitu kadar yang lebih dari sekadar kewajiban. Seorang bisa berbuat baik kepada sesama hamba Allah baik dengan harta, kedudukan, ilmu dan tenaganya. Dan yang paling mulia dari jenis ihsan adalah berbuat baik kepada orang yang telah berlaku buruk dan jahat kepada kita. Allah berfirman:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ، وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (QS. Fushshilat: 34-35)

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia menuturkan:

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ قَطُّ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ بِهَا لِلَّهِ

“Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi pilihan di antara dua perkara, kecuali beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya, selama hal itu bukan merupakan dosa. Jika hal itu merupakan dosa, maka beliau adalah manusia yang paling jauh dari dosa. Dan tidaklah beliau membalas dengan hukuman untuk (membela) dirinya di dalam sesuatu sama sekali. Kecuali jika perkara-perkara yang diharamkan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas dengan hukuman terhadap perkara itu karena Allah.” (HR. Bukhari: 6126, Muslim: 2327)

Demikian juga ketika beliau ditolak dan diusir dari Thaif dengan dilempari batu sampai mengalir darah dari tubuhnya yang mulia. Namun beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak tahu.” (baca: HR. Bukhari: 3477, Muslim: 1792)

2. Al-Ihsan kepada Allah. Yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Al-Ihsan itu adalah:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya, apabila engkau tak mampu maka Ia melihatmu.” (HR. Muslim: 8)

Derajat yang pertama dan yang paling tingga yaitu seolah melihat-Nya. Ini adalah ibadah seorang yang rindu dan penuh dengan cinta. Sedangkan derajat di bawahnya yaitu menyadari bahwa Allah Maha Melihat gerak gerik hambanya. Ini adalah ibadah orang yang takut dan lari.

Al-Ihsan adalah tingkatan tertinggi dari tingkatan agama. Karena orang yang berada pada tingkatan ini memang adalah orang-orang yang ikhlash. Para ulama mengatakan:

إِذَا تَحَقَّقَ الإِحْسَانَ تَحَقَّقَ الإِيْمَانُ وَالإِسْلَامُ، كُلُّ مُحْسِنٍ مُؤْمِنٌ مُسْلِمٌ، وَلَيْسَ كُلُّ مُسْلِمٍ مُؤْمِنًا مُحْسِنًا

“Apabila terwujud ihsan maka pasti terwujud iman dan Islam. Setiap muhsin adalah mukmin muslim. Sedangkan tidak setiap muslim itu adalah mukmin dan muhsin.” (Hushulul Ma’mul: 140)

Demikianlah pembahasan singkat tentang ihsan. Semoga dapat memberikan tambahan faidah dan bermanfaat. Wallahul muwaffiq.

Referensi:
1. Syarh Tsalatsatil Ushul, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Dar ats-Tsurayya, KSA
2. Hushulul Ma’mul bi Syarh Tsalatsatil Ushul, Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan, Maktabah Ar-Rusyd, KSA

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Jalan Untuk Mengembalikan Kemuliaan Umat

Siapa diantara kita yang tidak ingin mengembalikan kemuliaan umat. Di tengah zaman yang semakin hari …

Tulis Komentar