Beranda / Artikel Salayok / MAKANAN DAN IBADAH (Art.Salayok36)

MAKANAN DAN IBADAH (Art.Salayok36)

Andaikata kita tak bersemangat lagi dalam beribadah, tidak bergairah, semua terasa hampa dan biasa-biasa saja atau bahkan terasa berat, maka tidak ada salahnya kita melihat dan meninjau kembali makanan kita sehari-hari. Apakah halal atau tidak, sebab Allah subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ


“Wahai para rasul, makanlah dari makan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Mu’minun: 51)

Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan para rasul-Nya dan hal ini tentu berlaku juga untuk kita semua, agar hanya memakan makanan yang halal, baik halal secara dzatnya maupun cara mendapatkannya, kemudian memerintahkan untuk beramal shalih.

Hal itu mengisyaratkan bahwa ada hubungan erat antara mengkonsumsi makanan yang halal dengan amal shalih. Maka jangan diharap jasad kita akan bergairah untuk melakukan amal-amal shalih bila ternyata jasad tersebut tumbuh dari makanan yang haram.

Karenanya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mewanti-wanti umatnya agar tidak makan makanan yang haram. Beliau shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda kepada Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu anhu:

 يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحتٍ إلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَولَى بِهِ

“Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, tidaklah daging manusia tumbuh dari barang yang haram kecuali neraka lebih utama atasnya.” (HR. Tirmidzi: 614)

Ketika tubuh tumbuh dari sesuatu yang buruk ia pun akan sulit untuk beramal shalih sebaliknya ia mudah melakukan keburukan sehingga akhirnya bermuara ke neraka.

Oleh sebab itu, mari memperhatikan makanan yang kita makan. Jangan sampai makanan yang haram atau didapatkan dari pekerjaan yang haram, supaya kita tetap bersemangat dalam beribadah. Diberikan kemudahan untuk selalu istiqamah dalam beramal shalih.

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Siapa Pendidik Pertama Buat Balita?

Anak kecil pada umumnya lebih banyak berdiam di rumah bersama ibu dan keluarga daripada dia …

Tulis Komentar