Musibah Yang Melanda Bukan Gejala Alam Semata – Khutbah Jum’at

Khutbah kali ini membahas konsep seorang mukmin ketika melihat musibah yaitu meyakini bahwa musibah yang melanda bukan gejala alam semata akan tetapi peringatan dari Allah ta’ala.

KHUTBAH PERTAMA

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

 أَيُّها المُسْلِمُونَ ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ الزَّادِ فِي السَّيْرِ إِلَى الله تعَالى ، قال الله ﷻ: وَتَزَوَّدُواْ  فَإِنَّ خَيرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقوَىٰ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلأَلبَٰبِ ، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, beberapa hari belakangan ini, negeri kita tengah dilanda oleh berbagai macam musibah yang silih berganti; Kecelakaan pesawat terbang dan alat transportasi. Banjir yang merendam beberapa daerah mulai dari Jawa, Kalimantan, hingga Papua. Gempa bumi yang melanda Sulawesi. Tanah longsor, letusan gunung merapi, badai dan angin kencang, dan seterusnya. Di tambah lagi semua ini terjadi di saat pandemi Covid-19 yang belum usai.

Sebagai seorang mukmin, kita harus bisa bersikap tepat. Seorang mukmin adalah manusia yang dapat merenungkan semua peristiwa alam dan mengaitkannya dengan akhirat. Sebagaimana fiman Allah ketika menyifati orang-orang yang Ulul Albab (cerdas). Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ، الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang ter-dapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sam-bil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berba-ring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran: 190-191)

Ketika seorang mukmin bicara tentang musibah yang melanda, ia tidak semata-mata mengaitkannya dengan peristiwa alam. Tidak seperti orang-orang kafir yang tidak percaya kepada tuhan, sehingga mereka hanya mengaitkan semua yang terjadi dengan peristiwa alam semata. Mereka berkata: Banjir itu karena curah hujan yang tinggi, tanah longsor karena struktur tanah yang tidak kuat, gempa karena adanya gesekan lempengan ini dengan itu, angin kencang, letusan gunung merapi karena begini dan begitu.

Rasulullah sebagai sosok yang wajib kita teladani. Mari kita lihat bagaimana sikap beliau saat terjadi peristiwa-peristiwa yang hari ini kita sebut sebagai “gejala alam”. Sebuah hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu, ia menuturkan:

خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى زَمَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَامَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ حَتَّى أَتَى الْمَسْجِدَ فَقَامَ يُصَلِّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ مَا رَأَيْتُهُ يَفْعَلُهُ فِى صَلاَةٍ قَطُّ ثُمَّ قَالَ :إِنَّ هَذِهِ الآيَاتِ الَّتِى يُرْسِلُ اللَّهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ »

 “Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau langsung berdiri ketakutan karena khawatir akan terjadi hari kiamat. Hingga beliau pun mendatang masjid kemudian shalat yang lama berdiri, ruku’ dan sujudnya. Aku belum pernah melihat beliau melakukan hal itu dalam shalat apa pun. Kemudian beliau bersabda: ‘Sesungguhnya tanda-tanda ini (gerhana) yang dikirimkan Allah tidaklah terjadi kerena kematian atau kelahiran seseorang. Akan tetapi Allah mengirimkannya untuk menakut-nakuti hamba-Nya. Apabila kalian melihatnya maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan memohon ampunan-Nya.’” (HR. Muslim: 912)

Jika ada diantara kita yang kemuadian mengatakan, “Wajar saja Rasulullah demikian, karena kalau gerhana jarang-jarang terjadi. Sesekali terjadi jelas akan menjadi peristiwa menakutkan.” Baiklah, jika kita baca lagi hadits-hadits yang lain niscaya kita akan mendapati bahwa ternyata bukan pada saat gerhana saja beliau bersikap begitu. Dari ‘Aisyah radhiallahu anha, ia menuturkan:

كَانَ إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ فِي وَجْهِهِ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْغَيْمَ فَرِحُوا رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عُرِفَ فِي وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةُ فَقَالَ : يَا عَائِشَةُ مَا يُؤْمِنِّي (يُؤْمِنُنِي) أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا

Rasulullah apabila melihat mendung atau angin kencang terlihat perubahan di wajahnya. Lalu aku pun bertanya; ‘Wahai Rasulullah, jika orang-orang melihat mendung mereka akan begitu girang karena harapan akan turun hujan. Namun, engkau ketika melihatnya malah terlihat perubahan di wajahmu yang menunjukkan ketidaksukaanmu.’ Maka Rasulullah pun menjawab; ‘Wahai ‘Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman dari kemungkinan bisa jadi itu adalah adzab. Telah diadzab suatu kaum dengan angin kencang dan sungguh suatu kaum telah melihat adzabnya namun meraka justru mengatkan, “Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.”’ (HR. Bukhari: 4551, Muslim: 899)

Inilah sikap Rasulullah yang selayaknya kita tiru. Ketika melihat kejadian-kejadian itu segera kaitkan dengan kekuasaan Allah  dan akhirat. Jangan mengaitkan dengan faktor alam semata. Memang kita tidak juga tidak menampik adanya sebab sebab alam tersebut, akan tetapi kita juga harus bisa melihat sebab yang jauh di belakangnya. Karena sesungguhnya alam ini adalah makhluk yang sangat ta’ta kepada Penciptanya. Mereka tidak akan melakukan apa-apa kecuali karena mereka diperintahkan oleh Tuhan mereka yaitu Allah ta’ala.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…

Sebagai seorang mukmin, tidak pantas bagi kita hanya mengaitkan segala musibah dengan kejadian alam semata. Kita mestinya ingat bahwa segala bentuk kerusakan adalah salah satu bentuk teguran Allah kepada umat manusia, akibat dari ulah tangan mereka sendiri. Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum: 41)

Di masa Umar bin Khaththab pernah terjadi gempa bumi.

وفي رواية لابن أبي الدنيا: “تزلزلت الأرض على عهد عمر فقال: يَا أَيُّهَا النَّاس مَا كَانَتْ هَذِهِ الزِلْزَلَةُ إِلَّا عَنْ شَيْء أَحْدَثْتُمُوهُ، والذي نفسي بيده إن عادت لا أساكنكم فيها أبدًا
رابط الموضوع: https://www.alukah.net/sharia/0/55070/#ixzz6kFRtZzp4

Sebuah hadits yang diucapkan oleh baginda Rasulullah belasan abad silam, layak untuk kita jadikan bahan muhasabah hari ini. Saat kita tengah dilanda berbagai macam musibah. Beliau bersabda:

 فِي هَذِهِ الأُمَّةِ خَسفٌ ومَسخٌ وقَذفٌ، قَالَ رَجُلٌ مِنَ المُسلِمِينَ: يَا رَسُولَ اللّهِ، وَمَتَى ذَلِكَ؟ قَالَ: إِذَا ظَهَرَتِ القَينَاتُ وَالمَعَازِفُ وَشُرِبَتِ الخمرُ

“Pada umat ini akan terjadi tanah longsor, perubahan bentuk, bencana dari langit.” Salah seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kapankah hal itu akan terjadi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Apabila telah (tampak) bermunculan para biduwanita dan alat-alat musik, serta khamr merajalela.” (HR. Tirmidzi: 2212, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 2379)

Sekarang kita tinggal jawab sendiri, bagaimana dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah dalam hadits itu; biduwanita, alat musik, khamar?? Adakah?? Sedikit atau banyakkah di negeri kita?? Oleh sebab itu, jangan salahkan hujan, jangan pojokkan tanah. Jangan kambing hitamkan lempeng bumi, gunung merapi. Mereka tidak bersalah, mereka hanya menuruti perintah. Salahkan saja diri kita, karena dari dosa dan kemaksiatan manusialah itu semua bermula.

Semoga Allah melindungi kita, keluarga dan kaum muslimin semuanya dari musibah-musibah. Semoga Allah memberikan karunianya sehigga kita dapat mengampil pelajaran dari semua musibah yang melanda. Dan semoga Allah menjinakkan hati kita sehingga mau bertaubat dari dosa-dosa yang telah kita perbuat.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنْ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا وَلَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

اللهم احْمِنَا مِنْ هَذَا البَلاَءِ ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا هَذَا الوَبَاءَ

اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، وَالجُنُونِ وَالجُذَامِ، وَسَيْئِ الأَسْقَامِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

Lihat:

Arsip Khutbah Maribaraja.Com

Selesai disusun di Komplek Pondok Jatimurni Bekasi, Jum’at 9 Jumadil Akhir 1442 H/ 22 Januari 2021M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
WhatsApp chat