Beranda / Khutbah Jum'at / Titilah Jalan Mereka – Khutbah Jum’at

Titilah Jalan Mereka – Khutbah Jum’at

KHUTBAH PERTAMA

الحَمْدُ لله يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ وَيَحْكُمُ مَا يُرِيْدُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةَ التَّوْحِيدِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَعَلَى آله وَصَحْبِهِ ، صَلَاةً تَامَّةً بَاقِيَةً إِلَى يَوْمِ المَزِيْدِ

أَيُّهَا المُسْلِمُونَ ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ الزَّادِ فِي السَّيْرِ إِلَى الله تعَالى ، قال الله ﷻ: وَتَزَوَّدُواْ  فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…

Dunia ini adalah negeri ujian. Ayah dan ibu kita; Adam dan Hawa diturunkam kesini sebagai hukuman atas dosa yang mereka perbuat.

Salah satu cara yang harus kita lakukan untuk selamat dari ujian dunia ini adalah mencontoh dan meniti jalan orang-orang yang telah berhasil selamat dari ujian kehidupan ini. Kaki mereka masih menyecah tanah dunia, tetapi nama mereka telah tercatat sebagai penghuni surga. Merekah adalah Nabi dan para sahabat serta orang-orang yang mengikuti langkah mereka, sebagaimana Allah berfirman:

 وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 100)

Di kesempatan yang singkat ini kita akan membaca kembali sepenggal dari kisah kehidupan mereka, mudah-muhan menjadi bahan muhasabah kita semua.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu pernah menuturkan: “Rasulullah shallallahu alahi wasallam tidur di atas tikar kasar yang terbuat dari rajutan daun kurma, kemudian bangun sedangkan tikar itu telah meninggalkan bekas di perut beliau. Lalu kami pun mengatakan: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami membuatkan tikar yang halus untukmu?” Namun, beliau bersabda:

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اِسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Apa peduliku pada dunia, tidaklah aku di dunia ini melainkan seperti seorang pengendara yang bernaung di bawah sebatang pohon kemudian ia akan pergi meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi: 2377, Shahih al Jami’: 5668)

Manakala Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu tiba di Syam untuk menerima penyerahan Baitul Maqdis dari Romawi yang telah takluk, para pembesar; panglima dan komandan pasukan menyambutnya. Umar bertanya kepada mereka, “Mana saudaraku?” Mereka balik bertanya, “Siapa?” Umar menjawab, “Abu Ubaidah.” Mereka berkata, “Dia akan datang sesaat lagi.”

Abu Ubaidah datang dengan unta yang bertali kekang, dia mengucapkan salam, lalu Umar berkata kepada orang-orang, “Biarkan kami berdua.” Umar berjalan bersama Abu Ubaidah ke rumahnya, Umar masuk dan tidak melihat apa pun di rumahnya selain pedang dan tamengnya. Umar berkata, “Mengapa engkau tidak memiliki perabotan?” Maka Abu Ubaidah menjawab:

يَا أَمِيْرَ المُؤْمِنِيْنَ، هَذَا يُبَلِّغُنِي المَقِيْلَ

Wahai Amirul Mukminin, ini sudah cukup untuk mengantarku ke tempat peristirahatan (akhirat).” (Hilyatul Auliya’: 1/101-102)

Umar sendiri pun juga demikian, banyak hal yang ia lakukan salah satunya apa yang disebutkan oleh Muhammad bin Al-Mutawakkil rahimahullah, bahwa Umar bin Khaththab memiliki cincin yang bertuliskan:

كَفَى بِالمَوْتِ وَاعِظًا يَا عُمَرُ

Cukuplah kematian sebagai penasehat (mengingat) wahai Umar! (Tarikh Madinah Dimasyq: 44/260)

Sama halnya dengan Abu Ubaidah, Abu Dzar Al-Ghifari juga sengaja tidak memiliki perabotan rumah, untuk membuat diri mereka merasa tidak nyaman hidup di dunia sehinga mereka selalu ingat bahwa mereka hidup di dunia. Bahkan ketika Abu Dzar ditanya: “Mana perabotanmu?!” Ia menjawab:

لَنَا بَيْتٌ هُنَاك (يعني الآخرة) نُرْسِل إلَيْه صَالِحَ مَتَاعِنَا

Kami memiliki rumah di sana (maksudnya akhirat). Kami mengirimkan perabotan kami yang baik ke sana.

Sosok yang kita cintai, Imam Asy-Syafi’i, diantara kisah hidup beliau adalah apa yang disebutkan oleh Imam Muhammad bin Umar as Safiri (wafat:956H) dalam Al-Majalisu Al-Wa’zhiyah (2/332) bahwa:

قِيْلَ لِلْإِمَامِ الشَّافِعِي: مَا لَكَ تُدْمِنُ إِمْسَاكَ العَصَا؟؟  قَالَ: حَتَّى أَتَذَكَّرَ أَنِّي مُسَافِرٌ

Pernah ditanyakan kepada Imam Syafi’i: “Mengapa engkau selalu memakai tongkat (padahal engkau tidak lemah)??” Maka Imam Syafi’i menjawab: “Agar aku ingat bahwa aku hanyalah seorang musafir.”

Inilah diantara potret orang-orang shalih dalam menjalani kehidupan dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur diatas tikar yang kasar, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abu Dzar Al-Ghifari, sengaja tidak memiliki perabotan rumah. Umar bin Khaththab memakai cincin bertulisan pengingat kematian, Imam Syafi’i memakai tongkat, semua ini adalah untuk mengingatkan diri bahwa mereka sedang hidup di dunia.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…

Dunia ini menggoda, menipu banyak manusia dengan kesenangan yang sementara, sedangkan diri kita sendiri mudah lupa.  Allah berfirman mensifati dunia:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al Hadid: 20)

Ditambah lagi sifat dasar kita manusia ini adalah tamak, Allah berfirman:

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (QS. Al-Fajr: 20)

Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menggambarkan betapa tamaknya manusia jika mata hatinya telah tertutup dari melihat akhirat, sehingga ambisinya hanya dunia, dunia, ingin hidup selamanya. Beliau bersabda:

لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ وَادِيَانِ وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوْبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Seandainya seorang anak Adam memiliki selembah emas, niscaya ia akan menginginkan lembah kedua. Tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah dan Allah menerima taubat orang yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari: 6436, Muslim: 1034)

Maka dari sini, mengingatkan diri bahwa kita sedang berada di dunia, tengah menjalani ujian adalah hal yang sangat penting dan harus kita lakukan.

Lihatlah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saja tidur di tikar yang kasar, bukan karena tidak punya harta untuk mendapatkan tikar yang halus. Akan tetapi untuk mengingatkan diri. Lihatlah Abu Ubaidah bin Jarrah, Umar bin Khaththab, Abu Dzar Al-Ghifari, semua itu mereka lakukan untuk mengingatkan diri. Lihat Imam Syafi’i membawa tongkat kemana-mana, bukan karena lemah atau sakit. Akan tetapi, juga untuk mengingatkan diri.

Oleh sebab itu, marilah kita belajar dari orang-orang yang telah berhasil mengarungi kehidupan dunia itu. Sekarang coba kita renungkan, apa yang telah kita lakukan, amalan khusus apa yang kita miliki, untuk mengingatkan diri dari kehidupan dunia ini? Maka itulah tugas sekarang adalah mencari dan melakukan sesuatu untuk mengingatkan diri tentang hakikat dunia ini.

Seringlah membaca Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, istiqamahlah menghadiri majelis ilmu syar’i, teruslah berteman dengan orang-orang shalih atau orang-orang yang berusaha untuk shalih, agar kita tidak lupa bahwa kita hidup di dunia negeri ujian, agar kita tidak lupa dengan hakikat dan tujuan kita yang sesungguhnya yaitu surga.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

اللهم احْمِنَا مِنْ هَذَا البَلاَءِ ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا هَذَا الوَبَاءَ

اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، وَالجُنُونِ وَالجُذَامِ، وَسَيْئِ الأَسْقَامِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين  وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

Selesai disusun di Komplek Pondok Jatimurni Bekasi, Jum’at 13 Rabiul Awal 1442 H/ 30 Oktober 2020M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Khabbab bin Al Aratt – Sirah Sahabat

“Semoga Allah Merahmati Khabbab. Ia Telah Masuk Islam Karena Keinginannya, Berhijrah Karena Taat dan Hidup …

Tulis Komentar

WhatsApp chat