Beranda / Ilmu Syar'i / Fikih / Shalat Menghadap Sutrah

Shalat Menghadap Sutrah


Shalat menghadap sutrah adalah ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tapi sayangnya hal ini sekarang telah banyak dilupakan. Banyak orang yang tidak tahu bahkan merasa aneh melihat orang shalat menggunakan sutrah ini. Dalam sebuah hadits beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لاَ تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ ، فَإِنْ أَبَى قَلْتُقَاتِلْه ، فَإِنَّ مَعَهُ القَرِينَ

“Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sutrah, dan jaganlah membiarkan seseorang melintas di hadapanmu; jika ia menolak, maka hendaklah engkau mendorongnya dengan kuat sebab ia sedang bersama qarin (setan).” (HR. Ibnu Khuzaimah 1/93/1)

Dalam riwayat yang lain, dari Abu Sa’id al-khudri bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لَا يَقْطَعْ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلَاتَهُ

“Jika salah seorang di antara kamu shalat menghadap sutrah maka mendekatlah kepadanya sehingga setan tidak dapat memutus shalatnya.” (HR. Abu Dawud: 596)

Shalat menghadap sutrah diamalkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau tidak pernah membiarkan sesuatu melewati antara diri beliau dengan sutrah. “Pernah saat shalat, tiba-tiba ada seekor kambing berjalan di hadapan beliau , maka heliau mendahuluinya dan (berdiri ) menempelkan perut beliau ke dinding. [Lalu kambing itu lewat dari arah belakang beliau].” (HR. Thabrani, 3/140/3)

Sutrah adalah apa yang ada di depan orang yang shalat sebagai pembatas agar orang tidak lewat di depannya. Jarak sutrah dengan tempat berdiri yaitu tiga hasta, sebagaimana disebutkan dalam riwayat sifat shalat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. (Lihat Shifat Shalat Nabi Syaikh Al-Albani)

Oleh sebab itu, pelajarilah tuntutan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ini, kemudian amalkan dalam setiap kali shalat. Karena kita tahu bahwa shalat yang semakin dekat dengan tuntunan Rasulullah lebih besar pahalanya dan lebih mendatangkan kekhusyu’an.

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Orang Mati Bunuh Diri Dishalatkan Ataukah Tidak?

Bunuh diri adalah hal yang sangat diharamkan dalam syari’at Islam, bahkan termasuk dosa besar. Allah …

Tulis Komentar

WhatsApp chat