Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / Syarhus Sunnah – Makna Judul dan Sebab Penulisan Kitab Syarhus Sunnah Al-Muzani

Syarhus Sunnah – Makna Judul dan Sebab Penulisan Kitab Syarhus Sunnah Al-Muzani

Makna Judul Kitab; Syarhus Sunnah

Sebelum kita masuk ke makna dari judul kitab, baiknya kita memahami makna As-Sunnah terlebih dahulu. Sebab kata ini memiliki beberapa makna dalam istilah para ulama. Sehingga dengan memahaminya kita bisa memahami makna As-Sunnah dalam judul kitab Imam Al-Muzani ini.

Syaikh Dr. Ibrahim bin Muhammad Al Buraikan menjelaskan:

As-Sunnah secara bahasa bermakna ath-Thariq yaitu jalan dan as-Sirah yaitu perilaku.

Diantara dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian... ”

Sunnah disini bermakna: thariqatuhu fi ad din; jalannya dalam beragama.

Demikian pula dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً

Barang siapa yang mensunnahkan sebuah sunnah yang baik…”

Sunnah disini bermakna : sirah yaitu berprilaku

Adapun As-Sunnah secara syari’at memiliki banyak makna, tergantung dengan istilah-istilah yang ada. Masing-masing ulama di setiap disiplin ilmu islam telah memberikan istilah yang sesuai dengan pengertian dan latar dari masing-masing ilmu.

  1. Para ulama hadits mendefinisikan As-Sunnah dengan:

مَا أُضِيْفَ إِلَى النَّبِي مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ أَوْ صِفَةٍ

Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan atau pun sifat.”

  1. Para ulama Ushul Fikih mendefinisikan:

مَا أَمَرَ بِهِ الشَّارِعُ لَا عَلَى سَبِيْلِ الإِلْزَامِ

“Apa yang diperintahkan oleh syari’ (pembuat syari’at) namun tidak secara ilzam (memaksa).”

Yang dimaksud dengan syari‘ adalah yang memiliki hak untuk mensyari’atkan dan ia adalah Allah secara ashalah (asal) dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara tab’an (mengikuti), karena beliau tidak berbicara dari hawa nafsu.

  1. Para ulama Fikih mendefinisikan:

مَا يُثَابُ فَاعِلُهُ وَلَا يُعَاقَبُ تَارِكُهُ

“Apa-apa yang pelakunya akan diberi pahala dan yang meninggalkan tidak dihukum (berdosa).”

  1. Para ulama Aqidah mendefinisikan dengan: al Aqidah ash Shahihah yaitu akidah yang benar. Seraya memberikan catatan bahwa As-Sunnah termasuk di antara Mashdar At Talaqqi (sumber pengambilan) untuk akidah yang benar serta salah satu jalan dalam penetapannya.

Oleh sebab itu, sebagian salaf mengatakan bahwa As-Sunnah adalah Ittiba‘ dan sebagian lain mengatakan Islam.

Dua pendapat ini tidaklah saling bertentangan karena Islam adalah ungkapkan untuk menunjukkan akidah yang benar, sedangkan Ittiba’ adalah ungkapan untuk menunjukkan jalan serta metode pengambilannya.

Sehingga makna As-Sunnah (menurut ulama akidah) menjadi:

اِتِّبَاعُ العَقِيْدَةِ الصَّحِيْحَةِ الثَّابِتَةِ بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

Mengikuti akidah shahih (benar) yang ditetapkan berdasarkan al-Qur’an dan sunnah nabi.”

Diantara ulama yang menggunakan kata As Sunnah dalam makna ini adalah Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab beliau As-Sunnah, dimana kitab ini mengandung akidah shahih yang ditetapkan berdasarkan penukilan para rawi yang adil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Demikian pula yang dilakukan oleh Abdullah bin Imam Ahmad dalam kitabnya As-Sunnah.

Diantaranya juga yaitu kitab As-Sunnah oleh Ibn Abi Ashim. (al Madkhal Li Dirasati Al Aqidah Al Islamiyah Ala Madzhab Ahli As Sunnah wal Jama’ah: 17-18)

As-Sunnah yang dimaksud oleh Imam Al-Muzani dalam kitab ini adalah As-Sunnah dari pengertian ulama akidah yang bermakna akidah shahihah. Sedangkan Syarh artinya penjelasan. Maka makna dari Syarhus Sunnah adalah “Penjelasan Akidah Shahihah.”

Sebab Penulisan Kitab Syarhus Sunnah Imam Al-Muzani 

Kitab Syarhus Sunnah ditulis oleh Imam Al-Muzani sebagai jawaban dari permintaan beberapa sahabat beliau berkaitan dengan kejelasan akidah beliau dalam masalah takdir, irja’, al-Qur’an, hari berbangkit, dll. Hal ini disebutkan oleh sahabat beliau sendiri ketika meriwayatkan kitab ini.

Riwayat Pertama

Dari Ali bin Abdillah Al-Halwany rahimahullah, ia berkata:

كنت بطرابلس المغرب ، فذكرت أنا وأصحاب لنا السنة ، إلى أن ذكرنا المزني ، فقال بعض أصحابنا : بلغني أنه يتكلم في القرآن ويقف عنده ، وذكر آخر أنه يقوله ، إلى أن اجتمع معنا قوم أخر ، فغم الناس غما شديدا ، فكتبنا إليه كتابا نريد أن نستعلم منه ، فكتب إلينا ((شرح السنة)) في القدر والإرجاء والقرآن والبعث والنشور والموازين وفي النظر ، فكتب الرسالة

Aku pernah berada di Tharabulsi (Tripoli) daerah Maghrib, laku aku dan beberapa sahabat kami membicarakan mengenai As-Sunnah. Hingga sampailah pembicaraan kami kepada Al-Muzani rahimahullah. Beberapa sabahat kami pun berkata: “Telah sampai kepadaku sebuah kabar bahwa Al-Muzani berbicara dalam masalah Al-Quran dan ia bersikap tawaqquf.” Seorang yang lain berkata: “Al-Muzani telah mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.” Hingga beberapa orang yang lain turut bergabung bersama kami. Orang-orang pun menjadi sangat gundah, maka kami pun menulis sebuah surat kepadanya untuk menanyakan perihal itu (klarifikasi).  Akhirnya, beliau menuliskan Syarhus Sunnah kepada kami yang menjelaskan masalah takdir, irja’, al-Qur’an, ba’ts, nusyur, mizan dan nazhar. (Syarhus Sunnah tahqiq Dr. Jamal ‘Azzun: 79)

Riwayat Kedua

Dari Abdul Karim bin Abdurrahman bin Mu’adz bin Katsir rahimahullah, ia berkata:

جالست علي بن عبد الله الحلواني بأطرابلس المغرب في مجلس مذاكرة ، وكنا جماعة من أهل العلم بمذذهب السنة ، فجرى ذكر علماء بذلك مثل مالك والشافعي وأبي حنيفة وسفيان الثوري وداود الأصفهاني وإسحاق بن رحويه وأحمد بن حنبل والمزني ، فعارض معارض في المزني رحمة الله عليه وقال : ليس من جملة العلماء . قلنا : فلم ذلك؟ قال : لأني سمعته يتكلم في القدر  ، ويجادل بالقياس والنظر ، فغمنا ذلك أن نسمعه عنه ، وأحببناأن نعلم حقيقة ذلك ، فكتبنا إليه كتابا نسأله أن يشرح لنا حقيقة اعتقاده في القدر والإرجاء والسنة والبعث والنشور والموازين والصراط ونظر الناس إلى وجه الرب تعالى في يوم القيامة ، وسألناه الجمع والاختصار في الجواب ، فلما أن وصل إليه الكتاب رد إلينا جوابه …. فذكر الرسالة

Aku bermajelis kepada Ali bin Abdillah Al-Halwany di Tharabulsi (Tripoli) daerah Maghrib dalam sebuah mejelis mudzakarah. Kami saat itu adalah jama’ah (beberapa orang) dari ahli ilmu yang bermadzhab sunnah.

Terjadilah pembicaran mengenai para ulama (ahlus sunnah) seperti Malik, Asy-Syafi’i, Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, Dawud Al-Ashfahani, Ishaq bin Rahawaih, Ahmad bin Hanbal dan Al-Muzani.

Tiba-tiba ada seorang yang menetang, tidak setuju berkaitan dengan Al-Muzani rahimahullah seraya berkata: “Ia tidak termasuk ulama.” Kami pun bertanya: “Kenapa demikian?” Ia menjawab: “Karena aku mendengar bahwa ia berbicara (menyimpang) dalam masalah takdir dan ia berjidal (debat) menggunakan qiyas dan nazhar (akal).”

Hal itu membuat kami merasa gundah dan kami pun ingin mengetahui hakikat yang sebenarnya. Lalu kami menulis sebuah surat kepadanya untuk meminta agar ia memberikan Syarh (penjelasan) kepada kami perihal hakikat keyakinannya dalam masalah takdir, irja’, sunnah, ba’ts, nusyur, mizan, shirath, dan melihatnya manusia kepada wajah Rabb di hari kiamat. Kami pun memintanya untuk menggabung serta meringkas jawabannya. Ketika surat tersebut telah sampai kepadanya, ia pun memberikan jawabannya kepada kami… Lalu ia pun menyebutkan risalah (Syarhus Sunnah). (Catatan kaki Syarhus Sunnah, oleh Dr. Jamal ‘Azzun: 79)

Pelajaran Berharga Dari Kisah

Dari kisah tentang sebab penulisan kitab Syarhus Sunnah diatas, ada beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik, yaitu:

  1. Tuduhan dusta terhadap para ulama dan pembawa sunnah

Salah satu senjata yang digunakan oleh para musuh Islam terutama kaum munafik yaitu menyebarkan tuduhan-tuduhan dusta yang berkaitan dengan para ulama dan orang-orang yang membawa panji sunnah. Hal ini sudah sangat lumrah, karena memang sudah menjadi sunnatullah.

Jangankan Imam Al-Muzani, Rasulullah ﷺ saja tidak lepas dari hal ini. Dapat kita temukan dalam sirah Nabawi, diantaranya tentang kisah masuk Islamnya Thufail bin Amr.

Thufail bercerita bahwa ketika ia datang ke Mekah sementara Rasulullah ﷺ tengah berada di kota itu. Datanglah beberapa orang Quraisy kepadanya seraya mengatakan:

يا طُفيل، إنَّك قدمت بلادنا، وهذا الرجل الذي بين أظهرنا قد أعضل بنا، فرّق جماعتنا، وإنّما قوله كالسحر، يفرِّق بين المرء وبين أبيه، وبين الرجل وبين أخيه، وبين الرجل وبين زوجته، وإنما نخشى عليك وعلى قومك ما قد دخل علينا، فلا تكلِّمْه ولا تسمع منه

“Wahai Thufail, engkau datang ke negeri kami sedangkan laki-laki ini (Nabi Muhammad ﷺ ) yang ada di tengah-tengah kami benar-benar telah membuat runyam urusan kami. Dia telah memecah belah persatuan kami. Ucapannya seperti sihir. Memisahkan antara seorang anak dengan ayahnya, antara saudara dengan saudaranya, dan antara suami dengan istrinya. Kami sangat mengakhawatirkanmu dan kaummu nanti terjadi juga seperti yang kami alami. Karena itu, jangan berbicara dengannya dan jangan dengarkan ucapannya.”

Thufail bercerita: Demi Allah, mereka selalu menyertaiku sampai aku sepakat untuk tidak mendengarkan sesuatu apapun darinya dan tidak akan berbicara dengannya. Sampai-sampai aku sumpal kedua telingaku dengan kapas ketika melewati masjid agar aku tidak mendengar ucapannya. (Hayatu ash-Shahabah 1/215-216)

Tujuan dari makar ini adalah untuk menjauhkan umat dari ilmu. Memisahkan mereka dari para ulama. Sehingga jika umat ini sudah jauh dari ilmu dan sumber ilmu maka akan sangat mudah untuk menyesatkan mereka. Sebab ilmu adalah cahaya, jika cahaya itu padam maka mereka akan sangat mudah digelincirkan. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan:

‏اِعْلَمْ أَنَّ أَوَّلَ تَلْبِيْسِ إِبْلِيْسَ عَلَى النَّاسِ صَدُّهُمْ عَنِ العِلْمِ ، لِأَنَّ العِلْمَ نُوْرٌ ؛ فَإِذَا أَطْفَأَ مَصَابِيْحَهُمْ خَبَطَهُمْ فِي الظَلَامِ كَيْفَ شَاءَ

“Ketahuilah, bahwa talbis Iblis yang pertama kepada umat manusia adalah menghalangi mereka dari ilmu agama. Karena ilmu itu adalah cahaya. Sehingga apabila ia telah dapat memadamkan lampu-lampu mereka maka ia akan dengan mudah membanting mereka ke dalam kegelapan sekehendaknya.” (Talbisu Iblis: 309, Cet. Darul Kutub Ilmiah, Beirut)

Hal ini masih terjadi hingga sekarang. Oleh karena itu Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah mengingatkan:

في هذا الوقت كثر القيل والقال والوقيعة بين أهل العلم وبين طلبة العلم . وصاروا يتكلمون في العلماء ويتهمونهم بالتهامات ، ويروجون عليهم الأكاذب . من أجل أن يفصلوا بين الأمة وعلمائها ، حتى يسهل لهم الدخول بشبهاتهم وضلالتهم فلنكن منهم على حذر

“Di zaman ini, banyak terjadi desas desus dan celaan kepada ahli ilmu dan penuntut ilmu. Orang-orang itu menjelek-jelekkan para ulama, menuduh mereka dengan banyak tuduhan, serta menyebarkan berbagai kedustaan atas mereka, dengan tujuan untuk memisahkan umat dari ulama. Sehingga mereka mudah memasukkan syubhat dan kesesatan. Maka hendaknya kita senantiasa berhati-hati.” (Muhadharah Syaikh Shalih Al-Fauzan dengan judul Qawa’id fi At-Taammul ma’a Al-Ulama’)

  1. Berprasangka baik kepada ulama dan orang shalih dan wajib Tabayyun

Berprasangka baik kepada sesama muslim apalagi kepada para ulama dan orang-orang shalih adalah hal yang sangat ditekankan. Sebab, setan itu lihai. Ia akan berusaha keras untuk menanamkan kebencian dan permusuhan di dalam hati orang-orang yang beriman. Satu jalannya, melalui prasangka buruk. Makanya Allah memperingatkan melalui firman-Nya:

‏‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan beburuk sangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. (QS. Al-Hujurat: 12)

Demikian juga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau dalam banyak haditsnya mewanti-wanti, di antaranya beliau bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Hati-hatilah kalian terhadap prasangka karena sesungguhnya prasangka buruk itu adalah sedusta-dustanya ucapan.” (HR. Bukhari: 6064)

Jika seandainya kita melihat atau mendengar sesuatu dari saudara sesama muslim yang masih mengandung banyak kemungkinan maka bawalah hal itu pada prasangka baik. Untuk menutup pintu masuknya setan. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah berpesan pada anaknya:

يَا بُنَيَّ، إِذَا سَمِعْتَ كَلِمَةً مِنَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ فَلَا تَحْمِلْهَا عَلَى شَيْءٍ مِنَ الشَّرِّ، مَا وَجَدْتَ لَهَا مُحْمَلًا مِنَ الخَيْرِ

“Wahai anakku sayang, jika engkau mendengar satu kata dari seorang muslim maka janganlah engkau bawa pada sesuatu yang buruk selama engkau masih mendapati kemungkinan dari kebaikan.” (Hilyatul Auliya’: 5/277-278)

Oleh sebab itu, wasiat inilah yang harus dipatrikan di dalam hati. Berprasangka baik, jangan biarkan setan menanamkan benih kebencian kepada para ulama dan orang-orang shalih serta kaum muslimin secara umum. Sebab itu awal dari permusuhan dan perpecahan.

Mendahulukan prasangka baik kemudian harus diikuti dengan Tabayyun atau Tatsabbut yaitu mencari kejelasan dan mengklarifikasi adalah konsep hidup seorang muslim. Oleh karena itu, ayat yang memerintahkan untuk tabayyun dan ayat wajibnya menjauhi prasangka buruk disebutkan dalam surat yang sama dan dalam satu pembahasan. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat: 6)

Dari kisah diatas, dapat kita lihat praktek nyata dari salafus shalih dalam menerapkan hal ini. Bagaimana sahabat-sahabat Imam Al-Muzani tidak langsung menelan mentah-mentah berita yang mereka dengar, namun mereka justru mengirimkan surat kepada Imam Al-Muzani untuk meminta kejelasan, sehingga memberikan kebaikan bagi mereka semua.

Bahkan, kita pun mendapatkan bagian dari kebaikan itu, sehingga hari ini kita bisa mempelajari akidah yang shahih dengan bantuan kitab Syarhus Sunnah yang pada dasarnya merupakan jawaban Imam Al-Muzani untuk menjawab tabayyun para sahabat beliau.

  1. Wajib mengenal ulama sunnah dan selektif dalam berguru

Dari kisah diatas, dapat kita lihat praktek nyata dari salafus shalih dalam menerapkan hal ini. Meraka menyebutkan ulama-ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti Imam Malik, Asy-Syafi’i, Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, Dawud Al-Ashfahani, Ishaq bin Rahawaih, Ahmad bin Hanbal dan Al-Muzani.

Hal ini menunjukkan kepada kita wajibnya kita mengenal para ulama. Sebab, tidak semua orang yang “diulamakan” oleh orang-orang awam adalah ulama yang sebenarnya. Sedangkan kita harus selektif dalam mengambil ilmu agama sebagaimana wasiat Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah, beliau pernah mengatakan:

  إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Sunan ad-Darimi: 438 Darul Mughni)

Oleh sebab itu, setiap muslim wajib mengenal para ulama Ahlussunnah sehingga ia dapat mengambil ilmu yang merupakan agama dari orang yang benar.

Faidah: Di antara buku biografi yang bagus untuk mengenal ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah buku dengan judul Min A’lam As-Salaf karya Syaikh Dr. Ahmad Farid dan Alhamdulillah sudah diterjemahkan dengan judul Biografi 60 Ulama Ahlussunnah Cetakan Darul Haq.

Baca juga Artikel:

Biografi Imam Al-Muzani

Ditulis di: Pondok Jatimurni BB 3 Bekasi, Kamis, 5 Syawwal 1441H/ 28 Mei 2020 M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

 

 

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Ushul Tsalatsah – Perintah Dan Larangan Terbesar Allah

Pada bagian ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan tentang perintah dan larangan terbesar …

Tulis Komentar

WhatsApp chat