Dimana Ketundukan dan Penghinaan Diri Kita Kepada Allah?! – Khutbah Jumat

إِنَّ الْـحَمْدَ الِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاٱللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ ٱاللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱاللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا ٱالَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ اٱلـحَدِيثِ كِتَابُ ٱللَّهِ، وَخَيْرَ ٱالهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي ٱالنَّارِ

Jamaah yang dirahmati Allah

Untuk apa kita hidup di dunia ini? Untuk beribadah kepada Allah, menjadi budak-Nya. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kapadaku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Kita wajib memurnikan peribadatan hanya kepada Allah. Menjadikan semua hidup dan mati hanya untuk-Nya. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. al-An’am: 162)

Ibadah secara bahasa bermakna tunduk (al-khudhu’) dan menghinakan diri (at-tadzallul). Dua ruh inilah yang wajib ada dalam setiap ibadah yang kita persembahkan kepada Allah.

Hakikatnya, kita ini hanyalah hamba—seorang budak yang hina, miskin, dan lemah—yang bergantung penuh pada pertolongan Allah dalam setiap helaan napas dan detik kehidupan kita.

Namun ironisnya, hari ini begitu banyak di antara kita yang kehilangan makna ketundukan dan penghinaan diri tersebut saat beribadah. Terjadilah kontradiksi yang luar biasa dalam diri kita.

Jamaah yang dirahmati Allah

Bayangkan, seorang -anggap namanya si-fulan- mencari pekerjaan. Kenapa? Karena butuh untuk hidup. Ketika dia diterima di sebuah pekerjaan ternyata ia bekerja dengan bermalas-malasan, sering bolos dan terlambat masuk kerja. Ketika pemberi pekerjaan (Bos) nya memanggilnya untuk rapat, si-fulan tidak mau datang. Atau di kesempatan lain si-fulan datang, akan tetapi dalam rapat dia tidak mau memperhatikan, tidak mengikuti dengan baik, dia sibuk dengan handphone -membalas chat group alumni, menonton konten IG, Facebook atau Tiktok lalu mengomentarinya, dll-.

Bagaimana pendapat Anda, jika bos si-fulan marah kepadanya? Apakah kita akan mengatakan bosnya jahat?! Pasti tidak, kita akan mengatakan wajar bosnya marah.

Bagaimana pendapat Anda, jika bosnya memecatnya? Apakah kita akan mengatakan bosnya zalim?! Pasti tidak, kita akan mengatakan itu adalah hak bosnya dan balasan setimpal untuk sikap buruk si-fulan. Dan pantas. Kita semua akan sepakat dengan hal ini. Bahkan kita mungkin akan mencela habis-habisan si-fulan dengan mengatakan; kurang ajar, tidak tahu terima kasih, wajar kamu dipecat, dst.

Jamaah yang dirahmati Allah

Sekarang mari lihatlah hubungan kita dengan Allah. Bukankah kita adalah budaknya Allah?! Bukankah kita membutuhkan Allah?! Kita ingin diberi kesehatan, kelapangan rezeki, kebahagiaan, diselamatkan dari neraka, dst. Tapi kita tidak mau tunduk dan menghinakan diri kepada-Nya.

Bukankah Allah telah mewajibkan shalat 5 waktu kepada kita?! Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)

Bahkan termasuk dari rukun Islam yang lima. Akan tetapi, kenyataannya masih banyak diantara kita yang tidak shalat. Berdasarkan survei Indonesia Moslem Report yang diterbitkan oleh Avara Research pada tahun 2019, ditemukan bahwa hanya 38,9% umat Muslim di Indonesia yang selalu menunaikan salat lima waktu. Bayangkan, dari 10 orang, hanya 4 yang mengerjakan shalat. Padahal Allah telah memanggil kita dengan undangan resmi untuk hal itu. Melalui azan Allah memanggil: Hayya ‘alas-shalaah… Hayya ‘alal-falaah… “Mari menunaikan salat, mari meraih kemenangan…”

Bukan Allah telah mewajibkan kaum laki-laki untuk shalat Jum’at?! Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)

Dan memerintahkan kita mendengarkan khutbah dengan baik, tidak boleh bermain-main. Nabi ﷺ  bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

“Barangsiapa berwudhu lalu memperbagus wudhu-nya, kemudian ia mendatangi shalat Jumat, mendengarkan khutbah dan diam, niscaya diampuni dosa-dosanya antara Jumat itu dengan Jumat berikutnya ditambah tiga hari. Dan barangsiapa yang memegang/memainkan batu kerikil, maka sungguh ia telah berbuat sia-sia (lagha).” (HR. Muslim no. 857, Abu Dawud no. 1050, At-Tirmidzi no. 498)

Tetapi kenyataannya sekarang, banyak diantara kita -kaum muslimin ini- yang tidak shalat Jum’at. Yang hadir shalat jumat pun, banyak yang terlambat, tidak mendengar khutbah dengan baik, sibuk dengan urusan dunia, sibuk dengan handphonenya; membalas chat WA, menonton konten IG, Facebook atau Tiktok, dst.

Dimana ketundukkan dan penghinaan diri kita kepada Allah?!

Lihatlah betapa kontradiktifnya diri kita ini. Satu sisi kita ingin Allah menyayangi kita, memberi kesehatan, melapangkan rezeki, mengabulkan setiap keinginan kita, memberikan kebahagiaan, menyelamatkan kita dari neraka, dst. Akan tetapi di sisi lain, tidak tidak mau mengerjakan perintah Allah atau mengerjakan namun dengan kemalasan dan main-main.

Beginilah kondisi kita. Jika seandainya Allah marah; memberi kita hukuman, kesempitan hidup, musibah, rezeki kita tidak dilapangkan, doa kita tidak dikabulkan, dst. Apakah kita akan mengatakan Allah jahat atau zalim?!

Beginilah kenyataannya, kita ingin selalu didahulukan. Kita ingin semua doa kebaikan yang kita panjatkan sesegera mungkin dikabulkan. Saat sempit kita ingin segera dilapangkan. Saat sulit kita ingin segera mendapatkan jalan keluar. Sedangkan pada saat yang sama kita lalai dan terlambat dari kewajiban sebagai seorang hamba dalam ibadah kepada-Nya. Demikianlah muamalah kita dengan Allah. Sering kali kita hanya terpaku melihat balasan Allah buat kita, tetapi lalai melihat apa yang telah kita perbuat untuk-Nya.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Sesungguhnya balasan itu sesuai dengan apa yang kita lakukan. Allah berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. (QS. Al-Baqarah: 152)

Nabi ﷺ  bersabda:

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.” (HR. At-Tirmidzi no. 2516, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)

Jika kita tidak shalat atau suka mengakhirkan shalat, beribadah tanpa menghadirkan ketundukkan dan penghinaan diri kepada Allah, berarti kita harus siap untuk diakhirkan pula dalam kebaikan yang banyak. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan:

‏يُخْشَى ﻋَﻠَﻰ اﻹِﻧْﺴَﺎﻥِ ﺇِﺫَا ﻋَﻮَّﺩَ ﻧَﻔْﺴَﻪ اﻟﺘَﺄَﺧُّﺮَ ﻓِﻲ اﻟﻌِﺒَﺎﺩَﺓِ؛ ﺃَﻥْ ﻳُﺒْﺘَﻠَﻰ ﺑِﺄَﻥْ ﻳُﺆَﺧِّﺮَﻩُ اﻟﻠَّﻪُ عَزَّ وَجَلَّ ﻓِﻲ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﻣَﻮَاﻃِﻦِ اﻟﺨِﻴْﺮِ

“Dikhawatirkan kepada seorang apabila membiasakan jiwanya mengakhirkan ibadah, ia akan diuji, Allah akan mengakhirkannya pula dalam seluruh kesempatan kebaikan.” (Fatawa Ibn al-Utsaimin: 13/53)

Mari kita hilangkan kekontradiksian kita dalam hidup ini. Kita membutuhkan Allah, kita berharap keselamatan dunia dan akhirat.  Jujur kita pasti mengakui bahwa ibadah yang kita lakukan kepada Allah sangat sedikit, tidak seperti orang-orang shalih terdahulu. Maka pada yang sedikit itu marilah kita hadirkan makna ketundukkan dan penghinaan diri di dalamnya. Semoga Allah menyelamatkan hdiup kita.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Lihat:

Arsip Khutbah Maribaraja.Com
Zahir Al-Minangkabawi

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud, Arab Saudi (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Sekarang sebagai Mudir Tanfidz di KIAS Syathiby serta pengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button