Beranda / Artikel Salayok / AL-A’SYA (Art.Salayok17)

AL-A’SYA (Art.Salayok17)

Namanya Maimun bin Qais, ia dijuluki Al-A’sya (si rabun senja) karena matanya yang rabun. Dia adalah salah satu penyair Jahiliyah papan atas, salah satu Ashhabul Mu’allaqat. (Lihat Tarajim Syu’ara Al-mausu’ah Asy-Syariah)

Al-Mu’allaqat adalah nama sebuah penghargaan sastra tertinggi pada zaman Jahiliyah. Syair-syairnya diyakini adiluhung dan sakral, ditulis dengan tinta emas dan dipajang di dinding Ka’bah; dipuja dan disembah bak berhala oleh orang-orang Arab pra-Islam.

Imam Qurthubi menyebutkan kisahnya ketika menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 219:

“Ketika A’sya menuju Madinah untuk masuk Islam, beberapa temannya (kaum musyrik) mencegatnya di jalan seraya bertanya kepadanya;
“Hendak kemana engkau?”

A’sya memberitahu bahwa ia hendak mendatangi Muhammad.

Mereka pun berkata: ”Jangan, sesungguhnya dia akan menyuruhmu shalat.”

A’sya menjawab: “Mengabdi kepada Rabb adalah suatu kewajiban.”

Mereka berkata lagi: “Dia akan menyuruhmu untuk memberikan harta kepada orang-orang miskin.”

A’sya menjawab: “Berbuat kebajikan adalah kewajiban”

Seorang dari mereka berkata: “Dia akan melarangmu berzina.”

A’sya menjawab: “Zina adalah perbuatan keji dan buruk menurut akal. Lagi pula aku sudah tua, tidak membutuhkan hal-hal semacam itu.”

Teman-teman A’sya tak kehabisan akal. Kemudian ada lagi yang berkata: “Dia akan melarangmu minum khamr.”

A’sya diam sejenak, lantas menjawab: “Kalau yang ini, aku tidak bisa berhenti.”

Ia pun kembali seraya mengatakan:

“Aku akan memuaskan diri dulu minum khamr selama setahun, kemudian baru aku mendatanginya.”

Namun ia tak pernah sampai ke rumahnya, dia jatuh dari untanya hingga lehernya patah dan kemudian mati.

(Disadur dari ‘Akibat Salah Pergaulan’ hal: 47-48)

Inilah salah satu dari korban manusia beracun; teman buruk, membuat celaka. Maka hati-hatilah dalam memilih teman.

Hidup kita di dunia ini hanya sekali. Maka jangan sampai kita celaka hanya karena salah memilih teman dekat. Iya, kita mengatakan kuat untuk tidak terpengaruh dan terbujuk pada kali pertama kedua, ketiga. Tapi bagaimana untuk kali yang seterusnya. Hati ini lemah sedangkan syubhat itu kencang menyambar-nyambar.

Semoga bermanfaat.

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Bagaimana Hukum Berjabat Tangan Dengan Waria?

Soal: Bagaimana hukumnya berjabat tangan dengan waria, karena di sisi lain ia jadi perempuan dan …

Tulis Komentar

WhatsApp chat