Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / BAB 3 : TAKUT TERHADAP KESYIRIKAN – Silsilah Akidah

BAB 3 : TAKUT TERHADAP KESYIRIKAN – Silsilah Akidah

Takut terhadap kesyirikan adalah sebuah hal yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Karena syirik merupakan dosa yang tidak akan pernah diampuni oleh Allah, kezaliman dan dosa paling besar, Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa’: 48)

Nabi Ibrahim saja sangat takut terjatuh dalam kesyirikan, sampai-sampai beliau berdoa kepada Allah meminta dilindungi dari kesyirikan, padahal beliau alaihis salam adalah bapaknya para nabi dan penghulunya orang-orang bertauhid Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ ، رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia. (QS. Ibrahim: 35-36)

Selain bahaya tidak diampuni, kesyirikan itu ada yang sifatnya khafi (samar), bahkan ada yang lebih samar dari pada suara langkah kaki semut. Sehingga akan banyak orang yang akan terjatuh dalam kesyirikan dalan keadaan dia tidak menyadarinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ، فَسُئِلَ عَنْهُ؟ فَقَالَ: الرِّيَاءُ

“Sesuatu yang paling aku khawatirkan dari kamu kalian adalah perbuatan syirik kecil, kemudian beliau ditanya tentang itu, dan beliaupun menjawab: yaitu riya.”(HR. Ahmad, Thabrani dan Abu Dawud).

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, ia menuturkan :

خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ

Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di hadapan kami, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, takutlah kalian terhadap syirik karena dia lebih halus dari langkah semut.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulallah, bagaimana kami harus menghindarinya, sementara dia lebih halus dari langkah semut?” Maka beliau menjawab: “Bedo’alah dengan membaca, ‘ALLAHUMMA INNAA NA’UUDZU BIKA MIN AN NUSYRIKA BIKA SYAIAN NA’LAMUHU WA NASTAGHFIRUKA LIMAA LAA NA’LAMUHU (Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami mengetahuinya dan kami meminta ampun kepada-Mu terhadap apa yang kami tidak ketahui).'” (HR. Ahmad: 18781)

Oleh sebab itu, kita harus tahu diri. Siapa kita jika dibandingkan dengan Nabi Ibrahim. Jika seandainya Nabi Ibrahim saja masih merasa takut terhadap kesyirikan padahal beliau adalah bapaknya para nabi dan penghulunya orang-orang bertauhid, maka kita lebih pantas untuk merasa takut dan khawatir terhadap kesyirikan.

Pelajaran Penting:

1. Syirik adalah dosa yang tidak akan diampuni yang menyebabkan kekal di neraka
2. Nabi Ibrahim sebagai bapak para nabi dan penghulunya orang-orang bertauhid masih merasa takut terhadap kesyirikan.
3. Lebih banyak manusia yang tersesat daripada yang selamat
4. Syirik ada yang samar yang tidak dapat diketahui oleh semua orang

Penulis: Zahir Al-Minangkabawi
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom

Takut terhadap kesyirikan

Ayo belanja kitab arab di maribaraja store
Belanja sambil beramal

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA), Radio Rodja, Cileungsi.

Check Also

BAB 6: HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH – Silsilah Akidah

Hidayah hanya milik Allah, firman Allah: إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن …

Tulis Komentar

WhatsApp chat