
Bekal Menyambut Ramadhan
Pada tahun 80-an seorang pedagang loak di Inggris menjual sebuah cincin dengan harga sangat murah hanya 10 Pound (sekitar Rp. 200 ribu). Si pembeli pun juga menganggap cincin itu hanyalah cincin imitasi yang tidak ada nilainya. Setelah puluhan tahun, diketahui bahwa ternyata cincin itu adalah cincin berlian asli dengan kadar 26 karat yang berasal dari abad 19 yang ditaksir berharga 350.000 Pound (sekitar 8 miliar)
Kisah ini menunjukkan kepada kita bahwa pengetahuan dan pemahaman terhadap sesuatu sangat menentukan sikap seorang terhadap sesuatu tersebut. Sekaligus salah satu sebab terbesar mendapat keuntungan. Jika seandainya penjual loak itu mengetahui betapa besarnya nilai cincin itu maka niscaya dia tidak akan menyia-nyiakannya dengan menjual dengan harga yang sangat murah.
Beberapa saat lagi kita akan memasuki sebuah bulan yang sangat istimewa yaitu bulan Ramadhan. Sebuah kesempatan berharga yang dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-Nya untuk berlomba-lomba meraup laba akhirat dengan nilai yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.
Akan tetapi, sama halnya dengan batu permata tadi, yang akan berjuang keras untuk tidak melewati setiap detik dari Bulan Ramadhan tanpa ibadah dan kebaikan hanyalah seorang yang tahu akan keutamaan dan berharganya bulan Ramadhan tersebut. Ada pun yang tidak tahu, maka pasti ia akan melewatinya begitu saja, sama seperti bulan-bulan yang lainnya.
Para salaf shalih dahulu dikarenakan mereka memahami betapa berharganya bulan Ramadhan mereka sampai-sampai berdo’a kepada Allah berbulan-bulan jauhnya sebelum kedatangan Ramadhan. Ma’la bin al-Fadhl mengatakan:
كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ يَدْعُوْنَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْهُمْ
“Mereka (salafus shalih) berdo’a kepada Allah selama enam bulan semoga Allah menyampaikan mereka pada bulan Ramadhan, lalu mereka berdo’a selama enam bulan berikutnya semoga amalan mereka di bulan itu diterima.” (Lathaif al-Ma’arif: 1/148, cet. Dar Ibnu Hazm)
Oleh sebab itu, sebagai langkah agar kita bisa masuk pada bulan Ramadhan dalam keadaan menyadari betapa berharaganya bulan tersebut, khatib ingin menyampaikan dua keutamaan yang sangat penting dari bulan Ramadhan.
Mengapa Persiapan Ramadhan Penting?
Pertama, Ramadhan adalah bulan diampuni dosa dan dibebaskan para hamba dari neraka
Nabi pernah bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang puasa Ramadhan dengan pe-nuh keimanan dan mengharap pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” HR. Bukhari: 38 Muslim: 760
Rasulullah shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
“Pada awal malam bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Pintu surga dibuka, tidak ada satu pintu pun yang ditutup. Kemudian Allah menyeru: ‘wahai penggemar kebaikan, rauplah sebanyak mungkin, wahai penggemar keburukan, tahanlah dirimu’. Allah pun memberikan pembebasan dari neraka bagi hamba-Nya. Dan itu terjadi di setiap malam.” (HR. Tirmidzi 682, Shahihul Jami’: 759)
Siapa pula diantara kita yang tidak berdosa dan siapa pula diantara kita yang tidak ingin dihindarkan dari neraka?! Maka jangan pernah menyia-nyiakan Ramadhan
Kedua, di Ramadhan ada Lailatul qadar
Allah berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. Al-Qadr: 3)
Seribu bulan itu jika dijadikan tahun maka sebanding dengan 83 tahun 4 bulan. Inilah keutamaan yang sangat luar biasa, ibadah yang dilakukan di malam itu setara nilainya dengan ibadah yang dilakukan selama 83 tahun 4 bulan. Padahal, umur umat Nabi Muhammad jarang yang mencapai demikian. Jika seorang muslim berusaha keras, dan dia mendapatkan 20 kali lailatul qadar, maka itu artinya setara dengan 1600 tahun lebih.
Oleh sebab itu, menyambut datangnya bulan Ramadhan marilah kita kembali mengingat betapa pentingnya bulan ini untuk diri kita yang ditakdirkan berumur singkat. Keutamaan dari Allah yang sangat besar. Ramadhan dan semua keutamaan yang ada didalamnya merupakan kesempatan bagi kita untuk mendapatkan pahala ibadah yang banyak sekalipun dengan usia yang singkat.
Ada beberapa hal yang harus kita persiapkan dalam menyambut bulan Ramadhan, yaitu:
Pertama: Persiapan Fisik
- Menjaga Kesehatan
Badan yang sehat adalah modal utama untuk beribadah. Karenanya nabi bersabda:
اغتنمْ خمسًا قبل خمسٍ شبابَك قبل هرمكَ وصحتَك قبل سَقمِكَ وغناكَ قبل فقرِك وفراغَك قبل شغلِك وحياتَكَ قبل موتِكَ
‘Ambillah kesempatan lima sebelum datang lima: mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum melarat, senggangmu sebelum sibuk, hidupmu sebelum mati.’” (HR. Hakim, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib 3/168)
- Melatih Fisik
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Syaban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
Salah satu hikmah bahwa puasa di bulan Syaban adalah sebagai latihan atau pemanasan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum puasa Ramadhan, tentu dia akan lebih kuat dan lebih bersemangat untuk melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, oleh Imam Ibnu Qudamah)
Kedua: Persiapan Ruhani
- Bertaubat
Nabi bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ مِنْهَا، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى يُغَلَّفَ بِهَا قَلْبُهُ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ﴾.
Sesungguhnya seorang mukmin apabila melakukan suatu dosa, maka akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertaubat, berhenti dari dosa tersebut, dan memohon ampun, maka hati itu akan dibersihkan darinya. Namun jika ia menambah dosa, maka titik hitam itu akan bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah “ran” (karat penutup hati) yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya: “Sekali-kali tidak! Bahkan telah tertutup (berkarat) hati mereka.” (HR. Tirmidzi: 3334)
- Membersihkan Hati
Allah berfirman:
لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS. Al-Waqi’ah: 79)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan sebuah faidah yang menawan berkaitan dengan hal ini. Setelah beliau menyebutkan ayat tadi, beliau berkata:
فَإِذَا كَانَ وَرَقُهُ لَا يَمَسُّهُ إِلَّا المُطَهَّرُوْنَ فَمَعَانِيْهِ لَا يَهْتَدِي بِهَا إِلَّا القُلُوْبُ الطَاهِرَةُ، وَإِذَا كَانَ المَلَكُ لَا يَدْخُلُ بيتًا فِيْهِ كَلْبٌ، فَالمَعَانِي الَّتِي تُحِبُّهَا المَلاَئِكَةُ لَا تَدْخُلُ قَلْبًا فِيْهِ أَخْلَاقُ الكِلَابِ المَذْمُومَةُ
Apabila lembarannya tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci, maka maknanya pun tidak akan bisa dijadikan petunjuk kecuali oleh hati-hati yang suci. Dan apabila malaikat tidak masuk ke rumah yang ada anjingnya, maka makna-makna al-Qur’an yang dicintai oleh para malaikat tidak akan masuk pula pada hati yang di dalamnya terdapat akhlak anjing yang tercela. (Majmu’ah Fatawa li Syaikhul Islam: 5/328)
- Memastikan Kehalalan makanan, minuman, penghasilan dll
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا
“Wahai para rasul, makanlah dari makan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih.” (QS. Al-Mu’minun: 51)
Para ulama mengatakan, di dalam ayat ini, Allah memerintahkan para rasul-Nya agar hanya memakan makanan yang baik kemudian memerintahkan untuk beramal shalih. Hal itu mengisyaratkan bahwa ada hubungan erat antara mengkonsumsi makanan yang baik, dengan amal shalih. Maka jangan diharap jasad kita akan bergairah untuk melakukan amal-amal shalih bila ternyata jasad tersebut tumbuh dari makanan yang haram.
Ketiga: Persiapan Ilmu
- Memperdalam Ilmu
Pelajari kembali fiqh puasa dan berbagai amalan Ramadhan. Karena syarat diterimanya ibada ada 2 yaitu: Pertama: niat yang ikhlas, Kedua: Kesesuaian tata cara pelaksanaan dengan tuntunan Nabi. Rasulullah bersabda: “Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
‘Aku adalah Dzar yang paling tidak memerlukan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya’.” (HR. Muslim: 2985)
Beliau juga bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim: 1718)
- Memahami Konsep dan Prioritas Ibadah
Dalam kaca mata syariat, suatu perbuatan tidak akan keluar dari 5 status hukum, yaitu:
- Wajib : Dikerjakan berpahala, ditinggalkan berdosa
- Sunnah : Dikerjakan berpahala, ditinggalkan tidak berdosa
- Mubah : Dikerjakan atau ditinggalkan tidak ada pahala dan dosa
- Makruh : Dikerjakan tidak berdosa, ditinggalkan berpahala
- Haram : Dikerjakan berdosa, ditinggalkan berpahala
Memahami kelima hal ini adalah keharusan. Karenanya Nabi bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah: 224. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)
Kaidah penting dalam ibadah:
- Meninggalkan semua larangan (haram)
- Mengerjakan semua yang wajib
- Tambah amalan sunnah semampunya
Nabi bersabda:
اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ
Jagalah dirimu dari semua keharaman niscaya kamu menjadi orang yang paling ahli ibadah, (HR. Tirmidzi: 2305)
Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ.
Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan senantiasa hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. (HR. Bukhari: 6502)
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, ia menuturkan:
أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ وَصُمْتُ رَمَضَانَ وَأَحْلَلْتُ الْحَلَالَ وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَالَ نَعَمْ قَالَ وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا
“Ada seorang berkata kepada Nabi: Apa pendapatmu bila saya melaksanakan shalat-shalat wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan sesuatu yang halal, dan mengharamkan sesuatu yang haram, namun aku tidak menambahkan suatu amalan pun atas hal tersebut, apakah aku akan masuk surga?” Rasulullah menjawab: “Ya.” Dia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menambahkan atas amalan tersebut sedikit pun.” (HR. Muslim: 15)
Hadits ini menunjukkan bahwa seorang yang hanya melakukan uang wajib-wajib saja kemudian meninggalkan seluruh larangan maka akan dapat masuk surga.
Contoh Kesalahan Konsep di Bulan Ramadhan:
- Puasa tapi tidak shalat wajib
Betul puasa hukumnya wajib, akan tetapi shalat juga wajib bahkan lebih wajib. Shalat turun syariat wajibnya sebelum Nabi hijrah ke Madinah adapun puasa Ramadhan setelah dua tahun Nabi hijrah. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda:
مَنْ تَرَكَ صَلاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
Barangsiapa yang meninggalkan shalat ashar terhapuslah pahala amal ibadahnya. (HR. Bukhari: 520)
Karenanya sebagian ulama mengatakan bahwa seorang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa ada uzur, ia mengetahui akan wajibnya shalat maka puasanya tidak sah.
- Puasa tapi tidak meninggalkan dusta, ghibah, dll.
Dusta, ghibah, dan sejenisnya adalah perkara yang haram. Diluar bulan Ramadhan saja haram apalagi di bulan Ramadhan. Jika seorang berpuasa namun tidak meninggalkan keharaman ini maka dia akan merugi. Dia hanya akan mendapat letih dan dahaga saja dari puasanya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak ada bagian dari puasanya kecuali hanya lapar semata.” (HR. Ibnu Majah: 1690)
Dalam riwayat lain disebutkan sebabnya, beliau menjelaskan:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari: 1903)
- Shalat Tarawih & Id tapi tidak shalat wajib
Shalat Tarawih hukumnya sunnah, sementara Shalat lima waktu hukumnya wajib. Bagaimana sesuatu yang sunnah dikerjakan sementara yang wajib ditinggalkan. Sunnah apabila tinggalkan tidak berdosa, namun wajib ditinggalkan berdosa.
- Buka bersama tapi ikhtilat dengan lawan jenis, melihat aurat wanita, bahkan meninggalkan shalat maghrib
Berbuka bersama hukumnya mubah, sedangkan ikhtilat, melihat aurat, meinggalkan shalat hukumnya haram
Lihat:
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom



Yuk Gabung !