Beranda / Fawa’id (page 4)

Fawa’id

Empat Kaidah Tentang Larangan dan Dosa

Sebagai seorang hamba kita tidak akan lepas dari perintah dan larangan-Nya. Allah berfirman: أَيَحْسَبُ الأِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدىً Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja? (QS. al-Qiyamah: 36) Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan: لَا يُؤْمَر وَلَا يُنْهَى “Tidak diperintah dan tidak dilarang.” (Fathul Majid li Syarh Kitab at-Tauhid hal. …

Read More »

Dapat Pahala Mati Syahid Meski Meninggal di Atas Kasur

Seorang bisa dapat pahala mati syahid seperti para syuhada meski ia meninggal di atas kasurnya. Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ “Barangsiapa mengharapkan mati syahid dengan jujur (sungguh-sungguh), maka Allah akan …

Read More »

Do’a Untuk Orang Yang Memberi Makan atau Minum

Jika ada orang yang memberi kita makan atau minum maka balaslah. Ini adalah salah satu adab dan akhlak mulia yang diajarkan agama, semua kebaikan apapun bentuknya sebisa mungkin dibalas, minimalnya dengan do’a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى …

Read More »

Dua Fungsi Niat dan Tauriyah

Niat dalam syari’at menduduki tempat yang sangat penting. Bahkan semua perbuatan tergantung pada niatnya. Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya.” (HR. Al-Bukhori no.1 dan Muslim no.1907) Para ulama telah menjelaskan bahwa fungsi niat ada dua: Pertama, …

Read More »

Empat Mafsadat Mencela Masa

Sebagai seorang muslim, kita harus mengetahui bahwa mencela zaman adalah suatu yang terlarang dan tidak layak, baik secara syariat maupun secara akal sehat. Mencela masa mengandungi mafsadat (kerusakan), diantaranya: 1. Mencela sesuatu yang tidak berhak untuk dicela Masa atau waktu adalah makhluk Allah yang akan berjalan sesuai dengan apa yang …

Read More »

Empat Makna Kata Ummat Dalam Al-Qur’an

Kata ummat di dalam al-Qur’an memiliki empat makna, yaitu: 1. Thaifah (sekelompok orang), sebagaimana firman Allah: وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut.” (QS. An-Nahl: 36) 2. Imam (pemimpin), sebagaimana dalam firman Allah: إِنَّ …

Read More »

Dua Syarat Diterimanya Ibadah

Diriwayatkan dari Fudhail bin Iyadh rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah berikut: الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk: 1-2) “’Yang …

Read More »

Hukum Mencela Masa

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, mencela masa hukumnya terbagi menjadi tiga: Pertama, jika maksudnya semata-mata hanya mengabarkan, tidak dimaksudkan untuk mencela, maka hal ini diperbolehkan. Misalnya perkataan seseorang, “Cuaca hari ini sangat panas sehingga membuat kita sangat lelah.” Atau, “Hari ini suhunya sangat dingin sehingga kita letih.” atau ucapan …

Read More »

Empat Syarat Wajibnya Memenuhi Undangan Walimah (Kondangan)

Menghadiri undangan walimah (kondangan) hukum asalnya adalah wajib berdasarkan hadits dari Abu Hurairah bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُمْنَعُهَا مَنْ يَأْتِيهَا وَيُدْعَى إِلَيْهَا مَنْ يَأْبَاهَا وَمَنْ لَمْ يُجِبْ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ “Seburuk-buruk jamuan makanan adalah jamuan dalam pesta pernikahan, yaitu orang yang seharusnya …

Read More »

Perbedaan antara Ittiba’ dan Taqlid

Ittiba’ adalah sebuah hal yang diperintahkan, terpuji dan wajib. Sedangkan taqlid justru sebaliknya, hukum asalnya tidak boleh kecuali dalam beberapa kondisi tertentu saja. Perbedaan antara ittiba’ dan taqlid adalah sebagaimana yang telah jelaskan oleh para ulama. Mengenai Ittiba’ Imam Ahmad rahimahullah mengatakan: الِاتِّبَاعُ أَنْ يَتَّبِعَ الرَّجُلُ بِمَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ …

Read More »
WhatsApp chat