Beranda / Fawa'id / Enam Kiat Menggapai Akhlak Mulia

Enam Kiat Menggapai Akhlak Mulia

Akhlak terbagi menjadi dua:

1. Akhlak jibillah yaitu akhlak baik yang ditakdirkan oleh Allah pada seseorang. Seperti orang yang memiliki sifat lembut, dermawan, semenjak kecil. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui” (QS Ali ‘Imron : 73)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Al-Asyaj bin Abdul Qois radhiyallahu anhu:

إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ

Sesungguhnya pada dirimu ada dua hal yang dicintai oleh Allah; santun dan hati-hati (tidak tergesa-gesa).” (HR.Muslim 126)

2. Akhlak muktasabah yaitu akhlak yang bisa dilatih. Karena sesungguhnya akhlak bisa diubah, oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَصْبِرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ

Siapa yang bersikap ‘iffah (memelihara diri dari meminta-minta) maka Allah akan memeliharanya pula. Dan siapa yang merasa cukup dengan apa yang ada, Allah akan mencukupinya pula. Dan siapa yang sabar, Allah akan menambah kesabarannya. (HR. Muslim: 1053)

Banyak sekali contoh bagaimana akhlak itu bisa dirubah. Lihatlah Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu yang berubah menjadi manusia yang paling baik akhlaknya setelah Nabi dan Abu Bakar. Demikian pula dengan Fudhail bin Iyadh, yang dahulunya adalah seorang perampok yang kemudian menjadi ulama yang ahli ibadah, serta Imam di zaman Tabi’in.

Kiat menggapai akhlak mulia

1. Berdo’a

Do’a adalah penolong terbesar bagi seorang hamba, karena ia meminta kepada Dzat yang Maha Kaya lagi Maha Kuasa. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:

أعظم الأسباب: دعاء الله والضراعة إليه أن يوفق لها

Sebab terbesar untuk mengapai akhlak mulia adalah do’a kepada Allah, permohonan yang sangat seraya merendahkan diri kepada-Nya agar Allah memberikan taufik kepadanya. (Lihat artikel binbaz.org.sa dengan judul Al-Wasa’il al-Mu’inah Ala Iktisabi al-Akhlaq al-Hamidah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering mengajarkan do’a untuk meminta akhlak yang mulia, di antaranya:

Dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa dia berkata, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي

Ya Allah, engkau telah membaguskan rupaku, maka perbaguslah akhlakku.” (HR. Ahmad: 24064)

اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ وَأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئَ الْأَخْلَاقِ والْأَعْمَالِ ، لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

Ya Allah, tunjukilah aku akhlak dan amal yang terbaik. Tidak ada yang dapat menujukkanku kepadanya kecuali Engkau. Jauhkanlah aku dari akhlak dan amal yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkanku darinya kecuali Engkau”. (HR. An Nasa-i, Ad Daruquthni)

2. Menuntut ilmu agama

Dari Sa’ad bin Hisyam bin Amir ia pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha:

يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَنْبِئِينِي عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ أَلَسْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ قُلْتُ بَلَى قَالَتْ فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ

Wahai Ummul mukminin, beritahukanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!.’ ‘Aisyah menjawab; “Bukankah engkau telah membaca Alquran?” Aku menjawab; “Benar, ” Aisyah berkata; “Akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Al Quran.” (HR. Muslim: 746)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan:

معناه : العمل به ، والوقوف عند حدوده ، والتأدب بآدابه ، والاعتبار بأمثاله وقصصه ، وتدبره ، وحسن تلاوته . انتهى

“Maknanya adalah beramal dengannya, berhenti pada batasan-batasannya, beradab dengan adabnya, mengambil pelajaran daei kisah-kisahnya, mentadabburinya, membacanya dengan baik.” (Syarh Shahih Muslim: 3/268, dinukil dari artikel Islamqa.info dengan judul Na’am Kana Khuluquhu shallallahu ‘alaihi wasallam Al-Qur’an)

Maka seorang yang ingin memiliki akhlak yang mulia harus belajar agama dengan mempelajari al-Qur’an dan hadits Nabi.

3. Beribadah yang benar

Ibadah yang benar yaitu ibadah yang dibangun diatas ikhlas dan mutaba’ah akan menjadikan seorang berakhlak mulia, sebagaimana firman-Nya:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ، إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. (QS. Al-Ankabut: 45)

4. Membaca kisah-kisah orang yang berakhlak mulia

Kisah adalah salah satu cara Allah memberikan pelajaran, diantaranya akhlak mulia. Makanya Allah berfirman:

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. Al-A’raf: 176)

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Yusuf: 111)

Kisah yang paling utama untuk dibaca adalah kisah hidup manusia yang paling mulia akhlaknya yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karenanya Allah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (QS. Al-Ahzab: 21)

Kemudian kisah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena mereka adalah manusia terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka. (HR. Bukhari: 2652)

Terutama Abu Bakar dan Umar bin Khaththab, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

Teladanilah dua orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar.” (HR. Tirmidzi: 3662)

5. Mencari teman dan lingkungan yang baik

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَا فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدْ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ قَالَ قَتَادَةُ فَقَالَ الْحَسَنُ ذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ لَمَّا أَتَاهُ الْمَوْتُ نَأَى بِصَدْرِهِ

Pada zaman dahulu dari umat sebelum kalian ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian orang tersebut bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi. Lalu ditunjukan kepada seorang rahib (ahli ibadah) dan ia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib tersebut ia berterus terang bahwasanya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang dan apakah taubatnya itu akan diterima? Ternyata rahib itu menjawab; ‘Tidak. Taubatmu tidak akan diterima.’ Akhirnya laki-laki itu langsung membunuh sang rahib hingga genaplah kini seratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepadanya seorang alim yang mempunyai ilmu yang banyak. Kepada orang alim tersebut, laki-laki itu berkata; ‘Saya telah membunuh seratus orang dan apakah taubat saya akan diterima? ‘ Orang alim itu menjawab; ‘Ya. Tidak ada penghalang antara taubatmu dan dirimu. Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah. Setelah itu, beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu termasuk lingkungan yang buruk.’ Maka berangkatlah laki-laki itu ke daerah yang telah ditunjukan tersebut. Di tengah perjalanan menuju ke sana laki-laki itu meninggal dunia. Lalu malaikat Rahmat dan Azab saling berbantahan. Malaikat Rahmat berkata; ‘Orang laki-laki ini telah berniat pergi ke suatu wilayah untuk bertaubat dan beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati.’ Malaikat Azab membantah; ‘Tetapi, bukankah ia belum berbuat baik sama sekali.’ Akhirnya datanglah seorang malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat yang sedang berbantahan itu. Maka keduanya meminta keputusan kepada malaikat yang berwujud manusia dengan cara yang terbaik. Orang tersebut berkata; ‘Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini dari tempat berangkatnya hingga ke tempat tujuannya. Mana yang terdekat, maka itulah keputusannya.’ Ternyata dari hasil pengukuran mereka itu terbukti bahwa orang laki-laki tersebut meninggal dunia lebih dekat ke tempat tujuannya. Dengan demikian orang tersebut berada dalam genggaman malaikat rahmat.’ (HR. Bukhari: 3470, Muslim: 2766)

Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ لَا يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Engkau tidak akan rugi berteman dengan penjual minyak wangi. Sebab bisa jadi engkau membeli darinya atau paling tidak engkau mencium bau yang wangi darinya. Sedangkan, seorang tukang besi, akan membakar tubuh atau pakaianmu, atau paling tidak engkau mencium aroma yang busuk darinya.”  (HR. Bukhari: 2101, Muslim: 2628)

6. Berlatih dan sungguh-sungguh

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطِهِ وَمَنْ يَتَوَقَّ الشَّرَّ يُوقَهُ

Sesungguhnya ilmu didapatkan dengan belajar dan sesungguhnya santun didapat dengan latihan. Barangsiapa berusaha untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikannya. Barangsiapa yang berusaha untuk menghindari keburukan, niscaya akan terhindar darinya.” (HR.Thabrani, Mu’jamul Kabir: 1763)

Akhlak tidak seperti susu yang tumpah yang tidak mungkin untuk diselamatkan dan dirubah. Akhlak itu ada ditangan kita. Kitalah yang akan menetukan baik atau buruknya. Perhatikanlah hadits diatas, seorang yang ingin memiliki pribadi yang santun, hendaknya melatih dirinya untuk berlaku santun. Begitu juga seorang yang ingin mempunyai sifat pemurah atau dermawan, hendaknya dia melatih dirinya dengan sering melakukan perbuatan orang-orang yang dermawan. Begitu seterusnya.

Tidak ada yang mustahil dalam merubah sifat. Singa saja yng dikenal dengan hewan paling buas, dengan cara-cara tertentu bisa menjadi jinak dan bersahabat. Bahkan, bisa dijadikan objek hiburan,seperti yang dilakukan oleh para pemain siskus. Lantas bagaimana dengan manusia, bukankah manusia jauh berbeda dengan singa?!

Baca juga Artikel:

Pribadi Hebat

Antara Islam dan Akhlak Mulia

Ditulis di rumah mertua tercinta Jatimurni Bekasi, Kamis 15 Rabi’ul Akhir 1441H/ 12 Desember 2019M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja untuk dapatkan artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA), Radio Rodja, Cileungsi.

Check Also

Janganlah Jadikan Kami Lilin-lilin Kehidupan Dunia Ini

Tidak hanya sekali atau dua kali, namun sering kali, kita lupa dengan diri kita sendiri. …

Tulis Komentar

WhatsApp chat