Nama Allah Tidak Terbatas Hanya 99 Saja

Salah satu pokok keyakinan Ahlussunnah waljamaah dalam nama dan sifat Allah yaitu bahwa nama Allah tidak terbatas dengan bilangan. Hal ini berdasarkan hadits, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:“Tidaklah seorang ditimpa duka cita dan kesedihan lalu ia mengucapkan:

اللهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي

Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu dan anak dari hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Berlaku padaku keputusan-Mu. Ketentuan-Mu adil bagiku. Aku mohon pada-Mu dengan semua nama-Mu baik yang Engkau gunakan menamai diri-Mu sendiri, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu. Jadikanlah al-Qur’an sebagai penggembira hatiku, cahaya dadaku, pengusir kesedihanku, dan pelipur laraku.’ Kecuali Allah akan menghilangkan kesedihan dan duka citanya, lalu diganti dengan kelapangan.” (HR. Ahmad: 3712, dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Silsilah ash-Shahihah: 1/337)

Sisi pendalilannya yaitu dari ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu.” Hal ini jelas menunjukkan bahwa nama Allah tidak terbatas dengan bilangan.

Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:

فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ لِلَّهِ أَسْمَاءً فَوْقَ تِسْعَةٍ وَتِسْعِينَ

Hadits ini menunjukkan bahwa Allah memiliki nama-nama lebih dari sembilan puluh sembilan. (Majmu’ al-Fatawa: 6/374)

Adapun hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Allah ‘azza wajalla mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barangsiapa meng-ihsha’ (menjaganya) maka ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari: 2736, Muslim: 2677)

Bukanlah menujukkan pembatasan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim, beliau berkata:

اتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّ هَذَا الْحَدِيث لَيْسَ فِيهِ حَصْر لأَسْمَائِهِ سُبْحَانه وَتَعَالَى , فَلَيْسَ مَعْنَاهُ : أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ أَسْمَاء غَيْر هَذِهِ التِّسْعَة وَالتِّسْعِينَ , وَإِنَّمَا مَقْصُود الْحَدِيث أَنَّ هَذِهِ التِّسْعَة وَالتِّسْعِينَ مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّة , فَالْمُرَاد الإِخْبَار عَنْ دُخُول الْجَنَّة بِإِحْصَائِهَا لا الإِخْبَار بِحَصْرِ الأَسْمَاء اهـ .

Para ulama telah sepakat bahwasanya hadits ini bukanlah pembatasan terhadap jumlah nama Allah subhanahu wata’ala. Maknanya bukan; Allah tidak memiliki nama-nama selain 99 ini. Sesungguhnya maksud hadits ini adalah bahwa 99 nama ini yang siapa mampu menjaganya maka akan masuk surga, tujuannya adalah sebagai bentuk pengabaran mengenai masuk surga karena menjaganya bukan pengabaran mengenai pembatasan nama-nama Allah.”

Dinukil dari artikel Islamqa dengan judul: Asma’ Allah Ghairu Mahshurah fi Tis’ah wa Tis’ina Isman

Baca juga Artikel:

Hafal Asmaul Husna Masuk Surga?

KITABUT TAUHID BAB 40 – Mengingkari Sebagian Nama Dan Sifat Allah

#Faidah singkat, ditulis di rumah mertua tercinta Jatimurni Bekasi, Selasa 6 Rabi’ul Akhir 1441H/ 3 Desember 2019M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja untuk dapatkan artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda di admin berikut KLIK

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !