Diantara Cara Salman Al-Farisi Agar Istiqamah di Atas Hidayah – Khutbah Jum’at

Khutbah Jum’at kali ini tentang diantara cara Salman Al-Farisi agar Istiqamah di atas hidayah

KHUTBAH PERTAMA

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَيُّها المُسْلِمُونَ ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله فقد فاز المتقون قال الله: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah………

Hidayah menjadi seorang muslim mukmin merupakan anugerah paling besar yang diberikan oleh Allah kepada seorang hamba. Hidayah adalah kebutuhan pokok kita, jauh melebihi makan, minum, dan tempat tinggal. Setiap detik kita butuh hidayah dan bimbingan dari Allah karenanya Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu mengucapkan do’a di setiap pagi dan petang:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Ya Allah ya Tuhanku, aku mengharap rahmat-Mu, janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri sekali pun sekejap mata.” (HR. Abu Dawud: 5090)

Bahkan kita diperintahkan untuk selalu meminta hidayah di setiap rakaat shalat. Do’a yang ada dalam surat Al-Fatihah, yaitu:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS. Al-Fatihah: 6)

Semua ini menunjukkan bahwa kita sangat butuh akan hidayah Allah.

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah………

Jika kita berkisah tentang hidayah, ada satu sosok yang selalu disebut dan tidak akan pernah terpisahkan. Seorang sahabat Nabi yang berasal dari negeri Persia penyembah api yaitu Salman Al-Farisi. Ia adalah sosok besar dalam perjuangan mencari hidayah dan mempertahankannya. Demi menggapai hidayah dan kebenaran, ia rela meninggalkan semuanya; negeri kecintaan, keluarga, kenyamanan hidup, kemulian status sosial, kekayaan, dst.

Salman yang dahulunya tinggal di negeri yang nyaman, ayahnya adalah kepala kampung yang merupakan orang paling kaya dan terhormat di sana. Status sosial Salman pun tinggi. Akan tetapi semua itu ia tinggalkan, sekarang ia sendirian tanpa keluarga, berkelana ke negeri-negeri yang jauh dari kampung halamannya. Hidup dalam kekurangan, menyaksikan banyak kesedihan, kehilangan orang-orang yang dicintai. Bahkan, ia sampai menjadi seorang budak yang bekerja di bawah penindasan majikan Yahudi.

Semua itu dapat ia lalui. Kejujuran hati, kebulatan tekad serta keikhlasan telah menjadikan ia kuat, yang akhirnya ia pun merasakan buah manis iman. Ia bertemu dengan Rasulullah dan para sahabat, lalu ia pun menjadi seorang muslim, mukmin sekaligus sahabat Nabi.

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah………

Di kesempatan yang singkat ini, kita tidak akan membahas perjalanan panjang Salman Al-Farisi dalam mencari hidayah. Akan tetapi kita akan membahas sedikit bagaimana cara Salman dalam mempertahankan hidayah dan istiqamah di atas kebenaran.

Dikisahkan bahwa di masa kekhilafahan Umar bin Khaththab, Salman mendapatkan perintah untuk menjabat sebagai gubernur kota Mada’in. Sebuah kota besar lagi megah. Kota yang dahulunya menjadi ibu kota imperium Persia di masa jayanya. Akan tetapi, Salman menolaknya dan berupaya keras untuk menolaknya.

Namun Umar tetap bersikukuh dan terus menerus memaksanya untuk menerima jabatan tersebut, sehingga akhirnya Salman pun memenuhi permintaannya dan segera pergi menuju daerah kepemimpinannya yang merupakan negeri kampung halamannya sendiri.

Dia menunggangi hewan tunggangannya ke tempat itu sendirian, tanpa teman dan pendam-ping yang mengawal.

Salman mendapat gaji rutin sebanyak 5000 dirham. Akan tetapi, ia selalu membagikan gaji itu kepada rakyatnya, sedang ia sendiri makan dari hasil menganyam tikar daun kurma. Salman pernah berkata:

أَشْتَرِي خُوْصًا بِدِرْهَمٍ ، فَأَعْمَلَهُ ، فَأَبِيْعُهُ بِثَلَاثَةِ دَرَاهِمَ فَأُعِيْدُ دِرْهَمًا فِيهِ ، وَأُنْفِقُ دِرْهَمًا عَلَى عِيَالِي ، وَأَتَصَدَّقُ بِدِرْهَمٍ ، وَلَوْ أَنَّ عُمَرَ نَهَانِي عَنْهُ مَا انْتَهَيْتُ

“Aku selalu membeli daun kurma untuk bahan anyaman dengan harga 1 dirham, lalu aku membuatnya dan menjualnya dengan harga 3 dirham. 1 dirham kembali aku jadikan modal, 1 dirham aku nafkahkan untuk keluargaku, dan 1 dirham lagi aku sedekahkan. Jika Umar bin Khaththab melarangku melakukan hal itu, aku tetap tidak akan berhenti melakukannya.” (Siyar A’lam An-Nubala’: 1/547)

Setiap hari Salman keluar dan berbaur dengan masyarakat sekitar dan mencoba mengetahui keinginan mereka. Sedang ketika itu Salman memakai baju aba’ah yang sudah kusam dimakan masa. Di tengah perjalanan, ada seorang yang datang dari negeri Syam berjumpa dengannya. Orang itu membawa sekarung buah tin dan kurma. Karung tersebut nampak melelahkannya.

Ketika ia melihat di depannya ada sorang lelaki yang nampak dari kalangan rakyat jelata dan miskin, dia pun langsung berpikir untuk menyuruhnya membawakan karung itu sampai tempat tujuannya dengan memberi sedikit upah kepadanya.

Orang itu segera memanggil lelaki yang dilihatnya, lalu lelaki itu pun mendatanginya. Orang Syam itu berkata: “Bawakanlah karung ini untukku.” Maka lelaki itu pun segera membawanya, lalu mereka berdua berjalan bersama.

Tak lama kemudian, mereka berdua melewati sekelompok orang, dan lelaki itu mengucapkan salam kepada mereka, dan mereka pun menjawabnya secara serempak “Wa’alal Amiris Salam (semoga keselamatan tercurah untuk gubernur).” Di dalam hatinya, orang Syam itu pun bertanya-tanya, “Gubernur mana yang mereka maksud?”

Rasa kagetnya pun semakin bertambah ketika sebagian mereka bergegas menuju Salman untuk membawakan karung itu, seraya mereka berkata, “Biar aku yang bawa karung ini wahai gubernur.”

Akhirnya orang Syam itu pun sadar bahwa lelaki yang membawakan karungnya adalah guber-nur Mada’in, Salman al-Farisi. Seketika itu juga orang itu pun tertunduk lesu di hadapan Salman dan mengalirlah kata-kata maaf dan penyesalan dari kedua bibirnya.  Orang itu pun langsung mendekat dan menarik karung itu darinya. Akan tetapi, Salman menggelengkan kepala tanda menolak seraya berkata, “Tidak. Aku akan tetap membawanya hingga sampai ke tempat persinggahanmu.” (Rijal Haula ar-Rasul, hal.56)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah……

Dari kisah tadi, kita bisa melihat bagaimana cara Salman mempertahankan hidayah dan istiqamah di atas kebenaran ketika ia telah mendapatkannya. Diantara cara beliau adalah kederhanaan, zuhud dalam urusan dunia.

Salman tetap menjadi Salman, baik ketika ia menjadi budak miskin mau pun setelah merdeka dan menjadi manusia terhormat, kaya dan berkuasa. Dunia tidak mengubahnya sedikit pun. Ia tetap hidup dalam kesederhanaan dan zuhud sebagai upaya agar dia tetap dalam ketaatan kepada Allah, istiqamah di atas hidayah. Ia tetap menjadi pribadi yang sangat sederhana, berusaha menolak harta dan jabatan. Semua itu ia lakukan agar ia dapat senantiasa istiqamah di atas hidayah sampai akhir hayatnya.

Memang, harta kekayaan, kekuasaan, kehormatan merupakan di antara ujian yang paling sering membuat manusia tidak istiqamah di atas hidayah. Makanya, Rasulullah pernah bersabda mengingatkan para sahabat:

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُلْهِيَكُمْ كَمَا أَلْهَتْهُمْ

“Demi Allah bukan kemiskinan yang aku takutkan menimpa kalian, tapi aku takut dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian pun berlomba-lomba meraihnya sebagaimana mereka dahulu berlomba-lomba, lalu dunia itu membinasakan kalian seperti halnya membinasakan mereka.”[1]

Oleh sebab itu, pelajaran berharga dari kisah Salman ini hendaknya kita camkan dalam sanubari. Hidup di dunia selamanya ujian. Kesulitan, kemiskinan, kesakitan adalah ujian sebagaimana kelapangan, kekayaan, kesehatan pun juga ujian. Bahkan banyak orang yang bisa selamat diuji dengan kesulitan, kemiskinan, sakit namun tidak selamat ketika diuji dengan kekayaan, kelapangan dan sehat.

Perjuangan tidak hanya sebatas berhasil menggapai hidayah saja, tetapi ada hal yang juga tak kalah penting yaitu istiqamah di atasnya. Dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi, dia berkata:

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

Aku pernah berkata, ‘Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang tidak aku tanyakan kepada seorang pun setelahmu.Beliau menjawab: ‘Katakanlah, ‘aku beriman kepada Allah’ lalu beristiqamahlah.”[2]

Sampai kapankah kita mesti berjuang? Sampai kematian menjelang. Karena itulah, ketika Imam Ahmad ditanya, “Kapan seorang hamba mendapatkan (merasakan) lezatannya istirahat?” Maka beliau menjawab:

عِنْدَ أَوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهَا فِي الْجَنَّةِ

“Ketika langkah pertama yang ia cecahkan di surga.”[3]

 Mudah-mudahan kita istiqamah di atas iman dan Islam ini hingga akhir hayat kita.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللهم أَرِنَا الحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ ، وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِينِكَ يَا مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

Lihat:

Arsip Khutbah Maribaraja.Com

Selesai disusun di Komplek Pondok Jatimurni Bekasi

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

________________________

[1] HR. Bukhari: 6425, Muslim: 2961

[2] HR. Muslim: 38

[3] Al-Maqshad Al-Arsyad: 2/398 dinukil dari: Sual Al-Imam Ahmad Mata Yajidu al-‘Abdu Tha’ma ar-Rahah

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !