
Doa Lailatul Qadar Dan Pelajaran Pentingnya
Diantara amalan yang sangat ditekankan pada sepuluh malam akhir bulan Ramadhan dalam rangka mencari dan menghidupkan Lailatul Qadar adalah memperbanyak doa. Terdapat doa khusus yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ dalam hal ini. Dari Ummul Mukminin Aisyah, ia berkata: Aku bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ بِمَ أَدْعُو قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Wahai Rasulullah! Apabila saya menjumpai malam lailatul qadar, dengan apa saya harus berdo’a?” beliau bersabda: “Katakanlah Allahumma innaka affuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Engkau mencintai seorang pemaaf, maka ampunilah aku).” (HR. Tirmidzi: 3513, Ibnu Majah: 3850, Ahmad: 24322)
Ada beberapa pelajaran berharga dari hadits dan do’a ini, yaitu:
- Lafaz dzikir dan Doa terbaik adalah mengikuti petunjuk Nabi
Hal ini kita ambil dari apa yang diperbuat oleh Ibunda Aisyah. Beliau adalah orang arab asli yang sangat fasih bahasa Arabnya, dalam ilmunya. Namun sekalipun demikian beliau tetap bertanya kepada Nabi ﷺ lafaz doa, tidak membuat redaksi doa sendiri.
Hal ini sama dengan yang dilakukan oleh para sahabat Nabi ﷺ terkait perintah bershalawat. Dari Ka’ab bin Ujrah ia berkata:
سَأَلْنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ البَيْتِ؛ فَإِنَّ اللهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكُمْ؟ قَالَ: قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ؛ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ؛ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Kami bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara bershalawat kepada kalian, wahai Ahlul Bait, karena Allah telah mengajarkan kepada kami bagaimana cara mengucapkan salam kepada kalian?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: Ya Allah, berilah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah berselawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia; Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Bukhari: 3370, Muslim: 406)
Padahal mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat fasih, paling dalam ilmunya dan paling bersemangat dalam kebaikan. Namun mereka tetap bertanya kepada Nabi ﷺ.
- Bertawassul dengan Asmaul Husna dalam berdoa
Diantara sunnah dalam berdoa adalah menggunakan Nama dan Sifat Allah yang sesuai dengan hajah yang diminta sebagai wasilah mengharapakan terkabulnya doa. Hal ini merupakan perintah langsung dari Allah dalam firman-Nya:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
Hanya milik Allah asmaulhusna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaulhusna itu. (QS. Al-A’raf: 180)
Lihatlah dalam doa Lailatul Qadar ini. Permintaan maaf kepada Allah didahului dengan menyebutkan salah satu nama-Nya yaitu Al-Afuw (Maha Pemaaf)
- Menetapkan Nama dan Sifat Allah
Doa ini mengharuskan kita menetapkan bahwa Allah memiliki nama Al-‘Afuw (Maha Pemaaf) sekaligus Allah memiliki sifat suka dan banyak memaafkan kesalahan para hamba-Nya. Inilah termasuk dalam mentauhidkan Allah dalam Asma dan Sifat yang merupakan salah satu dari tiga macam tauhid. Konsekuensi dari penetapan ini adalah:
- Sering meminta maaf kepada Allah
Doa lailatul Qadar ini harus sering kita ucapkan pada setiap malam di sepuluh akhir Ramadhan. Meskipun sebenarnya meminta maaf kepada Allah disyariatkan setiap hari baik di dalam maupun diluar bulan Ramadhan. Bahkan minimalnya pada pagi dan petang. Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan do’a-do’a tersebut ketika menjelang pagi dan sore, yaitu;
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu pemaafan dan keselamatan dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu pemaafan dan keselamatan di dalam menjalankan dienku, duniaku, keluargaku dan hartaku. (HR. Ibnu Majah: 3871)
- Meninggalkan penghalang pemaafan Allah
Minta maaf tanpa meninggalkan perkara yang dapat menghalangi pemaafan itu sendiri adalah tindakan yang tidak cerdas. Diantara pengahalang pemaafan Allah adalah kesyirikan dengan segala jenisnya. Hal ini karena Allah yang berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki; dan barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang sangat besar. (QS. An-Nisa: 48)
Maka sangat ironis seorang yang berharap pemaafan dari Allah namun masih pergi ke dukun, meminta kepada kuburan, memberikan sesajen (menyembelih hewan) kepada pohon batu keramat, dst dari praktek kesyirikan.
- Jika berbuat dosa segera berhenti dan minta maaf kepada Allah
Semua manusia pasti terjatuh ke dalam dosa. Namun yang seorang yang beriman hendaknya ketika ia sadar berbuat dosa ia segera berhenti dan bertaubat kepada Allah, memohon ampunan. Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)
- Tidak menceritakan dosa
Nabi ﷺ bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْجِهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَيَقُولُ: عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ.
“Setiap umatku akan diampuni (atau diselamatkan) kecuali orang-orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) di malam hari, kemudian pada pagi harinya—padahal Allah telah menutupi perbuatannya—ia malah berkata: ‘Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu.’ Padahal semalaman Tuhannya telah menutupi (aibnya), namun pada pagi harinya ia sendiri yang menyingkap tabir Allah dari dirinya.” (HR. Bukhari: 6069 dan Muslim: 2990)
- Menambal dosa dengan kebaikan
Allah berfirman:
إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70)
- Mudah memaafkan kesalahan orang lain
Nabi ﷺ bersabda:
ارْحَمُوا تُرْحَمُوا، وَاغْفِرُوا يَغْفِرِ اللَّهُ لَكُمْ
“Berbelas kasihlah niscaya kalian akan dikasihi, dan berilah maaf niscaya Allah akan mengampuni kalian.” (HR. Ahmad: 6541, dishahihkan Al-Albani dalam AS-Silsilah Ash-Shahihah: 482)
Nabi ﷺ bersabda:
كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا، فَلَقِيَ اللَّهَ، فَتَجَاوَزَ عَنْهُ.
“Dahulu ada seorang laki-laki yang biasa memberikan pinjaman kepada orang-orang, lalu ia berkata kepada pelayannya: ‘Jika engkau mendatangi orang yang sedang kesulitan (untuk membayar), maka maafkanlah (bebaskanlah) dia, mudah-mudahan Allah mengampuni kita.’ Maka ketika ia bertemu dengan Allah (setelah wafat), Allah pun mengampuni dirinya.” (HR. Bukhari: 3480 dan Muslim: 1562)
Baca juga Artikel:
Menyingkap Rahasia Do’a Lailatul Qadar
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom




Yuk Gabung !