Inovasi, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dalam Pandangan Islam

Islam adalah agama yang sempurna. Islam tidak menutup diri dari inovasi dan perkembangan teknologi, hanya saja Islam memberi batasan-batasan sehingga manusia tetap berada di atas jalan keselamatan.

Bedakan Antara Urusan Agama dan Dunia

A. Agama (ibadah) : Tidak ada inovasi harus mengikuti tuntunan agama.

Rasulullah bersabda:

إِذَا كَانَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَشَأْنُكُمْ، وَإِذَا كَانَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِ دِيْنِكُمْ فَإِلَيَّ

“Apabila itu urusan dunia kalian maka itu terserah kalian, dan apabila urusan agama maka kepada saya.” (HR Ibnu Hibban 1/201)

Rasulullah bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim: 1718)

Sehingga tidak boleh seorangpun melakukan inovasi dalam hal ibadah. Inovasi dalam hal ibadah inilah yang dikenal dengan istilah bid’ah.

B. Dunia (non ibadah): Dimotivasi untuk melakukan innovasi dengan batasan agama.

Dalam hal ini Islam membuka diri. Islam bukanlah agama yang kolot. Diantara hal yang menunjukkan akan hal ini adalah:

– Anjuran menekuni bidang pekerjaan 

Nabi bersabda:

إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah cinta jika salah seorang diantaramu melakukan suatu amalan, ia benar-benar menekuninya.” (HR. Thabarani dalam al-Ausath: 891, ash-Shahihah: 1113)

Zaid diperintahkan Nabi belajar bahasa Yahudi 

Zaid bin Tsabit ia berkata

 قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ لَهُ كَلِمَاتٍ مِنْ كِتَابِ يَهُودَ قَالَ إِنِّي وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابِي قَالَ فَمَا مَرَّ بِي نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى تَعَلَّمْتُهُ لَهُ قَالَ فَلَمَّا تَعَلَّمْتُهُ كَانَ إِذَا كَتَبَ إِلَى يَهُودَ كَتَبْتُ إِلَيْهِمْ وَإِذَا كَتَبُوا إِلَيْهِ قَرَأْتُ لَهُ كِتَابَهُمْ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkanku mempelajari bahasa orang-orang Yahudi untuk beliau, beliau bersabda: “Demi Allah, aku tidak percaya Yahudi atas suratku.” Zaid berkata; “Setengah bulan berlalu hingga aku dapat menguasainya untuk beliau.” Saat aku mengusainya, apabila beliau hendak mengirim surat kepada orang-orang Yahudi, aku menulisnya kepada mereka dan apabila mereka mengirim surat kepada beliau, maka aku membacakan surat mereka untuk beliau.” (HR.Tirmidzi: 2639)

– Penggunaan Khatam (Stempel). Ketika Nabi hendak mengirim surat ke Romawi

– Strategi perang Khandaq (Parit). Nabi mengambilnya dari usulan Salman Al-Farisi. Strategi ini adalah inovasi Persia.

Batasan agama dalam menekuni dan innovasi urusan dunia

Sekali pun Islam tidak menutup diri dari perkembangan teknologi, akan tetapi Islam tetap memberi batasan-batasan tertentu, diantaranya:

1. Tidak boleh menelantarkan kewajiban agama

Allah benci orang yang pintar dunia tapi bodoh agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ يَبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِي جَوَّاظٍ سَخَابٍ فِي الأَسْوَاقِ جَيْفَةٌ بِاللَّيْلِ حِمَارٌ بِالنَّهَارِ عَالِمٌ بِالدُّنْيَا جَاهِلٌ بِالآخِرَةِ

“Allah sangat membenci orang ja’dzari (orang sombong), Jawwadz (rakus lagi pelit), suka teriak di pasar (bertengkar berebut hak), bangkai di malam hari (tidur sampai pagi), keledai di siang hari (karena yang dipikir hanya makan), pintar masalah dunia, namun bodoh masalah akhirat.” (HR. Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)

Islam juga melarang umatnya menjadi lilin kehidupan; menerangi orang lain namun membakar diri sendiri.

2. Pada sesuatu yang bermanfaat bukan membahayakan

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ

“Barang siapa di antara kalian yang sanggup memberi manfaat kepada saudaranya maka lakukanlah.” (HR. Muslim: 5859)

Jika membahayakan dan membawa kerusakan maka haram, karena:

– Allah melarang berbuat kerusakan. Allah berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya. (QS. Al-A’raf: 56)

– Bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya: 107)

Jika dua syarat ini tidak terpenuhi maka menjadi sesuatu yang tercela dan haram.

Sikap muslim terhadap perkembangan IPTEK

1. Meyakininya sebagai anugerah Allah

Semua penemuan yang ada dimuka bumi ini adalah anugerah Allah. Allah berfirman:

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bighal/bagal (peranakan kuda dengan keledai), dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS an-Nahl [16]: 8)

Di dalam ayat ini, Allah mengabarkan nikmat-Nya berupa kendaraan/alat transpor, yang terbagi menjadi dua macam:

Pertama: Jenis kendaraan yang disaksikan ketika turunnya ayat berupa kuda, keledai, dan bighal.

Kedua: Jenis kendaraan yang tidak mereka saksikan saat itu, tetapi Allah mengabarkan bahwa Dia akan menciptakannya setelah mereka. Hal ini telah terbukti sekarang dengan adanya alat-alat transpor yang ajaib seperti pesawat, kereta, mobil, dan sebagainya.

2. Mengambil sisi manfaat dan meninggalkan sisi bahayanya. 

Perkembangan teknologi tentu membawa sisi positif dan negatif. Maka seorang muslim harus bisa mengambil sisi positifnya saja.

3. Mempelajari ilmu agama sebagai filter perkembangan IPTEK

Allah Ta’ala berfirman,

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan.” (QS. Al-Baqarah: 257)

Seorang yang tidak mengenal Allah dan agama maka ia tidak akan bisa membedakan antara kegelapan dan cahaya, dia tidak akan bisa memfilter teknologi sehingga ia akan mengambil semua sisinya; positif dan negatif.

4. Bersemangat melakukan pengembangan dan menyebarkan kebaikan

Hal itu didasari pada:

– Mengikuti perintah agama. Allah berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَر

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. (QS. Ali Imran: 110)

Seorang muslim harus shalih dan muslih, tidak berbuat jahat dan mencegah dari kejahatan.

– Terdorong menjadi pribadi terbaik

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat untuk orang lain.” (HR. Daruquthni, Lihat ash-Shahihah: 426)

Beliau juga bersabda:

إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ المُسْلِمِ … هِيَ النَّخْلَةُ

“Sesungguhnya ada sebuah pohon yang keberkahannya seperti keberkahan seorang muslim….yaitu pohon kurma” (HR Al-Bukhari: 5444)

– Meresepi pahala jariyah (mengalir) 

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; Sedekah yang terus-menerus mengalir, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim: 104)

Semoga bermanfaat. Rabu, 16 Ramadhan 1445 H/ 27 Maret 2024 M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

 

 

 

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke LIPIA Jakarta Jurusan Syariah. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !