Kewajiban dan Hikmah Zakat Fitrah – Khutbah Jumat

إِنَّ الْـحَمْدَ الِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاٱللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ ٱاللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱاللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا ٱالَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ اٱلـحَدِيثِ كِتَابُ ٱللَّهِ، وَخَيْرَ ٱالهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي ٱالنَّارِ

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah

Di antara ibadah wajib yang ada dibulan Ramadhan adalah menunaikan zakat fitri. Fithr artinya adalah berbuka, sehingga zakat fithr artinya adalah zakat yang disebabkan kaum muslimin telah berbuka (selesai) dari puasa.

Zakat Fitri adalah sedekah yang telah ditentukan ukurannya, [dikeluarkan] atas nama setiap jiwa muslim sebelum salat Idulfitri, [untuk disalurkan] kepada golongan penerima yang tertentu.[1]

Sebagian ulama menamakan zakat ini dengan “zakat fithrah”, di mana kata fithrah berarti asal penciptaan. Dinamakan zakat fitrah karena zakat ini adalah zakat untuk badan dan jiwa.

Zakat Fitrah hukumnya wajib. Diantara dalilnya adalah hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, atas budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun orang dewasa dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar zakat tersebut ditunaikan sebelum orang-orang keluar menuju salat (Idulfitri).” (HR. Bukhari: 1503, Muslim: 984)

Kewajiban zakat fitrah ini bagi setiap muslim yang merasakan kehidupan dunia pada dua waktu yaitu akhir dari bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal. Jika tidak mendapati kedua waktu itu maka tidak ada kewajiban zakat fitrah baginya. Contoh kasus:

Jika seorang bayi dilahirkan beberapa saat sebelum matahari terbenam di hari terakhir dari bulan Ramadhan maka wajib bagi orang tuanya untuk membayarkan zakatnya. Karena ia mendapati kedua waktunya. Namun jika bayi tersebut lahir sesaat setelah azan maghrib, berarti telah masuk 1 Syawal, ia tidak mendapatkan hari terakhir dari Ramadhan maka tidak ada kewajiban zakat fitrah baginya.

Pada kasus kematian. Jika seorang meninggal dunia sesaat sebelum matahari terbenam di hari terakhir dari bulan Ramadhan maka tidak ada kewajiban bagi ahli warisnya untuk membayarkan zakatnya. Namun jika meninggal di malam takbiran maka wajib dibayarkan zakatnya.

Zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok yang biasa dimakan sehari-hari dan diserahkan kepada fakir dan miskin. Takaran yang diperintahkan oleh Nabi adalah 1 sha’ yang merupakan takaran di masa Nabi dahulu. Jika takaran itu diaplikasikan kepada beras kita di ahri ini, maka sekitar 2,5 kg- 3 kg atau sekitar 3,5 liter. Tidak mengapa lebih dari pada kurang.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah……

Zakat fitrah ini membawa hikmah yang sangat banyak. Di antaranya apa yang langsung disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam sebuah hadits. Dari Ibnu Abbas, ia berkata:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

“Rasulullah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat Id maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya sedekah diantara berbagai sedekah.” (HR. Abu Dawud: 1609, Ibnu Majah: 1827)

Ada 2 hikmah besar yang disebutkan oleh Nabi ﷺ di dalam hadits ini yaitu:

  1. Mensucikan orang yang berpuasa dari senda gurau dan kata-kata keji yang pernah ia lakukan selama berpuasa di bulan Ramadhan. Sehingga mudah-mudahan dengan zakat tersebut puasanya menjadi bersih, Allah memaafkannya dan diberi ganjaran pahala.
  2. Memberi makan orang-orang miskin. Agar mereka memiliki kecukupan di hari raya, sehingga mereka bisa merasakan kebahagiaan hari raya seperti kaum muslimin lainnya.

Ibadah ini mengajarkan bahwa sebagai seorang muslim wajib bagi kita memelihara hubungan dengan Allah sekaligus hubungan dengan sesama hamba-Nya. Menjaga perasaan orang-orang miskin, memasukkan kebahagiaan ke dalam hati mereka, karena memang kaum muslimin harus memiliki perasaan kasih sayang antar sesama. Saat momen bahagia, maka sama-sama bahagia dan saat momen sedih maka sama-sama sedih. Tidak boleh seorang muslim berbahagia sementara saudaranya bersedih. Karenanya Nabi ﷺ pernah bersabda:

لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ إِلَى جَنْبِهِ جَائِعٌ وَهُوَ يَعْلَمُ

“Bukanlah seorang mukmin (yang sempurna imannya), orang yang bermalam dalam keadaan kenyang, sementara tetangga di sampingnya kelaparan, padahal ia mengetahuinya.” (HR. Abu Ya’la: 2699, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’: 5382)

Oleh karenanya, jika kita memiliki kelapangan, maka barengilah zakat fitrah itu dengan sedekah lainnya; uang tunai, baju baru, kue lebaran, dst dari apa saja yang bisa memberikan kebahagiaan kepada saudara kita dari kalangan fakir miskin. Seorang muslim yang paling dicintai oleh Allah adalah seorang muslim yang di hari raya idul fitri ia bahagia dan juga bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Nabi ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ أَنْ تُدْخِلَ عَلَى أَخِيكَ الْمُؤْمِنِ سُرُورًا

“Amalan yang paling utama adalah engkau memasukkan rasa bahagia ke dalam hati saudaramu yang beriman.” (Shahih Al-Jami’: 1096)

Semoga dengan Ramadhan ini dan semua ibadah yang ada di dalamnya diantaranya zakat fitrah bisa menjadi momentum bagi kita untuk berubah menjadi pribadi yang  lebih baik. Menjadi hamba Allah yang bertauhid, dan taat, menjadi pribadi yang sabar, serta memiliki perhatian kepada sesama muslim, sikap cuek dan memikirkan diri sendiri, hanya memikirkan kebahagiaan sendiri tanpa ada kepedulian kepada orang lain bukanlah sikap seorang muslim. Semoga Allah terima amal ibadah kita semua. Amin


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَصَلَاتَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا يُقَرِّبُنَا إِلَيْكَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

———–

[1] Mu’jam Lughat al-Fuqaha, oleh Muhammad Rawwas Qal’aji dan Hamid Sadiq Qunaibi: 233. Majallah al-Buhuts al-Islamiyyah: 62/ 317. Dan lihat pula: Al-Binayah Syarh al-Hidayah: 3/481, dinukil dari artikel dorar.net dengan judul Zakatul Fithr

 

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud Arab Saudi cabang Asia Tenggara (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Mengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !