Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / KITABUT TAUHID BAB 18 – Nabi Tidak Dapat Memberi Hidayah Kecuali Dengan Kehendak Allah

KITABUT TAUHID BAB 18 – Nabi Tidak Dapat Memberi Hidayah Kecuali Dengan Kehendak Allah

Muslim man pray to god over bright background

Pada bab ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab akan menjelaskan bahwa wajibnya mengesakan Allah dalam hal hidayah yaitu meyakini bahwa hanya Allah satu-satunya yang dapat memberi hidayah. Nabi saja tidak dapat memberi hidayah, maka apalagi selain Nabi.

Firman Allah:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu (hai Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al qashash: 56)

Diriwayatkan dalam shahih Bukhari, dari Ibnu Musayyab, bahwa bapaknya berkata: “Ketika Abu Thalib akan meninggal dunia, maka datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan pada saat itu Abdullah bin Abi Umayyah, dan Abu Jahal ada disisinya, lalu Rasulullah bersabda kepadanya:

يَا عَمِّ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ

“Wahai pamanku, ucapkanlah “la ilaha illallah” kalimat yang dapat aku jadikan bukti untukmu dihadapan Allah”.

Tetapi Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Jahal berkata kepada Abu Thalib: “Apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib? Kemudian Rasulullah mengulangi sabdanya lagi, dan mereka berduapun mengulangi kata-katanya pula. Maka ucapan terakhir yang dikatakan oleh Abu Thalib adalah: bahwa ia tetap masih berada pada agamanya Abdul Muthalib, dan dia menolak untuk mengucapkan kalimat: “la ilaha illallah”, kemudian Rasulullah bersabda: “sungguh akan aku mintakan ampun untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang”, lalu Allah menurunkan firman-Nya:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tidak layak bagi seorang Nabi serta orang-orang yang beriman memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik.” (QS. Al Bara’ah: 113).

Dan berkaitan dengan Abu Thalib, Allah menurunkan firman-Nya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu (hai Muhammad tak sanggup memberikan hidayah (petunjuk) kepada orang-orang yang kamu cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al Qashash: 56)

Kandungan bab ini:

1. Penjelasan tentang ayat 56 surat Al Qashash.
2. Penjelasan tentang ayat 113 surat Al Bara’ah.
3. Masalah yang sangat penting, yaitu penjelasan tentang sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Ucapkanlah kalimat la ilaha illallah”, berbeda dengan apa yang difahami oleh orang-orang yang mengaku dirinya berilmu.
4. Abu Jahal dan kawan-kawannya mengerti maksud Rasulullah ketika beliau masuk dan berkata kepada pamannya: “ucapkanlah kalimat la ilaha illallah”, oleh karena itu, celakalah orang yang pemahamannya tentang asas utama Islam ini lebih rendah dari pada Abu Jahal.
5. Kesungguhan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam berupaya untuk mengislamkan pamannya.
6. Bantahan terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa Abdul Muthalib dan leluhurnya itu beragama Islam.
7. Permintaan ampun Rasulullah untuk Abu Thalib tidak di kabulkan, ia tidak diampuni, bahkan beliau dilarang memintakan ampun untuknya.
8. Bahayanya berkawan dengan orang-orang berpikiran dan berprilaku jahat.
9. Bahayanya mengagung-agungkan para leluhur dan orang-orang terkemuka.
10. “Nama besar” mereka inilah yang dijadikan oleh orang-orang jahiliyah sebagai tolok ukur kebenaran yang mesti dianut.
11. Hadits di atas mengandung bukti bahwa amal seseorang itu yang dianggap adalah di akhir hidupnya; sebab jika Abu Thalib mau mengucapkan kalimat tauhid, maka pasti akan berguna bagi dirinya di hadapan Allah.
12. Perlu direnungkan, betapa beratnya hati orang-orang yang sesat itu untuk menerima tauhid, karena dianggap sebagai sesuatu yang tak bisa diterima oleh akal pikiran mereka; sebab dalam kisah di atas disebutkan bahwa mereka tidak menyerang Abu Thalib kecuali supaya menolak untuk mengucapkan  kalimat tauhid, padahal Nabi sudah berusaha semaksimal mungkin, dan berulang kali memintanya untuk mengucapkannya. Dan karena kalimat tauhid itu memiliki makna yang jelas dan konsekwensi yang besar, maka cukuplah bagi mereka dengan menolak untuk mengucapkannya.

=============================

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin rahimahullah berkata : Bab ini sejenis dengan bab yang sebelumnya, apabila tidak ada seorang pun yang mampu memberikan manfaat kepada orang lain dengan syafa’at dan menghindarkan dari adzab, demikian pula tidak ada seorang pun yang mampu memberikan hidayah kepada orang lain sehingga ia melakukan apa yang diperintahkan Allah. (Al-Qaulul Mufid: 1/351)

Macam-macam hidayah

Hidayah terbagi menjadi dua, yaitu

Pertama, hidayatul bayan yaitu petunjuk berupa keterangan dan ilmu agama. Hidayah ini bersifat umum, semua manusia memiliki kesempatan untuk mendapatkan dan memberikan hidayah ini. Semisal seorang da’i yang menjelaskan perkara agama, maka dia telah memberi hidayah bayan. Karenanya Allah berfirman kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam :

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura: 52)

Kedua, hidayut taufiq yaitu hidayah dari Allah kepada hambanya untuk menerima kebenaran, memeluk islam dan beriman. Hidayah ini murni milik Allah. Tidak ada seorang makhluk pun yang dapat memberikan hidayah ini. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad berkaitan dengan Abu Thalib:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashash: 56)

Lihat pembahasannya di kitab Daf’ul Idhthirab Syaikh Asy-Syinqithi hal. 9-11

Yang dinafikan oleh Allah dalam surat Al-Qashash: 56 di atas adalah hidayah taufiq.

Hidayah Dari Allah sedangkan sebab dari hamba

Hidayah di tangan Allah. Dialah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki. Allah berfirman:

فَرِيقًا هَدَى وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمْ الضَّلالَةُ

Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. (QS. Al-A’raf: 30)

Allah berfirman:

ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemberi petunjuk pun. (QS. Az-Zumar: 24)

Memang hidayah dan kesesatan di tangan Allah, namun sebab dari hidayah dan kesesatan itu berasal dari usaha manusia. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

Allah tabaraka wa ta’ala hanya akan memberi hidayah kepada yang pantas menerima hidayah dan menyesatkan yang pantas untuk disesatkan. Allah berfirman:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. (QS. Ash-Shaf: 5)

Allah juga berfirman:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظّاً مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya. (QS. Al-Maidah: 13)

Allah menjelaskan bahwa sebab Allah menyesatkan orang yang sesat itu adalah karena sebab dari hamba itu sendiri.

Lihat: https://www.google.com/amp/s/islamqa.info/amp/ar/answers/220690

Cukuplah kita mengambil pelajaran dari kisah perjalanan panjang Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu dalam mengapai hidayah.

https://www.google.com/amp/s/islamqa.info/amp/ar/answers/88651

Sebab-sebab hidayah

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan : Hidayah memiliki sebab-sebab, diantaranya:

1. Berdo’a dan bersungguh-sungguh memintanya, Allah berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (QS. Ghafir: 60)

Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata dari Allah bahwa Ia berfirman:

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

Hai hamba-Ku, kamu sekalian berada dalam kesesatan, kecuali orang yang telah Aku beri petunjuk. Oleh karena itu, mohonlah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya kepadamu. (HR. Muslim: 2577)

2. Memperbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, Allah berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lurus. (QS. Al-Isra’: 9)

 قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. (QS. Fushshilat: 44)

3. Perhatian dengan sunnah Nabi dan sejarah hidup beliau shallallahu alaihi wasallam
4. Berteman dengan orang-orang shalih
5. Hadir di majelis ilmu.

Lihat lengkapnya di: Min Asbabil Hidayah

Baca juga:

Sembilan Sebab Hidayah

Penghalang hidayah

Dari kisah Abu Thalib di atas, ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik berkaitan dengan sebab terhalang dari hidayah Allah, diantaranya:

1. Kawan yang buruk

Barang siapa yang berkawan dengan orang-orang buruk, maka ia akan merasakan penyesalan yang besar dan menyakitkan. Allah berfirman mengabarkan penyesalan itu:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ، يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ، لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (QS. Al-Furqan: 27-29)

Penunjuk jalan yang buruk pasti akan menunjukkan jalan yang buruk pula, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang bijak dahulu:

وَمَنْ يَكُنِ الْغُرَابُ لَهُ دَلِيْلًا ، يَمُرُّ بِهِ عَلَى جِيَفِ الْكِلَابِ

Barangsiapa yang menjadikan burung gagak sebagai penunjuk jalannya. Pasti ia akan mengantarkannya melewati bangkai-bangkai anjing. (al-Mustathraf 1/79)

2. Taklid buta terhadap leluhur

Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah: 170)

3. Kedudukan dan nama besar

Allah berfirman:

وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (QS. Az-Zukhruf: 23)

Allah berfirman tentang kaum Nabi Nuh:

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”. (QS. Hud: 27)

Kesimpulan

Wajib mentauhidkan Allah dalam hidayah, dengan meyakini bahwa hidayah hanya ada di tangan Allah. Oleh sebab itu, mintalah hidayah kepada Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan hidayah kepada orang lain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saja yang merupakan manusia yang paling mulia kedudukannya disisi Allah saja tidak dapat memberikan hidayah kepada pamannya.

Selesai disusun pada Kamis, 11 Shafar 1441H/10 Oktober 2019M, 17:30WIB, dirumah mertua tercinta, Jatimurni.

Penulis: Zahir Al-Minangkabawi
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom

Mengingkari nama dan sifat Allah

 

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA), Radio Rodja, Cileungsi.

Check Also

KITABUT TAUHID BAB 27 – Nusyrah (Menghilangkan Sihir dengan Sihir)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, Bab Nusyrah, diriwayatkan dari Jabir, bahwa Rasulullah shallallahu …

Tulis Komentar

WhatsApp chat