Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / KITABUT TAUHID BAB 30: Menisbatkan Turunnya Hujan Kepada Bintang

KITABUT TAUHID BAB 30: Menisbatkan Turunnya Hujan Kepada Bintang

Firman Allah:

وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ

“Dan kalian membalas rizki (yang telah dikaruniakan Allah) kepadamu dengan mengatakan perkataan yang tidak benar.” (QS. Al Waqi’ah: 82).

Diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy’ari bahwa Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

أَرْبَعٌ فِيْ أُمَّتِيْ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُهُنَّ: الفَخْرُ بِالأَحْسَابِ، وَالطَّعْنُ فِيْ الأَنْسَابِ، وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُوْمِ، وَالنِّيَاحَةُ عَلَى المَيِّتِ، وَقَالَ: النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

“Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: membangga-banggakan kebesaran leluhurnya, mencela keturunan, mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan meratapi orang mati”, lalu beliau bersabda: “wanita yang meratapi orang mati bila mati sebelum ia bertubat maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal.” (HR. Muslim: 934)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Khalid ia berkata: Rasulullah shallahu alaihi wasallam mengimami kami pada shalat subuh di Hudaibiyah setelah semalaman turun hujan, ketika usai melaksanakan shalat, beliau menghadap kepada jamaah dan bersabda:

هَلْ تَدْرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوْا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: أَصْبَحَ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

“Tahukah kalian apakah yang difirmankan oleh Rabb pada kalian?  Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”, lalu beliau bersabda: “Dia berfirman: “pagi ini ada di antara hamba-hamba-Ku yang beriman dan ada pula yang kafir, adapun orang yang mengatakan: hujan turun berkat karunia dan rahmat Allah, maka ia telah beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang, sedangkan orang yang mengatakan: hujan turun karena bintang ini dan bintang itu, maka ia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang”.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas yang maknanya yang antara lain disebutkan demikian:

قَالَ بَعْضُهُمْ: لَقَدْ صَدَقَ نَوْءُ كَذَا وَكَذَا، فَأَنْزَلَ اللهُ هَذِهِ الآيَةَ:  فَلَآ أُقْسِمُ بِمَوَٰقِعِ ٱلنُّجُومِ   إلى قوله وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ

“… Ada di antara mereka berkata: ‘sungguh, telah benar bintang ini, atau bintang itu’, sehingga Allah menurunkan firman-Nya: “Maka aku bersumpah dengan tempat-tempat peredaran bintang” sampai kepada firman-Nya:” Dan kamu membalas rizki (yang telah dikaruniakan Allah) kepadamu dengan perkataan yang tidak benar.

Kandungan bab ini:

1. Penjelasan tentang maksud ayat dalam surat Al Waqi’ah.
2. Menyebutkan adanya empat perkara yang termasuk perbuatan jahiliyah.
3. Pernyataan bahwa salah satu di antaranya termasuk perbuatan kufur   (yaitu menisbatkan turunnya hujan kepada bintang tertentu).
4. Kufur itu ada yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.
5. Di antara dalilnya adalah firman Allah yang disabdakan oleh Nabi dalam hadits qudsinya: “Pagi ini, di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir …” disebabkan turunnya ni’mat hujan.
6. Perlu pemahaman yang mendalam tentang iman dalam kasus tersebut.
7. Begitu juga tentang kufur dalam kasus tersebut.
8. Di antara pengertian kufur, adalah ucapan salah seorang dari mereka: “sungguh telah benar bintang ini atau bintang itu.”
9. Metode pengajaran kepada orang yang tidak mengerti masalah dengan melontarkan suatu pertanyaan, seperti sabda beliau: “tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Rabb kepada kalian?
10. Ancaman bagi wanita yang meratapi orang mati.

==================================

Munasabah bab dengan Kitabut Tauhid

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Ketika hukum menisbatkan turunnya hujan kepada bintang dengan keyakinan bahwa bintang itu memberikan pengaruh terhadap turunnya hujan adalah syirik besar seperti keyakinan bahwa orang-orang mati dan tidak hadir dapat memberikan manfaat atau menolak mudharat, atau hukumnya syirik kecil yaitu apabila ia tidak meyakini bahwa bintang itu dapat memberi pengaruh hanya menjadi sebab saja dari turunnya hujan, maka cocok sekali penulis membuat bab ini dalam Kitabut Tauhid untuk memperingatkan dari bahaya hal itu.” (Al-Mulakhkhash fi Syarh Kitabit Tauhid: 241)

Hukum meminta hujan kepada bintang

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, hukum meminta hujan kepada bintang terbagi menjadi dua macam:

Pertama, syirik besar dan ini ada dua gambaran:

1. Seorang berdo’a kepada bintang meminta hujan, seperti dia mengatakan; “Wahai bintang anu, berilah kami hujan,” atau ucapan yang semisal, maka ini adalah syirik besar. Karena dia berdo’a kepada selain Allah sedang berdo’a kepada selain Allah termasuk syirik besar. Allah berfirman:

وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. (QS. Al-Mu’minun: 117)

Allah juga berfirman:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS. Al-Jin: 18)

Allah juga berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Yunus: 106)

2. Menisbatkan turunnya hujan kepada bintang-bintang ini, dengan keyakinan bahwasanya bintang-bintang itulah fa’il (pelaku yang mendatangkan kebaikan) bukan Allah meskipun tidak berdo’a kepadanya. Ini adalah bentuk syirik besar pada rububiyah Allah karena dia tidak berdoa akan tetapi ia menyakini bahwa bintang-bintang tersebut yang melakukan dan memenuhi kebutuhan.

Kedua, syirik kecil yaitu ia menjadikan bintang-bintang ini sebagai sebab tapi ia tetap meyakini bahwa hanya Allah yang merupakan Pencipa dan Pelaku. Karena setiap orang yang menjadikan sebab sesatu yang tidak dijadikan Allah sebagai sebab baik melalui Wahyu atau takdirnya maka dia jatuh pada kesyirikan kecil. (Al-Qaulul Mufid: 2/18-19)

Empat perkara Jahiliyah

Diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy’ari bahwa Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

أَرْبَعٌ فِيْ أُمَّتِيْ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُهُنَّ: الفَخْرُ بِالأَحْسَابِ، وَالطَّعْنُ فِيْ الأَنْسَابِ، وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُوْمِ، وَالنِّيَاحَةُ عَلَى المَيِّتِ، وَقَالَ: النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

“Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: membangga-banggakan kebesaran leluhurnya, mencela keturunan, mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan meratapi orang mati”, lalu beliau bersabda: “wanita yang meratapi orang mati bila mati sebelum ia bertubat maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal.” (HR. Muslim: 934)

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: Jahiliyah di sini adalah zaman sebelum diutusnya Nabi shallallahu alaihi wasallam, dinamakan demikian karena parahnya kebodohan mereka, dan setiap apa yang menyelisihi ajaran Rasulullah shallahu alaihi wasallam maka itu adalah Jahiliyah. (Al-Mulakhkhash fi Syarh Kitabit Tauhid: 243)

1. Bangga dengan keturunan

Imam al-Munawi rahimahullah menjelaskan dalam Faidhul Qadir: “Sabda beliau ‘bangga dengan keturunan’, yaitu bangga dengan nenek moyang, merasa besar dengan keutamaan dan kedudukan mereka yang sudah berlalu, jelas ini adalah sebuah kebodohan. Tidak ada kebanggaan kecuali dengan ketaatan dan tidak ada kemuliaan bagi seorang kecuali dengan beriman kepada Allah.”

Oleh karena itu tinggalkanlah perangai jahiliyyah tersebut, bagun kemuliaan diri dengan ketaatan kita sendiri bukan dengan membanggakan bapak dan nenek moyang. Orang-orang Arab mengatakan:

إِنَّ الفَتَى مَنْ يَقُوْلُ هَاأَنَذَا ، لَيْسَ الفَتَى مَنْ يَقُوْلُ كَانَ أَبِي

Pemuda sejati ialah yang berkata: “Inilah aku”, bukan yang mengatakan: “Bapakku dahulu begini dan begitu.”

2. Mencela keturunan orang lain

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata :

التنقص لأنساب الناس وعيبها على قصد الاحتقار لهم والذم ، أما إن كان من باب الخبر فلان من بني تميم، ومن أوصافهم كذا.. أو من قحطان أو من قريش أو من بني هاشم.. يخبر عن أوصافهم من غير طعن في أنسابهم. فذلك ليس من الطعن في الأنساب

Ath-Tha’nu fin nasab artinya mengurangi dan merendahkan nasab orang lain serta menyebutkan aibnya dengan maksud untuk menghina dan mencela. Adapun jika dimaksudkan hanya sebagai bentuk pengkhabaran seperti ucapan fulan dari Bani Tamim,diantara sifat mereka begini dan begini, atau fulan dari Qahthan,Quraisy, atau dari Bani Hasyim, kemudian dia beritakan mengenai sifat-sifat mereka tanpa bermaksud mencela nasab mereka maka hal ini tidak termasuk dalam ath-Tha’nu fin nasab.” Lihat:

Ma’nal Kufri fi ath-Tha’n fil Ansab

Mencela nasab mencakup dua makna;
1. Menafikan nasab seseorang dari bapaknya atau sukunya.
2. Mencaci bapaknya atau sukunya serta menyebutkan aib-aib mereka.

3. Menisbatkan turunnya hujan kepada bintang

Seorang menisbatkan turunnya hujan kepada bintang-bintang sementara ia berkeyakinan bahwa Allah yang merupakan pelaku kebaikan dan keburukan. Adapun kalau dia meyakini bahwa bintang itulah pelaku yang menurunkan hujan maka dia jatuh pada syirik besar yang mengeluarkan dari agama.

4. An-Niyahah

An-Niyahah adalah menangisi mayit dengan suara keras dan menghitung dan menyebut-nyebut kebaikannya.

An-Niyahah disebut sebagai perangai jahiliyah (kebodohan) karena:
1. Orang yang berniyahah hanya akan bertambah sedih dan menambah adzab
2. Bentuk kemarahan dan protes terhadap qadha dan taqdir Allah.
3. Membangkitkan kesedihan orang lain
4. Tidak dapat menolak qadha’ dan merubah keadaan. (Al-Qaulul Mufid: 2/24-25)

Menisbatkan hujan pada bintang

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, Penisbatan hujan keada Bintang terbagi menjadi tiga macam:
1. Nisbat ijad, ini hukumnya syirik besar
2. Nisbat sabab, ini hukumnya syirik kecil
3. Nisbat waqt, ini hukumnya boleh. Yang dia maksud dari ucapannya “kita diberi hujan karena Bintang ini” yaitu telah datang hujan pada waktu bintang (bulan) ini. (Al-Qaulul Mufid: 2/31)

Sehingga dari penjelasan ini boleh kita mengatakan misalnya telah turun bulan Januari maksudnya yaitu di waktu bulan Januari bukan bulan Januarinya yang menurunkan hujan.

Selesai ditulis di rumah, Kranggan Bekasi, Rabu 14 Rabiul Awal 1441/ 11 Nov 2019

Penulis: Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA), Radio Rodja, Cileungsi.

Check Also

KITABUT TAUHID BAB 29 – Ilmu Nujum (Perbintangan)

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Qatadah bahwa ia berkata: خَلَقَ اللهُ هَذِهِ النُّجُوْمَ …

Tulis Komentar

WhatsApp chat