Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / KITABUT TAUHID BAB 56 – Tidak Meminta Dengan Menyebut Wajah Allah Kecuali Surga

KITABUT TAUHID BAB 56 – Tidak Meminta Dengan Menyebut Wajah Allah Kecuali Surga

Jabir radhiyallahu anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لاَ يُسْأَلُ بِوَجْهِ اللهِ إِلاَّ الجَنَّةُ

Tidak boleh meminta dengan menyebut nama Allah kecuali surga.” (HR. Abu Dawud)

Kandungan bab ini:

1. Larangan memohon sesuatu dengan menyebut nama Allah kecuali apabila yang dimohon itu adalah surga. [Hal ini, demi mengagungkan Allah serta memuliakan Asma dan Sifat-Nya.

2. Menetapkan kebenaran adanya Wajah bagi Allah (sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya).

_____________________________

Munasabah bab dengan Kitabut Tauhid

Wajib memuliakan nama dan sifat Allah, sehingga tidak boleh meminta sesuatu dari tujuan duniawi dengan Wajah-Nya yang mulia ini. Akan tetapi, jika memang ingin meminta dengan menyebut wajah Allah maka hendaknya meminta sesuatu yang paling berharga dan tujuan yang paling besar yaitu surga. Inilah termasuk hak-hak tauhid. (Lihat Al-Mulakhkhash fi Syarh Kitabit Tauhid: 374)

Makna larangan dalam hadits

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata (Al-Qaulul Mufid: 2/356-357), sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam “Tidak boleh meminta dengan menyebut nama Allah kecuali surga,” diperselisihkan mengenai maksudnya menjadi dua pendapat:

Pertama, maksudnya yaitu: Janganlah engkau meminta sesuatu kepada seorang pun dari makhluk dengan menyebut wajah Allah. Karena tidak boleh meminta dengan menyebut wajah Allah kecuali surga. Sedangkan makhluk tidak ada yang mampu memberi surga. Jadi tidak boleh meminta kepada mereka secara muthlak dengan menyebut wajah Allah. Secara zhahir bahwasanya penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) memilih pendapat ini, karena itulah beliau menyebutkan hadits ini setelah bab tidak boleh menolak permintaan seorang yang meminta dengan menyebut Allah.

Kedua, maksudnya jika engkau meminta kepada Allah surga dan segala sesuatu yang merupakan kelaziman untuk dapat masuk kedalamnya maka tidak mengapa engkau meminta dengan menyebut wajah Allah. Sedangkan apabila engkau meminta sesuatu dari urusan dunia maka tidak boleh dengan menyebut wajah Allah. Karena wajah Allah sangat agung tidak pantas digunakan untuk meminta perkara duniawi.

Urusan akhirat dianjurkan untuk meminta dengan menyebut nama Allah, seperti engkau berdo’a: Aku meminta kepada-Mu dengan wajah-Mu, agar Engkau menjauhkanku dari neraka. Nabi hallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dengan menyebut nama Allah ketika turun firman Allah QS. Al-An’am: 65:

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىٰ أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّن فَوْقِكُمْ

Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu…”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a:

أغوذ بوجهك

“Aku berlindung dengan wajah-Mu.”

أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ

..atau dari bawah kakimu,..”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a:

أغوذ بوجهك

“Aku berlindung dengan wajah-Mu.”

أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُم بَأْسَ بَعْضٍ

….atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain…

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a:

هذا أهون وأيسر

Ini lebih ringan dan lebih mudah..(HR. Bukhari: 4/385)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa keduanya dari makna ini dapat dibenarkan. (Al-Qaulul Mufid: 2357)

Ahlussunnah waljamaah menetapkan wajah Allah

Sebagaimana konsep akidah ahlussunnah waljamaah antara ghuluw (berlebihan) dan tafrith (meremehkan), maka Ahlussunnah menetapkan bahwa Allah memiliki wajah namun wajah Allah tersebut tidak serupa dengan wajah makhluk-Nya, wajah yang sesuai dengan keagungan Allah.

Penetapan bahwa Allah memiliki wajah ini merupakan sebuah keyakinan yang ditetapkan berdasarkan al-Qur’an, sunnah dan ijma’. (Al-Qaulul Mufid: 2/357)

Bahkan nikmat yang paling tinggi di surga nanti adalah dapat melihat wajah-Nya. Allah berfirman:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus: 26)

Dan yang dimaksud dengan tambahan dalam ayat ini puncaknya adalah melihat wajah Allah. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/262)

Memandang wajah Allah dan sekaligus dipandang oleh-Nya adalah puncak kenikmatan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadits pernah bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

Apabila penduduk surga telah masuk ke surga, Allah berkata: “Apakah kalian menginginkan tambahan sesuatu dari-Ku?” Mereka menjawab: “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan Engkau selamatkan kami dari neraka?” Lalu Allah membuka hijab-Nya, maka tidak ada satu pun pemberian yang lebih mereka cintai dari melihat wajah Allah. (HR. Muslim: 181)

Baca juga Artikel:

KITABUT TAUHID BAB 55 – Larangan Menolak Permintaan Orang Yang Menyebut Nama Allah

Ditulis di Jatimurni Bekasi, Kamis 14 Jumadal Ula 1441H/ 9 Januari 2020M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja untuk dapatkan artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Syarhus Sunnah – Menetapkan Sifat-Nya Tanpa Tamtsil Dan Ta’thil

Pada bagian ini Imam Al-Muzani rahimahullah memaparkan wajibnya kita mengingat Allah, bersyukur, dan menetapkan sifat-Nya …

Tulis Komentar

WhatsApp chat