KITALAH YANG BERTANGGUNG JAWAB

“Tidak mungkin islam lenyap dari seluruh dunia, tapi tidak mustahil hapus dari bumi Indonesia. Siapakah yang bertanggung jawab?” (KH. Ahmad Dahlan)

Indonesia negeri tumpah darah nenek moyang kita. Tanah kelahiran serta tumbuh kembang kita adalah  negeri yang memiliki nama besar. Kita patut sedikit berbangga dengan negri ini yang dikenal oleh dunia sebagai negeri islam terbesar.

Disini syi’ar-syi’ar agama ini tampak dengan jelas, umat Islam bebas dan leluasa menjalankan syari’at tanpa ada tekanan dan pelarangan. Masjid-masjid serta surau-surau tersebar dan tak terhitung banyaknya. Suara azdan bersahut-sahutan menandakan besarnya agama Islam di negeri ini.

Namun disamping kebanggaan sebagai negeri Islam terbesar itu, ada satu hal yang harus kita renungkan bersama, karena semakin tinggi sebuah pohon maka semakin kencang pula angin yang akan menerpanya. Semua mata tentu akan memandang sesuatu yang besar dan tinggi, sedangkan tidak semua mata itu berasal dari kawan.

Perlu diingat kembali bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah mengabarkan serta memperingatkan kita semua umat Islam perihal permusuhan yang telah dipancangkan oleh mereka yang tidak senang dengan Islam dari kaum Yahudi, Nasrani dan yang lainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya) :

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka” (QS. Al-Baqarah : 120)

“Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu.” (QS. Al-Baqarah : 217)

Maka dari berita yang tidak diragukan lagi kebenarannya inilah, bisa kita pahami bahwa sesungguhnya negeri kita Indonesia ini berada diambang bahaya besar. Karena kenyataan bahwa ia merupakan negeri Islam terbesar itulah yang menyebabkan ia menjadi target utama musuh-musuh islam.

Berbagai cara dan beragam upaya dikerahkan untuk meluluhlantakkan Islam di negeri ini, bahkan benih-benihnya telah disemai sejak masa colonial Belanda masuk ke Nusantara dengan semangat gold, glory, dan gospel-nya.

Kalau dahulu misi akhir mereka adalah bagaimana berupaya mengubah status agama penduduk negri ini dari Islam menjadi non islam, serta bagaimana caranya supaya bisa menjauhkan umat islam dari Al-Qur’an, maka pada hari ini misi mereka tidak lagi begitu. Misi mereka jauh lebih halus dari sebelumnya. Mereka mengatakan :

“Biarkan saja umat Islam tetap seperti itu. Status di KTP mereka masih Islam. Biarkan pula mereka membaca Al-Qur’an. Namun apabila gaya hidup mereka, pola pikir mereka sudah dipalingkan dari ajaran Islam itu sendiri, mereka membaca Al-Qu’an tapi tak paham apa yang mereka baca, maka itu sudah cukup bagi kita.”

Maka tidak heran kalau dahulu para misionaris banyak dan tersebar dimana-mana, sedangkan sekarang sudah berganti dengan wujud lain. Media massa Televisi ,internet, HP, Radio, Koran, Majalah,dan lain sebagainya itulah yang menjadi senjata mereka pada zaman ini.

Lihat pengaruh media-media tersebut terhadap umat islam negeri ini. Kerusakan serta kebobrokan moral masyarakat (terlebih lagi para pemuda) sudah cukup sebagai bukti keberhasilan mereka, belum lagi kerusakan dalam masalah keyakinan dan prinsip hidup umat islam yang semakin hari semakin mencemaskan.

Menyedihkan memang, pada hari ini banyak orang yang mengaku beragama islam, namun gaya hidup mereka: pakaian, cara bergaul, cara berpikir,sangat jauh sekali dari islam. Seandainya kita berada di tempat-tempat umum semisal pasar, stasiun, bandara dll,niscaya sangat sulit sekali untuk membedakan mana muslim mana kafir karena sawah sudah rata dengan pematang, sehingga tidah bisa dibedakan.

Lebih menyedihkan lagi. Disaat genting seperti ini para pemuda penuntut ilmu masih saja larut bersama FB, WA, Twitter-nya. Para da’i, ustadz, kiay, dan orang-orang yang seharusnya menjadi ujung tombak dalam melindungi agama ini masih saja sibuk saling “cakar-cakaran, sikut-sikutan” satu dengan yang lainnya, padahal musuh kita hampir saja merampungkan misi mereka.

Memang selama abad ke-17 dan 18, tanah air kita kaya dengan sejarah pahlawan-pahlawan islam, baik dari kalangan raja-raja maupun dari kalangan para ulama. Bahkan sampai pada akhir abad ke-19, masih tetap ada perlawanan menantang penjajahan untuk membela agama dan negeri ini.

Sebut saja mulai dari : Sultan Hassanuddin dari Makassar, Raja Haji dari Bugis, Sultan Khairun, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar Johan Pahlawan, Tengku Cik Di Tiro, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Hos. Cokroaminoto, Muhammad Natsir, Buya Hamka , dan yang lainnya, merekalah yang berjibaku berusaha sekuat tenaga memperjuangkan, melindungi serta membela agama islam ini.

Namun sekarang mereka sudah tiada, mereka sudah lama meninggalkan dunia dan tak akan mungkin kembali lagi memimpin kita untuk melindungi dan membentengi agama islam ini serta kaum muslimin dari gempuran musuh. Kalau seandainya – kita berlindung kepada Allah dari hal itu dan berdoa semoga Allah masih senantiasa menjaga agama ini – apa yang dikatakan oleh KH. Ahmad Dahlan diatas benar-benar terjadi, Islam hapus dari bumi Indonesia, tidak ada yang tersisa selain namanya saja sedangkan ajarannya telah sirna, lantas siapakah yang bertanggung jawab?

Ma’had Al-Furqon al-Islami, Gresik, 2 Juni 2016 

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Check Also
Close
Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !