Beranda / Khutbah Jum'at / Meneladani Nabi Ibrahim Dalam Mentauhidkan Allah Pada Cinta, Harap dan Takut – Khuthbah Idul Adha 1441H

Meneladani Nabi Ibrahim Dalam Mentauhidkan Allah Pada Cinta, Harap dan Takut – Khuthbah Idul Adha 1441H

Nabi Ibrahim adalah teladan hidup manusia. Allah memerintahkan kita untuk meneladaninya dalam segala hal di antaranya dalam perasaan cinta, harap dan takut.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اللّهُ أَكْبَرُ كُلَّمَا صَلَّى مَصْلٍّ وَكَبَّرَ وَاللّهُ أَكْبَرُ كُلَّمَا صَامَ صَائِمٌ وَأَفْطَرَ, اللّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالحَمْدُ لله كَثِيرًا وَسُبْحَان الله بُكْرَة وَأَصِيْلا

اللهم لَك الْحَمْدُ كُلُّهُ، وَلَك الْمُلْكُ كُلُّهُ، وَبِيَدِك الْخَيْرُ كُلُّهُ، وَإِلَيْك يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ، عَلَانِيَتُهُ وَسِرُّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أنت الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ؛ رَبٌّ رَحِيمٌ عَفُوٌّ كَرِيمٌ، يَغْفِرُ الذُّنُوبَ، وَيَسْتُرُ الْعُيُوبَ. يُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، وَيُضَاعِفُ الْحَسَنَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ؛ النَّبِيُّ الْأَمِينُ، وَالنَّاصِحُ الْمُبِينُ. رَحْمَةٌ لِلْعَالَمِينَ، وَحُجَّةٌ عَلَى الْخَلْقِ أَجْمَعِينَ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah kaum muslimin dan muslimat, sidang ‘id rahimakumullah…..

Mari kita tingkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan mengerjakan perintah-perintah Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Takwa adalah sebaik perbekalan kita menuju Allah ﷻ sebagaimana firman-Nya:

  وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (QS. Al-Baqarah: 197)

❀•◎•❀

Jama’ah kaum muslimin dan muslimat, sidang ‘id rahimakumullah…..

Para Nabi dan Rasul adalah orang-orang pilihan yang dijadikan oleh Allah ﷻ sebagai teladan bagi seluruh umat manusia. Dalam segala urusan, terutama dalam hal mewujudkan kewajiban terbesar seorang hamba sekaligus hak terbesar Allah ﷻ yaitu mentauhidkan-Nya.

Kita diperintahkan untuk meneladani dan mengikuti langkah hidup mereka agar dapat selamat dan tetap istiqamah di atas jalan kebenaran sebagaimana Allah ﷻ berfirman setelah menyebutkan kisah 18 orang Nabi:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90)

Jama’ah kaum muslimin dan muslimat, sidang ‘id rahimakumullah…..

Di antara Nabi yang diperintahkan secara khusus oleh Allah ﷻ untuk kita teladani adalah Khalilullah Nabi Ibrahim alaihissalam. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. An-Nahl: 120)

Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya. (QS. Al-Mumtahanah: 4)

❀•◎•❀

Jama’ah kaum muslimin dan muslimat, sidang ‘id rahimakumullah…..

Ibadah banyak jenisnya. Ada ibadah hati, lisan, anggota badan serta ibadah yang merupakan gabungan dari unsur-unsur tersebut. Semua ibadah harus diberikan kepada Allah ﷻ , itulah hakikat tauhid.

Oleh sebab itu, sebagaimana ibadah shalat, puasa, sedekah, kurban, yang semuanya kita berikan hanya untuk Allah ﷻ maka demikian pula halnya dengan perasaan cinta, harap dan takut kita, harus diikhlaskan kepada Allah ﷻ, karena tiga hal ini termasuk tiga ibadah hati yang paling besar sebagaimana firman Allah ﷻ tentang Nabi Zakariya dan keluarganya:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (QS. Al-Anbiya’: 90)

Dalam rangka meneladani Nabi Ibrahim alaihissalam, ada 4 peristiwa dalam sejarah kehidupan beliau yang patut kita renungkan terkait dengan mentauhidkan Allah ﷻ dalam cinta, harap dan takut.

❀•◎•❀

Pertama, Nabi Ibrahim dimusuhi oleh keluarga dan kaumnya

Sudah menjadi sunnatullah bagi setiap Nabi dan Rasul serta para pengikut mereka, diuji dengan banyak ujian dan dimusuhi oleh sebagian besar manusia. Allah ﷻ berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

Dan seperti itulah, telah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (QS. Al-Furqan: 31)

Itu pula yang terjadi pada Nabi Ibrahim, dakwah beliau mendapat penentangan yang besar. Tidak hanya dari kaumnya namun juga dari keluarga, ayah beliau adalah pemahat berhala yang tetap berada pada kekafiran.

Bahkan saking besarnya permusuhan dari kaumnya, mereka hendak membakar Nabi Ibrahim, namun Allah ﷻ menyelamatkan beliau sebagaimana yang diceritakan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya:

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ ، قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya’: 78-79)

Di sini, kita bisa mengambil pelajaran tentang sempurnanya tauhid Nabi Ibrahim dalam perasaan takut.

Penentangan dan gangguan yang menyakitkan dari kaumnya tersebut tidak menghalangi Nabi Ibrahim dalam menyampaikan kebenaran, karena satu-satunya yang ia takuti ialah Allah ﷻ bukan manusia. Beliau benar-benar merealisasikan firman Allah ﷻ:

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 175)

❀•◎•❀

Kedua, Nabi Ibrahim lama tidak memiliki anak

Nabi Ibrahim diuji dengan lama tidak memiliki anak. Bahkan disebutkan oleh para ulama, beliau baru beroleh anak ketika telah berusia 86 tahun. Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan:

 وَوَلَدَتْهُ وَلِإِبْرَاهِيمَ مِنَ العُمُرِ سِتٌّ وَثَمَانُونَ سَنَةً، قَبْلَ مَوِلِدِ إِسْحَاقَ بِثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً ، وَأَوْحَى اللّٰهُ إِلَى إِبْرَاهِيمَ يُبَشِّرُهُ بِإِسْحَاقَ مِنْ سَارَة ، فَخَرَّ سَاجِدًا لِلّٰهِ

“Hajar melahirkan Isma’il sedangkan Ibrahim saat itu telah berumur 86 tahun, 13 tahun sebelum kelahiran Ishaq. Allah mewahyukan kepada Ibrahim, memberikankan kabar gembira akan kelahiran Ishaq dari Sarah, sehingga ia pun tersungkur sujud kepada Allah .” (Al-Bidayah wa An-Nihayah: 1/192)

Makanya pantaslah ketika kabar gembira tentang kelahiran Ishaq itu tiba, membuat Ibrahim dan Sarah seolah tidak percaya, sampai-sampai Allah ﷻ berfirman tentang Sarah ketika kedatangan malaikat yang membawa kabar gembira itu:

فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ قَالُوا كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ ۖ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ

Kemudian isterinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul”. Mereka berkata: “Demikianlah Tuhanmu memfirmankan. Sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Adz-Dzariyat: 29-30)

Di sini, kita bisa mengambil pelajaran tentang sempurnanya tauhid Nabi Ibrahim dalam perasaan harap. Begitu lamanya Nabi Ibrahim bersabar dan tidak putus asa dalam penantiannya yang panjang karena harapannya tetap hidup dan bergantung satu-satunya kepada Allah ﷻ .

❀•◎•❀

Ketiga, Nabi Ibrahim diperintah untuk meninggalkan anak dan istrinya di lembah tidak berpenghuni.

Ketika Ismail lahir setelah penantian panjang selama puluhan tahun, pada saat itulah Allah ﷻ memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengantarkan dan meninggalkan isteri serta anaknya yang masih bayi tersebut di sebuah lembah yang sangat jauh dari negerinya dan tak berpenghuni.

Bahkan, lebih parah dari itu, ternyata lembah tersebut tidak ada air dan tumbuhannya, hanya ada bebatuan cadas dan tanah yang kering kerontang.

Ujian yang sangat berat, tetapi Nabi Ibrahim tunduk, patuh dan melaksanakan perintah tersebut dengan penuh ketaatan, seraya berdoa:

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim: 37)

Di sini, kita bisa mengambil pelajaran tentang sempurnanya tauhid Nabi Ibrahim dalam perasaan cinta serta sempurnanya harapan dan keyakinan beliau kepada Allah ﷻ . Ia tetap tunduk patuh terhadap perintah berat tersebut meski anak dan istrinya itu adalah manusia-manusia yang di cintai.

❀•◎•❀

Keempat, Diperintah menyembelih anaknya

Setelah penantian panjang, dan setelah anak itu harus ditinggalkan di lembah yang jauh dan tidak berpenghuni serta Allah ﷻ takdirkan anak itu tumbuh besar dan remaja.

Pada saat itulah, kembali ujian itu datang untuk kesekian kalinya kepada Ibrahim yaitu menyembelih sang buah hati tersebut. Allah ﷻ berfirman mengisahkan:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka bagaimana pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; in syaa Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shofat: 102 )

Ujian yang sangat-sangat berat dan bertubi-tubi, namun Ibrahim tetap melaksanakannya. Di sini, kita bisa mengambil pelajaran sekali lagi tentang sempurnanya tauhid Nabi Ibrahim dalam perasaan cinta serta sempurnanya harapan dan keyakinan beliau kepada Allah ﷻ.

Ia betul-betul mendahulukan kecintaan kepada Allah ﷻ daripada yang lain, sampai pun dari anak, isteri, dan dirinya sendiri.

Jama’ah kaum muslimin dan muslimat, sidang ‘id rahimakumullah…..

Inilah 4 peristiwa dalam sejarah kehidupan Nabi Ibrahim alaihissalam yang menunjukkan sempurnanya tauhid beliau dalam perasaan cinta, harap dan takut.

Ujian yang berat dan tiada henti, baik berupa kesempitan maupun bentuk kelapangan, mampu ia lewati. Sehingga pantaslah ia mendapat predikat tertinggi pada seorang hamba yaitu Khalilullah. Allah ﷻ berfirman:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan Allah ﷻ menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. (QS. An-Nisa’: 125)

❀•◎•❀

Jama’ah kaum muslimin dan muslimat, sidang ‘id rahimakumullah…..

Oleh sebab itu, setelah kita merenungkan kisah hidup Nabi Ibrahim ini, maka marilah kita kembali berusaha memurnikan ibadah cinta, harap, dan takut hanya kepada Allah ﷻ.

Segala ujian, baik kesempitan maupun kelapangan yang kita rasakan pada hakikatnya sedang menguji tauhid kita dalam tiga hal ini. Siapakah yang paling kita cintai? Kepada siapakah kita menggantungkan harapan? Dan siapakah yang kita takutkan?

Kita yang sedang diuji dengan permusuhan manusia, buah bibir dan gangguan mereka lantaran kebenaran yang kita lakukan, maka pahamilah bahwa kita tengah diuji, siapakah yang kita takutkan?

Kita yang sedang diuji dengan tidak kunjung memiliki anak, atau diberi anak tetapi laki-laki semua, atau perempuan semua.

Atau Kesempitan hidup karena musibah yang menimpa, seperti pademik Covid-19 yang tengah melanda kita saat ini, sehingga menjadikan sebagian kita harus hidup serba kesulitan; penghasilan terhenti, pekerjaan hilang, makan apa adanya, kontrakan, biaya sekolah, tagihan listrik, cicilan hutang, dll, menunggak.

Maka pahamilah, bahwa kita tengah diuji kepada siapakah kita menggantungkan harapan?

Kita yang diberi kemudahan dan kemakmuran, dianugerahkan rezeki yang lapang, rumah dan kendaraan yang nyaman, pekerjaan yang mapan, keluarga dan anak-anak, dst. Maka pahamilah bahwa kita tengah diuji, siapakah yang lebih kita cintai?

Semoga Allah ﷻ memberikan taufik-Nya kepada kita untuk dapat mentauhidkan-Nya dalam tiga hal ini. Sehingga kita bisa menjadikan kecintaan kepada Allah melebihi kecintaan kepada selain-Nya, perasaan takut kita kepada Allah di atas takut kepada yang lain. Dan kita mampu untuk menjadikan Allah tempat mengantungkan harapan dan tidak pernah bosan berharap dan meminta kepada-Nya.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

اللهم احْمِنَا مِنْ هَذَا البَلاَءِ ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا هَذَا الوَبَاءَ

اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، وَالجُنُونِ وَالجُذَامِ، وَسَيْئِ الأَسْقَامِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca juga Artikel:

Covid-19 Mengingatkan Kita Untuk Segera Keluar Dari Kenyamanan Hidup – Khutbah Jum’at

Selesai disusun di Maktabah Az-Zahiry Jatimurni Bekasi, Pada Hari Arafah Kamis 9 Dzulhijjah 1441 H/ 30 Juli 2020M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Ushul Tsalatsah – Raghbah, Rahbah, Khusyu’ dan Khasyyah

Pada bagian ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memaparkan beberapa dalil dari Al-Qur’an mengenai Raghbah, …

Tulis Komentar

WhatsApp chat