Beranda / Keluarga dan Pendidikan Anak / Orang Tua: Guru Besar Bagi Pendidikan Anak

Orang Tua: Guru Besar Bagi Pendidikan Anak

Rumah merupakan markas pendidikan anak. Bisa dikatakan, bahwa segala sesuatu bermula dari rumah. Bila pendidikan dalam rumah lemah, tentu anak akan jatuh dalam pendidikan-pendidikan di luar rumah yang masih belum jelas arahnya.

Dapat kita saksikan besarnya pengaruh pendidikan luar rumah ini ketika pendidikan dalam rumah tidak berjalan pada anak-anak yang menjadi korban broken home atau selainnya. Bisa jadi ayah dan ibunya tidak peduli karena kesibukan masing-masing; si ayah sibuk bekerja di kantor dan si ibu juga sibuk mengejar karier di luar rumah. Akibatnya, pendidikan anak dalam rumah terbengkalai. Akhirnya, anak dilempar ke pendidikan luar yang belum jelas arahnya.

Kasihan anak ini, sebab orang tua mendidik kesehatannya mulai sejak kecil, setelah tiba waktunya pembenahan hati dan rohaninya, malah diserahkan kepada orang yang belum jelas siapa dia, apa yang diajarkan, dan dengan siapa mereka bergaul. Wallahul musta’an.

ORANG TUA BERTANGGUNG JAWAB ATAS FITRAH ANAKNYA

Setiap anak yang lahir dari dua orang tua muslim, dia lahir dalam keadaan fitrah; sudah Islam. Orang tua wajib menjaga kesucian fitrahnya. Bapak dan ibu bukan hanya mengurusi kesehatan badannya, agar tidak sakit, bukan hanya mengurusi bajunya, agar tetap baru dan bergaya, dan bukan hanya mengurusi tempat tidurnya. Lebih dari itu, bahkan hal paling penting yang sering dilalaikan oleh orang tua, adalah mengurusi kesehatan rohaninya.

Ingat, jika anak tidak dipelihara rohaninya, kelak akan menjadi harimau yang menerkam orang tuanya. Bukankah kita telah menyaksikan orang tua dicaci oleh anaknya? Orang tua sakit tidak diurus oleh anaknya? Padahal anak dibesarkan oleh orang tua, dipenuhi keinginannya, dibangunkan rumah, dibelikan mobil, dinikahkan, tetapi mengapa masih berbuat demikian? Penyebabnya hanya satu, anak tidak dipelihara fitrahnya, tidak dididik dengan agama Islam, anak tidak mengerti ibadah kepada Allah, tidak mengerti berbakti kepada orang tua, tidak pernah diajarkan adab-adab yang baik. Ingatlah perintah Allah Azza wajalla kepada orang tua:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. at-Tahrim: 6)

Ibnu Katsir berkata, “Perintahkan keluargamu agar mengerjakan yang baik, dan cegahlah dari perkara mungkar. Jangan biarkan mereka terlantar sehingga dimakan oleh api neraka pada hari kiamat. (Tafsir Ibnu Katsir 5/240)

Orang tua adalah pusat kehidupan rohani anak, sehingga nilai-nilai keagamaan orang tua akan banyak diadopsi oleh anak dan mempengaruhi cara pandang serta cara mengamalkannya. Hati-hati, jangan sampai tindakan orang tua menjadi sebab rusaknya fitrah anak, sebab Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

“Setiap anak yang dilahirkan, mereka dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi atau nashrani atau majusi. Seperti lahirnya binatang ternak, apakah kamu melihat dia cacat hidung dan telinganya?” (HR. Bukhari: 5/182)

KEISTIMEWAAN PENDIDIKAN DI RUMAH

Banyak keunggulan pendidikan di rumah yang tidak dimiliki oleh pengajar dan pendidikan selain di rumah, khususnya ketika anak masih balita belum sehat badan dan akalnya, maka peran bapak dan ibu sangat besar, terlebih untuk pendidikan rohaninya. Keistimewaan itu terbukti, tak bisa diingkari oleh siapa pun. Di antara keistimewaannya:

• Pengajarnya Orang Tua Itu Sendiri

Tentu orang tualah yang paling sayang kepada anak, mulai sebelum lahir, sampai dia lahir selalu disayangi, diperhatikan, dipuji dan dimanjakan. Orang tua selalu memperhatikan kebutuhannya. Maka tentu layak sekali bila orang tua memperhatikan kesehatan hati dan fitrah anak supaya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Adakah pengajar lain yang melebihi kasih sayang ibu dan bapak kepada anak didiknya?

• Muridnya Anak Sendiri

Tidaklah aneh jika kita menjadi pengajar di suatu sekolah, sedangkan muridnya, di antaranya anak kita sendiri. Tentu hati kita ada kecenderungan, agar bagaimana anak kita lebih baik daripada yang lain, merasa lebih senang jika anak kita yang lebih unggul, karena timbul kasih sayang kepada anak lebih banyak daripada kepada yang lain. Walaupun kita harus berlaku jujur dan tidak boleh curang kepada siapa pun.

Maka tatkala murid di rumah adalah anak sendiri, insya Allah pendidikan akan lebih berhasil , karena kesungguhan orang tua mendidik anak didasari kasih sayang kepada anaknya. Tentu hal ini akan terwujud bila orang tua punya rasa tanggung jawab atas kesucian fitrahnya, dan mengetahui betapa besar manfaatnya bila anaknya menjadi anak yang shalih. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

“Suami adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin bagi rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. (HR. Muslim: 4828)

• Lebih Ikhlas

Keikhlasan kedua orang tua dalam membimbing dan memberi pengarahan kepada anak-anaknya akan mendorongnya untuk semakin memperbaiki diri dan ikhlas mendidiknya. Tidak ada yang mendorongnya melainkan agar anak menjadi shalih dan ikhlas karena Allah, tidak berharap gaji atau imbalan duniawi lainnya. Hal ini akan berbeda dengan pengajar yang bukan oleh orang tua yang terkadang masih menginginkan gaji saat mendidik (kecuali orang yang dirahmati oleh Allah).

Keikhlasan beramal merupakan kunci diterimanya amal dan berhasilnya pendidikan. Para ulama salaf berhasil mengkader generasi karena keikhlasan mereka. Semoga kita pun bisa mewarisinya.

• Murid Lebih Sedikit, Lebih Fokus

Bila orang tua mengajar anaknya di rumah, tentu rasionya lebih sedikit dibanding jika dia mengajar di sebuah sekolah selain rumah. Karena itu para ulama tarbiyah membatasi jumlah siswa di kelas, idealnya tidak lebih dari 20 anak, karena itu akan sangat menentukan keberhasilan pendidikan.

Misalnya, jika pengajar mengajarkan pelajaran membaca al-Quran kepada 20 siswa, sedangkan jam mengajarnya hanya 60 menit, hanya berapa menit kesempatan ajar masing-masing siswa? Berbeda jika orang tua mengajari anaknya membaca al-Quran, walau hanya 30 menit setiap hari. Lalu, bagaimana bisa orang tua tidak menyempatkan mendidik anaknya, bukankah jika anak baik, orang tua juga merasakan nikmatnya?

• Waktu Belajar Lebih Panjang

Di dalam rumah, anggota keluarga berkumpul bersama dalam jangka waktu yang lebih lama, sehingga terjalin kedekatan pribadi antara sesama anggota keluarga. Pendidikan di rumah tidak mengenal hari libur, tidak ada jam istirahat, kecuali waktu tidur, karena materinya lebih umum dan menyeluruh, bukan hanya mengajarkan al-Quran dan hadits, tetapi semua apa yang menjadi kebutuhan kesehariannya.

Berbeda pengajar di sekolah secara umum, ada jam istirahat dan libur panjang, terkadang pula absen atau sakit sehingga tidak bisa hadir, tentu ini kerugian yang cukup besar bagi siswa. Adapun orang tua di rumah, sekalipun dia sakit masih bisa mengajar, membangunkan anak agar berwudhu dan shalat, mengajari anaknya bagaimana makan sesuai sunnah, menegurnya tatkala berbuat mungkar.

• Kepengurusannya Lebih Mudah

Ibu bapak tidak perlu mengabsen, menyediakan rapor, atau mencatat nilai akhir semester, yang terkadang bisa direkayasa oleh kepala sekolah. Karena perkembangan anak di rumah sangat mungkin bahkan bisa diketahui secara pasti oleh orang tua, cara menyuruh atau menegurnya pun lebih mudah.

Pengawasan yang kontinu terhadap anggota keluarga dan saling mengawasi di antara sesama mereka akan membangkitkan keberanian untuk menegakkan amar maruf nahi mungkar. Berbeda dengan di sekolah luar, para pengajar jarang bisa memperhatikan polah muridnya secara mendalam, karena terbatasnya pergaulan, dan karena banyak yang diurusi. Bahkan, terkadang pengajar tertipu oleh siswanya.

Karena itu, jangan heran bila terlintas dalam pikiran orang tua, mengapa anak saya di rumah baik, tetapi setelah di sekolah jadi tambah nakal? Anda tahu sebabnya? Karena keterbatasan waktu mengawasi dan mendidiknya, dan karena pengaruh lingkungan pendidikan yang tidak mendukung, atau pengajarnya pandai, tapi tidak bisa mengambil hati muridnya, dll. Sebab yang dihadapi adalah banyak murid dengan watak yang berbeda.

• Keakraban Pengajar Dan Murid

Keakraban antara pengajar dan murid sangat mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Karena komunikasinya dekat, sehingga mudah ditegur sapa. Anak dapat melihat dan meneladani dalam ucapan maupun perbuatan orang tua. Hal ini tidak kita jumpai kecuali pada orang tua yang mau mengajari anaknya.

Orang tua bisa memanfaatkan kesempatan di dalam rumah maupun di luar rumah; ketika shalat, makan, minum, berpakaian, tidur, bangun tidur, waktu buang hajat, dan kegiatan-kegiatan lainnya untuk mengajarkan adab-adab Islam serta dzikir yang berkaitan dengan aktivitas tersebut.

Kesempurnaan pendidikan anak selama 24 jam ini hanya dijumpai oleh anak ketika dipandu oleh orang tuanya. Bukankah hal ini membahagiakan anak dan orang tua? Sayangnya, jarang sekali orang tua yang bisa menerapkan hal ini, kecuali orang tua yang cukup ilmu agama, dan ibu yang mau tinggal di rumah untuk fokus mendidik anak.

Coba bayangkan dengan keadaan bapak yang sering keluar karena mencari rezeki dan kegiatan lainnya, sedangkan ibu selalu mengejar karier di luar rumah. Berapa persen kemungkinan anak mereka menjadi shalih? Belum lagi bila mereka menyerahkan pendidikan anak kepada pendidikan yang ‘asal anak mau sekolah’.

• Menjiwai Murid

Bapak dan ibu lebih tahu sifat dan karakter anaknya yang cerdas, yang sedang dan yang lemah pikirannya, sehingga orang tua tahu cara yang pas mendidik setiap anaknya. Dibanding pengajar di luar secara umum, mungkin mereka banyak yang tidak bisa bersabar menghadapi murid yang lemah daya tangkapnya, karena mereka disibukkan dengan siswa yang jumlahnya banyak dengan watak yang berbeda. Maka sungguh amat tepat sekali saat Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (QS. asy- Syu’ara’: 214)

Intinya, orang tua harus menyiapkan pendidikan yang benar dari dalam rumah sebelum ia melepas anaknya ke luar. Dalam hal ini suasana rumah yang islami sangat membantu keberhasilan kedua orang tua dalam mendidik anak-anaknya, in syaa Allah.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga mampu bersabar dalam mendidik putra-putri kita menjadi generasi yang shalih dan shalihah. Aamiin…

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Check Also

Suami Adalah Nahkoda Keluarga

Riyadhush Shalihin Bab 35 – Hak Suami Atas Istrinya Allah subhanahu wata’ala berfirman: الرِّجَالُ قَوَّامُونَ …

Tulis Komentar

WhatsApp chat